
Leon sudah berada di kantornya lagi, dia berpapasan dengan Riko. Riko heran, kenapa Leon masuk kantor lagi?
"Tuan Leon, anda masuk kantor lagi?" tanya Riko heran.
"Iya, kenapa? Memangnya tidak boleh?" tanya Leon.
"Tapi, anda kan sedang cuti menikah. Dan bagaimana dengan nona Luna?" tanya Riko lagi.
"Aku ngga peduli, dia juga ngga masuk kamar kok sejak di hotel." jawab Leon ketus.
"Apa? Jadi, anda dan nona Luna belum ...."
"Jangan harap aku sama dia bisa malam pertama, Riko. Kamu kan tahu kalau aku sama dia hanya status saja, jadi jangan berharap aku akan mencintai dia." ucap Leon lagi.
Riko diam, dia hanya menggelengkan kepala saja. Riko menuju ruangan tuannya, kakek Wira. Sedangkan Leon masuk lift, dia akan menuju ruangan kantornya di lantai sepuluh.
Riko masuk ke dalam ruangan kakek Wira, dia memberi hormat pada laki-laki tua itu. Dia hanya berdiri saja di samping bosnya, karena kakek Wira sedang membicarakan kerja sama bisnis dengan tamu di depannya. Kakek Wira tahu, jika Riko berdiri di sampingnya ketika ada tamu.
"Aah, saya setuju dengan proposal anda tuan Kalil. Nanti sekretaria saya akan buatkan perjanjian kerja samanya." kata kakek Wira.
"Ya ya ya, kalau begitu. Semua sudah selesai, saya akan tunggu berkas kerja samanya dari anda." kata tuan Kalil.
Dia bangkit dari duduknya lalu bersalaman dengan pak Wiran. Riko hanya memberi hormat saja pada tuan Kalil, dan mengantarnya keluar dari ruangan pak Wira sampai di depan lift.
Setelah tuan Kalil masuk lift, Riko pun kembali ke ruangan bosnya. Dia harus memberitahu pada kakek Wira, kalau Leon sudah masuk kerja lagi.
"Ada apa Riko?" tanya kakek Wira pada Riko yang sejak tadi tahu Riko akan menyampaikan hal penting.
"Maaf tuan, saya mengganggu anda bicara dengan tuan Kalil." kata Riko.
"Memang pembicaraannya sudah selsai. Ada yang penting?" tanya kakek Wira lagi.
"Tuan Leon masuk kerja lagi tuan." kata Riko.
"Aku kan sudah memberinya cuti selama tiga hari. Lalu, istrinya bagaimana?" tanya kakek Wira serius.
__ADS_1
"Saya kira nona Luna pulang ke rumahnya. Kata tuan Leon, nona Luna tidak masuk ke dalam hotel sejak kemarin di antar ke hotel." jawab Riko.
"Apa?!"
"Itu mungkin saja, tapi saya kurang paham dengan ucapan tuan Leon." kata Riko.
Kakek Wira bangkit dari duduknya, dia berjalan cepat keluar ruangan. Mau menanyakan kenapa Leon meninggalkan Luna di hotel. Pikiran kakek Wira sudah kemana-mana, Luna itu gadis preman. Dia tidak berpikir Luna pulang ke rumahnya.
Langkahnya melebar, Riko mengikuti dari belakang. Meski sudah tua, tapi kakek Wira lebih cepat berjalan dari pada Riko, makanya Riko selalu saja di sindir oleh majikannya karena lambat berjalan.
Sampai di lantai sepuluh, kakek Wira langsung menuju ruangan Leon. Dia mendorong kuat pintu ruangan kantor Leon, terlihat Leon sedang menelepon seseorang dengan tawa dan senyum senangnya.
Kakek Wira menatap tajam pada Leon, dia menarik ponsel yang di pegang Leon dan bicara dengan keras di depan ponsel itu. Melihat siapa yang di telepon Leon, dan sudah di pastikan itu adalah Sherly.
"Jangan lagi ganggu cucuku! Jika kamu berani menghubungi cucuku lagi, kamu akan tahu akibatnya! Camkan itu!" kata kakek Wira pada Sherly di seberang saja. Membuang sembarang ponselnya cucunya itu.
Leon menatap datar pada kakeknya dan membuang nafas kasar.
"Kenapa kamu masuk kantor? Bukankah kakek sudah beri kamu cuti tiga hari!" tanya kakek Wira.
"Kenapa kamu tidak mencarinya? Bahkan kamu masuk kantor dan menelepon gadis munafik itu." tanya kakek Wira.
"Aku tidak tahu nomor ponselnya, lagi pula aku tidak bawa mobil. Susah bagiku untuk pergi ke rumahnya lagi, kompleks kumuh seperti itu. Orang-orang aneh, bahkan istriku saja aneh." kata Leon dengan ketus.
"Jangan menghina orang lain. Sekarang mana kunci kamar hotel? Biar Riko yang cari dan suruh bawa pulang ke rumah kakek. Tidak perlu lagi menginap di hotel." kata kakek Wira.
"Kunci hotel sudah saya serahkan ke bagian petugas di sana. Kakek ini ada-ada saja, masa aku bawa kunci hotel." ucap Leon tersenyum sinis pada kakeknya.
"Baik, Riko akan menjemput Luna dan membawa pulang ke rumah kakek. Dan satu lagi, jangan lagi berhubungan dengan gadis minafik itu." ucap kakek Wira.
"Apa-apaan kakek! Dia pacarku!" teriak Leon.
"Tapi kamu sudah punya istri, yaitu Luna!" kata kakek Wira tak kalah menggertak cucunya itu.
"Huuh! Jika bukan kemauan kakek, aku tidak akan menikahi gadis preman itu. Sudah pasti aku akan menikah dengan gadis yang aku cintai, bukan gadis seorang preman." kata Leon dengan ketus.
__ADS_1
"Kamu juga buta dengan apa yang di lakuka gadis itu!"
"Kakek selalu menuduh jelek pada Sherly, dia pacarku kek!"
"Aku tidak peduli! Pacar yang hanya memanfaatkan uangmu saja. Kamu buta akan hal itu, sudah berapa banyak uangmu membelikan barang-barang mewah untuknya? Lima ratus juta? Atau satu miliar?!"
"Kek, wajar saja jika aku memberikan hadiah dengan membelikan barang mewah untuk pacarku." kata Leon membantah lagi.
"Tapi tidak wajar jika itu di lakukan setiap bulan dan bukan kamu yang memberikannya, tapi dia yang memintanya. Kamu pikir kakek tidak tahu masalah keuanganmu? Uang di ATMmu itu sisa lima pukub juta kan? Kemana uang satu miliar uang di ATMmu itu, kamu membeli barang mewah apa untuk dirimu sendiri?!"
Leon diam, dia masih saja tidak terima dengan ucapan kakeknya. Dia mencintai tulus pada Sherly, jadi apa salahnya memberikan apa yang dia mau. Begitu pikir Leon.
"Riko, sebaiknya kamu panggil secepatnya mata-mata yang sudah kamu kirim ke Singapura untuk menyelidiki kegiatan gadis munafik itu. Sama siapa dia pergi, aku yakin dia pergi dengan pacar gelapnya." kata kakek Wira lagi.
Leon kembali menatap tajam pada kakeknya, mendengus kasar nafasnya dan mengusap wajahnya. Setelah mengatakan seperti itu, kakek Wira pergi dari hadapan Leon. Di susul oleh Riko. Dia marah sekali pada cucunya, kenapa masih saja buta dengan gadis model tersebut.
"Aku tidak akan tinggal diam, gadis itu harus di beri pelajaran. Aku tahu dia berangkat ke Singapura rencananya dengan Leon, dan Leon sudah mengajukan meminjam uang di bagian keuangan untuk memenuhi segala permintaan gila gadis model tersebut." kata kakek Wira.
"Ya tuan, beruntung bapaknya nona Luna menyetujui menikah hari Minggu kemarin. Dan tuan Leon selamat, perusahaan pun tidak di rugikan." kata Riko.
"Cepat kamu suruh kumpulkan bukti video atau rekaman serta foto-foto dari mata-mata yang kamu kirim. Ini yang aku takutkan, Leon masih tidak percaya dengan semua ucapanku jika tidak melihat sendiri." kata laki-laki tua itu.
"Baik tuan."
"Tapi sebelumnya, kamu pergi ke hotel. Jemput Luna dan bawa pulang ke rumahku. Aku tidak mau gadis itu harus kembali ke pasar lagi."
"Ya tuan."
Setelah kakek Wira masuk ke dalam ruangannya, Riko pun segera pergi menuju hotel di mana Leon dan Luna menginap untuk bulan madu pasca menikah.
_
_
__ADS_1