Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
33. Tidur Di Bawah


__ADS_3

Leon keluar dari kamarnya, nafasnya jadi sesak melihat Luna dengan santainya memakai handuk di depannya. Apa lagi ke kamar ganti, dia langsung melepas handuknya ketika sudah mendapatkan rok serta kaos milik Leon.


"Dia itu gadis lugu atau memang prilakunya seperti itu sih? Bikin orang jantungan aja." ucap Leon.


Dia turun tangga, memegangi dadanya. Meski dia belum pernah melakukan hal itu, tapi dia tetap saja tergoda dengan penampilan gadis cantik, putih mulus di depan matanya. Dalam hati, Leon mengakui jika Luna adalah gadis cantik. Hanya saja tidak pernah perawatan dan pakaiannya selalu dekil.


"Tuan Leon, apa nona Luna ada di kamar?" tanya kepala pelayan bi Dori.


"Ada di kamar, kenapa memangnya?" tanya Leon.


"Tidak tuan, kata tuan besar nona Luna akan di pertemukan dengan guru privat nona Luna besok. Katanya nona Luna belum tahu tentang gurunya besok." kata bi Dori.


"Memang Luna mau privat apa?" tanya Leon.


"Saya kurang paham tuan, tuan besar hanya memberitahu itu saja. Katanya besok ada guru privat nona Luna." jawab bi Dori.


"Ooh, kakek tidak memberitahu. Makan malam sudah siap bi?" tanya Leon.


"Sudah tuan, saya juga sekalian memanggil nona Luna." kata bi Dori.


"Hmm."


Leon melangkah ke meja makan, bi Dori naik tangga menuju kamar Leon. Dia berpapasan dengan Luna yang memakai kaos Leon juga rok pendek, sangat cantik. Membuat bi Dori pun tersenyum kagum.


"Nona sangat cantik." kata bi Dori.


"Aaah, bibi bisa saja. Gue begini karena ngga ada lagi baju, ini punya Leon." kata Luna menunjuk kaos yang dia pakai.


"Tapi kalau setiap hari begini, tuan Leon pasti jatuh cinta sama nona Luna." kata bi Dori.


"Mana ada bi, lha dia kan sudah punya pacar. Dia juga bilang ngga bakal jatuh cinta sama gue bi, jadi santai ajalah. Ngapain pusing mikirin orang ngga suka sama gue." kata Luna dengan santainya.


"Semua bisa saja berubah non, apa lagi nona Luna itu cantiknya alami. Lha, model pacar tuan Leon itu cantik pakai make up aja, lagi pula dia selalu minta uang buat belanja barang mahal sama tuan Leon." kata bi Dori.


"Kok jadi gosipin orang bi. Udahlah, gue ngga mau pusing masalah mereka. Oh ya, bibi mau apa?" tanya Luna.


"Heheh, mau panggil nona Luna makan malam. Kata tuan besar nona makan malam bersama." jawab bi Dori.


"Tuan besar? Siapa?"


"Kakek Wira, kakek mertua nona Luna." jawab bi Dori lagi.


"Ooh, di panggilnya tuan besar. Tapi kakek Wira kan kecil badannya, kenapa di panggil tuan besar?"

__ADS_1


"Keluarga urutan paling tinggi itu tuan besar, yaitu kakek Wira. Karena kedua orang tua tuan Leon tidak ada, jadi sekarang ya tuan besar kakek Wira. Baru tuan Leon."


"Leon itu tuan kecil?"


"Hahah! Bisa di bilang begitu, nona. Ayo kita turun, tuan besar pasti sudah menunggu nona turun." kata bi Dori.


Mereka akhirnya turun ke bawah, menuju ruang makan. Dan benar saja, kakek Wira sudah duduk di sana. Sudah menyiapkan makan untuknya, Luna duduk di depan Leon. Leon sendiri makan dengan santai, dia tidak tahu kalau Luna berpenampilan berbeda malam ini.


"Luna, kamu seperti ini sangat berbeda. Kakek senang penampilanmu seperti ini." kata kakek Wira.


"Ini karena kakek tidak membelikanku kaos, aku suka pakai kaos kek." kata Luna menyendok makanannya juga lauknya.


Leon menatap Luna, dia melihat Luna sangat berbeda. Lebih cantik jika wajahnya bersih begitu. Meski tanpa make up, tetap cantik. Kakek Wira melirik Leon sedang menatap Luna lama. Dia pun tersenyum sinis.


"Leon, besok kamu ajak Luna membeli baju yang dia mau." kata kakek Wira.


"Biarkan dia pergi sendiri saja membeli baju kek, lagi pula kakek juga bilang kan urusan Luna itu sama Riko. Jadi kenapa aku harus mengantar dia ke mall beli baju." kata Leon masih bersikap sinis.


Luna menatap Leon datar, tidak peduli suaminya itu acuh padanya. Dia makan dengan sendok saja, menyuapi makanan dengan cepat dan sisa-sisa nasi menempel di sekitar mulutnya.


"Kamu makan kayak anak kecil, apa tidak bisa lebih anggun lagi kalau makan dan tidak berisik sendoknya." kata Leon pada Luna.


"Ini sudah lebih baik, aku mencoba menyesuaikan keadaan rumah kakek Wira. Biasanya aku nongkrong kalau makan, kalau tidak suka jangan melihat. Susah amat." kata Luna menatap tajam pada Leon.


"Di mana ruang kerja kakek?" tanya Luna.


"Bi Dori akan mengantarmu." kata kakek Wira.


"Iya kek."


Leon menyelesaikan makannya, dia lalu naik tangga dan akan tidur lebih cepat. Besok dia akan membeli ponsel baru, untung dia hafal nomor Sherly. Jadi dia akan menghubungi Sherly dengan nomor baru saja.


_


Setelah bicara dengan kakek Wira, Luna jadi bingung. Dia harus mengikuti kelas kepribadian yang akan di panggil gurunya ke rumah minggu depan. Apa yang akan di ajarkan oleh guru jelas kepribadian, Luna tidak mengerti.


"Bi Dori, emang gue harus ya sekolah lagi?" tanya Luna.


"Bukan sekolah nona, hanya mengajarkan bagaimana jadi pribadi yang baik dan anggun. Nona akan belajar itu minggu depan." kata bi Dori.


"Kelas kepribadian?"


"Ya."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Semacam bagaimana bersikap dan bicara yang baik. Dan banyak lagi, nona."


"Gue nggak ngerti bi Dori." kata Luna.


"Ya sudah, tunggu minggu depan. Nanti gurunya datang kesini, nona pasti tahu."


"Terserah. Oh ya, gue harus tidur di mana bi?" tanya Luna.


"Lha, kan sama tuan Leon. Nona lan sudah jadi istri tuan Leon, tidur ya sama tuan Leon di kamarnya." kata bi Dori.


"Dih, gue kan cuma numpang mandi sama pinjam bajunya doang bi. Masa tidur sama mahluk purba sih."


"Ish, mahluk purba itu suami nona. Sudah sana masuk ke kamar tuan Leon."


"Ogah! Tidur sama dia? Idih, ngga mau!"


"Eeh, ngga boleh begitu nona. Belajar jadi istri yang baik, ayo bibi antarkan."


"Kagak mau!"


"Ish! Bibi tarik ya, atau bibi bilang sama tuan besar kalau nona tidak mau tidur sama tuan Leon." kata bi Dori mengancam.


"Ish! Main ngancam aja sih bi Dori. Iya iya, gue tidur di kamar tuan kecil." kata Luna dengan kesal.


Dia pun melangkah naik tangga, berhenti sejenak melihat ke bawah. Masih ada bi Dori menatapnya dari bawah, Luna pun bersungut. Lalu melangkah lagi menuju kamar Leon. Berhenti di depan kamar itu dan mendorongnya.


Dia melihat Leon sudah tidur lebih dulu. Luna menutup pintunya dan menuju ranjang yang di kuasai kasurnya oleh suaminya. Dia mencibir dan tersenyum sinis.


"Kayak cicak aja tidurnya, gue juga ngga bakal tidur di situ." kata Luna.


Dia pun menuju sofa, tidur di sana dengan posisi miring. Awalnya biasa saja, tapi dia merasa sesak dan kakinya tidak bisa bergerak kesana kemari. Bolak balik badannya, tetap tidak bebas.


"Ish, gue ngga bisa sih tidur di sini." kata Luna.


Dia mencari sesuatu, dan melihat ada karpet di bawah ranjang. Luna pun melangkah menuju karpet itu, mengambil bantal satu dari ranjang Leon kemudian dia tidur di bawah ranjang. Di karpet dengan nyaman, dan tak lama dia pun langsung tidur.


_


_


__ADS_1


__ADS_2