Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
63. Pembicaraan Membingungkan


__ADS_3

Jack dan kakek Wira mengobrol santai di ruang kerja kakek Wira itu. Hingga tak terasa waktu sudah siang dan semua para tamu undangan berpamitan pulang. Kini tinggal orang-orang dekat saja.


Dewi dan Riki masih di sana, sedangkan para tetangga sudah pulang setelah makan dan juga di beri oleh-oleh dari kakek Wira yang memang sudah di persiapkan untuk acara tujuh bulanan Luna.


"Lo pulang kapan?" tanya Riki pada Dewi.


"Nanti, gue masih pengen di sini. Makanannya enak-enak." jawab Dewi makan pudingnya.


"Ish, lo itu makan aja yang di pikirkan." kata Riki.


Riko pun menghampiri kedua sahabat itu, dia ikut duduk di samping Dewi. Memperhatikan Dewi yang sedang makan puding. Dewi menoleh ke arah Riko yang sejak tadi memperhatikannya makan puding.


"Pak Riko mau puding? Nanti aku ambilkan." kata Dewi.


"Ngga usah, aku udah kenyang." kata Riko.


"Tapi kenapa pak Riko lihatin aku makan puding?" tanya Dewi.


Riki di sampingnya pun ikut nyeletuk.


"Pak Riko aneh lihat lo makan terus. Dari tadi lo makan ngga berhenti-berhenti." kata Riki.


"Syirik aja lo!" umpat Dewi, dia tidak peduli dengan Riki yang sejak tadi mengomelinya.


Riki menatap sinis pada Dewi, mereka menatap ke arah pintu di mana Luna sudah berganti baju dengan baju dasternya. Perut besarnya itu terlihat lucu ketika Luna berjalan seperti pinguin. Dewi menghampiri, dia memegang lengan Luna dan menuntunnya untuk duduk bersama dengan Riki dan Riko.


Leon berjalan cepat juga setelah dia mengantar tamu terakhir pulang sampai pintu gerbang rumah kakeknya itu. Dia ikut nimbrung dengan teman-teman Luna itu, sekalian membicarakan rencana buka toko milik istrinya.


"Tempatnya udah siap Lun, terus kapan belanja baju-baju untuk isi toko?" tanya Dewi.


"Ngga tahu gue, itu yang mau kasih modal kan suami gue." jawab Luna.


"Kenapa sayang?" tanya Leon duduk di samping istrinya dan menyingkirkan Riko yang sejak tadi diam saja.


"Kenapa sih kamu menggeser tempat dudukku?" tanya Riko.


"Kamu jauh-jauh duduknya dari istriku. Aku mau duduk di sampingnya." kata Leon ketus.


"Yaelah, duduk sebelahan sama pak Riko aja paksu Luna jadi gitu banget ya." kata Dewi sinis.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Sah-sah aja duduk di samping gue." Luna menimpali.


"Cuih! Bucin dua-duanya. Suami istri yang aneh." ucap Riko.


"Berisik lo!"


Kali ini Leon lagi yang mengumpat, Riko tersenyum miring. Dewi menatap sinis dan Riki acuh tak acuh saja dengan keanehan keempat orang itu.


"Tuan Leon, kapan modal turun untuk mengisi toko?" tanya Dewi pada Leon.


"Minggu depan, aku belum menghitung modal keseluruhan yang mau di gunakan." kata Leon.


"Memang harus di hitung dulu, biar tahu nanti berapa modal yang di keluarkan. Agar nanti bisa kembali dalam berapa tahun itu modal, kalau bisa beberapa bulan bisa kembali." kata Leon.


"Ya ampun, kalian berdua aneh. Kalau mau memberi modal sekalian, jangan perhitungan." kata Riko ikut campur perdebatan mereka.


"Iya nih, orang kaya bukan sih? Kok perhitungan banget." kata Dewi kembali menimpali.


"Haish! Kalau mau buka usaha itu ya harus di hitung modalnya berapa. Bukan main mengeluarkan aja, nanti kalau tidak di hitung kita yang rugi. Sudah jangan rewel, kalian berdua tinggal menjalankan saja kenapa rewel sih. Dan kamu ya, asisten tidak sopan. Bukan urusanmu ikut campur masalah toko istriku." kata Leon menatap tajam pada Riko.


Yang di tatap hanya mengedikkan bahu saja, dia santai sekali menanggapi Leon yang kelihatannya kesal.


"Yang memyuruh cari tempat buat toko itu siapa?" tanya Riko bersedekap.


Dewi diam, Riko pun ikut diam. Luna dan Riki cuek saja. Riko bangkit dari duduknya, dia menarik tangan Dewi dan berbisik padanya.


"Memang kamu yang bertanggung jawab nanti di toko?" tanya Riko.


"Kata Luna sih begitu, sama Riki juga." jawab Dewi.


"Hemm, sepertinya dia tidak mendapat jatah hari ini. Jadi marah-marah saja." kata Riko.


"Apa kalian bisik-bisik di belakangku?" tanya Leon menatap tajam pada Dewi dan Riko.


Keduanya duduk lagi, acuh dengan tatapan sang bos yang marah karena berdebat tadi.


"Udah sih jangan marah-marah terus. Dewi cuma tanya doang kok, kapan itu modal untuk beli barang-barang isian di toko. Sebelum aku lahiran, aku ingin meresmikan toko bajuku dulu mas." kata Luna dengan sikap sopan pada suaminya.


Dewi sendiri takjub dengan perubahan sikap Luna yang baik dan sopan pada suaminya. Karena dia tahu kalau Luna itu sangat kasar dan bar bar jika bicara pada siapa pun kecuali pada bapaknya.

__ADS_1


"Mimpi apa gue lihat sahabat begitu lembut ngomongnya sama suaminya. Ck ck ck, cinta memang bisa merubah segalanya ya." gumam Dewi.


"Kamu juga harus merubah kebiasaan tertawa lebar jika sudah punya suami. Jangan menggoda laki-laki lain seperti mantan bosmu itu." kata Riko menimpali gumaman Dewi yang dia dengar itu.


"Dih, suka-suka gue dong. Kenapa ngurusin masalah gue." kata Dewi ketus.


"Ya harus di rubah dong. Nanti kamu seperti itu terus, mana ada laki-laki yang naksir sama kamu." kata Riko.


Kali ini Riko dan Dewi yang berdebat. Leon dan Luna bahkan cuek saja, mereka membicakan nama anak-anak kembarnya nanti jika sudah lahir. Riki yang sejak tadi tidakdi ikut sertakan dalam perdebatan itu, bangkit dari duduknya dengan mengomel.


"Empat orang aneh di satukan dalam rumah besar ini. Mereka ribut masalah pepesan kosong, mending gue pulang dari pada mendegarkan mereka yang aneh super ajaib." kata Riki sambil melenggang pergi.


"Eh, jomblo! Jangan ngomel terus, ngga laku lo nanti." kata Dewi meneriaki Riki yang lewat di depannya sambil mengomel.


"Dih,lo juga jomblo! Jangan ngatain gue jomblo kalau lo juga jomblo!" kata Riki tak mau kalah.


"Kalian para jomblo! Jangan ribut di rumah suami gue!" teriak Luna.


"Ya udah, gue mau pulang. By!" kata Riki.


"Gue juga mau pulang!" kata Dewi.


"Lo di sini aja!" kata Luna.


"Mau ngapain?" tanya Dewi.


"Temani aku di sini, biar ngga jomblo sendirian." kata Riko menimpali.


"Sesama jomblo, lebih baik saja kawin. Nikah, biara enak mainan slime." Leon yang meledek Dewi dan Riko.


Keduanya menatap Leon, dan laki-laki itu mendapat cubitan keras dari Luna membicarakan hal pribadi pada orang lain.


"Aduuh! Sakit. Kenapa mencubit sih sayang?" tanya Leon memegangi tangannya yang tadi di cubit Luna.


"Jaga mulutnya, ada jomblo mana ngerti omongan gitu!" kata Luna.


Membuat Dewi jengah dan bangkit dari duduknya. Dia harus pulang secepatnya, dan Riko pun sama melangkah menyusul Dewi pergi dari dua sejoli yang sedang berdebat entah masalah apa.


_

__ADS_1


_



__ADS_2