Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
37. Di Kafe


__ADS_3

Riko menemani Luna pulang ke rumah bapaknya, dia sangat senang sekali bisa pulang ke rumah. Riko menunggu di mobil, dia hanya duduk di dalam mobil. Tapi Luna menghampiri Riko dan bicara padanya.


"Pak Riko, saya mau di sini sampai besok. Pak Riko pulang aja, ngga apa-apa." kata Luna.


"Tapi nona, anda belum izin sama tuan Leon." kata Riko.


"Udah biarin aja, dia juga ngga bakal nyari saya kok." kata Luna.


"Ya sudah, nanti saya mintakan izin sama tuan Leon. Kalau anda menginap di rumah bapak nona." kata Riko.


"Ya, terserah pak Riko aja." kata Luna.


Setelah bicara seperti itu, Luna pun masuk lagi ke dalam rumahnya. Di dalam rumah memang tidak ada orang, rumah juga masih berantakan karena bapaknya mungkin tidak sempat beres-beres rumah. Riko pun pergi meninggalkan Luna, dia langsung pergi ke kantor pak Wira.


Sementara Luna ada di rumahnya, dia merapikan beberapa barang yang akan di bersihkan. Ada beberapa botol minuman, membuat Luna menggeleng kepala. Di ambilnya botol itu lalu di buang ke tempat sampah.


"Ternyata bapak mulai minum lagi." gumam Luna.


Dia mulai menyapu rumah dan membereskan semuanya, Dewi melihat Luna sedang beres-beres rumahnya pun terkejut dan masuk ke dalam rumah.


"Lunaaa!" teriak Dewi.


Luna menoleh dan terkejut dia di dekap kencang oleh sahabat kecilnya itu.


"Apa sih lo! Berisik banget, gue mau jatuh nih." kata Luna mendorong Dewi kasar.


"Ish! Lo smobong banget sih jadi orang kaya. Mentang-mentang hidup lo udah berubah jadi enak." kata Dewi cemberut.


"Enak apaan! Gue ngga bebas, harus bepajar etika. Belajar sopan santun dan makan aja harus dengan cara yang anggun. Cuih! Gue bosan hidup serba begitu." kata Luna masih menyapu rumahnya.


"Ya, tapi kan enak Lun. Lo bisa beli baju mahal juga bagus. Tuh lihat yang lo pakai, ini baju mahal kan?" tanya Dewi memegang baju Luna.


"Udah ah, jangan norak. Baju mahal atau tidak, semua sama aja." kata Luna lagi.


Dewi diam, dia melihat rumah Luna tampak bersih sekarang. Meski Luna memang sebelum menikah dengan Leon, dia bersih-bersih rumah dulu sebelum pergi ke pasar.


"Eh, si Boby nyariin lo terus tuh di pasar. Katanya lo ngga bilang kalau mau nikah sama orang kaya." kata Dewi.


"Iya, gue kira setelah nikah bisa balik lagi ke pasar. Narik uang lagi sama Boby, ternyata kakek Wira ngga boleh gue balik lagi ke pasar. Katanya gue udah jadi istri orang, jadi harus nurut sama suami." kata Luna.


"Eh, lo udah begituan kan sama suami lo?" tanya Dewi.


"Begitu apaan?" tanya Luna tidak mengerti.


"Ish! Malam pertama sama suami lo itu. Tuan Leon." kata Dewi lagi.


"Gue ngga ngerti, emang gue tidur di kamarnya. Tapi gue tidur di bawah, dia di atas." jawab Luna.


"Ee ciiee, bakal tekdung nih. Heheh."


"Apa sih tekdung?"


"Ish, gini nih kalau ngga punya ibu. Ngga negrti yang namanya tekdung." kata Dewi, membuat Luna menatap tajam padanya.


"Emang kenapa kalau gue ngga punya ibu?" tanya Luna dengan suara keras, membuat Dewi sadar kalau ucapannya itu salah.


"Kagak gitu Lun. Maaf deh, maksud gue lo ngga ngerti tekdung itu hamil." kata Dewi menjelaskan dengan hati-hati agar Luna tidak marah lagi.


"Kagak! Gue mana tekdung, orang gue tidur di bawah aja." kata Luna lagi.

__ADS_1


"Jadi, dia tidur di atas lo aja."


"Iya."


"Ih, itu namanya lo di garap sama suami lo setiap malam. Waah, bakal cepat tekdung lo tuh." kata Dewi.


"Aaah, udah. Jangan ngomong tekdung lagi, gue ngga ngerti apa itu. Yang jelas gue tidur di bawah karpet, dia tidur di atas kasur. Begitu." kata Luna berlalu meninggalkan Dewi yang masih melongo karena ucapannya itu.


"Ooh, jadi cuma gitu. Ish! Mana bisa Luna tekdung kalau gitu." ucap Dewi.


_


Dua hari Luna ada di rumah bapaknya, Jack senang anaknya pulang. Sampai mobil hitam menyusul ke rumah Luna untuk menjemputnya.


"Kok bukan suami kamu yang jemput?" tanya Jack.


"Iya pak, dia sibuk." jawab Luna.


Riko menyalami bapaknya Luna, dia hanya tersenyum saja. Luna pun berpamitan pada bapaknya kalau dia akan kembali lagi ke rumah kakek Wira.


"Pak, Luna pergi dulu ya." kata Luna menyalami tangan bapaknya.


"Iya, jangan lupa sering ke rumah bapak ya. Bapak kira kamu lupa sama bapak." kata Jack.


"Ya ngga dong pak, kan Luna anak bapak." kata Luna.


Dia menyerahkan uang hasil markir di hotel dulu ketika bulan madu setelah pernikahan usai.


"Apa ini Luna?"


"Ini uang hasil kerja Luna dulu. Buat bapak aja, Luna udah ada sisanya." kata Luna.


"Jangan khawatir pak, setiap hari Luna di kasih uang kok sama kakek Wira dan suami Luna. Udah itu buat bapak semua, tapi jangan buat minum-minum." kata Luna mengingatkan bapaknya.


"Cuma satu kali doang aja kok."


"Tetap aja ngga boleh, Luna ngga mau datang ke rumah bapak lagi kalau bapak minum lagi." kata Luna mengancam.


"Iya ngga. Si Dewi ya yang kasih tahu?"


"Botol-botol semua ada di meja."


"Heheh."


"Ya sudah, Luna pergi dulu."


Jack mengantar Luna sampai di depan pintu. Dia melihat perlakuan Riko pada anaknya seperti seorang supir pribadi, membukakan pintu untuk Luna dan membungkuk pada Jack sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Mobil keluar dari gang rumah Luna, melaju dengan kecepatam sedang. Tiba-tiba Luna ingin pergi ke kafe yang dulu pernah jadi impiannya masuk ke kafe tersebut.


"Pak Riko, boleh kita pergi ke kafe ngga?" tanya Luna.


"Kafe? Mau makan?" tanya Riko.


"Ya, bisa juga. Tapi saya pengen minum kopinya di sana, kata orang kopinya sedikit tapi mahal banget. Saya ingin kesana, coba kopinya. Heheh." kata Luna.


"Ooh, baiklah nona." kata Luna.


Riko melajukan mobilnya menuju kafe yang du tunjuk Luna, tidak jauh dari jalan yang dia lewati. Mereka masuk ke dalam kafe setelah memarkirkan mobilnya, Riko mengerutkan dahinya. Dia melihat ada mobil Leon di sana, tapi dia diam saja. Ingin tahu Leon pergi dengan siapa di kafe itu.

__ADS_1


Luna melihat kursi kosong pun langsung mendekat dan duduk, di susul Riko. Pandangannya beredar, tak sengaja mata Luna melihat Leon sedang makan dengan Sherly. Senyum sinis Luna mengembang.


"Pak Riko, tuh suami saya sedang selingkuh." kata Luna.


Riko menatap ke arah tangan yang menunjuk Leon.


"Dia dengan Sherly?"


"Ya, sepertinya."


"Apa nona dekati suami nona itu?" tanya Riko.


"Emm, bisa ya?"


"Ya, bicara saja sama tuan Leon. Berpura-puralah jadi istri yang manja di depan Sherly. Bila perlu duduk di depannya dan nona bisa melakukan apa di sana, tapi ingat jaga sikap ya. Nona berani?" kata Riko.


"Oke, siapa takut." kata Luna.


Riko tersenyum, Luna pun melangkah dengan santai dan langkah yang pelan. Layaknya seorang model, Riko menatap ke arah mereka dan bersedekap. Luna sampai di depan Leon dan Sherly yang sedang asyik bicara.


"Halo sayang, suamiku." kata Luna duduk di samping Leon.


Leon terkejut, dia melihat Luna yang tersenyum manis padanya. Begitu juga Sherly, dia tidak kalah terkejutnya.


"Hei! Preman kasar! Sedang apa kamu kemari hah?!" teriak Sherly.


"Sedang memergoki suamiku selingkuh. Kamu tahu, dia suamiku." kata Luna menekan nada bicaranya agar tidak bersikap kasar.


"Suami? Jangan mimpi kamu!" kata Sherly marah.


"Tanya saja sama suamiku ini, benarkan Leon. Aku ini istrimu?" tanya Luna.


"Luna! Apa-apaan sih ini. Pergi ngga?!"


"Ooh, suamiku selingkuh. Tapi aku di usir, kamu tidak tahu ya kalau cewek di depanmu itu sering banget selingkuh." kata Luna menatap tajam pada Sherly.


Sherly diam, dia hanya menatap tajam pada Luna.


"Jangan menuduh sembarangan! Kamu sedang apa di sini?" tanya Leon.


"Aku mau minum kopi sama pak Riko. Tuh orangnya di sana." kata Luna.


Leon terdiam, dia merasa takut ketika ada Riko di sana. Karena sudah pasti asisten kakeknya itu akan melaporkannya kalau dia bertemu dengan Sherly. Leon mendengus kesal.


"Sekarang kamu pulang."kata Leon pada Luna.


"Aku sedang menunggu pesananku."


"Kamu pulang sama aku!"


"Leon! Masa aku di tinggalin sih?!"


"Maaf Sherly. Ayo Luna pulang sama aku!" kata Leon menarik tangan Luna.


Dia tidak peduli Sherly marah padanya, saat ini yang dia takutkan adalah Riko yang akan melaporkan pada kakeknya. Leon menatap tajam pada Riko setelah melewatinya.


_


_

__ADS_1



__ADS_2