Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
64. Peresmian Toko


__ADS_3

Dewi dan Riki begitu sibuk membereskan toko Luna, sahabat kecilnya itu. Mereka sangat antusias dengan toko baru yang akan mereka kelola bertiga, bukan bertiga. Tepatnya Dewi dan Riki saja, Luna hanya memantau sesekali. Karena nanti dia akan semakin sibuk dengan keempat bayinya setelah lahir.


Leon sudah mengantisipasi akan mengambil baby sitter untuk bayinya nanti. Dan sekarang, Luna sedang bersiap untuk meresmikan tokonya siang ini. Hari Minggu di ambil mengadakan peresmian tokonya, agar suaminya bisa bebas tanpa harus di kejar oleh waktu pekerjaan di kantornya.


"Yang di undang siapa lagi sayang?" tanya Leon memakai jam di tangannya.


"Ngga banyak kok, ibunya Riki. Ibunya Dewi, bapak dan teman-temannya lalu tetangga semua. Kakek Wira dan pak Riko." jawab Luna memakai baju hamil overalnya berwarna putih biru telur asin selutut.


Sangat cantik, Leon menghampiri. Membantu mengikat tali di belakangnya, lalu merapikan rambut Luna yang tergerai. Tubuhnya semakin besar dan pipinya juga semakin tembem. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan.


Satu bulan lagi, Luna melahirkan empat anak kembarnya. Leon berencana untuk operasi cesar saja, tapi Luna bersikukuh untuk lahir normal. Leon pun tidak memaksa, tapi jika sampai tidak juga lahir dan Luna kesakitan. Dia akan mengambil tindakan cepat untuk melakukan operasi cesar, begitu perjanjiannya dengan istrinya.


"Ayo kita berangkat, mungkin semua sudah kumpul." kata Luna.


"Iya. Tapi sebentar sayang, aku pengen cium kamu sih." kata Leon.


Dia lalu menarik kepala Luna dan mencium bibir istrinya. Lama mereka berciuman, dan setelah cukup keduanya pun melepas pagutannya dan tersenyum. Leon mengelap bibir Luna yang basah, istrinya hanya memakai lipglos saja. Jadi tidak usah memakai lipstik lagi.


"Sudah yuk, jangan sampai mereka menunggu lama. Perjalanannya kan agak jauh." kata Luna.


"Iya."


Mereka keluar dari kamarnya dan turun tangga. Dengan pelan Leon menuntun istrinya agar tidak jatuh. Mereka langsung keluar rumah dan naik mobil, lalu Leon melajukan mobilnya dengan pelan keluar halaman rumah dan berbelok ke jalan raya.


_


Semua sudah berkumpul, Dewi sangat gelisah. Peresmian toko dan juga membuka bagi pelanggan pertama sampai lima puluh orang akan dapat diskon. Mereka yang mengetahui ada diskon bagi pelanggan pertama untuk pembelian baju-baju di toko Luna yang di beri nama tokonya De' Luna Colection itu sudah banyak yang menanti di depan pintu toko.


Mereka tidak sabar ingin membeli baju-baju yang katanya bagus-bagus. Ada yang di impor dari China dan Singapura, begitulah brosur iklan yang di buat agar menarik pelanggan membeli baju-bajunya. Tidak hanya baju-baju, tapi juga beberapa aksesoris dan juga sepatu-sepatu trendi.


"Ini di Luna kemana sih? Kok belum datang-datang?" ucap Dewi yang sejak tadi mondar mandir di dalam toko dan selalu melihat ke arah pintu yang masih tertutup.


Ibunya Dewi, ibunya Riki dan juga bapaknya Luna. Jack sudah ada di dalam, tak lupa asisten Riko yang sejak tadi membantu Dewi membereskan baju-baju yang di pajang.

__ADS_1


"Sabar Wi, kan peresmiannya jam dua siang. Ini juga masih jam satu lebih." kata Riki menenangkan Dewi yang sejak tadi gelisah.


"Iya sih, tapi semuanya sudah beres. Semua sudah datang dan para pembeli pertama pada kumpul di depan pintu sejak tadi. Gue juga ngga sabar pengen melayani mereka juga." kata Dewi masih gelisah.


"Sebantar aku telepon suaminya sudah sampai mana mereka." kata Riko.


"Oh, ya pak Riko. Suruh cepat gitu, semuanya sudah siap. Tinggal nyonya Leon aja yang belum hadir." kata Dewi.


Riko mengambil ponselnya dia menghubungi Leon dan tersambung.


"Halo?"


"Bos, di tunggu dari tadi. Semua sudah pada kumpul tinggal nyonya dan tuan Leon yang belum hadir." kata Riko.


"Iya, ini sebentar lagi sampai kok. Tunggu aja." kata Leon.


"Oke bos, di tunggu. Dewi gelisah sejak tadi."


"Iya."


"Apa katanya pak Riko?" tanya Dewi.


"Sebentar lagi katanya. Tunggu aja, mungkin sepuluh menit lagi sampai." jawab Riko.


Riko duduk lagi, Dewi kembali mengecek barang-barang yang di pajang. Dia menyewa dua gadis tetangga untuk membantu para pembeli nanti. Jika memang tokonya setiap hari ramai, maka gadis yang dia sewa itu akan di rekrut jadi pelayan. Tak lupa juga Boby ada di sana, hanya dia sibuk menjaga para pembeli yang siap jadi pembeli pertama untuk berburu diskon.


Tak lama, mobil Leon memasuki halaman parkir, Dewi keluar dari pintu belakang untuk menyongsong sang bos pemilik toko baru De'Luna Colection.


"Kok lama banget sih Lun?" tanya Dewi.


"Iya nih, tadi muter-muter jalannya karena ada demo di dua titik ruas jalan. Jadi kita cari jalan aman dan akhirnya memutar cari jalan lain." jawab Luna.


"Demo apaan?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Ngga tahu, paling juga menurunkan harga sembako dan juga BBM. Biasalah itu, ayo masuk. Gimana persiapannya?" tanya Luna.


"Semua sudah beres. Tuh para pembeli juga sudah ada di depan pintu. Sejak tadi mereka pengen berburu diskon pertama." kata Dewi.


"Ya udah, kita resmikan langsung aja ya mas?" tanya Luna pada Leon.


"Terserah kamu aja sayang. Kan kamu yang punya." kata Leon.


Mereka masuk lewat pintu belakang, Dewi menyuruh Riki untuk menyiapkan gunting untuk menggunting pita di depan pintu. Setelah pengguntingan pita itu, akan ada doa dari ustad yang di panggil di gang rumahnya.


Semua sudah berkumpul, Dewi, Riki, Riko dan juga bapaknya Luna serta teman-temannya itu. Mereka melnunggu Luna dan Leon. Karena perut Luna sudah besar, dan Leon khawatir nanti akan terdorong oleh pengunjung toko. Maka dia meminta untuk menyediakan kursi di depan pintu setelah peresmian toko selesai.


Riko maju di depan sebagai pembawa acaranya. Awalnya Dewi, tapi Dewi grogi maka di ambil alih oleh Riko. Dan kini Riko berdiri di depan para pengunjung dan undangan.


"Selamat siang semuanya, hari ini peresmian toko baru milik nyonya Leon. Yaitu Laluna dengan nama toko De'Luna Colection. Tanpa menunggu lama lagi, kita persilakan nyonya Leon atau nona Luna untuk memotong pita lebih dulu. Lalu setelah doa, semua yang hadir bisa masuk untuk membeli baju dan pembeli lima puluh orang pertama akan mendapat diskon lima puluh persen. Jadi kita persilakan kepada pemilik toko De'Luna Colection!"


Prok! Prok! Prok!


Semua tepuk tangan, Jack ayah Luna sangat senang sekali anaknya punya toko sendiri untuk kehidupannya kelak. Jadi dia tidak akan lagi pergi ke pasar untuk mencari iuran keamanan pada para pedagang. Jack terharu, di tepuknya pundak Jack oleh kakek Wira yang baru datang setelah Luna dan Leon sampai.


"Beruntunglah anakmu yang jadi menantu cucuku Jack. Dia memang sangat baik." kata kakek Wira.


"Terima kasih pak Wira. Saya sangat senang dan tidak menyangka cucu bapakku menikah dengan cucu sahabatnya." kata Jack.


Kakek Wira tersenyum, mereka menyaksikan Luna menggunting pita di iringi tepuk tangan sambil mengucapkan kalau toko bajunya resmi di buka. Lalu doa-doa pun di sampaikan oleh ustad gang di mana Luna tinggal. Baru setelah doa selesai, pemberian bingkisan dan para pembeli di persilakan masuk untuk memilih baju dan mendapatkan diskon lima puluh persen sampai.



Guys,mampir kemari yuks. Bagus lho ceritanya, ini punya teman othor yaa...😊


_


_

__ADS_1



__ADS_2