Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
66. Soal Nama Belakang


__ADS_3

Leon sudah mengazani keempat anaknya itu. Dia sangat senang sekali melihat keempat anaknya yang tampan dan cantik. Anak pertama dan kedua laki-laki, anak ketiga perempuan dan anak keempat laki-laki lagi.


Itu sangat menakjubkan bagi Leon, di beri anak sekaligus empat. Dan dia tidaj berniat menambah anak lagi, karena Luna sendiri sudah tidak mau hamil lagi.


"Saya boleh pegang satu-satu ya suster anak saya?" tanya Leon.


"Bisa pak, tapi nanti bapaknya bingung." kata perawat yang mengurus keempat anaknya itu.


"Ngga, itu kan anak saya. Kenapa saya bingung." kata Leon.


Dia memperhatikan keempat anaknya itu, sangat lucu sekali. Apa lagi yang ketiga anak perempuan yang cantik, mirip dengan istrinya.


"Duh, lucu-lucu banget sih anakku." ucap Leon.


"Bapak sudah menyiapkan nama anak-anaknya?" tanya perawat.


"Oh, iya ya. Anakku itu empat, berarti harus ada empat nama. Waauh, aku belum membahasnya sama Luna." ucap Leon.


Dia pergi begitu saja, meninggalkan anaknya yang sedang di rawat oleh suster. Rencana ingin memegang keempat anaknya justru batal dan lupa. Leon menuju kamar inap, di mana Luna di rawat oleh perawat.


"Sayang, kamu tidur?" tanya Leon ketika mendapati istrinya memejamkan matanya.


Luna menggerakkan kelopak matanya, dia melihat suaminya berdiri di depannya lalu duduk dan memegangi tangannya. Menciumnya dengan lembut dan tersenyum padanya.


"Ada apa mas?" tanya Luna.


"Kamu udah siapkan nama belum buat kwartet?" tanya Leon.


"Udah. Simpel aja sih namanya, tapi memangnya kamu punga pilihan nama?" tanya Luna.


"Emm, belum. Aku ingin tahu kamu mau kasih nama apa, biar nanti aku tambahin." kata Leon.


"Aku pake nama huruf depan ABCD aja, biar gampang memgingatnya." kata Luna.


"Untuk anak pertama nama depannya A?"


"Iya, namanya Azka aja. Aku suka nama Azka, na belakangnya kamu tambahin sendiri." ucap Luna.


"Azka Nugraha aja."


"Itu kan nama belakang kamu mas."


"Ya ngga apa-apa, kan bagus ada nama papinya." kata Leon.


"Ya udah, ngga apa-apa. Yang kedua itu Berry, aku ingat aktor Berry Prima itu mas. Kan dia aktor laga, mudah-mudahan dia jadi aktor laga juga. Heheh." kata Luna.


"Kok jadi aktor sih, biar jadi pebisnis handal aja sama kayak papinya." kata Leon.


"Kan masih ada yang lain."

__ADS_1


"Terus, siapa nama anak perempuan kita?"


"Siapa ya? Bingung kalau kasih nama anak perempuan. Cantika tuh bagus." kata Luna lagi.


"Cantika?"


"Iya, kan dia anak ketiga. Huruf depannya C, Cantika."


"Boleh deh, kita panggil cantik nanti. Dia akan jadi saingan bubun. Heheh." ucap Leon.


"Biar aja,kalau saingannya anak sendiri. Tetap aja kamu akan cari slime miliknya bubun." kata Luna.


"Heheh, tentu saja sayang. Kan punya Cantika ngga boleh di mainin, masih kecil dan ngga boleh dong sama papinya. Nanti kalau punya suami sendiri, yang mainin suaminya." kata Leon, Luna mencibir dengan ucapan suaminya itu.


"Yang bontot siapa namanya?"


"Devano."


"Waah, benar. Namanya Devano, aku suka." kata Leon dengan senangnya.


"Terus, nama belakangnya siapa? Kan baru Azka aja yang ada nama belakangnya." kata Luna.


"Ya, kasih aja nama Nugraha semua. Beres, simpel dan ngga bingung nantinya." jawab Leon.


"Masa nama Nugraha semua sih? Yang lain dong, ngga kreatif namanya kalau nama Nugraha semua belakangnya." kata Luna.


"Ya ngga apa-apa, itu menandakan kwartet itu anak aku sama kamu." kata Leon.


"Kalau kasih nama kamu juga ngga nyambung sayang, mereka kan laki-laki. Masa di tambahin nama Laluna, kan nama itu nama anak perempuan. Lagian kalau Cantika di kasih nama belakangnya nama kamu juga masih bagus kok." kata Leon.


"Tapi nama kamu ada sama anak cowok semua, seragam lagi namanya. Yang lain aja, udah Azka Nugraha aja satu. Yang lain cari lagi siapa namanya." kata Luna kesal.


"Terus siapa dong nama belakangnya?"


"Carilah, masa aku semuanya sih." kata Luna.


"Ya udah, nanti aku pikirkan namanya."


Perawat masuk untuk memberikan bayi-bayi pada Luna. Semuanya sudah di tandai di pergelangan tangannya dengan nomor sesuai kelahirannya. Agar tidak salah yang mana anak pertama dan keempat.


"Semua ada nomornya bu, yang nomor satu itu anak pertama. Dan seterusnya ya." kata perawat.


"Oh ya, suster terima kasih." kata Luna.


"Ibu boleh memberikan asi pada anak pertama dulu, baru gantian sama anak kedua dan ketiga, keempat ya. Semuanya harus di beri asi, karena asi pertama harus di konsumsi bayi agar bayinya terbiasa dengan asi ibunya." kata perawat.


"Iya suster." kata Luna.


Luna menerima bayi pertamanya, dia menatap bayi anak pertamanya. Sungguh tampan seperti suaminya, dia melirik pada Leon yang sedang menatap ketiga anak kembarnya.

__ADS_1


"Saya pergi dulu ya bu, dua jam lagi saya ambil bayi-bayinya." kata perawat itu.


"Iya suster, terima kasih." kata Luna.


Luna mengubah posisi duduknya dan membuka baju bagian atasnya dan segera memberikan asi pada anak pertamanya, yaitu Azka.


_


Dua hari di rumah sakit, Leon sudah bisa berangkat kerja lagi. Dia mau meminta pendapat pada asistennya tentang nama belakang untuk ketiga anaknya yang belum di beri nama belakang.


"Tuan Leon tumben sudah masuk kantor lagi?" tanya Riko heran.


"Iya, aku lagi pusing mikirin nama belakang untuk ketiga anakku." kata Leon.


"Lho, memangnya belum menyiapkan nama?" tanya Riko.


"Sudah, tapi nama belakangnya yang belum. Itu tiga anakku yang belum di kasih nama belakang, kalau nama panggilan sudah ada. Luna pengen namanya beda-beda, jangan nama belakangku aja yang di sematkan." kata Leon.


"Maunya siapa namanya?"


"Ya, siapa aja deh. Biarada nama belakangnya, kan ngga lucu namanya cuma satu doang." kata Leon.


"Lucu aja tuan, nona Luna juga satu kan namanya?" tanya Riko.


"Benar juga, tapi aku juga pengen ada nama belakangnya. Biar nanti di rapot tuh ngga heran gurunya." kata Leon lagi.


"Apa hubungannya dengan rapot?"


"Ya ada. Udah jangan pikirkan itu, coba kamu beri saran sama aku. Nama belakang yang cocok buat anak-anakku."


"Yang belum ada itu anak ke berapa?" tanya Riko.


"Kedua sampai keempat. Kalau yang pertama sudah ada nama belakangnya, sama denganku." kata Leon.


Riko tampak berpikir, susah juga memberi nama pada bayi yang baru lahir jika mendadak itu. Nanti artinya beda lagi, apa lagi kalau tidak cocok. Pasti akan berat buat anaknya nanti.


"Sudah belum?"


"Belum, susah juga ya."


"Ck! Kamu di minta saran nama aja susah banget."


"Memang susah bos, coba tuan bos kasih nama? Saya yakin nama-namanya sudah di siapkan oleh nona Luna kan?"


"Iya. Heheh."


Keduanya masih berpikir tentang nama belakang untuk anak-anak Leon dan Luna. Sangat susah memang, tapi Leon harus mendapatkan nama belakang untuk anak-anaknya.


_

__ADS_1


_



__ADS_2