
Malam yang panas bagi Leon dan Luna, malam ini mereka bermain kuda-kudaan dengan sangat bersemangat. Luna yang sudah sembilan bulan di kehamilan anak kembarnya itu justru semakin bergairah dengan bermain kuda-kudaan bersama suaminya.
Tentu saja Leon sangat senang ketika Luna beberapa kali memintanya bermain kuda-kudaan. Entah karena hormon kehamilannya itu, atau memang dia merasa harus di pancing agar si kembar kwartet bisa lahiran normal sesuai keinginannya.
"Euuh, sayang slimenya kok tambah besar ya. Sampai aku pegang tumpah-tumpah." kata Leon masih merremas slime milik istrinya itu.
"Kata dokter kan itu memang persediaan asi buat si kwartet. Eeuh, jadi tambah gede itu slime." ucap Luna dengan mendesahkan suaranya karena terpancing gairahnya oleh sentuhan tangan suaminya di bagian slimenya.
"Emm, jadi suka aku. Bisa berbagi kan asinya?" tanya Leon mulai menghisapnya.
Tapi Luna mendorong wajah suaminya dari slime miliknya dan cemberut. Leon heran, biasanya istrinya itu tidak protes.
"Kenapa?" tanya Leon.
"Ya ngga boleh berbagi, itu buat kwartet. Masa papinya mau sih?" kata Luna.
"Ya, maunya sebelum kwartet lahir sayang, mumpung kwartet belum keluar. Aku minta ya? Heheh." kata Leon tertawa kecil, lalu melakukan kegiatannya lagi menghisap slime milik istrinya itu.
Mereka siap untuk bergumul, namun tiba-tiba Luna meringis kesakitan perutnya. Membuat Leon panik.
"Kenapa sayang? Kwartet marah?" tanya Leon.
"Ngga tahu, ini sakit banget. Apa kwartet mau keluar ya?" tanya Luna kembali meringis dan memegangi perutnya yang tegang itu.
Leon segera mengambil baju Luna dan dirinya. Mungkin memang sudah waktunya melahirkan, karena sudah sembilan bulan pas. Tepatnya sudah tiga puluh tujuh minggu. Setelah memakai baju, dia membantu istrinya memakai baju dan tak lupa pakaian dalamnya.
Dia segera mengambil kunci mobil dan juga perlengkapan yang sudah di siapkan sebelumnya. Luna berjalan tertatih, di tuntun Leon untuk turun tangga.
Bi Dori melihat Luna seperti menahan sakit, dia pun mendekat dan bertanya pada kedua majikannya itu.
"Nona kenapa tuan Leon?" tanya bi Dori.
"Dia sepertinya mau melahirkan. Bi tolong bawakan perlengkapan ke dalam mobil, aku akan membopong Luna agar segera masuk ke dalam mobil." kata Leon.
"Iya tuan."
Leon menyerahkan tas berisi perlengkapan baju paska melahirkan. Dia langsung membopong Luna, meski berat dia tidak mau anaknya keluar di jalan. Kakek Wira melihat itu jadi heran, lalu dia pun ikut panik.
"Luna kenapa?" tanya kakek Wira.
"Mau melahirkan kek. Aku mau bawa dia ke rumah sakit." jawab Leon.
"Oh, sudah mau lahir ya si kwartet?" tanya kakek Wira gembira.
__ADS_1
"Ya, nanti tolong kasih tahu bapak Luna kek." kata Leon sudah berada di dalam mobil.
"Ya, kamu cepat bawa Luna. Kakek juga ngga sabar pengen bertemu kwartet.
Mobil Leon pun langsung melaju kencang menuju rumah sakit. Dia hanya berpikir segera sampai di rumah sakit, tidak melihat istrinya yang terguncang dan menambah sakit perut Luna.
"Maaass! Sakit. Aaaaah!!" teriak Luna.
Dia memegangi perutnya, dan satu tangannya memegangi lengan Leon dengan kuat.
"Sabar sayang, duh gimana sih kwartet. Jangan bikin papi sama bubun cemas dong. Sabar ya, bubun jangan di buat sakit." ucap Leon terus menoleh ke arah Luna.
Cengkeraman tangan Luna pada lengan Leon semakin kencang. Membuat Leon semakin mempercepat laju mobilnya. Hingga dia sampai di rumah sakit terdekat, dia tidak peduli bukan rumah sakit dulu rutin memeriksa Luna.
Sampai di UGD, Luna langsung di tangani oleh dokter jaga. Memberinya infus dan juga menenangkannya, memeriksa semuanya sesuai prosedur rumah sakit. Baru setelah selesai, Luna langsung di bawa ke ruang bersalin.
Leon menunggu di depan ruang bersalin, tapi dokter menyuruh Leon masuk untuk mendampingi istrinya melahirkan.
"Bapak masuk ke dalam ya, temani istrinya di dalam." kata perawat menyuruh Leon masuk.
"Ah, ya suster."
Leon pun ikut masuk ke dalan ruang bersalin. Dia tampak panik melihat istrinya sedang mengerang menahan sakit. Dia kasihan dengan Luna, dokter sedang menanangkan dan menanganinya. Leon mendampingi di sampingnya.
Sesekali dia menatap dan mencium keningnya. Memberikan semangat pada Luna.
"Sabar ya, nanti kwartet mogok lo kalau bubunnya ngeluh terus." kata Leon memberikan ketenangan pada Luna.
"Sakit bego! Kenapa sih harus begini, aaaaah! Siaaaalaaan!" kembali teriak Luna.
Kini keluar lagi kata-kata kasarnya yang dulu tidak terucap. Membuat perawat dan dokter terkejut dengan umpatan kasar Luna. Mereka menggeleng kepala, kemungkinan istrinya itu adalah mantan preman, jadi umpatan kasarnya keluar. Begitu kira-kira pikiran dokter dan perawat.
"Sabar ya bu, ini sudah kelihatan kepalanya satu. Ibu dorong ya." kata dokter memberikan semangat.
"Dorong gimana?! Ini sudah sakit banget, aaah sialaan!"
"Istighfar aja bu, jangan mengumpat terus." kata perawat mengingatkan Luna.
"Sayang, jangan begitu. Lebih baik sebut namaku aja ya, jangan bikin gaduh."
"Dorong ya bu, tarik nafas lalu mengejan dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!"
"Eeeeuuh!"
__ADS_1
Oek! Oek! Oek!
"Yes! Satu keluar!" teriak Leon dengan girang.
"Pak, jangan seperti itu. Ucap syukur aja ya." kata perawat mengingatkan.
"Ah ya suster, saya senang jadi lupa. Alhmadulillah ...."
"Sekarang anak kedua ya, ayo bu. Dorong lagi. Satu, dua, tiga!"
"Eeeuuuuh!"
Oek! Oek! Oek!
"Laki-laki lagi, aah senangnya."
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah!"
Oek! Oek! Oek!
"Perempuan pak."
Kembali dokter membimbing Luna lagi untuk mengeluarkan bayi terakhir. Luna seakan tidak punya tenaga, tapi dokter memberinya semangat lagi. Dan kini lahir juga bayi keempat.
Oek! Oek! Oek!
Kini lengkap sudah bayi yang di lahirkan Luna, empat bayi laki-laki tiga dan satu perempuan. Membuat Leon jadi senang. Dia menciumi istrinya berkali-kali yang sudah terkulai lemas tak bertenaga.
"Terima kasih sayang, kamu sangat hebat. Aku sangat mencintaimu. Cup, cup, cup." kata Leon dengan mencium Luna berkali-kali.
"Sialan, sakit banget sih melahirkan!" umpat Luna lagi masih lemas.
"Jangan begitu, kamu harus bersyukur bayi-bayi kita selamat semua. Kamu hebat banget." kata Leon mengingatkan istrinya itu.
"Aku ngga mau hamil lagi. Hik hik hik! Sakit." ucap Luna dengan terisak.
"Iya, kan udah dapat empat. Nanti aku bantu mengasuh kwartet ya." kata Leon menenangkan istrinya itu.
Kini dokter sedang menangani Luna untuk membersihkan rahimnya, Leon pun keluar, dia menunggu di depan sambil menelepon Riko asistennya.
_
__ADS_1
_