
Luna masuk lebih dulu, karena Leon pergi ke ruang kerja kakeknya. Di jalan dia di kirimi pesan setelah sampai rumh langsung menemuinya di ruang kerja kakeknya. Ada yang harus di bicarakan padanya mengenai perusahaan itu.
"Kakek memanggilku?" tanya Leon.
"Ya, duduklah." kata kakek Wira.
Leon duduk di depan kakeknya, seperti karyawan yang sedang meminta tanda tangan pada bosnya. Kakek Wira sendiri sedang memeriksa berkas di depannya, lalu menandatangani berkas tersebut. Setelah selesai dia menyerahkan berkas itu pada Leon.
"Apa ini kek?" tanya Leon melihat berkas itu, masih belum paham.
"Itu berkas perusahaan. Semua sudah kakek ambil alih atas namamu. Nanti anak cabang yang ada di Bogor Riko yang pegang, bulan depan kakek akan pensiun kerja. Kamu sudah lebih baik sekarang, dan tidak berhubungan lagi dengan Sherly. Kakek percaya kamu tidak akan menemuinya lagi kan." kata kakek Wira.
"Ya kek, aku sudah menetap ingin berumah tangga dengan Luna. Memperbaiki kesalahanku yang dulu dan mencoba mendekati Luna juga kek." kata Leon.
"Hemm, jadi kamu sudah mulai suka pada gadis pilihan kakek?" tanya kakek Wira.
"Ya, apa salahnya mencoba. Dia memang sebenarnya gadis yang baik." kata Leon mencoba menolak dalam hatinya kalau dia memang menyukai Luna.
"Ya, kamu memang harus mencobanya. Dia gadis yang baik dan cantik, dia juga sudah berusaha jadi gadis baik-baik dan merubah semua penampilan dan sikapnya. Meski kata-katanya masih kasar, tapi itu bisa kamu ajari dia untuk bicara lebih baik lagi." kata kakek Wira.
"Ya kek, mungkin dia bicara kasarnya padaku saja. Tapi pada bapaknya dan juga kakek, dia bisa pelan dan jaga sikap kulihat." kata Leon.
"Ya, makanya dia itu perlu di bimbing dan di sayangi. Dia ibarat berlian di tumpukan pasir, bukan bunga teratai dari atasnya terlihat bagus tapi di dalamnya sangat busuk." kata kakek Wira lagi mengumpamakan.
"Iya kek. Maafkan aku selama ini selalu membuat kakek kerepotan dan pusing memikirkan aku dan Sherly." kata Leon dengan sungguh-sungguh minta maaf.
"Sudahlah, bagi kakek yang penting kamu sudah berubah dan menerima pernikahanmu dengan Luna. Dan mencintai gadis itu dengan sepenuh hati."
"Iya kek."
Pembicaraan pun selesai setelah membahas masalah perusahaan dan kapan menyerahkan perusahaan itu pada Leon. Leon senang pada akhirnya kakeknya menyerahkan perusahaan itu dan dia juga suka dengan Luna. Gadis pilihan kakeknya untuk jadi istrinya.
Meski banyak drama, tapi dia suka dengan itu. Hidupnya tambah berwarna.
_
Leon masuk ke dalam kamarnya, ternyata tidak di kunci. Niat Luna mau mengunci pintu kamar Leon itu, tapi dia tidak tega pada Leon. Dia berpikir di mana nanti Leon akan tidur. Bayangannya Leon akan tidur di lantai di depan pintu.
Padahal ada kamar tamu jika benar-benar Luna mengunci kamarnya. Leon bisa tidur di kamar tamu.
__ADS_1
Leon masuk dengan pelan, dia tahu Luna sudah tidur. Karena dia bicara dengan kakeknya cukup lama. Leon masuk kamar mandi untuk cuci muka saja, dia malas mandi jika sudah jam sembilan lewat. Mengganti baju dengan kaos putih polos dan celana kolor saja..
Rasanya sudah nyaman dengan baju seperti itu, dia pun naik ke atas ranjag dengan hati-hati dan duduk menatap Luna yang sudah terlelap.
"Tumben dia tidak ngorok, biasanya dia ngorok kalau tidur." gumam Leon.
Matanya masih menatap wajah cantik Luna, tangannya meraba pipi mulus itu lalu beralih ke bibir Luna. Wajah Leon menunduk dan mencium bibir Luna pelan, awalnya hanya sekali. Tapi dia terus ketagihan mencium beberapa kali dan mencoba untuk mengulumnya.
Luna terusik, dia membuka kelopak matanya dan melihat Leon sedang menciumnya. Dia kaget, secara sepontan dia mendorong tubuh Leon dengan cepat.
Bug!
Leon terjungkal ke belakang, dia juga kaget di dorong dengan kencang oleh istrinya itu.
"Lo ngapain sih cium-cium gue?!" tanya Luna ketus.
"Ya elah, kan aku suamimu. Masa ngga boleh cium sih." kata Leon memegangi kepala belakangnya karena terkena bagian kayu ranjang.
"Ya tapi ko bikin gue kaget. Mana diam-diam lagi ciumnya." kata Luna merubah posisi duduk.
Masih menatap tajam pada suamintmya, sedangkan Leon sendiri tersenyum pada Luna.
"Ogah! Apaan kuda-kudaan." kata Luna yang mulai memerah pipinya.
"Jangan nolak terus dong, sayang. Kan aku mau menunjukkan keperjakaanku sama kamu. Kalau aku sih percaya kamu masih tingting, boleh ya kita kuda-kudaan malam ini. Aku pengen pegang slime kamu." kata Leon semakin tidak jelas ucapannya.
Tapi maksudnya Luna tahu kalau suaminya itu ingin melakukan sesuatu pada tubuhnya. Dia diam saja, Leon mendekat pelan. Menatap lembut pada istrinya, beralih pada bibir mungil milik Luna. Luna masih diam, dia tegang. Entah apa yang dia pikirkan. Membuang muka ke samping, tapi Leon dengan pelan menarik wajah itu menghadap padanya.
Luna mencoba untuk menerima apa yang di lakukan oleh suaminya. Tangan Leon meraba bagian tubuh yang menonjol di depan dada, slime kata Leoj. Dia memijat lembut, membuat Luna terlonjak dan mundur.
Ada rasa aneh yang dia rasakan ketika tangan Leon menyentuh bagian slime itu. Tatapan Leon tidak berhenti pada bibir saja, dia pun mencium bagian leher Luna. Dia membaca di internet di bagian mana biasanya para perempuan akan merasakan terrangsang jika di sentuh.
Dia mempraktekkannya ketika dia melihat di video blue yang dia unduh di aplikasi. Memang Leon masih perjaka, dan itu dia lakukan atas tutorial di video bluenya. Meski dia melakukannya dengan isnting kuat yang keluar dari dalam dirinya.
Kembali memijat lembut bagian slime milik Luna. Luna pun bergerak, merasa geli tapi meginginkan lebih. Akhirnya dengan instingnya juga, Luna pun melenguh pelan, tangannya di kalungkan di leher Leon.
Leon dan Luna sama-sama menikmati sentuhan demi sentuhan dari tubuh masing-masing. Kini Leon kembali meraup bibir Luna, dia melepas kaos dan celana kolornya. Hingga tersisa segi tiga pengamannya saja. Beralih dia membuka kaos yang menempel di tubuh Luna.
Seperti memang menginginkan sesuatu, keduanya berubah posisi. Leon membuka semua baju yang melekat pada tubuh Luna, dia berpikir memang harus di lakukan. Mumpung Luna juga mau melakukannya.
__ADS_1
Kini tampak jelas, bagian slime milik Luna yang memang ukurannya besar. Dengan rakus Leon pun meraupnya, kembali Luna pun melenguh panjang. Kini tinggal celana semmpak Leon yang siap di lepas. Dan terlihat benda panjang dan tegak.
Luna pun kaget, dia mendorong kuat benda panjang dan tegak itu.
"Aaauw! Kenapa kamu menendangnya? Dia mau masuk sarang." kata Leon.
"Itu, sosis gosong panjang banget sih." kata Luna merah padam wajahnya.
"Sosis?"
"Iya, itu sosis gosong." kata Luna menunjuk benda milik Leon.
Leon tersenyum, kenapa Luna menyebutnya sosis gosong? Tapi memang warnanya gelap dan bentuknya seperti sosis jika sudah tegak berdiri.
"Mau ya aku bobol gawangmu dengan sosisku?" tanya Leon memelas.
Dia sudah di atas puncak gairahnya. Luna menatap wajah Leon yang memang sedang kebingungan, jika dia menolaknya apa yang akan terjadi?
"Sosisnya masuk?"
"Ya, tapi pelan kok."
"Jangan keras-keras ya."
"Asyiiik!"
Leon pun bersiap membobol gawang Luna, satu kosong. Awalnya pelan, tapi semakin di tekan. Luna menjerit kencang karena kesakitan.
"Aaaargh!"
Leon membungkam mulut Luna agar tidak berteriak kencang, jika batal. Akan tanggung, akhirnya dia terus mendorongnya meski Luna kesakitan. Lalu kini senjata Leon sudah masuk lebih dalam, dia diam. Melihat wajah Luna kesakitan, kemudian dia menggoyangkan tubuhnya. Awalnya perih namun kini keduanya pun menikmatinya.
Kini mereka menikmati malam pertama sebagai suami istri setelah hampir tiga bulan. Luna sendiri entah kenapa mau melakukannya, apa karena ucapan bapaknya itu yang menginginkan cucu darinya?
_
_
__ADS_1