Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
62. Jadi Kamu Anaknya?


__ADS_3

"Itukan bapakku? Kenapa ada di foto pak Wira?" gumam Jack.


"Kamu sedang apa?" tanya seseorang yang berdiri di belakang agak jauh dari Jack berdiri.


Jack menoleh, dia melihat kakek Wira berdiri dengan menatapnya datar. Dia lalu mendekat dan bertanya pada kakek Wira.


"Pak Wira, kenapa anda punya foto bapakku?" tanya Jack heran.


Tentu saja kakek Wira terkejut, dia menatap Jack dengan wajah heran menatapnya juga. Dia lalu menghela nafas panjang dan tersenyum.


"Jadi kamu anaknya Yahya?" tanya kakek Wira.


"Iya, foto itu ayahku. Dan kenapa anda punya fotonya? Saya bahkan tidak ada." kata Jack lirih.


Kakek Wira lalu mengajak Jack duduk di kursi sofa. Dia ingin Jack menceritakan tentang bapaknya yang meninggal entah kapan waktunya. Sudah lama dia mencari sahabatnya itu, setidaknya bertemu dengan anaknya. Dan sekarang dia berhadapan dengan Jack, anak dari Yahya sahabatnya.


"Ceritakan tentang bapakmu, Jack." pinta kakek Wira.


Jack menatap kakek Wira dengan heran. Dia ingin tanya jawaban kenapa kakek Wira punya foto bapaknya itu, Jack menatap lagi foto bapaknya yang sedang tersenyum dan tangannya saling memenga lengan tangan kakek Wira. Seperti ada keakraban dari keduanya, Jack lalu menatap kakek Wira lagi.


"Apa pak Wira kenal dengan bapakku?" tanya Jack.


"Ya, makanya ceritakan tentang bapakmu Jack selama dia hidup dan tinggal di mana. Bagaimana dia bisa meninggal?" tanya kakek Wira.


Lalu Jack pun menceritakan bagaimana dia hidup dulu dengan bapaknya sepeninggal ibunya yang sakit-sakitan terus. Dia yang hanya lulusan SMP dan memnikah di usia dua puluh satu tahun lalu mempunyai anak perempuan bernama Luna, istrinya juga meninggal pada saat Luna berusia lima tahun.


Itu berberengan dengan ibunya, mereka di serang wabah flu burung pada saat itu. Karena mereka memelihara ayam-ayam untuk di jual di pasar. Sedangkan bapaknya waktu itu sedang merantau di luar kota. Jadi, Jack di tinggalkan istri dan ibunya pada waktu itu.

__ADS_1


Sejak itu, bapaknya pun kembali dari perantauan. Karena atas usul dinas kesehatan, mereka harus membakar semua peternakan yang mereka punya. Serta rumahnya juga harus di kosongkan karena di dalam rumahnya juga sudah terjangkit virus flu burung tersebut.


Lalu Yahya dan Jack pun mengungsi di rumah peninggalan ibunya Jack yang sudah lama di kosongkan itu, yang sekarang di tempati Jack dan Luna. Karena rumah bapaknya banyak virus flu burung jadi, mereka tidak bisa tinggal lagi di sana.


Sejak kematian istri dan menantunya, Yahya bapaknya Jack jadi sering melamun dan terkadang sering sakit-sakitan. Sedangkan Jack seorang tukang parkir pada waktu itu sampai sekarang. Dia membesarkan anaknya Luna dengan bapaknya.


Bapaknya di rumah menjaga Luna dan dia bekerja jadi tukang parkir. Kadang juga dia menjadi kuli panggul di pasar. Sehingga dia banyak berteman dengan para preman.


"Setelah Luna masuk sekolah SD, bapakku sering sakit-sakitan. Dan beliau meninggal juga saat saya sedang kerja di pasar. Saya bawa ke rumah sakit karena bapak batuk-batuk terus. Kata dokter bapaknya kena TBC yang sudah parah. Akhirnya bapak di rawat, tapi bapak minta pulang dan bapak meninggal di rumah. Saat itu saya benar-benar merasa kehilangan semua orang-orang yang saya sayangi. Hik hik hik, saya benar-benar marah. Kenapa semuanya meninggalkan saya. Sampai saya sering mabuk-mabukan, tapi Luna anak yang baik sejak kecil. Dia yang merawat saya ketikan saya putus asa, meski masih kecil. Dia bisa melakukan apa saja." kata Jack dengan terisak.


Kakek Wira terkejut dan diam, dia tidak menyangka kehidupan sahabatnya itu sangat susah. Dan meninggal dalam keadaan sakit. Dia mendengar dulu kalau modal yang dia berikan pada Yahya untuk membuat peternakan ayam potong dan di jual ke pasar. Istri dan menantunya yang mengelola, pada waktu itu.


Tapi beberapa tahun mereka mengalami kerugian, karena wabah flu burung itu. Kakek Wira tidak mengetahui sejak itu, karena dia sudah sibuk dengan pekerjaannya di Malaysia. Membesarkan perusahaan di sana, hingga istrinya meninggal dan anak serta menantunya kecelakaan.


Sampai itu dia pun kembali lagi dalam keadaan berkabung sama halnya sahabatnya dulu. Tapi setelah itu dia juga mendirikan peusahaan dengan gigih untuk cucunya kelak. Yang sekarang perusahaan itu sudah besar dan di pegang oleh Leon.


"Ya, dan sejak bapak meninggal dan saya sering mabuk-mabukan. Luna selalu melarangnya, tapi saya bandel. Dan dia mengancam akan kabur jika saya masih mabuk-mabukan terus. Kemudian saya pun berhenti mabuk, meski susah. Tapi syukur Luna bisa lulus sekolah SMA, dan dia tidak mau meneruskan sekolah lebih tinggi. Dia kerja juga jadi preman di pasar." kata Jack.


"Kenapa kamu membiarkan Luna kerja di pasar jadi preman?" tanya kakek Wira.


"Saya sudah melarangnya, tapi selalu dia menolaknya dan selalu mengancam akan kabur. Ya sudah, dari pada dia kabur. Meskipun dia mau kabur kemana, paling kabur juga dengan temannya si Boby di pasar. Akhirnya saya biarkan, asal Luna baik-baik saja dan tidak berbuat macam-macam gitu." kata Jack lagi.


Kakek Wira terdiam lagi, dia tidak menyangka Jack sangat menjaga anaknya yang meski pun dia seorang preman. Kakek Wira mendengar kalau Jack juga suka memalak di pasar pada orang-orang, tapi tidak selamanya seperti itu. Dan akhirnya menetap jadi tukang parkir.


"Kamu tahu Jack, foto itu adalah foto terakhir aku dan bapakmu ketemu. Aku pergi ke Malaysia meminta foto bareng sama bapakmu." kata kakek Wira.


"Jadi pak Wira ini teman bapakku?" tanya Jack.

__ADS_1


"Ya, selama ini aku mencari keberadaan bapakmu. Dan tidak ada yang tahu tentang bapakmu." kata kakek Wira.


"Pak Wira tanya nama siapa?" tanya Jack.


"Yahya, bapakmu kan namanya Yahya kan?" kata kakek Wira.


"Ya jelas tidak ada yang kenal pak, memang benar bapakku namanya Yahya. Tapi tetangga selalu memanggilnya Jo. Pak Jo, entah kenapa mereka memanggilnya pak Jo." kata Jack dengan tersenyum.


"Jo?"


"Iya. Hemm, pantas saja. Itu julukan waktu masih sekolah dulu denganku, dia itu jorok kalau duduk sambil makan. Selalu mengupil, jadi aku memanggilnya si jorok. Jadi dia memakai nama itu dengan nama julukannya dulu? Hahah! Jo itu alas jorok yang selalu aku panggil Jo, jorok. Hahah!" kata kakek Wira tertawa senang.


Dia senang mengenang masa lalu dengan Yahya. Nama panggilan yang keren, tapi maknanya jelek. Jo dari panggilan jorok.


Jack ikut tersenyum, dia memandangi lagi foto bapaknya. Dia juga tidak punta foto kenangan keluarga, yang ada foto istrinya yang selalu di dompetnya. Luna juga punya foto ibunya cuma satu yang dia berikan. Entah masih ada atau tidak.


"Aku senang akhirnya cucuku menikah dengan cucu temanku, sahabatku. Bapakmu itu sahabatku, Jack. Jadi secara tidak sengaja kalian di pertemukan dengan jodoh Leon dan Luna." kata kakek Wira.


"Terima kasih pak Wira mau menerima anak saya Luna sebagai menantu. Saya merasa malu karena pak Wira itu orang kaya, dan teman-temannya juga semuanya orang kaya. Saya merasa ini adalah anugerah dan pak Wira tidak merasa malu punya besan seperti saya." kata Jack.


"Aku tidak mempermasalahkan status orang, yang penting orangnya baik dan tidak menjadikan harta adalah tujuannya. Dan aku beruntung kamu tidak seperti itu, apa lagi anakmu Luna. Dia memang gadis yang baik dan penurut, ya meski terkadang dia suke keluar sikap aslinya sebagai seorang gadis preman. Hahah! Tapi tidak apa, aku suka anakmu itu. Apa lagi sekarang sedang mengandung anak Leon empat. Lucu sekali membayangkannya. Hahah!" kata keka Wira.


Jack hanya tersenyum saja, dia memang tidak menyangka kalau kakek Wira adalah teman bapaknya. Dan akhirnya dia bisa tenang, karena bisa bertemu dengan teman bapaknya itu. Karena sebelum meninggal, bapaknya pernah berkata. Kelak kamu akan bertemu dengan bapaknya yang sangat baik sekali, maka sekarang dia sudah bertemu dengan teman bapaknya. Dan memang kakek Wira itu sangat baik.


_


_

__ADS_1



__ADS_2