Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
50. Menemui Sherly


__ADS_3

"Aku akan jemput kamu di rumah dan kita bertemu dengan Sherly bersama-sama." kata Leon ketika dia sudah bersiap pergi ke kantor.


"Terus, aku mau apa di sana?" tanya Luna.


"Ya, seperti tadi malam aku katakan. Aku menunggu dia sendiri dulu, dan kamu nanti duduk di belakangku." kata Leon.


Dia berbalik dan menarik istrinya saling memeluk. Leon mengecup bibir Luna lalu menatapnya dengan lembut. Memang sejak malam pertama itu, Leon semakin mencintai istrinya. Dia selalu menelepon Luna ketika jam istirahat, terkadang dia juga meminta Luna datang membawa makanan untuk makan siangnya.


Sedangkan Luna, meski dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Tapi kini Luna sudah bisa menerima perlakuan Leon padanya, sudah bisa berkata lembut meski terkadang dia lupa.


"Luna."


"Hemm?"


"Aku cinta sama kamu." kata Leon penuh perasaan.


Luna diam dan tersenyum saja, dia tidak membalas ungkapan cinta Leon. Tapi hanya menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu. Dan baru kali ini dia merasa sangat mencintai seorang perempuan penuh dengan kelembutan.


Meski dulu dia pernah mencintai Sherly, tapi berbeda dengan Luna. Dia tidak pernah absen menelepon lebih dulu istrinya itu. Sedangkan dulu, Sherly yang sering meneleponnya. Dan ujung-ujungnya meminta belanja, tapi dia tidak pernah menolak permintaan gadis itu.


"Aku pengen dengar kamu bilang cinta sama aku." kata Leon memeluk Luna.


"Malu."


"Kok malu sih?"


"Itu terlalu melow, gue ngga suka." kata Luna.


"Ya, tapi kita udah empat bulan. Kamu juga ngga nolak lagi jika di ajak kuda-kudaan." kata Leon.


"Ya udah, itu kan menandakan perasaan gue." kata Luna.


"Tapi aku juga pengen punya istri romantis dong, bilang cinta gitu sama suaminya." kata Leon.


"Gue ngga biasa, udah sih. Yang penting sikap gue sama lo." kata Luna.


"Tuh kan, jangan pake lo gue lagi. Kita kan udah suami istri sah, ganti panggilannya. Abang kek, atau mas gitu. Kan aku lebih tua dari kamu." kata Leon.


"Emang berapa umurmu?"


"Mau dua puluh sembilan, kamu berapa?"


"Mau dua puluh satu."


"Kan, lebih tua siapa?"


"Kamu."


"Makanya, manggilnya yang sopan sama suami. Apa lagi usiaku lebih tua dari kamu." kata Leon.


"Sabar sih kenapa? Gue ngga bisa langsung berubah, asing aja gitu bagi gue. Nanti gue hafalin dulu panggilannya." kata Luna melepas pelukan suaminya.


Dia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, Leon hanya menggeleng kepala saja. Harus sabar menunggu perubahan dari istrinya. Dia lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Menunggu Luna di bawah untuk berpamitan, dan siangnya dia menjemput Luna untuk bertemu dengan Sherly.


_


Leon kini duduk menunggu Sherly datang, di belakangnya Luna menunggu juga dengan bermain ponselnya. Tak lama, Sherly datang dengan tubuh yang berbeda dan penampilan berbeda pula. Leon menatapnya datar, Sherly tersenyum senang Leon mau menemuinya.


Dia akan menunjukkan sesuatu pada Leon, Sherly duduk di depan Leon. Menatapnya dengan tatapan biasanya, manja dan seperti menggoda. Dia tahu Leon sudah mengambil alih sepenuhnya peusahaan kakeknya, makanya dia ingin menemui Leon..

__ADS_1


"Kamu selalu tepat waktu sayang." kata Sherly.


Membuat Luna di belakang jadi terbatuk mendengar ucapan Sherly itu. Leon menoleh sedikit tapi kemudian dia kembali duduk tenang.


"Ada apa kamu minta bertemu denganku?" tanya Leon.


"Ingat janjimu, Leon. Setelah kamu sudah menjadi pimpinan peusahaan kakekmu, kamu akan menikahiku kan?" kata Sherly yang seolah lupa kalau dia dan Leon sudah putus.


"Heh! Siapa yang berjanji? Bukankah kita sudah putus setelah kamu berselingkuh lebih dulu?" kata Leon sinis..


"Tapi, kamu harus ingat janji itu. Kamu sudah aku izinkan menikah dengan gadis pilihan kakekmu, dan sekarang sudah menjadi pimpinan perusahaan itu. Jadi kita bisa menikah Leon." kata Sherly lagi.


"Ck, perempuan tidak tahu diri!" ucap Luna di belakang Leon.


"Hei! Siapa kamu ikut-ikut campur urusan kami?!" kata Sherly kesal.


Luna sudah tidak sabar, memang baru saja bicara. Tapi Sherly sudah keterlaluan meminta suaminya untuk menikahinya. Dia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Leon suaminya, dia duduk di samping Leon dan menatap tajam pada Sherly.


"Apa yang kamu katakan? Leon mau menikahimu? Cuih!" kata Luna.


"Hei, kami gadis preman kampung! Jangan ikut campur urusanku dengan Leon!"


"Dia suamiku, kamu mau apa? Bahkan kamu sudah di putuskan tapi masih saja bermuka tebal datang untuk menemuinya? Kamu bahkan berselingkuh, tapi masih saja menganggap Leon bodoh? Kalau masih saja memilih kamu, itu artinya dia memang bodoh, bego!" kata Luna kesal dengan ucapan Sherly yang tidak tahu diri.


"Sayang, diamlah. Biar aku saja yang bicara." kata Leon menenangkan istrinya.


"Heh! Sayang?"


"Kenapa?!" tanya Luna.


"Sayang, diam dulu." kata Leon, tapi Luna tidak menggubrisnya.


Dia masih cekcok dengan Sherly, Leon bingung. Dua perempuan yang membicarakannya dan memperebutkannya itu semakin sengit bicara.


"Kamu juga gadis preman! Hanya karena kakek Leon menikahkan kamu, jangan mentang-mentang jadi sok nyonya Leon ya."


"Jelaslah, gue nyonya Leon yang di akui. Lo siapa? Gadis tidak tahu diri!"


"Luna, sudah jangan ladeni dia." kata Leon lagi mencoba menenangkan istrinya lagi.


"Dia model abal-abal, udah tahu kamu punya istri. Masih aja ganggu kamu, malam-malam teleponan sama kamu." kata Luna lagi tambah kesal.


Leon memejamkan matanya, Luna jika sedang mode cemburu akan berbuat kasar. Mungkin sebentar lagi akan ada cakar-cakaran, Leon bergidik. Dia pun berinisiatif untuk menenangkan istrinya dengan menarik wajahnya dan mencium bibirnya di depan Sherly. Dia tidak peduli dengan Sherly yang kaget akan tindakan Leon mencium mesra Luna.


"Leon!" teriak Sherly marah.


Tapi Leon tidak peduli, dia masih menikmati mencium istrinya agar tenang tidak melakukan tindakan kasar dan membuat keributan di restoran itu.


"Leon!"


Leon melepas ciumannya, membuat Luna pun diam dan menunduk malu. Sedangkan Sherly marah sekali pada pasangan suami istri yang sedang kasmaran itu.


"Kalian tidak sopan!" kata Sherly.


"Kenapa?" tanya Leon.


"Berciuman di depanku. Padahal kamu akan bertanggung jawab padaku Leon." kata Sherly.


"Bertanggung jawab apa? Aku melakukan apa sama kamu?" tanya Leon.

__ADS_1


Sherly mengeluarkan sesuatu dari tasnya, dengan tersenyum menyerahkan alat tespek pada Leon. Leon memperhatikan benda itu dan mengerutkan dahinya.


"Ini apa?" tanya Leon.


"Itu alat tes kehamilan." jawab Sherly.


Dia pikir Leon akan percaya jika dia menunjukkan alat itu padanya.


"Lalu?"


"Ya, aku hamil?"


"Syukurlah, setelah itu sana menikah dengan bapak bayinya." kata Leon, membuat Sherly dian dan kesal.


"Hei, bapaknya kamu Leon." kata Sherly.


"Hei, sejak kapan aku tidur sama kamu?"


"Sejak ....?"


"Sejak kapan?"


"Aku ..."


"Kalau mau menipu itu yang cantik, jangan menyodorkan alat itu. Tapi kamu sendiri tidak tahu tidur sama aku kapan. Bahkan aku tidak pernah memegang slime milikmu. Jangan ngaco aku tidur denganmu, ingatanku masih kuat ya, bego kok di pelihara." kata Leon dengan kasar.


Membuat Sherly malu dan marah. Dia memang gegabah, tidak pernah tidur dengan Leon selama berpacaran. Sejak berselingkuh justru dia sering tidur dengan selingkuhannya saja, lupa dengan Leon yang setia padanya saat itu.


"Sherly!"


Teriak seorang laki-laki menghampiri Sherly dan Leon. Leon dan Luna heran, mereka saling pandang. Membuat Sherly semakin malu dan menunduk.


"Siapa kamu?" tanya Leon.


"Dia kan yang ada di video itu, Leon." kata Luna.


"Ooh, jadi kamu bapak anaknya dia?" tanya Leon.


"Ya, dan aku akan bertanggung jawab menikahinya. Jangan ganggu Sherly lagi." kata laki-laki itu dengan ketus.


"Dih, siapa yang ganggu dia? Aku yang di ganggu dia, malah dia minta pertanggung jawaban dariku karena perbuatanmu itu. Aku tidak pernah nyumbang benih ya sama dia, mending kuda-kudaan sama istriku aja." kata Leon.


"Apa sih kamu!" kata Luna.


"Sherly, ayo kita pulang."


"Aaaa! Aku mau sama Leon!" teriak Sherly kencang.


"Stres dia, yuklah pulang aja sayang." kata Leon pada Luna.


Luna tersenyum, dia pun bangkit. Dia pikir akan ada drama yang menegangkan, ternyata konyol juga kejadiannya. Dan kali ini Luna sangat senang, dia memeluk suaminya itu dan berbisik pada telinga Leon.


"I love you."


Luna berjalan cepat meninggalkan Leon yang kaget dengan ucapan istrinya itu. Lalu Leon pun mengejar istrinya dan tersenyum senang.


"Lalunaaa!"


_

__ADS_1


_



__ADS_2