
Luna dan Leon tidur bersama malam ini, hanya tidur saling membelakangi. Leon masih sangat marah dan memikirkan apa yang ada dalam rekaman itu. Dia mengulang lagi melihat rekaman Sherly yang membeli pakaian, dan laki-laki selingkuhannya meminta jatah pergi ke hotel.
Leon geram sekali, dia bangun dari tidurnya. Melihat ke belakang, istrinya sudah tidur dengan lelap. Leon pun mengambil ponsel Luna dan kembali melihat lagi video tersebut dan memindahkannya ke ponselnya. Setelah selesai, dia pun menghubungi Sherly untuk minta bertemu.
Tuuut
"Halo Leon sayang, akhirnya kamu meneleponku. Aku sangat kesal tahu kamu tinggalin aku dan di telepon kamu ngga jawab." kata Sherly di seberang sana dengan manjanya merayu Leon.
"Maaf. Bisa kita bertemu besok?" tanya Leon.
"Tentu saja sayang, aku ingin tanya tentang yang kemarin. Apa benar gadis preman itu istri kamu, pokoknya aku akan interogasi kamu!" ucap Sherly di seberang sana.
"Ya, aku juga mau tanya sesuatu sama kamu. Kita ketemu di jam makan siang, silakan kamu pilih tempatnya aja. Nanti aku datang." kata Leon dengan dingin.
"Oke sayang, kita makan di tempat biasa aja ya." kata Sherly lagi.
"Ya, terserah kamu." jawab Leon masih dingin pada Sherly.
"Leon, kamu kok beda sih bicaranya? Kaku banget." kata Sherly mendengar Leon lebih dingin.
"Aku hanya lelah aja, ya udah. Aku tutup teleponnya. Besok aku akan datang ke restoran biasa." kata Leon.
"Oke sayang, see you tomorow."
Klik!
Leon menghela nafas panjang dan meletakkan ponselnya di nakas. Dia pun kembali terbaring, menatap langit-langit kamar. Merasakan gerakan Luna yang membolak balik tubuhnya sampai ranjangnya bergoyang. Membuat Leon terganggu, dia merubah posisinya ke arah Luna yang terpejam menghadap padanya.
Leon menatap wajah Luna yang polos jika sedang tidur, sangat manis ketika Luna tidur. Tiba-tiba terdengar suara ngorok dari mulut Luna, membuat Leon pun berdecak kesal.
"Kenapa dia tidurnya ngorok? Ish, jorok banget sih jadi perempuan. Tidur ngorok? Ngga ada anggun-anggunnya dia jadi perempuan." kata Leon bergumam sendiri.
Tapi akhirnya dia pun merasa lelah, Leon tertidur dengan cepat. Dan tanpa sengaja tangannya memeluk Luna dengan nyaman.
_
Leon kini sudah berada di restoran di mana dia dan Sherly sering makan di sana. Restoran mewah yang sangat mahal dan menunya juga tidak sembarangan, kebanyakan bahan-bahannya di datangkan dari luar negeri. Dan Leon sebenarnya kurang suka, hanya saja dia sedang mabuk cinta pada Sherly. Jadi apa pun yang tidak dia sukai selalu saja di paksa untuk menyukainya karena tidak mau mengecewakan Sherly.
Nyatanya kini Sherly hanya memanfaatkannya saja, meminta di belanjakan barang mahal dan branded hampir setiap bulan. Dan empat kali dalam seminggu selalu saja makan di tempat restoran mewah. Kadang juga di restoran Jepang atau restoran Italia.
Leon semakin berpikir, memang benar sekali dengan ucapan kakeknya. Kalau Sherly memanfaatkan uangnya saja, bahkan dia sering sekali pergi dengan produsernya ke hotel. Entah ada berapa selingkuhan Sherly sejak berpacaran dengan Leon.
__ADS_1
Tapi dalam rekaman di toko baju itu, memang laki-laki yang tahu jika Sherly hanya memanfaatkan Leon saja.
Sherly akhirnya datang, dia berjalan dengan anggunnya dan tersenyum manis pada Leon yang sejak tadi duduk diam menunggunya.
"Halo sayang, kamu menunggu lama ya?" tanya Sherly dengan senyuman menggodanya.
"Ya, cukup lama. Tapi tidak mengapa." kata Leon.
"Ooh, kamu selalu manis sekali. Maaf ya, aku selalu datang telat jika janjian makan siang denganmu. Yaa, kamu tahu sendiri kesibukanku ini. Pekerjaan jadi model itu banyak menyita waktu, apa lagi sekarang aku di tawari main sinetron oleh produserku Leon. Jadi aku sangat sibuk." kata Sherly.
Leon hanya diam saja. Pelayan masuk dan memberikan katalog menu makanan. Dan seperti biasa, Sherly memilih menu makanan yang spesial di restoran itu. Sedangkan Leon hanya memilih menu sedang. Tidak banyak menu makanan yang dia pesan.
"Kamu lagi diet sayang? Kok pesannya sedikit banget." kata Sherly.
"Tidak, tadi pagi aku makan sarapan yang di sediakan istriku." kata Leon sengaja memancing Sherly kesal.
"Huh! Jadi kamu benar-benar sudah menikahi gadis preman itu? Heh! Selera kakekmu sangat rendah sekali ya, Leon. Kenapa menikahkan kamu dengan gadis preman itu?" tanya Sherly mencibir dan kesal juga.
Meski itu adalah usulnya juga Leon menerima perjodohan dari kakeknya. Tapi dia senang karena nantinya Leon akan mendapatkan warisan dari kakeknya juga perusahaan besar itu akan jadi milik Leon. Sherly tersenyum, dia merasa senang sekali.
Leon melirik pada Sherly yang tersenyum senang, tapi Leon sendiri kesal dan marah dengan Sherly tersebut.
"Hemm, ya. Aku juga sangat lapar." kata Sherly.
Mereka menyantap makanan yang sudah tertata rapi di meja makan. Leon makan dengan tenang, sambil berpikir dia harus memutuskan Sherly secepatnya. Setelah makan selesai, Leon mengambil minum dan juga ponselnya.
Dia membuka galeri, melirik Sherly yang kelihatannya sudah selesai makan.
"Kamu senang pacaran sama aku?" tanya Leon tiba-tiba.
"Eh? Tentu saja sayang. Aku senang sekali, kamu itu sangat royal sama aku. Makanya aku sangat mencintaimu, meski kamu sudah menikah dan menghianatiku." kata Sherly berpura-pura kesal.
"Apa yang kamu sukai dariku? Apa karena aku royal sama kamu?" tanya Leon.
"Eh, ya ngga dong sayang. Aku mencintaimu Leon." kata Sherlya menatap Leon yang berbeda dari biasanya.
Ada kemarahan di sana, Sherly takut Leon marah karena gadis preman itu. Atau Riko memberitahu semuanya tentang dirinya.
"Coba kamu lihat video ini." kata Leon menyerahkan ponselnya pada Shrly.
Sherly mengambil ponsel Leon dengan ragu. Menatap Leon yang dingin dan mengangguk padanya. Dia melihat video tersebut, lama dia melihat videonya. Wajahnya memerah mendengar percakapannya dengan kekasih gelapnya itu terdengar jelas.
__ADS_1
Video itu ada di toko baju, di mana dia dulu memaki dan menuduh Luna sebagai pencuri. Tapi nyatanya, Luna justru di beri gratis baju-baju di sana. Sherly marah dan kesal, wajahnya kembali memerah. Leon menatap dingin pada Sherly.
"Leon, itu salah sayang. Dab aku sedang belajar akting. Aku di tawari jadi peran antagonis nantinya, jadi aku belajar sama temanku itu." kata Sherly mencoba membuat alasan.
Biasanya, jika sudah memberi alasan masuk akal pada Leon. Dia akan percaya, tapi Sherly melihat wajah Leon tetap dingin seperti baru lihat awal masuk ke dalam restoran.
"Oh ya, latihan main sinetron ya?"
"Iya sayang, jangan percaya dengan video itu." kata Sherly, Leon tersenyum sinis.
"Selama ini aku memang bodoh, selalu percaya dengan ucapanmu. Dan kali ini, kamu pun menganggap itu latihan? Jelas sekali kamu dan selingkuhanmu menyebut namaku, dan kamu juga memang sengaja ingin memanfaatkan uangku. Dan kupikir memang benar, selama kamu jadi pacarku. Kamu terlalu banyak permintaan di belikan barang-barang mahal. Dan bodohnya aku selalu menuruti kemauanmu." kata Leon dengan geram.
"Leon, bukan begitu. Aku benar-benar mencintaimu, sungguh." kata Sherly.
"Cukup Sherly. Kita putus, dan jangan lagi kamu hubungi aku. Aku sudah muak denganmu." kata Leon dengan menatap tajam pada Sherly.
"Leon! Ada apa denganmu?!"
Kali ini Sherly marah, dia tidak terima di putus oleh Leon.
"Kita putus dan jangan lagi menggangguku, jangan menghubungiku. Urus saja pacar gelapmu, dan cari mangsa baru sana untuk bisa kamu bodohi lagi." kata Leon.
Dia pergi meninggalkan Sherly yang tampak marah dan tidak terima di putus oleh Leon.
"Sialaan! Ini pasti gara-gara gadis preman tidak tahu diri itu. Awas saja kamu! Akan aku buat dia pergi dari Leon!" ucap Sherly.
Dia lalu pergi meninggalkan restoran itu, namun di cegah oleh satpam di sana.
"Maaf nona, anda bayar dulu makanannya." kata pelayan yang mendekat padanya.
"Kenapa harus bayar? Bukankah sudah di bayar?"
"Tapi tuan tadi hanya membayar apa yang dia pesan saja, nona." kata pelayan itu.
"Apa?!"
_
_
__ADS_1