
Leon mencari tempat duduk yang nyaman, dia sangat senang dan juga mengagumi Sherly yang cantik dan anggun malam ini. Hatinya benar-benar bahagia ketika bersama dengan Sherly, karena tentu saja Sherly adalah pusat sebagian besar pengunjung restoran.
Kecantikannya dan dan tubuh tinggi langsing membuat dia selalu terlihat elegan dengan memakai baju apa pun. Seperti sekarang ini, dia memakai dres cantik berbahan tile lembut. Di padu dengan beberapa payet yang cocok dengan warna baju yang abu soft.
Tas di tangan serta aksesoris gelang dan anting menambah keanggunan seorang Sherly yang sebagai model. Dan malam ini dia model di restoran mewah itu. Meski Leon kurang suka dengan sikap ramah Sherly pada siapa saja yang menyapanya, tapi dia tidak pernah menegurnya. Karena dia sadar, Sherly adalah seorang model yang sedang merintis karir dan sebentar lagi akan naik daun.
Leon senang bisa menjadi kekasih Sherly yang jadi model. Dia menarik kursi untuk Sherly, dan Sherly pun tersenyum pada Leon. Kemudian Leon pun duduk di hadapan Sherly, dia ingin mendengarkan apa yang akan di rencanakan Sherly.
"Kamu punya rencana apq sayang?" tanya Leon setelah seorang pelayan mencatat pesanannya dan Sherly.
"Begini, kamu ngga apa-apa deh nikah dengan pilihan kakekmu." kata Sherly menjeda.
"Lho? Aku ngga mau ya, kan aku cintanya sama kamu. Kenapa aku harus menikah dengan gadis pilihan kakek. Atau kamu sudah tidak cinta aku lagi?" tanya Leon menyelidik.
"Bukan Leon, aku juga mau kok menikah dengan kamu. Tapi kan kakekmu tidak setuju aku menikah dengan cucu satu-satunya ini, apa lagi nanti jika kamu maksa menikah denganku. Sudah pasti perusahaan itu tidak akan kakekmu berikan sama kamu, aku ngga mau menikah denganmu tapi dalam keadaan ngga punya apa-apa." kata Sherly membuat Leon sedikit tersinggung.
"Apa rencana kamu?" tanya Leon.
"Emm, seperti tadi. Kamu harus mau menikah dengan pilihan kakekmu, hanya untuk mendapatkan warisan dan perushaan itu di serahkan sama kamu. Sementara kamu menikah dengan gadis pilihan kakekmu, kita masih bisa kok berhubungan seperti biasanya. Nanti setelah perusahaan itu sudah jadi milikmu, kamu ceraikan gadis itu dan menikah denganku. Bagaimana?" kata Sherly.
Leon tampak berpikir, ada benarnya juga pendapat Sherly. Dia pura-pura menurut pada kakeknya untuk mendapatkan perusahaan kakeknya dan juga warisan lainnya. Bukankah nanti semuanya akan jadi miliknya?
"Benar juga apa yang kamu katakan sayang, baiklah. Aku akan menuruti apa yang kakek katakan, menikah dengan gadis pilihan kakek. Dan setelah menikahinya, aku akan menceraikannya setelah aku sudah mendapatkan perusahaan itu dan warisan lainnya." kata Leon dengan wajah sumringah.
"Nah gitu dong, jangan kalah sama kakekmu. Kamu harus lebih cerdik dari kakekmu sayang, nanti setelah mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikmu. Kamu bisa buang gadis itu kemana pun kamu mau." kata Sherly dengan senangnya rencananya di setujui oleh Leon.
"Rencana kamu hebat honey, aku suka cara berpikirmu. Tapi kurasa terlalu kejam jika harus membuangnya, mending aku ceraikan saja dia dan dia harus menurut nantinya. Nanti aku akan buat kesepakatan dengannya sebelum menikah." kata Leon lagi.
__ADS_1
"Jadi kamu setuju dengan rencanaku ini?" tanya Sherly membelai pipi Leon.
"Tentu saja, demi kebaikan kita. Tapi, aku takut nanti kamu kecewa sayang. Bagaimana denganmu ketika aku menikah dengan gadis pilihan kakek?" tanya Leon khawatir.
"Kamu tenang saja, aku tahu kan kamu dan nanti gadis itu hanya pura-pura saja. Jadi, aku tidak akan cemburu. Yang penting, warisanmu dan perusahaan itu jatuh ke tanganmu. Dan setelah itu kita bisa menikah sayang." kata Sherly.
Leon tersenyum senang, betapa dia sangat mencintai Sherly. Sedangkan Sherly tidak seperti apa yang Leon lakukan, sia selingkuh dengan produsernya tanpa sepengetahuan Leon. Sherly tersenyum miring, betapa bodohnya Leon. Pikirnya.
Makan malam pun berjalan dengan lancar, awalnya Sherly ingin marah pada Leon. Tapi justru mendapatkan cerita yang menarik, bahkan dia membuat rencana untuk Leon. Selama Leon menjalankan misinya, dia akan bersenang-senang dengan sang produsernya. Kelasih gelap Sherly.
_
Pagi ini Leon menemui kakeknya, dia sarapam seperti biasa dengan kakeknya. Sesekali dia melirik kakeknya yang makan dengan tenang, sedangkan Leon tampak gelisah. Kakek Wira tahu cucunya itu sedang gelisah, entah apa. Tapi sepertinya dia ingin bicara dengannya.
"Katakan saja apa yang kamu ingin bicarakan." kata kakek Wira dengan wajah datar tanpa menatap cucunya.
Membuat sang kakek tertegun, dia menatap cucunya yang masih menunduk merasa bersalah. Tapi dia menyelidiki kenapa cucunya itu mau di jodohkan dengan gadis yang dia mau. Bahkan kakek Wira sendiri belum tahu dan belum mendapatkan cucu dari sahabatnya itu. Apakah dia akan meminta Luna si gadis preman itu untuk menikah dengan Leon, cucunya?
"Apa yang kamu katakan?" tanya kakek Wira lebih santai.
"Aku mau menikah dengan gadis yang kakek pilihkan untukku. Terserah kakek gadis seperti apa yang kakek mau." kata Leon.
"Benarkah? Kenapa kamu berubah pikiran dalam satu malam? Keputusanmu itu akan membuat hidupmu berubah dan tidak akan sama. Lagi pula, apakah kekasihmu itu mau berpisah denganmu?" tanya kakek Wira.
"Dia mau kek." ucap Leon dengan cepat, membuat kakek Wira curiga.
"Apa, keputusanmu itu mau menikah dengan gadis pilihan kakek karena kekasihmu itu?" tanya kakek Wira penuh selidik.
__ADS_1
"Ini keputusanku kek, Sherly mendukungku. Dia bahkan menerimanya dengan lapang dada jika aku menikah dengan gadis pilihan kakek." kata Leon meyakinkan kakeknya bahwa Sherly tidak terlibat dengan keputusannya.
Namun sayang, kakek Wira terlalu pintar untuk sebuah rahasia tentang Sherly. Dia tahu, gadis itu berkhianat dari cucunya. Bahkan kakek Wira tahu dari anak buahnya yang sengaja memata-matai Sherly.
"Baiklah, tunggu satu bulan kakek akan kenalkan gadis yang kakek tentukan untuk jadi calon istrimu." kata kakek Wira.
"Kenapa lama sekali kek, besok pun aku mau kok bertemu dengan gadis calon istriku itu." kata Leon seperti antusias dengan ucapannya.
"Heh! Kamu ternyata terburu-buru ingin melihat dia. Tunggu satu bulan, nanti kakek langsung memperkenalkan kamu pada gadis itu dan mengakrabkan diri dengan calon istrimu." kata kakek Wiran.
Leon menghela nafas panjang, dia pun menyelesaikan sarapannya dan dia masuk ke dalam kamarnya di lantai dua. Kakek Wira hanya melihat dari jauh.
"Lalu, kapan kakek akan mengenalkan gadis calon istriku denganku?" tanya Leon.
"Kamu tidak sabar ternyata, apa jangan-jangan kamu mau menikah dengan gadis pilihan kakek hanya menginginkan perusahaan itu dan menjadi CEOnya?" tebak kakek Wira, membuat Leon gugup dan salah tingkah.
"Ngga kok kek, aku mau menurut sama kakek. Lagi pula, kakek kan sudah tua. Jadi jika aku tidak menurut sama kakek, sangat berdosa sekali." kata Leon bersandiwara.
"Lebih berdosa lagi jika kamu hanya pura-pura mau menuruti apa kata kakek." kata kakek Wira.
Leon diam, benar juga apa yang di katakan kakeknya. Tapi dia sangat mencintai Sherly, mengikuti rencana Sherly itu yang terbaik menurutnya.
_
_
__ADS_1