
Sejak malam pertama itu, Luna jadi malu pada suaminya. Dia tidak mau menatap lagi Leon. Dan pagi ini Luna masih berada di ranjangnya, menyelimuti tubuhnya yang masih polos. Rasa sakit karena semalam Leon memaksanya terus bermain kuda-kudaan.
"Sialan! Ternyata sakit juga kuda-kudaan." umpat Luna.
"Kenapa masih saja di kasur? Kamu ngga mau mandi?" tanya Leon yang tiba-tiba ada di depannya dengan memakai handuk.
Luna menatapnya sekilas, tapi kemudian menutuo wajahnya dengan selimut tebal itu.
"Gue ngga mau mandi!" teriak Luna.
"Ish, kan lengket. Semalam kan habis bertempur, cepat mandi sana." kata Leon.
"Ngga, sakit bego!" teriak Luna.
"Aku gendong ya sampai kamar mandi?" tanya Leon.
"Kagak mau!"
"Ish! Ya sudah, aku mau berangkat ke kantor. Nanti bi Dori yang akan bantu kamu." kata Leon.
Dia pun menuju kamar ganti, tapi kemudia balik lagi. Menatap Luna yang masih berselimut itu, terenyum puas karena sudah bisa membobol gawang milik Luna. Meski dia mendapat cakaran di bagian pundaknya. Leon mendekat dia berbisik pada Luna.
"Nanti, setelah tidak sakit lagi. Kita main kuda-kudaan lagi ya." ucap Leon.
Sontak saja Luna membuka selimutnya yang menutupi wajahnya, menatap tajam pada suaminya itu. Leon tersenyum senang, lalu pergi ke kamar ganti dan segera memakai baju untuk pergi ke kantor.
"Uuh, cakarannya tajam juga ya. Sampai perih kulitku." gumam Leon.
Dia melihat di pundak serta leher di belakang kuping juga merak akibat cakaran kuku-kuku Luna.
"Tapi ngga apa-apa deh, sebanding dengan apa yang aku dapatkan. Rasanya luar biasa, kenapa tidak dari setelah menikah ya aku main kuda-kudaan sama Luna." gumamnya lagi.
Setelah selesai memakai baju kantor, Leon keluar. Dia masih melihat Luna menutupi tubuhnya dengan selimut. Leon mendekat, dia ingin mencium istrinya itu.
"Aku ke bawah dulu. Cup." kata Leon mengecup selimut di bagian kepala Luna.
Setelah mencium Luna, Leon pun keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi dengan kakeknya. Hari ini katanya mau ada pertemuan dengan para pejabat dan pemegang saham perusahaan untuk memberitahu, kalau nantinya perusahaan akan di pegang sepenuhnya oleh Leon.
Jika bukan acara penting itu, Leon tidak akan berangkat ke kantor. Dia akan menemani istrinya di kamar, merayunya lagi untuk bermain kuda-kudaan seharian. Atau hanya berpelukan saja di kamar seharian.
__ADS_1
"Istrimu mana?" tanya kakek Wira.
"Dia kesakitan kek." jawan Leon duduk dan mengambil sarapannya.
"Kesakitan? Sakit apa?" tanya kakek Wira.
"Semalam aku eksekusi." jawab Leon santai.
"Ooh, hahah. Jadi kalian sudah melakukannya?" tanya kakek Wira tertawa senang.
"Ya, kupikir dia akan menolak lagi. Tapi ternyata tidak, ya meski banyak cakaran di pundakku." kata Leon dengan senyum senangnya.
"Ya ya, kakek mengerti. Ya sudah, nanti bi Dori yang akan membantunya. Kakek yakin dia akan malu sekali turun ke bawah. Hahah."
Leon tersenyum, memang Luna tidak mau melihatnya karena malu. Tapi nanti juga lama-lama akan terbiasa, melakukan itu. Mungkin akan meminta padanya, pikir Leon.
Setelah selesai sarapan, Leon kembali lagi ke kamarnya. Dia mau mengambil tas kerjanya di kamarnya. Sampai dia masuk, dia melihat Luna sedang berjalan pelan sambil menahan sakit di bagian bawahnya.
Leon dengan cepat menghampiri Luna dan hendak menolongnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Leon.
Sudah tahu jalannya begitu, pastinya keadaannya tidak baik-baik saja. Leon tersenyum.
"Ya udah, aku bantu masuk kamar mandi." kata Leon.
Dia menggulung lengan bajunya dan membopong Luna masuk ke dalam kamar mandi. Dia memasukkan Luna dalam bethup, lalu menyalakan air hangat untuk istrinya. Sejenak dia menatap bagian slime Luna yang menantang, Leon menelan ludahnya.
"Udah sana keluar, pikiran lo pasti mesum lagi kan?" kata Luna.
"Heheh, tahu aja kamu. Nanti kalau udah ngga sakit, kita main kuda-kudaan lagi ya." kata Leon masih tercekat dengan Luna yang terlihat polos meski posisi miring agar dirinya tidak terlihat olehnya.
"Ish! Udah sana keluar. Katanya mau kerja!" kata Luna menutupi bagian dadanya, karena sejak tadi Leon masih menatap bagian itu.
"Iya, cepat sembuhnya istriku. Hahah!" ucap Leon keluar dari kamar mandi sambil tertawa senang.
"Ish, orang gila!" umpat Luna.
Dia pun mengambil sabun aromaterapi dan berendam air hangat yang membuat tubuhnya rileks. Memejamkan matanya agar bisa menikmati mandi seperti layaknya orang kaya. Dia tidak menyangka akan mudah terpesona dengan Leon yang tadi malam memintanya untuk main kuda-kudaan.
__ADS_1
Wajahnya memerah mengingat betapa kuatnya Leon bermain dengannya, dan dia pun menikmatinya. Tapi setelah selesai, justru dia merasa sakit dan perih.
"Gue kenapa lagi sampai tergoda sama dia? Apa karena ucapan bapak yang sejak pulang dari rumah ada di pikiran ya. Sampai terbawa mimpi, geli juga gue harus layani hasrat laki-laki itu." ucap Luna tersenyum sendiri.
Dia memainkan busa sabun yang mengambang di depan wajahnya, meniupnya beberapa kali. Lalu tersenyum lagi, dia mengakui kalau Leon itu sangat tampaj. Tapi kenapa gadis model itu justru menfaatkan uangnya saja.
"Padahal Leon itu ganteng, tapi model munafik itu hanya memanfaatkan uangnya saja. Kalau gue sih mending manfaatin dua-duanya, seperti sekarang. Cinta belakangan, tapi ... Apa gue udah cinta sama dia ya? Masa sih?" gumam Luna.
Luna berpikir apa dia sudah jatuh cinta pada suaminya itu atau belum, soalnya jika cinta pasti punya rasa kangen jika jauh dari orang yang di cintainya.
"Tapi gue ngga kangen sama dia kok?" ucap Luna lagi.
Tok tok tok
Pintu kamar mandi di ketuk dari luar, Luna kaget. Dia diam dan menutupi tubuhnya, siapa yang masuk ke dalam kamarnya?
"Nona Luna, apa selimut di bawa sama nona di dalam?" tanya bi Dori.
"Iya bi, masuk aja." kata Luna.
Dia menenggelamkan bagian dadanya sampai tertutup busa agar bi Dori tidak melihat tubuhnya yang polos. Pintu kamar mandi terbuka, bi Dori masuk dan melihat Luna ada di dalam bethup.
"Nona mandi air hangat?" tanya bi Dori.
"Iya bi. Selimutnya basah bi, tadi kena air." kata Luna.
Dia tidak tahu selimut itu juga terkena bercak darah perawannya. Bi Dori tersenyum, dia mengambil selimut itu dan melihat memang ada darah di sana yang menempel.
"Nanti di ganti semua nona, ini biar di cuci dulu." kata bi Dori.
Setelah mengambil selimutnya, bi Dori keluar dari kamar mandi. Mengambil juga seprei dan sarung bantal lalu menggantinya dengan yang baru.
"Ternyata banyak juga ya darahnya, hihih. Anak perawan tingting memang banyak, apa memang tuan Leon begitu ganas ya main kuda-kudaannya?" ucap bi Dori.
Selesai memasang seprei dan sarung bantal yang baru, bi Dori pun keluar dari kamar Luna. Mau mencuci langsung seprei dan selimut yang terkena bercak darahnya.
_
_
__ADS_1