Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
82. Mata Suci Yang Ternoda


__ADS_3

Persiapan untuk berangkat ke Singapura sudah selesai. Luna membawa banyak mainan dan juga baju untuk keempat anaknya. Bi Dori membantu mengepak baju-baju Luna dan Leon untuk pergi ke Singapura.


"Bi Dori ikut aja yuk sama kita?" kata Luna.


"Tidak nona, di sini siapa yang menjaga rumah." kata bi Dori.


"Lho, ya biar aja kosong. Kan cuma tiga hari, lagian kakek Wira juga nanti menyusul. Bi Dori nanti sendirian lho di rumah." kata Luna menakuti pembantu kakek Wira itu.


"Memang tuan besar juga ikut?" tanya bi Dori.


"Iya. Masa mbak kwartet aja ikut, bi Dori ngga ikut sih. Kan sama-sama liburan juga." kata Luna lagi.


"Emm, bolehlah. Tapi bibi belum siap-siap nona." kata bi Dori lagi.


"Ya udah, habis ini selesai beres-beres punya bi Dori. Kan ngga bawa baju banyak, kalau kurang nanti di sana beli deh di mall." ujar Luna lagi.


"Iya nona."


"Aku bilang sama mas Leon dulu ya. Biar sekalian pesan tiketnya." kata Luna.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya.


Tuuut.


"Halo, ada apa sayang?" tanya Leon di seberang sana.


"Mas, kamu beli tiket untuk bi Dori ngga? Masa bi Dori di tinggal sih." tanya Luna.


"Ooh ya ampun, belum sayang. Ya udah, nanti aku pesankan ya. Kirim aja identitasnya bi Dori, nanti langung pesankan. Semoga aja satu pesawat dengan kita." kata Leon


"Ya udah, aku tutup ya teleponnya."


Klik!


"Bi Dori mana kartu identitasnya? Nanti aku mau kirim sama mas Leon, nanti di pesankan tiket." kata Luna.


"Ada di kamar nona."


"Ya udah, ambil dulu aja. Nanti berikan sama aku ya."


"Baik nona."


Bi Dori pun pergi dari kamar Luna, dia akan mengambil kartu identitasnya untuk di pesankan tiket. Sore ini akan ikut berangkat ke Singapura, liburan bersama.

__ADS_1


_


Sampai di Singapura, mereka langsung istirahat. Tidak ada kegiatan apa pun karena memang malam hari. Pasangan suami istri Luna dan Leon juga langsung masuk kamar, keempat anaknya tidur dengan mbaknya yang kamarnya berdekatan dan ada kamar penghubung di tengahnhnya agar Luna bisa masuk ke kamar sebelahnya jika anaknya ada yang rewel.


Apa lagi Riko dan Dewi, pasangan pengantin baru itu tentu saja menikmati liburan sebagai bulan madu. Dengan menikmati malam di tempat yang berbeda dan melakukan kegiatan olah raga malam hingga larut.


Di kira akan tidur dan istirahat tenang, tapi para istri itu justru di minta jatah oleh suaminya masing-masing. Alhasil istirahatpun jadi berkurang.


Hingga pagi mereka belum bangun, baru keempat anak Luna menangis kencang dan tidak bisa di tenangkan oleh baby sitternya, Luna pun bangun dan segera berlari menuju kamar sebelangnya.


"Kenapa mereka mbak? Kok nangis bersamaan?" tanya Luna mengambil salah satunya dan menggendongnya.


"Tidak tahu bu, tadi sudah mandi semua dan pakai baju. Kok nangis terus ya?" jawab baby sitternya.


"Apa sudah minum susu?"


"Sudah bu."


"Ya sudah, bawa ke kamarku semua ya. Mungkin pengen tidur sama papinya." kata Luna.


"Baik bu."


"Semuanya sudah mandi kan?" tanya Luna.


"Sudah bu."


"Iya bu."


Luna pun masuk membawa Azka dalam gendongannya. Dia belum mandi pagi, apa lagi Leon masih tidur di ranjangnya. Luna meletakkan Azka di ranjang dengan suaminya, kemudian ketiga anak lainnya juga di baringkan di kasur.


Baby sitter pun keluar dari kamar Luna, Leon menggeliat karena terusik dengan tangan kecil yang menempel di pipinya.


"Papi, bangun. Nih anaknya pengen main." kata Luna.


"Emm, mereka semua kesini?" tanya Leon.


"Ya, tadi nangis terus. Mungkin suasananya beda dan sejak semalam kan ngga main sama kwartet juga kita. Kita langsung masuk kamar dan mereka tidur juga." kata Luna.


"Benar juga. Jadi kalian pengen main sama papi sayang-sayangnya papi?" tanya Leon.


Dia merubah posisinya berjongkok menciumi satu persatu anak-anaknya, lupa kalau tubuhnya masih polos dan selimutnya jatuh maka terlihat jelas tubuh polos itu. Cantika, anak ketiga Leon kaget dan menangis kencang.


"Whuaaa!"

__ADS_1


"Eh, Cantika kenapa?" tanya Leon panik.


"Ish! Mas, kamu cepat pakai baju dulu. Mungkin Cantika kaget kamu ngga pakai baju." kata Luna.


"Lha, kan dia ngga ngerti juga papinya ngga pakau baju."


"Tapi dia cewek mas, malu kali papinya telanjang. Takut lihat sosis gosong dia, aah kan. Mata suci Cantika jadi ternoda." kata Luna agak kesal juga.


Dia lupa kalau suaminya itu belum memakai selesai benang pun. Akhirnya dia mengambil Cantika agar tidak menangis lagi. Leon semakin tidak mengerti, masa anak sekecil itu tahu tentang sosis gosong.


"Masa Cantika tahu sih sosis gosong papi?" kata Leon.


"Dia cewek mas, meski kecil tapi kan ngga boleh juga lihat yang begitu. Apa lagi punya papinya. Udah sana pakai baju." kata Luna.


"Ya udah, sekalian aja aku mandi." kata Leon.


Dia pun beranjak dari duduknya, melewati Luna yang sedang menggendong Cantika. Bayi cantik itu menatap punggung papinya yang pergi meninggalkannya. Namun Leon berbalik, dia ingin mencium istri dan anaknya sekaligus.


Dengan santai dia berjalan mendekat pada istrinya, namun kembali bayi perempuan itu menangis kencang. Membuat Leon kaget, dia menatap anak perempuannya dan Luna.


"Mas! Cepat sana masuk lagi ih!"


"Aku mau cium kalian dulu."


"Tapi Cantika ngga mau lihat sosis gosong papinya. Kamu kan telanjang, ih. Gimana sih?!"


"Whuaaa! Whuaaa!"


"Tuh kan, aih mata Cantika ternoda jadinya."


"Heheh! Memangnya Cantika ngerti sosis gosong papi ya?" kata Leon mendekat lagi pada istrinya.


"Hwuaaa!"


"Pergi ngga?!" kata Luna melebarkan matanya.


"Iya papi pergi. Aneh, kenapa anak bayi ngerti sosis gosong sih? Kalau bubun kan suka sosis gosong papi." gerutu Leon.


Akhirnya Leon pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi sebentar, sedangkan bayi cantik Luna sekarang sudah diam tidak menangis lagi.


_


_

__ADS_1



__ADS_2