Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
58. Penyesalan Ibu Juminah


__ADS_3

Sepulang Indah dari rumahnya, Riko masuk kedalam kamar ibunya. Dia melihat ibunya sedang terbaring di kasurnya, Riko mendekat dan duduk di kursi sambil menatap ibunya yang membelakangi dirinya.


"Bu." ucap Riko


Ibu Juminah berbalik, dia duduk dan menghela nafas panjang. Riko diam masih menatap ibunya yang tampak kecewa dan menyesal.


"Ibu kenapa?" tanya Riko, pura-pura tidak tahu.


"Kamu kok tanya kenapa. Ibu kecewa sama Raisah, dia bohongi ibu, dan ibu merasa bersalah sama kamu." kata ibu Juminah.


"Sudahlah bu, jangan di pikirkan." kata Riko.


"Tetap saja, ibu kesal sama dia. Nanti ibu mau ke rumahnya."


"Mau apa? Udah biarkan saja, Indah juga sudah menyadari dan dia tidak akan kesini lagi." kata Riko.


"Tapi dia tidak bilang sama ibu, kalau anaknya itu sudah tidak perawan lagi. Kan ibu seperti beli kucing dalam karung, ngga tahunya dapat kucing buduk." kata ibu Juminah dengan bersungut.


Riko diam, lalu tersenyum. Lucu juga dengan perumpamaan yang di katakan ibunya. Memang benar, tapi sebelum lebih jauh dia sudah tidak enak dengan Indah. Terlihat kalem awalnya, tapi ternyata agresif. Apa mungkin karena dia sudah melakukan seperti itu, jadi agresif? Entah.


"Besok aku kembali lagi ke Jakarta bu, sudah lama cuti. Nanti bosku mencariku." kata Riko.


"Ya, terserah kamu. Dan maafkan ibu, Riko." kata ibunya.


"Ya, ngga apa-apa. Aku tahu ibu itu melakukan itu karena sayang sama aku, jadi mencarikan jodoh untukku. Tapi percayalah bu, Riko juga pasti akan dapat jodohnya juga. Meskipun nanti jodoh Riko tidak kaya dan gadis biasa, yang penting orangnya baik dan sopan sama ibu." kata Riko.


"Iya, ibu sekarang terserah kamu saja. Tidak akan memaksa-maksa lagi." kata ibu Juminah.


"Benar bu?" tanya Riko.


"Benar. Tapi jika kamu belum juga dapat pacar tahun ini, ibu akan carikan lagi satu lagi buat di kenalin sama kamu." kata ibu Juminah.


"Jangan khawatir bu, Riko juga pasti dapat calon istri sekaligus tahun ini." kata Riko mematikan diri, meskipun dia tidak tahu siapa nanti yang akan menarik hatinya.


"Ya, ibu akan tunggu kabar dari kamu." kata ibu Juminah lagi.


"Iya mudah-mudahan dapat secepatnya."


"Memangnya kamu belum ada calon sendiri?" tanya ibu Juminah.


"Belum, tapi nanti juga dapat bu." kata Riko kembali meyakinkan ibunya.

__ADS_1


"Apa kamu menyukai karyawan di kantormu?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Ya belum ada."


Ibu Juminah kembali diam, dia sebebarnya gregetan pada anaknya itu. Sudah hampir dua puluh sembilan masih belum juga ada seorang gadis yang bisa menarik perhatian anaknya. Sebenarnya Riko mau mencari gadis seperti apa sih?


"Kamu mau cari gadis seperti apa sih, Riko?" tanya ibunya kembali.


"Yang apa adanya bu, tidak seperti Indah. Terlihat kalem, tapi ternyata agresif dan dia matre juga. Semakin di turuti dia akan meminta apa pun padaku bu."


"Memang Indah minta sesuatu sama kamu?"


"Ya, awalnya dia mengajak pergi ke mall. Minta di belikan baju, tapi nanti lama-lama akan melunjak bu. Dan dia akan menyerahkan dirinya untuk Riko setubuhi. Aku tidak mau seperti itu, karena memang Indah awalnya seperti itu." kata Riko lagi.


"Jadi semacam gadis murahan?" tanya ibunya.


"Ya, dan ibu mau punya menantu seperti itu? Murahan? Nanti kalau Riko pergi kerja, dia kenalan sama laki-laki lain dan di rayu-rayu dia mau lagi." kata Riko.


"Dih, ya ngga maulah ibu punya mantu seperti itu."


"Iya, ibu akan hati-hati."


Keduanya diam, mereka masih berkutat dengan pikiran masing-masing. Sedang asyik dengan pikirannya, Riko dan ibu Juminah di kagetkan dengan suara ketukan pintu yang keras dari luar. Ibu Juminah kaget, dia pun keluar dari kamarnya. Di susul Riko di belakangnya.


Tok tok tok!


"Juminah! Buka pintunya!" teriakan dari luar yang ternyata ibu Raisah.


Ceklek!


Ibu Juminah membuka pintunya dan melihat ibu Raisah marah dan mendengus kesal lalu menatap tajam padanya, beralih pada Riko di belakang ibunya.


"Ada apa?" tanya ibu Juminah datar.


"Kamu menolak anakku, Indah?" tanya ibu Raisah.


"Iya." jawab ibu Juminah singkat.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya ibu Raisah lagi.


"Tanya saja sama anakmu!"


"Aku sudah tanya sama Indah, dia bilang tidak jadi pergi ke mall dengan Riko. Kenapa kalian menolak anakku?!"


"Hei! Makanya tanya dulu yang jelas sama anakmu itu. Kenapa Riko tidak kau di ajak pergi ke mall. Dia itu sudah tidak ...."


"Bu." cegah Riko.


Ibu Juminah menoleh pada anaknya dan menatap tajam.


"Tidak usah di bicarakan." kata Riko lagi.


"Tapi dia harus tahu anaknya Riko." kata ibunya kesal.


"Memang kenapa dengan anakku?!" tanya ibu Raisah heran.


"Tanyakan saja sana, dia sudah bergaul dengan siapa saja. Barangkali dia sudah punya pacar, jadi buat apa mengajak anakku pergi ke mall. Sedangkan dia sudah punya pacar." kata ibu Juminah masih mau menutupi aib Indah pada ibunya.


"Setahuku Indah belum punya pacar, dia tidak pernah pergi kemana-mana." sangkal ibu Raisah.


"Yakin anakmu tidak pernah pergi kemana-mana?" tanyq ibu Juminah tajam pada teman menggosipnya itu.


"Yaa, tentu saja."


"Cih! Berarti kamu juga tahu kalau anakmu sudah bolong duluan!" kata ibu Juminah.


"Bu!" teriak Riko.


"Ibu tidak mau di bohongi lagi, Riko. Dia sebenarnya sudah tahu kalau anaknya itu tidak perawan. Jadi menyodorkannya pada ibu, padahal anaknya sudah bermain kemana-mana." kata ibu Juminah.


Membuat ibu Raisah diam seribu bahasa. Dia menatap kesal pada calon besan tidak jadinya itu. Lalu, tanpa permisi, dia pun pergi dengan keadaan marah dan malu.


Riko menghela nafas panjang, dia pun masuk ke dalam kamarnya. Hari ini benar-benar membuatnya pusing, masalah yang rumit itu jadinya melibatkan ibunya. Padahal jika jujur saja sebelum berkenalan, mungkin ibunya tidak akan langsung memintanya pulang dan berpura-pura sakit.


Sedangkan ibu Juminah masuk ke dalam dapur, dia duduk di kursi meja makan. Karena meja makan berada di dapur yang luas. Dia kecewa sekali pada ibu Raisah, kenapa menawarkan anaknya padanya dan tidak jujur. Dia juga merasa bersalah pada Riko, anaknya. Rasa sesalnya kini membuat ibu Jiminah diam dan selalu menyendiri.


_


_

__ADS_1



__ADS_2