
Leon panik melihat kakeknya tiba-tiba sakit jantungnya. Luna diam saja, dia tidak mengerti bagaimana itu penyakit jantung. Namun begitu dia ikut berjongkok di depan kakek Wira, menenangkan kakek tua yang sedang berakting tersebut.
"Uhuk! Uhuk! Huuuh. Kakek sudah lebih baik, duduk lagi kalian. Jangan bertengkar lagi, apa kalian mau kakek meninggal lebih cepat?" tanya kakek Wira.
"Kakek pasti ngga apa-apa kok." ucap Luna.
"Jangan meninggal dulu kek, kakek kan belum mewariskan harta dan perusahaan padaku." ucap Leon, mendapat tatapan tajam dari Luna dan kekek Wira.
"Eh, lo mau harta orang tua tidak berdaya?! Cuvu macam apa lo itu?!" teriakan Luna membuat Leon kaget.
Sikap kasar dan ucapannya keluar juga, membuat mata Leon membola malas. Kakek Wira kembali duduk, dia menarik tangan Luna untuk duduk lagi. Leon pun ikut duduk, dia membuang muka ke samping. Malas menatap Luna yang terlihat cantik tapi etika tidak ada.
"Leon, kamu mau warisan kakek?" tanya kakek Wira serius menatap cucunya itu.
"Tidak juga kek, aku cuma bercanda kok." jawab Leon.
"Kalau bercanda jangan di depan orang sakit. Itu tandanya lo sama aja membuat kakek lo itu tambah sakit dan cepat mati!" ucap Luna lagi dengan kasar.
Membuat Leon memejamkan matanya, dia menatap tajam pada Luna. Ingin sekali dia menarik bibir mungil milik Luna dan menciumnya. Eh?
Leon membuang kasar nafasnya, kenapa dia jadi berpikiran mesum.
"Apa yang ingin kakek bicarakan?" tanya Leon.
"Kakek hanya ingin mengenalkan Luna sama kamu. Ternyata kalian sudah saling kenal, jadi kakek pikir tidak akan berlama-lama menunda pernikahan kalian lagi." kata kakek Wira.
"Apa?!"
"Kek, ini di luar rencana. Masa kakek mau menikahkan saya dengan laki-laki bodoh dan dungu seperti dia sih!" ucap Luna.
"Luna, dia cucu kakek juga. Tolong kamu hormati juga kakek." ucap kakek Wira.
__ADS_1
"Huh! Saya pikir kakek Wira cuma mau apa, kakek tahu siapa saya? Kakek tahu siapa bapak saya? Dia preman juga kek, pekerjaannya juga hampir sama dengan saya. Kakek pikir lagi kalau minta bantuan sama saya, harkat dan martabat kakek akan rusak jika menikahkan saya dengan cucu kakek. Bisa-bisa kakek akan di jauhi juga sama keluarga besar kakek karena minikahkan cucunya dengan gadis preman seperti saya." kata Luna panjang lebar.
Membuat Leon terpaku, tidak di sangka Luna memikirkan kehormatan orang lain. Begitu juga kakek Wira, laki-laki tua itu begitu takjub dengan ucapan Luna itu. Luna pun akhirnya bangkit dari duduknya dan keluar dari tempat makan lesehan tersebut.
Dia tidak peduli lagi dengan rencana kakek Wira dengan cucunya itu. Baginya kebebasan untuk bekerja di pasar itu sangat menyenangkan, meski itu bukan cita-citanya menjadi preman pasar. Tapi setidaknya dia bebas mau apa saja, lagi pula umurnya masih muda. Baru juga dua puluh tahun, masa harus menikah.
Kakek Wira masih terpaku, dia duduk diam. Menghela nafas panjang, Leon pun sama. Tapi suara deringan telepon Leon membuyarkan lamunan mereka. Leon mengbil ponselnya, melihat siapa yang menelepon.
Ternyata kekasihnya, Leon pun bangkit dan menjauh dari kakeknya untuk menjawab telepon Sherly.
"Halo sayang."
"Kamu di mana? Kok ngga jemput aku untuk makan siang sih." kata Sherly dengan manjanya.
"Aku makan siang dengan kakek. Jadi ngga bisa makan siang bareng sama kamu, maaf ya." kata Leon menyesal.
"Oh, kakekmu minta makan siang bareng kamu?"
"Ya, maaf ya. Lain kali kita makan siang bareng."
"Iya, ngga apa-apa. Kamu ngga marah kan?"
"Ya nggalah, masa aku harus marah sih. Kan saat ini kakekmu satu-satunya keluargamu."
"Ya udah, aku di tunggu kakek. Ngga enak kakek melihat aku teleponan sama kamu."
"Ya udah, aku tutup ya. Daaah Leon."
"Daah sayang."
Klik!
__ADS_1
Leon memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku jasnya. Kembali menghampiri kakeknya, berharap kali ini dia akan meminta membatalkan permintaannya menikah dengan Luna. Lagi pula Luna tidak mau menikah dengannya.
"Kek?"
"Kenapa? Apa kamu mau meminta kakek membatalkan rencana kakek? Tidak akan." kata kakek Wira, pelayan sudah menyajikan beberapa makanan yang dia pesan.
Leon mendengus kaaar, niatnya ternyata di tentang langsung oleh kakeknya. Bagaimana dia harus menjalani pernikahan dengan gadis preman itu, sedangkan gadis itu menolaknya mentah-mentah.
Lagi pula, dia preman. Asal usulnya juga pasti tidak jelas. Siapa keluarganya, di mana rumahnya. Jika masalah harta, kemungkinan Luna tidak tertarik. Tapi bagaimana dengan statusnya nanti, masa seorang CEO menikah dengan gadis preman pasar. Bisa malu dia dengan para kolega dan teman-temannya.
"Kek, memang kakek tahu asal usul gadis itu? Siapa keluarganya dan di mana tinggalnya. Sudah pasti dia tinggal di gubuk reyot. Kalau tidak rumahnya pasti kumuh dan jelek. Apa kakek mau mempunyai menantu seperti itu?"
"Leon, kakek tetap pada pendirian kakek. Dan itu bisa di perbaiki kok, tadi saja dia mau pergi ke salon, membeli baju yang baik untuk bertemu kamu. Tapi kenapa setelah bertemu kalian malah bertengkar." kata kakek Wira.
"Kakek tidak tahu kenapa kami bertengkar, aku juga terkejut dia yang jadi pilihan kakek. Memangnya anak gadis yang lebih sepadan denganku tidak ada lagi? Anak dari kolega kakek kan banyak." ucap Leon.
Kakek Wira menghela nafas panjang, dia ingin memberi nasehat pada cucunya itu tentang bagaimana mempertahankan pernikahan buka soal harta yang menjadi penopang kelanjutan kehidupan rumah tangga dan pernikahan. Meski pun itu sangat penting. Tapi lebih pada saling menerima, menjaga dan mau hidup susah, itulah yang paling penting dalam kehidupan pernikahan.
"Melihat orang baik itu bukan penampilannya Leon. Kakek yakin dia itu orang baik, beberapa kali kakek di tolong olehnya. Sudah pasti keluarga dia baik kok." ucap kakek Wira.
"Tapi tadi dia mengatakan bapaknya juga preman kek, pekerjaannya juga pasti pekerjaan preman. Masa Leon terhormat, kakek Wira terhormat mau berbesan dengan preman sih. Yang benar saja kek." kata Leon lagi.
"Jangan mengkotak-kotakkan orang dan pekerjaannya Leon! Kamu saja tidak tahu pacarmu itu seperti apa, bahkan kamu sendiri tutup mata pada gadis munafik itu. Apa kamu berpikir kalau Sherly itu hanya memanfaatkanmu saja? Dia bahkan tiap bulan memintamu untuk membelikan barang mahal. Tapi kamu malah membelanya dan tutup mata. Kamu tidak tahu kan kelakuan pacarmu itu di belakangmu." kata kakek Wira akhirnya bicara tentang Sherly karena dia kesal sekali.
"Kek, Sherly itu setia sama aku. Dia tidak mungkin menghianatiku di belakangku. Jika dia bergaul dengan laki-laki lain, itu teman sesama modelnya. Bukan selingkuhannya." kata Leon membela Sherly lagi.
"Terserah kamu, yang jelas kakek tetap akan menikahkan kamu dengan Luna. Kakek akan lakukan apa saja untuk membuat Luna mau menikah denganmu." kata kakek Wira.
Leon mendengus kesal, kenapa kakeknya tutup mata masalah gadis preman itu. Bahkan sudah pasti keluarganya juga tidak baik. Leon hilang selera makan karena pembelaannya dan perdebatannya dengan kakeknya tidak bisa di menangkan olehnya.
_
__ADS_1
_