
Bug! Bug!
"Kurang ajar! Kamu memukulku?!" umpat pemuda bertato itu dengan geram pada laki-laki yang tadi memukulnya.
"Jangan ganggu isriku!" teriak laki-laki itu yang ternyata Leon.
"Sialan! Lo akan gue balas, awas kamu!" ancam pemuda bertato itu dengan marah.
Dia lalu meludah dan pergi dari hadapan Leon, menatap tajam pada Luna yang masih diam karena kaget. Luna melihat Leon dengan terpaku, dia tersenyum senang bisa selamat dari pemuda bertato yang ternyata preman juga.
Leon mendekat pada Luna, menatap gadis itu dan menarik nafas kasar.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Leon.
"Memang kenapa?" tanya Luna ketus dan melirik tajam pada Leon.
"Ck! Di tolong bukannya terima kasih malah tanya dengan ketus." ucap Leon.
"Terima kasih." ucap Luna cepat.
"Ayo pulang, kakek mencarimu. Aku sudah di marahi kakek karena kamu hilang." kata Leon.
"Gue ngga apa-apa, jadi jangan khawatir." kata Luna lagi.
"Kalau ngga apa-apa, kenapa kamu tadi lari-larian di kejar preman itu? Meski kamu preman juga, tapi kamu itu perempuan. Mending bisa bela diri, kalau jadi preman itu totalitas. Bisa malak, dan bisa bela diri juga." kata Leon, membuat Luna tersenyum sinis.
"Lo khawatir sama gue?" tanya Luna.
"Kakek yang khawatir sama kamu, aku hanya mencari kamu. Sudah cepat masuk mobil, jangan bicara terus." kata Leon menarik tangan Luna.
Luna menurut, dia masuk ke dalam mobil Leon. Duduk di sebelah suaminya itu, menatap ke depan dan meghela nafas panjang.
Mobil melaju pelan, Leon menoleh ke arah Luna yang menatap ke depan. Dia menarik nafas panjang dan menatap jalanan juga sama halnya Luna.
"Kamu kemana saja? Kenapa ngga masuk ke dalam mobil?" tanya Leon akhirnya bertanya.
"Lo ngga akan peduli jika gue pergi kan? Buktinya lo baru sekarang menemukan gue di jalanan." kata Luna tanpa menjawab pertanyaan Leon.
"Ck, di tanya malah tanya lagi. Kenapa sih kamu bicara sama aku sinis banget?" tanya Leon.
"Siapa yang sinis? Perasaan lo aja kali, gue santai aja. Mau hidup di jalanan juga gue oke." kata Luna.
__ADS_1
"Lo cewek, ngga baik hidup di jalanan. kayak tadi tuh, lo mau di perkosa sama preman tadi? Mending gue yang garap keperawanan lo, karena lo istri gue." kata Leon mengikuti gaya bicara Luna.
Luna menoleh, menatap tajam suaminya itu. Dia berdecih karena Leon sepertinya mulai frontal bahasanya.
"Lo ngga tahan kan sama gue, dengan bahasa halus itu. Sok sokan aku kamu sama gue."
"Ck, aku ngga suka bahasa kamu itu sebenarnya. Aku suamimu, kamu istriku. Kenapa kamu ngga sopan banget sama suami sih." kata Leon kesal.
"Suami? Suami dari mana? Lo masih aja selingkuh, bahkan lo pasti sudah kemana-mana sama dia. Bahkan mungkin ke hotel." kata Luna.
Ciiiit!
Mobil Leon berhenti, Luna kaget. Dia menoleh ke arah Leon dan menatap tajam pada suaminya. Leon kesal kenapa Luna selalu membahas dia selingkuh dan menuduhnya pergi ke hotel. Tanpa di duga, Leon menarik tengkuk Luna dan mencium bibir mungil milik istrinya itu. Luna pun kaget, dia mendorong dada Leon dan melepaskan cengkaraman tangan Leon di tengkuknya.
"Cuih! Kenapa lo main paksa aja hah?!" tanya Luna dengan marah, Leon tersenyum sinis.
Dia menggigit bibirnya yang bekas mencium bibir Luna. Menatap istrinya itu lalu tersenyum.
"Aku bahkan tidak pernah mencicipi bibir siapa pun selain punyamu. Memegang slime milik Sherly saja tidak pernah, meski dia sering sekali memamerkannya padaku." kata Leon.
"Selingkuh, tapi tidak merasakan apa pun. Situ yakin masih perjaka?" tanya Luna seakan menantang Leon.
Luna terdiam, dia salah menantang Leon. Kedua tangannya menutupi dadanya, wajahnya cemberut lalu menatap ke samping jendela. Leon masih senang, dia akan melakukan tantangan dari istrinya itu.
"Kamu siap-siap aja, aku akan terima tantanganmu. Memperlihatkan keperjakaanku sama kamu, dan jangan heran jika aku juga jantan masalah itu." kata Leon yang sudah berpikiran mesum.
"Gue tidak menantang lo, jangan harap akan dapatkan dariku." kata Luna menolak ucapan Leon tadi.
Dia menyesal kenapa bicara masalah pribadi seperti itu. Dia bahkan sangat jijik dengan semua itu. Tapi, Leon hanya mencibir saja.
"Ngga, aku akan buktikan sama kamu."
"Gue ngga mau!"
"Harus mau!"
"Ngga!"
"Harus!"
"Ish! Maksa banget sih!"
__ADS_1
"Aku suamimu, dan istri tidak boleh menolak permintaan suami jika dalam haknya menyentuh istrinya." kata Leon lebih bersikeras lagi.
"Huh! Gue akan menyerahkannya jika gue udah cinta sama lo. Dan sekarang gue belum cinta sama lo, lagi pula lo udah punya pacar. Minta sana sama pacar lo itu!" kata Luna.
"Ck, mengelak itu yang elegan. Katakan yang halus, jangan sambil teriak-teriak. Kamu ngga suka aku selingkuh, tapi kamu sendiri menyuruh aku untuk minta jatah sama pacarku. Sebenarnya siapa istriku? Kamu atau Sherly?" tanya Leon.
"Yaa, gue."
"Terus, kenapa kamu menyuruh aku untuk minta jatah sama dia?"
"Kenapa lo masih selingkuh sama cewek munafik itu? Dasar bego!"
"Ish! Kamu benar-benar minta di paksa ya." kata Leon.
Dia menghentikan mobilnya lagi di pinggir jalan yang sepi. Lalu mengunci pintu mobil, dengan cepat dia menarik Luna dan kembali mencium bibir gadis itu. Tentu saja Luna kaget, dia berusaha melepas ciuman Leon.
Namun, Leon masih mendorong tengkuk Luna dan menekan pinggangnya. Ciuman Leon terus mengeksplor, baru kali ini dia sangat ingin sekali mencium bibir Luna dengan lama. Luna masih berusaha melepas tekanan dari tangan Leon, tapi ternyata Leon sangat kuat.
Akhirnya Luna pun melemah, meski dia diam saja tanpa membalas ciuman suaminya itu. Leon melepas ciumannya pada bibir Luna, dia melihat wajah Luna yang memerah lalu membuang ke samping karena malu. Leon tersenyum puas.
"Aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi lain kali aku tidak tahu jika hatiku menginginkannya lagi." kata Leon kembali menjalankan mobilnya.
Keduanya tampak diam, Luna masih melihat ke samping. Entah apa yang dia rasakan, ada getar halus di hatinya. Sesekali Leon menoleh ke arah Luna, dan mobil pun berhenti di halaman rumah besar milik kakek Wira.
"Turunlah, kamu pasti lelah dan ingin istirahat kan?" kata Leon.
"Ngga!"
"Ck, kamu minta di bopong ya sama aku?"
"Ish! Iya gue turun!" kata Luna menatap tajam pada Leon,
Dia kesal sekali kenapa Leon jadi berubah seperti itu. Dulu dia sangat tidak peduli dengannya, bahkan ketika dia dengan santai memakai handuk saja lewat di depannya ketika di kamar pun Leon sangat acuh.
Keduanya pun turun dan segera masuk ke dalam rumah. Suasana sudah sepi di rumah itu, karena waktu sudah pukul sebelas malam. Dan Riko juga sudah pulang ke apartemennya. Leon naik tangga, sedangkan Luna pergi ke dapur. Perutnya keroncongan karena sejak di kafe sampai malam belum makan, jadi dia mencari makanan di dapur untuk mengganjal perutnya.
_
_
__ADS_1