Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
74. Menjadi Pacar Bohongan


__ADS_3

Dewi berada di toko, sedang menghitung pemasukan bulan ini. Laporan tentang Jono sudah masuk dan dia di panggil oleh polisi untuk menuntut semua kesalahannya. Pengacara Dewi yang di minta oleh Riko yang mengurusnya.


Jadi dia tidak perlu datang untuk ikut dalam penangkapan Jono. Hanya pengacaranya saja. Tentu saja Jono terkejut, istri dan anaknya juga. Kenapa suami dan ayah mereka di tangkap.


Dewi mendapat kabar kalau Jono sangat marah padanya. Dan akhirnya dia bisa hidup dengan tenang, setidaknya untuk saat ini dia tidak lagi di ganggu oleh mantan bos gendutnya itu.


Dering teleponnya berbunyi, dia tidak langsung mengambilnya karena ada pembeli yang mau membayar barang yang di ambil. Hanya meliril saja, tapi lebih memilih melayani pengunjung karena yang menjaga kasir sedang makan siang.


Dewi menghitung baju-baju yang di ambil dengan cepat. Agar bisa menjawab teleponnya. Pengunjung itu memperhatikan pekerjaan Dewi dengan cepat, dia tahu Dewi akan menjawab telepon setelah selesai.


"Totalnya lima ratus tujuh puluh mbak." kata Dewi.


Pengunjung itu pun mengambil uangnya lalu menyerahkannya pada Dewi. Setelah di hitung, Dewi memberikan uang kembalian dan menyerahkan barang yang sudah di bayar setelah dia masukkan ke dalam kantong plastik merek toko.


"Terima kasih mbak."


"Sama-sama."


Pengunjung itu segera pergi, Dewi pun mengambil ponselnya dan menjawab teleponnya.


"Halo?"


"Kamu bisa ikut denganku, sore ini?" tanya seseorang di seberang sana.


"Mau apa pak Riko?" tanya Dewi pada laki-laki itu.


"Mau jadi pacar bohongan, kamu kan yang menawarkan diri?" kata Riko.


"Oh iya. Tapi ikut kemana?" tanya Dewi, dia lupa dengan obrolan Riko waktu itu di telepon dengan ibunya.


"Ke Bekasi, ke rumah ibuku. Bisa kan?"


Dewi tampak berpikir, setelah dia memikirkannya waktu itu. Dia menyesal, apakah akan seperti itu selamanya atau nanti bagaimana?


"Dewi?"


"Oh, iya pak Riko. Aku mau, tapi sore berabrti malam bisa pulang kan?" tanya Dewi.


"Aku tidak tahu, kalau pun nanti di suruh menginap. Besoknya pagi-pagi pulang dan langsung berangkat kerja kok." kata Riko.


"Baiklah. Aku akan izin dulu sama ibuku." kata Dewi menyetujuinya.


"Oke, terima kasih ya sebelumnya." kata Riko.


"Iya pak Riko."

__ADS_1


Klik!


Dewi menatap ponselnya, lalu tersenyum. Kemudian dia masukkan ke dalam saku celananya ponselnya. Lalu meneruskan melayani pembeli yang baru datang itu.


_


Sore hari, Riko menjemput Dewi di toko Luna itu. Dia sangat senang Dewi membantunya untuk menyelamatkan hidupnya dari pertanyaan dan tekanan oleh ibunya dengan masalah jodoh.


Dia benar-benar pusing dengan itu. Sebenarnya dia tidak masalah dengan gadis yang di kenalkan oleh ibunya, tapi kadang terlalu memaksakan keinginannya agar cepat menikahinya. Padahal kan harus pendekatan dulu, mengenal sifat dan sikap gadis yang di kenalkan itu.


Bukan hanya kenal saja, tanpa tahu sifat dan sikap aslinya. Seperti waktu itu, di kenalkan dengan nama Indah. Ternyata dia gadis yang gampang di rayu oleh laki-laki yang tidak di kenalnya. Dan jadinya harta dan mahkotanya sebagai seorang gadis perawan pun akhirnya hilang.


Dia tidak mencaro gadis yang masih perawan, di jaman sekarang. Hidup di kota, banyak sekali gadis-gadis menyerahkan kegadisannya pada pacarnya hanya karena di rayu. Itu tidak mustahil, tapi yang Riko cari itu sisi baik dan sifat serta sikap perempuan itu.


Dia melihat itu sebagai acuan untuk mencari calon istri, di samping punya rasa cinta. Seperti Dewi, eh? Dewi?


"Sudah pak Riko." kata Dewi menghampiri Riko yang sedang duduk melamun itu.


"Eh, kamu sudah selesai?"


"Ya."


"Toko nanti siapa yang menutup?" tanya Riko.


"Oh ya, tapi katanya tadi sudah izin sama ibu kamu di telepon."


"Iya."


"Ya sudah, ayo kita pergi." kata Riko.


Dewi mengangguk, dia melangkah di depan Riko. Melewati Riki yang sedang berdiri dan menatap Dewi sahabat kecilnya itu.


"Salam buat calon mertuanya, Wi." kata Riki.


Dewi menatap kesal pada Riki, namun dia diam saja. Terus melangkah keluar dari toko, di ikuti oleh Riko. Mereka masuk ke dalam mobil Riko lalu mobil itu pun keluar dari halaman toko.


Riko melirik pada Dewi, dia melihat Dewi tampak berdandan rapi sebelum pergi itu. Dia pun tersenyum, memang sebaiknya penampilan Dewi rapi untuk bertemu dengan ibunya. Mungkin agar tidak canggung, meski itu bukan poinnya.


"Jauh ya pak rumahnya?" tanya Dewi di sela-sela diamnya.


"Lumayan, dua jam perjalanan dari toko Luna. Kalau dari apartemenku ya jauh, hampir tiga jam naik mobil. Kalau tidak macet ya dua jam setengah." jawab Riko.


"Ooh, kalau perjalanannya jauh begitu sih memang harus punya tempat kost ya." kata Dewi.


"Ya, karena aku kan harus selalu siap dengan pekerjaan mendadak. Jadi tidak bisa bolak-balik dari rumah ibu ke kantor, butuh waktu lama di jalan." kata Riko.

__ADS_1


Sepanjang jalan mereka mengobrol santai. Kadang juga bercanda hingga dua jam-an mereka sampai juga di rumah ibunya Riko.


Mobil Riko masuk ke dalam halaman rumah ibunya yang kecil, namun satu mobilnya cukup untuk parkir. Setelah berhenti, dia pun keluar. Di ikuti Dewi keluar. Dia merapikan baju dan rambutnya.


Tampak di depan pintu ibu Juminah menunggu anaknya masuk. Dia menatap Dewi dengan seksama. Riko menarik tangan Dewi, layaknya seorang pacar dia menggandeng tangan Dewi dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.


Dewi melepas pegangan tangan Riko dan berhenti di depan ibunya. Dengan tersenyum, dia menyalami ibu Riko dan mengecup tangannya.


"Selamat sore bu." sapa Dewi ramah.


Wajah ibu Juminah terpaku, baru kali ini dia melihat gadis pertama bertemu menyalaminya dan menyapanya dengan ramah. Ibu Juminah tersenyum lalu menjawab sapaan Dewi.


"Selamat sore. Silakan masuk." kata ibu Juminah.


"Iya bu, terima kasih." kata Dewi.


Riko tersenyum, dia senang Dewi sangat ramah pada ibunya. Sejak di mobil dia merasa ragu dan ingin memberitahu pada Dewi, tapi Dewi justru mengetahui sendiri bagaimana tata krama berhadapan dengan orang tua.


"Duduk ya, ibu buatkan air minum dulu. Riko boleh temani ibuke dapur." kata ibunya.


"Iya bu. Kamu tunggu di sini dulu ya." kata Riko pada Dewi.


"Iya pak Riko."


"Oh ya, di rumah ini tolong ganti panggilannya ya. Jangan pak lagi." kata Riko tersenyum.


"Baik bang Riko." jawab Dewi.


Riko diam, dia senang di panggil seperti itu oleh Dewi. Lalu dia pun pergi ke dapur mengikuti ibunya. Dia tahu ibunya pasti akan bertanya-tanya tentang Dewi.


"Jadi dia pacar kamu itu?" tanya ibunya ketika Riko sudah ada di dapur.


"Iya bu, kenapa?" tanya Riko.


"Emm, dia sopan banget ya. Ibu sampai takjub lho tadi, dan dia juga cantik." kata ibu Juminah.


Riko hanya tersenyum saja, dia memang sejak awal sudah takjub pada Dewi. Entah apakah nanti acara berbohongnya akan dia lanjutkan atau bagaimana. Tergantung nanti dia melihat bagaimana ibu dan Dewi berinterraksi saja dulu.


Baru dia memutuskan, tapi dia yakin Dewi itu gadis yang apa adanya. Tidak berpura-pura baik atau bersikap sopan. Karena yang dia tahu sebelumnya Dewi bersikap barbar jika dengan sahabat-sahabatnya atau pada orang yang tidak di sukainya.


_


_


__ADS_1


__ADS_2