Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
61. Tujuh Bulanan Luna


__ADS_3

Di rumah kakek Wira sangat sibuk, banyak kerabat kakek Wira yang satang. Ada juga yang dari Malaysia datang ke acara tujuh bulanan cucu dari kakek Wira. Mereka senang bisa datang ke acara yang jarang di temui di negeri mereka.


"Waah, sangat meriah sekali ya." kata salah satu tamu undangan.


"Ya, ini sangat menyenangkan. Dan menantu kakek Wira mana? Apa belum keluar?" tanya salah satu dari mereka.


"Ya, kelihatannya belum keluar. Tapi lihatlah, seperti banyak orang-orang yang berbeda dari tamu kebanyakan ya."


"Maksudnya apa?"


"Orang biasa, penampilannya meski resmi tapi mereka terlihat biasa saja. Dan lihat, ada juga yang hanya makan saja di sana."


"Biarkan saja. Kita nikmati acara ini, besok kita kembali lagi ke Malaysia."


Tetangga-tentangga Luna serta teman kecil Luna hadir di saja. Tak lupa Riko juga datang ke acara tersebut, karena itu adalah acara istri bosnya. Dia sebenarnya malas, tapi mau bagaimana lagi. Dia juga yang mengatur semuanya.


Riko sedang menikmati makanan yang tersedia. Ketika dia melihat Dewi sedang mengambil makanan di prasmanan. Riko mendekat, berdiri di belakang Dewi.


"Kamu mau ambil apa?" tanya Riko.


Dewi menoleh ke belakan dengan piring berisi siomay dan mengenai wajah Riko sambalnya. Sontak saja Riko kaget dan Dewi juga kaget.


"Ooh, maaf pak Riko. Muka pak Riko kena sambal siomay saya." kata Dewi mengambil tisu di dalam tasnya.


Dia lalu mengelap wajah Riko yang terkena sambali itu. Riko hanya diam saja wajahnya di lap dengan tisu oleh Dewi.


"Aku juga minta maaf mengagetkan kamu." kata Riko.


"Ini pasti panas pak Riko. Karena sambal itu pedas." kata Dewi masih mengelap muka Riko.


"Sudah, jangan di lap terus."


Dewi masih menatap wajah Riko yang tadi kena sambal siomay. Merasa bersalah karena kaget dengan teguran dari belakang sama Riko.


"Kenapa kamu lihatin terus?" tanya Riko.


"Saya takut muka pak Riko jadi merah." jawab Dewi.


"Ngga apa-apa kok."


"Oh ya, pak Riko yang cari tempat untuk toko Luna ya?" tanya Dewi.


"Iya. Kenapa?"


"Tempatnya strategis banget, pasti mahal harganya." kata Dewi.

__ADS_1


"Tentu saja, tapi bos Leon yang membayarnya. Biarkan saja, dia sayang sama istrinya." kata Riko.


"Enak ya punya suami sayang istrinya. Di buatkan toko, di kasih uang banyak." kata Dewi.


"Nanti juga kamu akan seperti itu." kata Riko.


"Gue mau cari cowok yang tajir aja. Ada ngga sih teman kerja tuan Leon yang tajir dan kaya raya? Pengen kenalan jadinya, heheh." kata Dewi yang kembali dengan sikap aslinya.


"Banyak. Tapi kebanyakan itu sudah punya istri." kata Riko.


"Waaah, sayang sekali. Tapi pasti ada kan yang belum punya istri?" tanya Dewi lagi.


"Ada. Aku nih contohnya, belum punya istri." kata Riko dengan santainya.


"Oh, pak Riko belum punya istri?"


"Belum."


"Cepat punya istri pak."


"Kenapa kamu menyuruhku cepat punya istri?" tanya Riko heran.


"Karena pak Riko kelihatan sudah dewasa sekali. Jadi seharusnya secepatnya punya istri. Hahah!" kata Dewi dengan tawa riangnya.


Leon ikut masuk di dalam, pemuka agama sebagai ustad sebelumnya juga sudah memberikan doa-doa dan puji-pujian. Tinggal waktunya acara pemandian sang jabang bayi yang ada di perut Luna.


Jack, bapaknya Luna juga memandikan anaknya. Dia sangat senang sekali. Para tetangga Luna dan teman-teman Luna di gangnya saja semua di undang. Berbaur dengan para undangan kakek Wira, meski di sana terlihat banyak perbedaan. Tapi suasana cukup aman dan santai.


Dewi dan Riki teman kecil Luna ikut memandikan Luna juga, mereka sangat senang Luna mengizinkan ikut memandikannya.


"Lo kedingan ngga Lun? Dari tadi lo di siram terus." kata Dewi.


"Dinginlah, makanya lo cepat mandiin gue. Jangan lama-lama, untung lo pada boleh mandiin gue sama kakek Wira." kata Luna.


"Hemm, lo sekarang jadi nyonya yang lagi di sayang. Bentar lagi lo akan kerepotan sama si kwartet lo itu." kata Riki.


"Berisik lo, cepatan! Habis ini gue mau masuk kamar. Dingin ini." kata Luna.


Setelah semuanya memandikan Luna, kini Leon mengantar istrinya untuk berganti pakaian di tamu agar istrinya itu tidak jauh-jauh ke kamarnya di atas. Sedangkan di luar sana orang-orang sedang bersenang-senang dengan kemeriahan panitia dengan berbagai ramgkaian acara selanjutnya.


"Kamu kedinginan?" tanya Leon.


"Iya, dingin banget. Kenapa ngga pakai air hangat aja sih?" kata Luna melepas kain yang membelit tubuhnya dan juga bunga melati.


Leon membantu istrinya melepas semua atribut yang di kenakan Luna. Dia menelan ludah ketika slime Luna terpampang di depannya, hanya bisa menahannya saja. Luna segera memakai bethrop agar suaminya tidak berpikir mesum lagi.

__ADS_1


"Kok udah pakai itu aja sih." kata Leon.


"Kamu lihatnya beda, mas. Nanti mau macam-macam lagi sama aku. Udah sana keluar aja, aku mau mandi dulu dan ganti baju." kata Luna.


"Ngga mau aku bantuin?" tanya Leon.


"Ngga usah! Tanganmu nanti pegang-pegang kemana-mana lagi."


"Heheh, kan lumayan sayang." kata Leon dengan senyum mesumnya.


"Ck, aku mandi dulu. Temani tuh tamu kakek, nanti suruh Dewi kesini aja, bantuan aku pakai baju." kata Luna.


"Yaa, mending aku yang bantu kamu pakai baju dari pada temanmu itu." kata Leon.


"Ish! Kan kamu nanti macam-macam sama aku, kayak tadi pagi. Pegang-pegang slime lagi, memang ngga bosan apa?!"


"Kagak! Kan punyamu enak buat mainan. Heheh!"


"Au ah, males debat sama kamu!" kata Luna pergi meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dia hanya mau menetralkan suhu tubuhnya yang tadi kedinginan dan berendam di air hangat sebentar. Lalu dia akan istirahat sebentar di ranjangnya, tentu saja menunggu suaminya keluar dari kamarnya. Berharap dia di panggil oleh kakeknya.


Sementara itu, Jack masuk ke dalam rumah besar itu. Dia ingin melihat-lihat rumah besar itu, di samping ingin menemui anaknya Luna. Tapi dia justru salah jalan dan masuk lebih dalam rumah besar itu. Mencari kamar anaknya yang tadi di beritahu oleh pembantu kakek Wira.


Jack bingung dengan rumah yang sangat besar dan banyak ornamen di dalamnya. Hingga dia sampai di sebuah ruangan, dia pikir itu adalah kamar anaknya dan Leon berada. Dia pun mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Luna! Kamu di dalam?" tanya Jack masih mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.


"Bapak masuk ya, Luna!" teriak Jack.


Jack pun membuka handle pintu dan mendorong nya, dia melihat ruangan itu berbeda dengan sebuah kamar. Dia terkejut, namun dia berpikir mungkin anaknya ada di dalam meski suasana di dalam ruangan itu seperti sebuah ruang kerja.


"Kok kayak kantor ya, ada meja kerja juga banyak buku-buku di lemari." gumam Jack.


Tapi dia terus menelusuri tempat itu, hingga dia berhenti di sebuah foto besar dan tertegun menatap foto besar yang di pajang di tembok.


"Itukan bapakku?"


_


_


__ADS_1


__ADS_2