Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
24. Lamaran


__ADS_3

Luna masih bersungut-sungut karena sahabatnya masih saja mendandaninya berlebihan. Dia hampir saja kabur setelah Dewi dan Riki mencegahnya dengan menarik kakinya ketika dia mau kabur dari jendela.


"Lo yang bener dandanin gue!" kata Luna.


"Iya, bawel. Lo kagak ada terima kasih ya sama gue. Udah di dandani cantik juga." kata Dewi menyanggul rambut Luna.


"Apaan, lo bikin gue kesal tahu. Awas aja lo bikin muka gue kayak nyai ronggeng lagi." kata Luna.


"Kagak, tuh lihat di kaca. Lo cantik kayak super model. Lo ngga di dandani juga sebenarnya udah cantik Luna, kulit mulus putih bersih." kata Dewi.


Benar juga, Luna bercermin di kaca, ternyata dia sudah bagus dan cantik riasan di wajahnya. Memang dasar cantik, meski dandanan Luna tipis saja. Dan sekarang giliran mengganti baju yang lebih sopan dan rapi.


"Sekarang lo ganti bajunya." kata Dewi.


"Kenapa harus ganti baju? Ini juga udah oke kok." tanya Luna.


"Haish, lo itu mau ketemu calon suami. Calon mertua, masa mau pakai baju seperti itu sih. Ganti cepat!" kata Dewi mendadak galak.


"Hei! Kok lo yang galak sih dari pada gue." kata Luna.


Dia pun menurut, mengganti baju yang lebih baik. Entah punya baju bagus dan menarik atau tidak, Dewi kembali membantu Luna mencari baju-baju miliknya.


"Lo ngga punya baju bagus apa? Semuanya kaos sama jeans, terus jaket belel." kata Dewi.


Dia mengacak-acak isi lemari Luna hingga banyak yang berhamburan. Luna menoyor kepala Dewi dengan keras, membuat gadis itu bersungut.


"Lo jangan acak-acak baju-baju gue, dodol!" ucap Luna.


"Ish, Luna. Ngga sopan banget sih." ucap Dewi mengusap kepala yang di toyor Luna tadi.


"Makanya jangan bikin gue kesal. Cepat bereskan!"


"Ogah!"


"Ish! Lo tu ya. Ya udah, gue ngga mau ganti baju." kata Luna kesal.


"Yeee, silakan aja. Lo yang mau di lamar, lo juga nanti yang malu kalau mertua sama calon suamimu itu kaget dan marah sama lo. Belum lagi bapak lo tuh, udah pasti dia akan menjitak lo itu." kata Dewi menakuti Luna.


"Terus gue pake baju apaan?" tanya Luna.


"Eh, punya ibu lo pasti masih ada, coba lo cari sana." kata Dewi.


"Udah gue bilang ngga tahu baju apa yang mau di pake buat lamaran." kata Luna.


"Lo itu, masa cewek ngga tahu baju apa yang pantas buat terima lamaran sih. Ck ck ck." kata Dewi.

__ADS_1


Mereka keluar dari kamar Luna, menuju kamar bapaknya Luna. Mencari baju bekas emaknya dulu. Luna dan Dewi membuka lemari dan kembali mengacak-acak isi lemari, mencari baju yang pantas buat Luna. Dan ada satu baju putih biru muda, seperti baju pesta. Sangat cocok di tubuh Luna.


"Nah, ini cocok banget bajunya. Coba lo pakai." kata Dewi.


"Lha, lo kira gue mau pakai baju beginian? Ogah, bukan karakter gue bajunya." kata Luna.


Dewi menatap Luna, menghela nafas panjang. Susah juga mengatur Luna, bagaimana nanti suaminya?


"Luna, hari ini lamaran lo dengan kakek tua itu. Lo harus tampil anggun dan cantik. Muka lo cantik, tapi ngga pas sama baju yang lo pakai sekarang. Lebih cocok pakai baju ini, masa dandan cantik bajunya pakai kaos doang sih. Yang benera aja, nanti suami tua lo itu jadi ngga mau sama lo." kata Dewi.


"Siapa yang mau nikah sama kakek tua?!"


"Memang bukan kakek tua calon suami lo?"


"Bukanlah."


"Ya udah, mau tua atau muda juga sama aja kalau lamaran itu pakai baju yang pantas. Ini baju bekas emak lo, udah sih Lun nurut aja. Nanti keburu calon suamimu datang lagi, cepat pakai!" Dewi mulai mode galak lagi.


Luna menatap tajam pada Dewi, dia pun mengambil baju yang di pegang Dewi. Dia melepas kaos juga celana jeans pendeknya, lalu memakai gaun selutut itu. Baju tipis namun tidak transparan, karena banyak kain dan hiasan manik di baju itu.


Dewi membantu Luna merapikan bajunya, lalu menyisir rambutnya lagi. Dia menatap Luna yang sangat berbeda dan cantik, Dewi pun tersenyum puas.


"Luna! Cepat keluar, kakek Wira sudah datang!" teriak bapaknya di kamar Luna.


"Luna, kamu pakai baju emakmu?" tanya Jack merasa takjub dan tiba-tiba ingat almarhum istrinya.


"Iya pak, Dewi yang maksa pakai baju ini." jawab Luna merasa bersalah.


"Iya om, kan mau lamaran. Masa Luna pakai baju kaos sih." kata Dewi.


"Bapak ngga apa-apa kan Luna pakai baju emak ini?" tanya Luna merasa bersalah.


"Ya udah ngga apa-apa. Buat kamu juga bagus kok, anak bapak tumbenan cantik. Heheh!" ucap Jack tertawa, membuat Luna tersenyum.


Dewi merasa puas dan bersedekap, merasa sombong dengan hasil karyanya pada Luna.


"Siapa dulu dong om yang mendandani Luna? Dewi lho om." ucap Dewi dengan bangganya.


"Ya sudah, ayo kita sambut calon suamimu itu." kata Jack.


"Katanya kemarin pengen lihat dulu calon yang mau melamar Luna. Berarti bapak ada kemungkinan mau nolak kan?" kata Luna.


"Kagak. Bapak setuju."


"Ish! Bapak cepat banget sih berubahnya." ucap Luna.

__ADS_1


"Ayo cepat!"


"Iya."


Luna pun melangkah ke depan, di sampingnya Dewi. Bapaknya Luna segera menyambut rombongan kakek Wira yang akan melamarkan cucunya untuk Luna. Semua sudah masuk, kakek Wira, kepala pelayan rumah kakek Wira dan juga Riko. Di belakang dengan malas Leon masuk membawa buket bunga.


Jack mempersilakan semuanya duduk, ibunya Dewi dan ibunya Riki menyiapkan hidangan. Mereka berdua di suruh ikut menyambut tamu lamaran Luna.


"Mana calon menantu saya?" tanya Jack pada kakek Wira.


Kakek Wira pun tersenyum, kekhawatirannya akan di tolak kini hilang. Ternyata Jack cepat berubah. Di luar sangat ramai sekali para tetangga ingin melihat acara lamaran Luna dengan orang kaya.


Apa lagi datang dua mobil mewah parkir di depan rumah Luna, mereka banyak yang berbisik. Yang tidak suka pasti bergosip negatif, ada juga yang membicarakan Luna sangat beruntung dapat calon suami kaya.


Sementara di dalam rumah Luna, Leon baru masuk. Dia melihat satu persatu. Terakhir dia melihat Luna yang berbeda, memakai gaun yang biasa di pakai perempuan. Dia takjub dengan penampilan Luna yang berbeda, matanya tak berkedip beberapa detik.


"Leon, duduk." kata kakeknya.


"Ah, ya kek." ucap Leon merasa malu telah menatap Luna lama dan tidak berkedip beberapa detik.


Leon duduk di samping kakeknya, buket bunga di tangannya di letakkan di meja. Jack, ibunya Dewi dan Riki juga duduk di sampung bapaknya Luna. Sedangkan Luna duduk sendiri agak jauh. Kursi tamu tidak di pasang di sana, jadi hanya lesehan dengan tikar.


"Jadi, pak Jack. Ini cucu saya yang akan melamar anak pak Jack." kata kakek Wira menunjuk Leon.


Leon sendiri mencuri pandang pada Luna yang berbeda. Dia lalu memandang Jack, lalu menghela nafas panjang.


"Jadi dia yang akan menikahi anakku?" tanya Jack.


"Ya pak Jack, saya Leon Nugraha mau melamar putri anda." kata Leon dengan lancarnya.


Seolah dia lupa ada gadis yang selalu ada di ingatannya. Entah, sesaat dia lupa dengan Sherly kekasihnya.


"Jadi pak Jack, bagaimana dengan lamaran cucu saya. Apa di terima?" tanya kakek Wira berharap Jack menerimanya.


Jack menatap Leon tajam, dia melihat laki-laki tampan itu dari atas sampai bawah. Dia tidak menemukan apa-apa, karena entah apa yang dia cari.


"Tidak."


"Apa?!"


_


_


__ADS_1


__ADS_2