Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Chapter 1


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA DIHARAP LIKE TERLEBIH DAHULA, DAN JANGAN LUPA TAMBAHKAN KEFAVORIT.


Dalam ruangan gelap aku diikat, diatas ranjang besi yang ukurannya hanya cukup untuk menampung seluruh tubuhku saja.


"Selamat pagi, Nona."


Entah suara siapa, itu terdengar sangat asing karna beberapa hari selama aku disini hanya ada perawat pengantar makanan yang kulihat.


Aku mengerjap, ruangan yang gelap ini tiba-tiba saja menjadi terang menderang. saat pandanganku sedikit kabur, aku hanya dapat melihat sesosok pria jangkung mengenakan setelan kemeja dibalut dengan jas putih ala-ala dokter. meskipun terlihat samar-samar.


Bruagkkkkk...


Aku mencoba melepaskan diriku yang terborgol, sudah seminggu lamanya aku disiksa seperti ini oleh para perawat yang hanya sesekali datang memberikan aku makan dan minum saja.


"Lepaskan aku." Pekikku pada dokter tersebut, ia semakin mendekat, berulang kali aku mengerjap guna mendapat penglihatan yang sempurna.


"Aku adalah dokter yang akan membantumu, jadi untuk beberapa waktu kedepan kau harus mendengarkan semua yang aku katakan. sampai kondisi kejiwaanmu pulih." ucapnya yang seolah sedang menganggap aku ini adalah pasien sakit jiwanya.


"Berapa kali harus aku katakan pada kalian! kau tidak gila!" jeritku dengan emosi yang meningkat.


Pria dihadapanku terkekeh, ia semakin memangkas jarak diantara kami kemudian berkata, "Bagaimana kau akan menjelaskannya padaku? apa kau masih menganggap dirimu waras. setelah kau melenyapkan nyawa seseorang dengan sangat kejam."


Cihhhh... aku berdecih, sesungguhnya aku sudah sangat bosan meyakinkan mereka jika aku ini baik-baik saja. "Mereka pantas, bahkan kematian saja tidak cukup untuk membuat mereka benar-benar hancur." tegasku meninggikan suara.


Pria jangkung itu meraih kursi kecil dan mendudukan bokongnya tepat disebelahku. tatapannya begitu intens dengan senyum yang memikat. "Kau cantik, tapi siapa sangka dibalik kecantikanmu terdapat sisi mengerikan."


"Omong kosong! lepaskan aku!" Aku terus berusaha menarik tanganku yang terborgol menyatu dengan ranjang. "Bahkan jika aku mau aku bisa melenyapkanmu dengan begitu mudah!"


"Kau sangat mengerikan, tapi aku suka itu." sahutnya dengan santai, membuatku semakin muak.

__ADS_1


Dokter itu menaruh sebuah bingkisan plastik diatas nakas sebelahku. kulit putih, alis yang sedikit tebal cukup baginya untuk dijuluki sebagai dokter dengan rupa yang sempurna.


"Aku percaya jika kau tidak gila."


Deg...


Kali pertama seseorang berkata demikian kepadaku, setelah bersusah payah aku mejelaskannya pada polisi.


"Tapi sebelum itu kau harus menurutiku."


Aku mengerutkan dahiku menatapnya tajam, "Atas dasar apa aku haras menurut padamu."


Lagi-lagi ia memancarkan senyum manisnya padaku, "Karna sejauh ini hanya aku yang bisa membantumu."


Aku tersenyum kecut padanya seolah meragukan.


***


Hotel Red Scotta, 20 September 2019.


Aku melangkahkan kakiku berjalan dengan penuh kehati-hatian menemui para tamu yang sudah dengan sengaja aku undang.


"Ariyana..."


Lirikan mataku teralihkan pada segerombolan wanita yang tidak lain adalah teman-temanku, aku memancarkan senyum cantikku kemudian menghampiri mereka dengan langkah sedikit cepat, "Kalian sudah datang." sapaku kemudian memeluknya satu persatu.


"Ini malam terakhirmu sebagai seorang gadis, tentu saja aku ingin ikut merayakannya denganmu." celetuk salah satu temanku.


Aku terkekeh mendengar ucapannya, memang. tujuh tahun menjalin hubungan aku sukses menjaga hal yang paling berharga dalam diriku sampai pada akhirnya aku dan kekasihku Exel memutuskan untuk menikah.

__ADS_1


"Dimana Sharon?" tanyaku saat menyadari jika anggota gengku ini kekurangan personil.


Sarah, Janne, dan Ruby hanya saling menatap saat aku menanyakan hal tersebut, kemudian Ruby menjawab, "Mungkin saja dia di toilet."


"Riayana, dimana Exel?" tanya Sarah kemudian.


"Entah, aku belum melihatnya. tunggu sebentar aku akan mencarinya." sahutku sambil berlalu.


Yaa.. aku memang belum melihat Exel seharian ini, akhir-akhir ini ia memang sering menghilang entah apa yang ia lalukan. sesuatu hal yang pasti, ia tidak mungkin sibuk dengan pekerjaan karna statusnya adalah pengangguran.


"Kau melihat Exel?" tanyaku pada salah satu temannya.


"Aku melihatnya di lorong lantai dua."


Dahiku mengerut, aku berpikir keras. apa yang ia lakukan dilantai dua sana, setahuku aku tidak memesan kamar dan hanya menyewa aula gedung hotel ini saja.


Tidak butuh waktu lama, aku langsung menyusulnya karna tamu undangan terus saja menanyakan dimana calon suamiku tersebut.


"Ahhhh... aku sudah tidak tahan, ayo lanjutkan didalam saja."


Aku mengenal suara ini, ini adalah suara Sharon. salah satu sahabat baikku.


"Kau tahu, semua uang ada pada Riayana."


Wajahku memanas, aku meremas gaun indahku dengan kuat mencoba memberanikan diri untuk dapat mendengar dan melihat hal lebih dari sesuatu yang mengejutkanku barusan.


"Ahhh... Exel cepat sedikit, nanti ada yang melihat."


Aku terkejut. rasanya seluruh tubuhku hancur berkeping-keping, saat mata kepalaku sendiri melihat calon suamiku sedang bercinta dengan wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2