
Gemerlap kota metropolitan sangat diminati kalangan atas, apalagi tempat hiburan malam yang mengalunkan music dan tarian erotis. Mereka tidak akan pernah menolak dalam setiap tawaran yang disuguhkan. Dunia malam sangat diminati oleh sebagian orang tertentu yang hanya memiliki jiwa kebebasan.
"Bagaimana malam ini?" Tanya Sanjay.
"Sangat stabil sama seperti malam-malam sebelumnya," balas salah satu rekan kerjanya.
"Apa stock kamu aman?"
"Ya, aman. Apa ada barang baru?" Barang baru yang dimaksud orang itu adalah wanita yang akan menjadi tawanan Bar tersebut.
"Kalau untuk barang baru saya belum ada," balas Sanjay.
"Bagaimana jika kamu buat agensi model, boleh lah mereka diiming duit lebih, pasti bisa kan?" Saran orang tersebut.
"Mau yang seperti apa sih?". Tanya Sanjay.
"Mau yang 17 tahun atau 19 tahun itu sepertinya masih setengah mengkel alias mateng dan disini banyak yang nyari, contohnya bos besar yang di sana." Menunjuk kearah seorang pria flamboyan dengan beberapa wanita.
"Siapa dia?" Tanya Sanjay.
"Namanya Marjuki atau Marjui, dia asli pulau garam ... Kamu tahu alasan setiap hari dia kesini?"
"Apa?"
"Istrinya sepah dia bilang,"
"Hahaha." Sanjay tertawa mendengar penjelasan rekannya tersebut.
"Sudah tahu sepah ngapain dia nikahin terus bertahan lagi?" tanya Sanjay.
"Mereka dijodohkan, parahnya Istrinya waktu itu masih gadis sekitar 15 tahun. Bukannya aku rasis nih ya! Biasanya orang Pulau Garam tersebut anak sudah 'M' itu dinikahkan."
"Wah untung banyak dong dia dapat 'P'?"
"Untung sih untung ya, tapi selama 12 tahun pernikahan istrinya tidak juga hamil. Padahal si pria itu sudah pengen banget punya anak," ujar rekan Sanjay.
"Apa mungkin dia frustasi? Sehingga dia melampiaskan kepada wanita-wanita yang ada di sini?" tanya Sanjay.
"Ya, mungkin? Dan setiap kali dia kemari omset kita boom, meledak! Gimana tidak meledak sekali dia nyawer ada kali 100 juta dan belum tips yang ia berikan pada boneka kita," ungkap rekan Sanjay.
"Sepertinya mereka sangat akrab dengan pria itu," ujar Sanjay.
"Tentu saja mereka akrab, hampir 75% wanita di sini pernah ia kencani,"
"Woow, tapiĀ ada favorit pria itu?" Tanya Sanjay.
"Ada! Namanya Icha dia baru 19 tahun bulan ini,"
"Siapa itu?"
"Dia biasa gadis-gadis frustasi. Keluarganya berantakan, ibunya memutuskan menjadi LC di Morsen. Sedangkan dia terjebak di sini," Rekannya menceritakan tetang latar belakang Icha.
"Kamu tahu kenapa dia seperti itu? Dia korban kebiadaban bapak kandungnya sendiri, dia digauli berulang-ulang kali. Padahal kalau dibilang dia tiga bersaudara satu laki-laki dua perempuan," ungkap orang tersebut.
"Kayak aku akan butuh dia beberapa hari," Sanjay tiba-tiba ngide alias punya ide gila untuk menjadikan Icha sebagai pajak wanita penghibur buat sang walikota Bern.
"Buat apa?" tanya orang itu.
"Buat Bern!"
"Apa? Aku tidak salah dengar?"
"No! Kamu pikir usaha kita tanpa ada pengerebekan dan lain-lain atas bantuan siapa kalau bukan Bern?!" ungkap Sanjay.
"Kamu yakin? Mau Icha? Karena banyak komplain tentang dia, yang katanya punya dia bau dan tidak bisa apa-apa ... Yakin?" Cecarnya guna memastikan.
"Sebelum menemui Bern, kamu bawa dia perawatan di salon atau klinik kecantikan mana gitu lalu bawa dia ke vila. Tapi ingat satu hal jangan lupa ikat tangan dan tutup matanya lalu beri dia obat bius!" Sanjay mengarahkan agar semua berjalan dengan rapi. Karen dia tidak ingin vila miliknya membuat orang penasaran dan ingin ke sana terus.
Vila itu jauh dari kota butuh waktu 5 jam dan harus menaiki helikopter untuk menyeberanginya. Hampir semua wanita yang akan ke sana selalu dibius total dan ditutup matanya. Entah apa tujuan yang pasti seorang Sanjay.
"Kamu seperti Raja Akbar saja, memotong tangan semua orang yang ikut membangun tajmahal." Ledek rekannya.
"Bukannya begitu di pulau itu banyak hal rahasia, " ungkap Sanjay.
__ADS_1
" Rasanya bukan hanya barang haram itukan?"
"Banyak hal itu lebih ke privasi!" Tegasnya.
*****
Setelah kesepakatan yang sesuai dengan rekannya, Sanjay mengatur waktu dengan beberapa anak buahnya.
"Kenapa Walikota Bern ingin berada di vila itu Tuan?" tanya Anak buahnya.
"Kenapa memangnya? Itu kan hak dia mau di mana saja yang penting sama-sama aman," balas Sanjay.
"Apa Anda tidak takut jika suatu saat dia mengkhianati kita?" Tanya anak buahnya.
"Tidak! Sebab saya bukan orang bodoh. Saya selalu sedia payung sebelum hujan, rahasia dia ada di saya!" Tegasnya.
"Maksud anda?" Tanya anak buahnya tersebut.
"Ini urusan saya dan kamu tidak perlu tahu, karena setiap bagian dari kalian memiliki tugas masing-masing." Sanjay melirik dan tersenyum licik kepada anak buahnya tersebut.
"Sekali saya buka pasti karier dan hidupnya hancur," ungkapnya.
***
Akomodasi serta apa yang dibutuhkan semua sudah di persiapkan oleh Sanjay. Walikota hanya membawa baju yang menempel ditubuhnya dan tanpa Aspri.
"Papa yakin berangkat tanpa Aspri?" Tanya sang istri.
"Iya Ma, papa bisa kok berangkat sendirian. Kasian Aspri papa dia sudah kelelahan, jadi papa beri dia waktu cuti biar bisa bersama keluarganya," ujar sang Walikota Bern.
Istrinya hanya mengantarkan pria yang ia cintai itu di depan pintu bandara, ia menaiki jet pribadi yang telah di siapkan Sanjay.
Jet pribadi itu milik Sanjay, ia hanya menyewa garasi Bandara untuk meletakkannya karena ia tinggal di tempat yang elite dan tidak mungkin membangun bandara pribadi di tempat lain, karena akan membutuhkan biaya banyak bukan masalah perijinan semata.
Lima jam kemudian sampai lah Walikota Bern di pulau tersebut. Semua pelayanan datang menyambut kedatangan pria tersebut.
"Apa wanita itu sudah siap?" Tanya Walikota Bern.
"Sudah, gadis itu tertidur di kamar yang telah kami siapkan," ungkap seorang pelayan.
"Apa ada yang lain Tuan?" Tanya pelayan.
"Tidak! Nanti akan saya panggil jika ada yang saya mau atau butuh bantuan ... Eh satu tolong jangan ganggu saya!" Pria itu memperingatkan pada pelayan.
Walaupun ada atau tidak ada yang mengganggu kamar itu sudah kedap suara baik dari luar atau dalam tidak akan mendengarkan percakapan kecuali interkom yang dipasang di sana jika yang di dalam ruangan itu membutuhkan sesuatu.
Melihat sosok wanita bertubuh sintal berkulit putih dan berbaju transparan pria tua itu menelan ludahnya.
"Wah barang bagus, mulus seperti guci China."
Pria tua itu meraba dan mengendus wangi tubuh Icha, gadis yang masih pingsan tak berdaya itu tengah dilecehkan pria tua itu.
Pria berusia 45 tahun vs gadis 19 tahun, pria itu digelapkan oleh naps'su dia lupa bahwa dia punya putri dan putra seumur dengan gadis itu.
"Pasti nikmat," ujarnya.
Lagi-lagi ia meraba-raba dan sesekali mengelap liurnya yang mengalir dari selah bibirnya. Mendapati tubuh mungilnya diraba Icha pun terbangun dari pingsannya.
"Siapa Anda?" tanyanya terkejut.
"Saya adalah pelanggan baru kamu," balas Walikota Bern.
"Bukannya Anda adalah Walikota yang terkenal alim?" Mata Icha menelisik tajam mencari kebenaran yang ia pikirkan.
"Ya, saya walikota Bern!"
"Cih, tak ku sangka orang yang di puja karena kepandaiannya dan kesetiaannya kepada istri ternyata main belakang. Sama saja dengan pejabat-pejabat yang lain," cibir Icha.
"Apa yang kamu tahu tentang mereka?" Tanya Bern.
"Cukup tahu banyak, harta, tahta mengubah mereka menjadi pemburu kemaksiatan. Wanita baginya hanya seperti kain bekas setelah dipakai lalu dibuang dan beli yang baru. Tapi beda dengan Anda yang penuh dengan pencitraan," ungkap Icha.
"Rupanya kamu bukan gadis sembarangan, sudah berapa banyak pria yang menjamah mu?" Tanya Walikota Bern.
__ADS_1
"Dalam sehari bisa saya melayani 10 orang pria, kecuali ada orang yang mau pelihara saya mungkin beda cerita," ungkap gadis 19 tahun itu.
"Kamu masih muda, mengapa memilih jalan ini?" Tanya Walikota Bern.
"Dunia ini rumit, saya sudah terlanjur kotor dan ternoda. Jadi apa bedanya saya menutupi aib saya? Toh juga siapapun yang akan menjadi suami saya akan tahu kalau saya sudah tidak perawan lagi. Saya takut kalau saya jadi alim maka saya akan dicap sama dengan yang namanya barang second dijual mahal, pas dicoba ternyata mengecewakan, jarang ada laki-laki yang mau menerima istrinya yang tidak suci lagi. Kebanyakan laki-laki walau dia sudah tidak perjaka akan mencari wanita yang masih perawan." Gadis itu berjalan membuka tirai yang menunjukkan pemandangan indah di senja hari.
"Saya pernah menikah sekali karena perjodohan dari tante saya, menikah dengan pria dingin. Dia tampan tapi setiap kata yang terucap seperti sayatan pedang, sekali ucap sangat menusuk, dia bahkan menghina saya perempuan murahan ... Tanpa ia tahu saya adalah korban dari kebiadaban ayah saya sendiri. Selama pernikahan dia tidak pernah menyentuh saya bahkan dia bilang jijik jika berdekatan sama saya," Icha menceritakan masa lalunya pada Walikota Bern.
"Kenapa kamu tidak melaporkan perbuatan itu pada polisi? Kota kita punya lembaga yang melindungi warganya, contohnya seperti korban pemek0saan. Ada pendampingan khusus buat mereka, bahkan ada yang sampai hamil. Di sana kami merawat mereka memberikan pelatihan kerja, sampai mempertanyakan tentang bagaimana selanjutnya anak mereka mau dititipkan di panti atau mereka rawat sendiri?"
"Itu kata-kata manis dan janji palsu pemerintah daerah! Hahaha ... Anda sendiri tidak sadar dengan perbuatan Anda sekarang? Bersama mantan korban pemerk0saan yang akan Anda jadikan santapan," ledek Icha.
"Saya tidak akan melakukan itu dengan korban tersebut. Kamu kan beda bukan korban tetapi kamu jual jasa pribadi ke saya?"
"Saya jual jasa karena saya tidak punya keahlian apapun selain desa'han dan kenikmatan surgawi."
"Ya, baguslah kalau begitu! Cukuplah perkenalkan kamu dengan saya, saatnya kamu layani saya dan service saya sebaik-baiknya. Jika kamu bisa membuat saya senang mungkin saya akan menjadikan kamu peliharaan saya tanpa kamu harus melayani 10 orang dalam sehari," ujar Walikota Bern.
****
Sanjay yang ada di Bar tiba-tiba dikagetkan dengan seorang perempuan membawa anak kecil. Dia mengintrogasi beberapa perempuan yang ada di sana, ia memperhatikannya dari kejauhan.
"Siapa dia?" Tanya Sanjay.
"Dia adalah tante dari Icha, Tuan. Namanya Anis ... Dia sering datang kemari hanya untuk melihat keadaan Icha dan kadang meminta beberapa uang," balas seorang perempuan bernama Rossa.
"Icha kemana ya? Kok dari kemarin tidak menghubungi saya dan saya telepon juga tidak bisa. Apa ada yang tahu?" Tanya Anis pada Yuna teman kerjanya.
"Wah, kalau itu saya kurang tahu Mbak. Soalnya dia tidak ngomong apa-apa sama saya," balas Yuna.
"Tanya aja sama Mas Teguh siapa tahu dia tahu keberadaan Icha, soalnya kemarin saya lihat mereka ngobrol,' ujar Tatik.
Anis pun mencari kebenaran Teguh sang germo, pria muda berusia 38 tahun itu kini tengah bersenang-senang bersama para wanita penghibur di tempat karaoke.
"Mas Teguh, saya mau tanya Icha kemana?" Tanya Anis.
"Icha? Dia disewa seminggu sama tamu di luar kota, ada apa?" Tanya balik Teguh.
"Ini loh Mas, saya di tagih sama rentenir. Icha kan hutang tiga juta dan ternyata belum dibayar sama sekali," Anis menceritakan jika Icha tersangkut hutang dengan rentenir.
"Berapa?" Tanya Teguh.
"Sama bunganya 6 juta 500 Mas," balas Anis.
Teguh memberikan uang 10 juta kepada Anis.
"Ini uang buat bayar hutang lunas ya! Dan sisanya buat kamu, tapi satu saya minta jangan keseringan kesini karena Icha tidak berada di aini dia disewa tamu ke luar kota," Teguh mengusir wanita tidak tahu diri itu dan memberikan uang sisa, dia sangat tahu jika tidak diberikan uang wanita sialan itu akan kembali lagi, setelah menerima uang Anis pun pergi.
"Bos kenapa banyak sekali ngasihnya?" Tanya Tini.
"Biarin lah Tin, biar dia tidak ngemis lagi ke sini," ujar Teguh.
***
Ditempat terpisah ternyata Walikota itu telah menikmati permainannya dengan Icha. Gadis itu menari-nari diatas tubuh pria itu bulai dari gaya penunggang kuda sampai kaya katak bertelur.
Mereka menikmati permainan demi permainan. Tanpa mereka sadari seprei itu telah basah dengan cairan mereka sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap dan rasa lengket dalam setiap inci.
"Ternyata kamu nikmat juga gadis kecil. Walau kamu sering dinikmati beberapa pria tapi tidak menutupi rasa ini, aaaahhhh! Ingin aku melakukannya setiap hari dan setiap waktu." racau Walikota Bern.
"Sesuai janji anda jika saya bisa memu'askan dan menuntaskan berkali-kali Anda akan memelihara saya bukan? Maka saya akan berusaha," balas Icha.
"Aaaaarrrrrrhhh!" Mereka berteriak bersamaan karena merasa pelepasan yang sangat tidak terbayangkan.
"Baru kali ini saya mendapatkan lawan yang sepadan," ucap Walikota Bern.
"Saya tidak pernah mengecewakan pelanggan, asal bayarannya bisa lebih saya akan memberikan service yang memuuaskan," ujar Icha.
Permainan nakal itu masih berlangsung kini sang Walikota Bern yang memegang kendali. Ia meremaasss kedua gunung kecil itu dari arah samping dan mempermainkan benda kenyal itu. Dan apa Icha pun tak kalah gesit memijat-mijat lembut benda berotot itu.
"Mau main sekali lagi?" Bisik Walikota Bern.
"Kalau mampu kenapa enggak?" balas Icha.
__ADS_1
Mereka menikmati permainan gila itu, sang walikota lupa daratan gara-gara gadis kecil itu.