Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Chapter 4


__ADS_3

LIKE KOMEN DAN BANTU VOTENYA DONG:')


Sesaat mataku menangkap ada sesuatu yang janggal, ****** yang bertopengkan sahabat baikku ini sepertinya sedang mempermainkan aku.


Byur... Aku menyiramkan segelas win ditanganku kewajahnya hingga ia berteriak. "Ahhhhkkk," Aku melihat jelas raut wajahnya yang ketakutan, ia sampai memundurkan kursi yang ia duduki mencoba menjauh dariku, "tolong lepaskan aku Riyana, aku mohon." ucapnya lirih.


Namun api kebencian ini sudah terlanjur membara, meskipun awalnya aku sangat menyayangi sahabat-sahabatku, menganggap mereka seperti kleuargaku sendiri, memperlakukannya dengan layak tanpa memperhitungkan segala yang aku keluarkan. siapa sangka? dibalik itu semua mereka hanya menertawakan aku, menganggap semua kebaikanku hanyalah kebodohan.


Aku mendekatinya dan meraih ponsel milik Sharon. jari-jari lentiku menari diatas dadanya, aku menyentuh bahunya dengan santai, sambil berbisik membaca isi pesan dalam grup tersebut, "Usthhh dengar, apa ini? kalian hanya memanfaatkanku? ohhh kau juga mengatakan aku ini bodoh." ucapku dengan suara mendesah nan lembut didaun telinga Sharon.


"Ma... maafkan aku Riyana, tolong lepaskan aku."


"Ahahaha..." Aku tertawa lepas, seseorang yang menganggap dirinya pintar yang sudah membodohiku ternyata mengemis, dan memohon agar aku melepaskannya. "Bagaimana kau berpikir aku akan melepaskanmu? kau harus membayarnya Sharon." bisikku dengan suara terendah.


Aku menjauhi Sharon, dan mendekati Exel yang sudah lemah tidak berdaya diatas ranjang, dan membuka penutup mulutnya.


"Ahhhhhhkkkk tolongg...." Jerit Sharon yang terus mencoba melepaskan ikatannya.


Exel benar-benar sudah tidak betenaga, tentu saja karna aku sudah mengiris jarinya, dan bahkan aku tidak memberikannya asupan makanan selama beberapa hari ini untuknya.


"Kalian sudah bertemu, kenapa kalian hanya saling menjerit?" Aku menyentuh wajah Exel dengan penuh kelembutan, "Sayang katakan padaku, apa yang sering kalian lakukan saat kalian bertemu, tanpa sepengetahuanku?" tanyaku dengan nada terendah.

__ADS_1


Mereka tidak menjawab, Sharon dan Exel hanya saling menjerit menagis dan terus memohon agar aku melepaskannya.


"Oke. tanpa kalian memberitahuku, aku sudah mengetahui segalanya!" ucapku kemudian meraih pisau diatas nakas dan menempelkannya diwajah Exel.


"Tidak Riyana, tolong, maafkan aku. aku salah, maafkan aku Riyana." ucap Exel memohon atas ketidak berdayaannya.


Aku tersenyum menyeringai, sorot mataku teralihkan pada Sharon yang sedang berusaha membuka ikatannya. "Kenapa kalian menyerah? kita belum bermain-main," aku melirik sesuatu dibalik celana Exel dan aku menyentuhnya. "Ini, entah berapa kali kau memanjakan kelelakianmu bersama Sharon." Aku kembali menatap mata Exel dengan intens, "Sayang, apa aku harus memotongnya sekarang?" tanyaku penuh kelembutan.


"Riyana, aku... aku, maafkan aku, tolong lepaskan aku. biarkan aku pergi Riyana." ucap Sharon lirih.


Aku meraih sebuah apel, mengupasnya perlahan kemudian berkata, "Sharon, lihat aku..." Aku mulai memotong apel ditanganku menjadi beberapa bagian. "Bagaimana jika apel ini adalah bola matamu? aku mencungkilnya, dan memotong bola matamu menjadi beberapa bagian."


"Ahhhhhhkkkk, tidak jangan Riyana, aku menyesal tolong lepaskan aku." jerit Sharon hiteris.


"Gila! kau tidak waras, Riyana." umpat Sharon padaku dengan suara memekik.


"Lebih baik menjadi gila dan tidak waras dari pada menjadi penghinat rendahan sepertimu!" Sahutku meninggikan suara dengan rahang yang mengeras.


"Ahhhhhkkkk..." Sharon terus menjerit dan menangis.


Drtt... Drrtt... tanpa aku sadari ternyata ponsel Sharon terus bergetar, dan aku segera meraihnya. berulang kali Janne dan Ruby menghubungi Sharon, sepertinya mereka semua khawatir atas gambar yang aku kirimkan ke grupnya tersebut.

__ADS_1


Aku mengarahkan pisau keleher Sharon kemudian berkata, "Jawab panggilan tersebut, dan katakan jika aku sudah tahu dan memaafkan mereka semua!"


Dengan penuh ketakutan Sharon hanya bisa menurut pasrah menjawab panggilan dari Janne. "Ha... hallo," ucap Sharon dengan suara bergetar.


Aku menekan pisau tersebut keleher Sharon memberikan sebuah isyarat ancaman.


"Sharon. apa yang terjadi? siapa yang mengirim gambar itu?" tanya Janne


Sharon melirik kearahku, kemudian berkata. "Ri... Riyana sudah mengetahui segalanya."


"Apa? bagaimana mungkin? apa dia marah padamu? bagaimana dia sekarang? apa yang dia katakan?" tanya Janne kembali.


"Di... dia sudah memaafkan kita semua."


Segera aku meraih ponsel ditangan Sharon dan memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.


"Aku sudah menuruti apa kemauanmu, sekarang tolong lepaskan aku Riyana, aku mohon."


Aku memiringkan senyum dan menggelengkan kepala, Jleb... tanpa menunggu lama aku menancapkan pisau ditanganku keperutnya, hingga membuat mata Sahron membulat dan tidak bisa berkata apapun lagi.


"Ka...kkk"

__ADS_1


Jleb... Jleb... Jleb... berulang kali aku menusuk perut Sharon dengan sangat brutal, saat tancapan terakhir aku tidak langsung menarik pisau itu keluar. Sreakk... aku semakin menekan dan memutar pisau tersebut kemudian aku tukikan kebawah perutnya agar usus dan organ dalam lainnya terlihat. dengan begitu banyak lumuran darah ditanganku, aku menarik pisau itu kembali mencungkil sedikit sampai organnya menyangkut dipisau dan keluar hingga pada akhirnya Sharon mati dengan keadaan perut yang terkoyak.


Aku memalingkan wajahku menatap kearah Exel sambil tersenyum menyeringai. "Giliranmu sayang..."


__ADS_2