Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Sebuah keputusan


__ADS_3

   Keluarga besar Nadine telah berkumpul di Rumah Sakit Bhakti Husada. Mereka menunggu detik-detik di mana alat medis yang menghiasi tubuhnya  Nadine dilepas.


   "Bagaimana apakah sudah siap menerima segala resiko yang di dapatkan setelah ini?" tanya dokter.


   "Sudah Dok! Kami sudah siap dengan resiko yang akan terjadi, toh sudah satu setengah tahun ini alat medis itu hanya mampu membantunya bernapas namun tak membantunya untuk sembuh," ucap Marchelo.


   "Ya, memang ini adalah keputusan yang sangat berat bagi kami juga selaku team dokter, tapi mau bagai mana lagi, keputusan keluarga itu yang terbaik, kami harap ada keajaiban dari Tuhan yang maha kuasa!" kata Dokter Sam.


   "Bukannya kami tidak percaya dengan dunia medis, tapi kami sekeluarga sudah tidak mampu membiayainya lagi,hanya Tuhan yang mampu memberi keajaiban!" ujar Marchelo.


   "Ya, anda benar kami sebagai dokter tidak bisa memberi harapan palsu karena hidup manusia hanya Tuhan yang menentukan  mau hidup atau mati," balas Dokter Sam.


   "Untuk itu sebagai wakil dari keluarga Nadine, kami ucapkan terima kasih atas kerja keras team dokter, untuk merawat dan berusaha menyembuhkan Nadine," ucap Marchelo.


  Team dokter dan Marchelo menuju ruang Nadine. Melepaskan oksigen, mencabut infus serta alat-alat yang menempel di tubuh Nadine. Semua keluarga meneteskan air mata, tak kuasa melihatnya.


  "Lebih baik malaikat pencabut nyawa yang mencabutnya, dari pada manusia yang mencabutnya, serasa sangat menyakitkan jika melihatnya secara nyata!" ucap Marchelo dibalik dinding kaca.


   "Jika ini yang terbaik, semoga hidupmu akan lebih bahagia dan tenang di sana," ucap Angela.


   "Merelakan mu tiada adalah suatu keputusan yang sangat sulit, namun untuk apa jika ragamu ada namun jiwa tak ada," ucap Mama Nadine.


   Air mata mereka mengalir deras mengiringi keputusan itu, sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi semua karena takdir Tuhan. Semua alat telah terlepas, semua keluarga telah ikhlas. Namun ditengah derai air mata yang mengalir deras dan isak tangis yang bersahutan, ada suara teriakan memanggil nama Nadine.


   "NAAAAADDDDIIIINNNEEE!" teriaknya.


  "Kamu pernah janji sama aku,kamu engak akan ninggalin aku! Tapi kamu bohong, kamu ninggalin aku seperti ini, dua tahun kamu diamkan aku, kamu ... Kamu sekarang diam untuk selamanya, kamu tega sama aku Nadine!" ucapnya.

__ADS_1


   Lelaki itu bernama Rio Dewantoro kekasih Nadine, mereka menjalin cinta sejak bangku SLTP. Semula Rio tak merelakan Nadine jadi Puteri kecantikan, namun apa boleh buat pihak kampus yang memilihnya, bagi mereka Nadine layak untuk maju.


"Saya engak setuju Pak kalau Nadine yang dipilih," ucapnya kesal.


"Jangan kau jadikan dia burung dalam sangkar, dia adalah berlian yang tersembunyi, biarkan dia mengenal dunia ini, dia masih muda perlu banyak mengenal seisi dunia," ucap Rektor.


  "Tapi Nadine tunangan saya! Engak penting ikut acara seperti itu, biarkan dia jadi dirinya sendiri jangan dipaksakan, anda lebih mementingkan nama Universitas Anak Bangsa untuk di kenal lebih luas? Tapi saya lebih mementingkan Nadine sebagai gadis biasa, anda mungkin tidak tahu ajang kecantikan itu sangat jahat, ada beberapa acara di luar negeri yang finalisnya tidak terima ada finalis lain menang, sampai dia rela mencelakai finalis yang menang itu," ungkap Rio.


   "Kamu jangan khawatir tidak akan ada yang terjadi, negara ini negara hukum, pasti akan ada konsekuensinya jika orang berbuat jahat! Lagian di ajang itu pasti ada tes kepribadian jadi jangan khawatir!" pungkas Rektor.


  "Tapi Pak ...." ucapan Rio terpotong dengan isyarat Rektor untuk diam.


   Sebuah keputusan yang berat untuk merelakan Nadine pergi, mereka sempat ribut karena masalah itu, ketika Rio hendak mengantarkan Nadine pergi Rio terlambat gadisnya telah masuk ke mobil, Rio mengejarnya dengan sepeda motor miliknya, Nadine hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.


  "Nad ... Nadine maafin aku!" serunya.


   "Maafkan kami Rio, bukan maksud kami menutupinya dari kamu, tapi kami tidak enak dengan keluarga kamu!"ucap Marchelo.


   "Iya saya ngerti tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdirnya, saya tidak berjodoh dengan Nadine, tapi andai saja waktu itu saya bisa mencegahnya," ucap Rio penuh dengan penyesalan.


   "Sudahlah Rio ikhlaskan saja! Itu akan lebih bagus buat Nadine."  Marchelo memeluk Rio mencoba menenangkannya.


   "Apakah pihak Kampus Anak Bangsa juga ikut bertanggungjawab?" tanya Rio.


   "Ya, mereka membiayai sampai setengah tahun, setelah itu putus dan kami harus pontang-panting cari uang," ujar Marchelo.


    "Kenapa kalian tidak hubungi saya?!" tanya Rio sedikit emosi.

__ADS_1


   "Kami tidak ingin membebani kamu karena ini urusan keluarga kami!" balas Marchelo.


   Sempat bernapas selama setengah jam namun akhirnya, Nadin harus meregang nyawa, matanya masih terpejam, namun bibirnya mampu sedikit tersenyum dengan menunjukkan lesung pipinya.


  "Astagfirullah, sangat manis sekali anakku," ucap kedua orang tua Nadine.


    "Pasti kamu sudah bahagia ya Nadine, selamat tinggal sayang," ucap Angela.


  Semua sudah memberikan kata sambutan terakhir buat Nadine dan mereka memberikan kecupan hangat kepadanya. Lima jam kemudian mereka menuju pemakaman, untuk mengiringi kepergian Nadine yang terakhir kalinya. Sebuah hari yang menyakitkan memang ketika kita harus kehilangan seseorang yang sangat kita sayang. Semua pelayat meninggalkan tempat tersebut satu persatu hingga menyisahkan Rio dan Angela.


  "Kamu pasti sangat mencintai Nadine?" ucap Angela membuka percakapan itu.


  "Ya, sangat mencintainya!" tegas Rio.


    "Mendapatkan si kutu buku satu ini sangat sulit, hampir tiga tahun lamanya aku mengejar cintanya namun selalu ia tolak,waktu itu kita masih duduk di bangku SLTP Pemuda, aku jatuh hati padanya sejak pertama kali melihatnya, lalu aku mulai mendekatinya sebagai teman, namun aku engak bisa lagi memendam rasa itu hingga pada suatu ketika aku menyatakan cinta untuk yang pertama kali namun dia tolak," kenangnya.


   "Tapi kok bisa jadian itu ceritanya seperti apa? dan bagaimana?" tanya Angela.


   "Mungkin dia capek karena aku sering tembakin dia, merayunya dengan lagu, puisi dan lain-lain, sempat risih awalnya namun engak apalah demi mendapatkan pujaan hati, aku belajar banyak puisi dari penulis ternama dan lagu-lagu dari band kesukaan dia, namun Nadine susah di luluhkan, katanya dia mau fokus sekolah, tidak mau pacaran dan dia ingin membuat orang tuanya bangga!" Kenang Rio.


   "Namun aku bukan pemuda bodoh hanya dengan omongan itu aku menyerah, aku membujuknya kita bisa kok pacaran sambil belajar yang penting kita sama-sama dan tak terpisahkan," lanjutnya menceritakan kejadian waktu itu.


   "Terus akhirnya kalian Jadian dong?" tanya Angela.


   "Ya kita jadian, sesuai kesepakatan pacaran sambil belajar, ketika Nadine terpilih menjadi finalis aku sempat menentang, mungkin aku terlalu egois, aku menerima beasiswa keluar negeri, di tengah polemik kami, awalnya dia juga tidak setuju dengan pilihanku, tapi aku meyakinkannya demi masa depan kita, dan dia akhirnya setuju walau ada insiden saling gondok dan diam-diaman,selepas itu kita sudah tidak kontekkan lagi dan terakhir malam sebelum kecelakaan itu kita teleponan lama banget, dan itu yang terakhir kali aku mendengar suaranya,"ucap Rio dengan berlinang Air mata di tengah pusaran Nadine.


💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2