
Kenichi menyiapkan semua anak buahnya untuk mencari Sabrina setelah melihat kematian teman bisnisnya. Sangat tragis itulah gambaran yang bisa dilihat, pria tersebut meninggal karena kehabisan darah. Lehernya berlubang sangat dalam karena tusukan high heels dari Sabrina.
"Sangat mengerikkan, sebelum meninggal dia disiksa sedemikian rupa," decak Kenichi.
Sabrina sendiri tak tahu di mana rimbanya, setelah melakukan aksinya dia pergi meninggalkannya.
"Bagaimana apa ini bisa diproses?" tanya Kenichi kepada seorang Polisi.
"Bisa saja, akan tetapi kita perlu saksi untuk memenjarakannya," ungkap Polisi.
"Apakah ada kekerasan seksual seperti ini? Saya kira ini terlalu kejam," timpal seorang Detektif.
"Ini semua salah saya, maafkan saya jika saya telah membuat gaduh. Saya harap jangan sampai kasus ini terekspose diluar sana," pinta Kenichi.
"Baik Tuan, kami akan menutup rapat kasus ini." Setelah memotret dan mengantongi semua para Polisi dan Detektif pun memasukkan barang bukti kedalam tas kerja mereka.
Mereka yakin Kenichi akan berhasil menanganinya. Mereka tahu Kenichi bukanlah orang sembarangan hampir semua aparat di sana tunduk dengannya tanpa terkecuali. Bahkan seorang Presiden sekalipun selalu meminta bantuannya untuk menyingkirkan para lawan yang memberatkan dan menghalangi jalannya.
"Sabrina ... Sabrina, ha kamu belum tahu siapa saya jangankan kamu seekor semutpun bisa saya temukan di kota ini. Wanita sampah seperti kamu mau membodohiku? Jangan harap dan jangan mimpi Sabrina." Kenichi tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohan Sabrina.
"Lantas bagaimana dengan mayat ini?" tanya seorang anak buah baru Kenichi bernama Choi.
"Kremasi dia!" Perintah Kencihi.
"Baik Tuan," balas Choi.
"Dan kamu Choi saya perintahkan untuk mencari perempuan iblis itu di mana pun dia berada." Dengan mata elang yang menusuk Kenichi memerintahkan Choi untuk menemukan Sabrina.
"Saya tidak mau mendengar kata gagal dalam pencarian itu, baik hidup atau mati!" Kenichi lalu meninggalkan hotel tersebut menuju pelabuhan di mana transaksi besar-besaran akan ia lakukan malam itu.
****
Sementara itu Sabrina tengah bersembunyi di sebuah gorong-gorong yang ada di dekat hotel. Tempat itu adalah tempat pembuangan limbah yang biasa digunakan beberapa pabrik di sana bahkan di sana juga ada beberapa bangkai binatang yang sangat menyengat baunya.
"Aaarrrthh, Oh My God sangat bau sekali di tempat ini lebih baik dari selokan di dekat kampus," gerutunya.
Tak jarang ia menemukan beberapa bangkai dan bungkusan sampah.
"Sampai kapan aku harus bersembunyi di sini? Sangat menyebalkan, Kenichi kamu sungguh keterlaluan! Aku kira kamu akan menjadikan aku ratu tapi apa yang kamu lakukan sama saja dengan Sanjay. Kamu jadikan aku sebagai barang jadi untuk menggolkan proyek kamu, kenapa harus aku Bangs*t." Teriak Sabrina dengan kesal.
***
"Bagaimana jika kita menyebarkan foto ya di jalanan kota dan menginfokannya di media sosial dan berita?" tanya seorang bernama Song Dong kepada Choi.
"Tidak perlu kita membuang uang demi sampah seperti itu," ujar Choi dengan senyum sinis.
"Lantas apa yang akan kita lakukan?" tanya Song Dong.
"Tunggu saja," balas Choi.
Tak berapa lama datanglah beberapa orang dengan membawa anjing pelacak yang sangat terlatih. Terlihat anjing tersebut berbadan sangat berotot dan menyeramkan gigi yang runcing dan sangat gesit.
Dengan pawangnya Choi memberikan perintah untuk mencari Sabrina.
__ADS_1
Hewan berkaki empat itu pun segera mencari keberadaan Sabrina dan tidak membutuhkan waktu lama mereka berhasil menemukan Sabrina di tempat persembunyiannya.
"Rupanya di sini kamu wanita busuk," ujar Choi.
Mereka pun segera menyerahkan Sabrina kepada Kenichi.
Kenichi sedang berada di atas kapal besarnya kapal yang ia dapat dari barter barang haram dan senjata.
"Good job Choi," puji Kenichi.
"Rasanya akan seru jika kita bermain dengan Nona manis ini, bagaimana menurut kalian?" Tanya Kenichi.
Pria gila dan kejam itu memiliki ide di luar perkiraan orang normal.
"Itu terserah anda Tuan," balas Choi.
"Tapi saya harus memberikan hadiah yang pantas kepada sang penemu," ungkap Kenichi.
"Hadiah?"
"Ya, hadiah memang kenapa kamu terkejut Choi?" tanya sang boss Mafia tersebut.
"Anda yakin?" tanya Choi.
"Tentu saja saya yakin 100 persen," balas Kenichi.
"Tapi yang menemukan wanita itu adalah dua ekor anjing itu Tuan," ujar Choi sambil menunjuk ke arah dua ekor anjing ganas.
"Wow bagus sekali," Kenichi tersenyum lebar.
"Bawakan kornet sapi yang bentuk kotak yang biasa aku masak," pinta Kenichi.
Dan hal gila itupun dilakukan oleh Kenichi. Setelah membuka kaleng satu persatu ia membaluri tubuh Sabrina dengan kornet.
"Lepaskan anjing itu!" Perintah Kenichi.
Anjing itu pun dilepaskan, dan menghampiri Sabrina yang telah diikat. Dua ekor binatang itu menjilat kornet sapi yang menempel di tubuh Sabrina. Sabrina berteriak-teriak karena ketakutan, mengingat gigi hewan tersebut sangatlah tajam dan lidahnya sangat kasar.
"Aaawwwhhh!" Teriak Sabrina.
"Hahahha ...." Kenichi tertawa puas sembari merekam adegan berbahaya tersebut.
"Kamu tahu 'kan apa yang terjadi jika bermain-main sama saya? Ini belum seberapa jika kamu berulah lagi, kamu akan saya masukkan ke kandang buaya." Dengan sedikit menjambak rambut pirang Sabrina.
"Aaaggghh!" Erang Sabrina karena rasa sakit dari tarikan tersebut.
'Derrrrtttt!'
Getaran yang bersumber dari handphone milik Kenichi yang ada di sakunya membuatnya sedikit tidak senang, karena menurutnya sangat menggangu kesenangannya.
"Sialan! Siapa sih?" Umpat Kenichi.
'Annet'
"Ngapain bocah tengil ini?" gumam Kenichi.
__ADS_1
"Ya, ada apa?" tanya Kenichi pada seseorang yang ada di ujung telpon.
"Om, help me please." Dengan sesengukkan ia membalasnya.
"Ada apa my girl?" Tanya Kenichi lagi.
"Aku ada masalah sama seseorang, hanya om Kenichi yang bisa bantu aku," jawab Annette.
"Kenapa harus sekarang? Aku sedang bersenang-senang dengan mainan baruku. Kamu sangat menggangu sekali merusak moodku, ini kan nanti bisa dibicarakan di rumah om."
Seketika mood Kenichi berubah.
"Owh, jadi gini enggak mau bantu aku? Oke find tidak apa-apa tapi awas aja kalau ada sesuatu." Ancam Annete.
Entah apa yang diketahui Annet sehingga Kenichi mengubah pola pikirnya seketika.
"Oke!"
"Mau kamu apa?" Lanjutnya bertanya.
" Aku mau ... om menghabisi seseorang," ucap Annet lirih.
"Apa?" Kenichi sedikit terkejut mendengar ucapan Annete.
"Kamu tidak bercanda kan? Kamu jangan main-main Net," lanjut Kenichi.
"Tidak! Aku tidak bercanda," tegasnya meyakinkan Om kesayangannya tersebut.
"Siapa yang ingin kamu habisi?" tanya Kenichi.
"Nikita!"
"Nikita? Bukannya dia sahabat karib kamu?" tanya Kenichi tidak percaya.
Setahu Kenichi, Annette dan Nikita yang biasa di panggil Nike adalah sahabatnya. Mereka sudah seperti saudara karena persahabatan yang sangat lama diantara mereka. Mereka berdua mengenal sejak usia belia hingga saat ini diusia mereka yang hampir 23 tahun.
"Aku benci sama Nike. Dia merebut seorang lelaki yang aku cinta anak dari Om Thomas yaitu Shandy," ungkap Annet.
"Shandy yang pembalap itu kah? Bukannya dia seorang f*ck boy? Kamu yakin hanya karena lelaki seperti itu menghancurkan persahabatan kamu?" Pria itu meyakinkan keponakannya.
"Yakin lah! Lagian aku sudah terlanjur menyerahkan semua kepada Shandy. Dan Shandy harus jadi milik aku!" tegasnya.
Annette sudah dibutakan cintanya kepada Shandy, Shandy yang notabene adalah seorang lelaki yang suka mempermainkan perempuan. Dia seperti mengunyah permen karet sehabis manis sepah di buang. Bagi Shandy Annet adalah pemuas sesaat, Shandy dan Nike adalah sebatas teman bagi Nike. Shandy sendiri yang kecintaan terhadap Nike, berulang kali Shandy mencoba menjebak Nike namun, selalu saja gagal dan gagal lagi.
Nike sangat menjaga dirinya, pernah suatu ketika Nike dicium oleh Shandy di hadapan semua wartawan dan di situlah Nike sangat malu hingga membuatnya menangis dan mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Sedangkan kontrak kerjanya sebagai seorang artis papan atas membuat harus profesional.
"Kamu hanya dicium gitu saja sudah kayak gitu," cibir asistennya bernama Astuti.
"Tut! Kamu enggak tahu gimana malunya. Dia cium aku di depan umum,di depan semua orang! Sedangkan ini kali pertama aku dicium cowok. Aku mau ciuman pertama itu buat suami aku nanti, eh ... Enggak tahunya kecolongan," ucap Nike sedikit kesal.
Karena kejadian itu membuat pemberitaannya sangat viral di media cetak dan elektronik.
Mengetahui berita tersebut Annet sangat marah karena merasa terhianati, sahabat yang sudah dianggap saudara merebut kekasihnya.
Bersambung ...
__ADS_1
💙🧡❤️💛💚