
Sabrina tidak pernah diberi makan dan minum bahkan dipindah hingga beberapa hari di sana. Sementara itu Nadira berada di kota, menikmati kemenangan sesaat. Nadira bertamu di rumah Ranny dan tanpa sengaja bertemu engan Denny. Ranny mengenalkan Nadira kepada Denny.
"Denny kenalkan ini Nadira dan Nadira ini Denny."
"Nadira,"
"Denny,"
"Aku rasa kalian cocok!" ucap Ranny.
"Cocok apaan sih kitakan baru kenal," ucap Nadira.
"Iya nih sok tahu banget!" celetuk Denny.
"Kalian ini mempunyai persamaan loh," Ranny tertawa melihat wajah Nadira dan Denny yang terlihat seperti orang bodoh.
"Persamaan apa coba?" tanya Nadira.
"Sama-sama musuhan sama Sabrina," ucap Ranny.
"Emang dia musuhan sama Sabrina?" Tanya Denny.
"Bukan aku tepatnya kembaran aku yang di musuhi Sabrina,dia di tabrak sampai koma dan akhirnya meninggal. Dan aku ingin balas dendam," ucap Nadira.
Setelah perkenalan itu, Nadira dan Denny semakin dekat.
"Aku sebenarnya nggak ada urusan dengan Sabrina, yang menaruh dendam mendalam itu adalah Ranny karena anak kami yang di rusak oleh Sabrina, ya itu karena kesalahan aku juga, karena aku menodai dia," Denny menceritakan awal mula kejadian itu sampai terjadi.
"Bagaimana bisa dia tega melakukan itu sama anak kecil?" Nadira sampai heran.
Denny terlihat santai menanggapi hal tersebut. Denny menaruh rasa kepada Nadira sejak pertama kali bertemu begitu pula dengan Nadira mempunyai rasa yang sama. Mereka sering jalan bersama baik, liburan atau ke diskotik. Nadira yang belum pernah merasakan sentuhan lawan jenis,ketika Denny menyentuhnya dia tidak menolak sedikit pun. Dari belaian rambut hingga kecupan demi kecupan seakan Nadira pasrah akan sentuhan nakal Denny.
Denny yang melihat Nadira pasrah sedikit menjaga imagenya.
"Kenapa?" tanya Nadira.
"Aku nggak bisa melakukan ini karena kamu masih gadis," Denny sebenarnya hanya pura-pura tidak ingin menyentuh Nadira.
"Kalau kamu menginginkannya aku siap apapun itu resikonya." Nadira memasrahkan dirinya pada Denny.
__ADS_1
"Aku nggak bisa lihat kamu kesakitan," Denny lagi-lagi berpura-pura sok peduli padahal dengan Sabrina dia tidak oernah seperti itu malah tidak peduli dengan teriakan Sabrina.
Ibarat kucing yang di sediakan ikan asin langsung lah dimakan, itulah Denny awalnya ragu namun akhirnya menikmatinya. Denny melakukan itu tanpa jedah Nadira yang baru sekali merasakannya begitu menikmati.
"Kamu hebat!" ucap Denny.
"Kamu juga, pengalaman kamu lebih banyak rupanya, buktinya kamu banyak gaya," ujar Nadine.
Setelah mereka beristirahat lima belas menit mereka melakukannya lagi malah yang kedua lebih kasar, Denny terus menggoyang Nadira tanpa ampun. Semenjak hari itu Nadira diminta Denny untuk tinggal di rumahnya. Tiga bulan sudah mereka hidup bersama, entah mengapa tiba-tiba Denny ingin sekali menikahi Nadira dan ingin bertangungjawab atas perbuatannya. Denny memesan tempat untuk melakukan acara lamaran, Nadira yang terkejut dengan surprise yang di berikan Denny.
"Nadira, bersediakah kau menikah denganku?" tanya Denny.
"Ya!" Nadira tanpa berpikir panjang menerima lamaran Denny.
Kejadian itu dilihat oleh Sabrina, Sabrina yang berhasil lolos dari sandraan Nadira. Dia berhasil mendapatkan pertolongan setelah ia berjalan seribu kilo meter.
"Sialan dia menodai ku dan mempermainkanku selama tujuh tahun, kini akan menikah dengan wanita lain!" Sabrina kesal melihat kejadian itu.
"Ini tidak bisa terjadi,aku harus menggagalkannya! " ucap Sabrina.
Semua yang Denny persiapkan sudah tertata dan tersusun rapi. Pernikahan itu di lakukan di catatan sipil. Setelah semuanya siap kedua mempelai itu akhirnya duduk bersama dan menandatangani berkas pernikahan. Denny membuka cadar pengantinnya, betapa terkejutnya ia siapa yang ia nikahi yaitu Sabrina.
"Nadira?" Sabrina hanya tersenyum sinis.
Nadira sebenarnya telah di sekap oleh Sabrina dan di bius olehnya. Nadira diikat di ruang ganti. Sabrina masih tidak sadar bahwa Nadira adalah kembaran Nadine, dia hanya fokus mengeksekusi Nadira.
"Bagaimana mungkin bisa kamu?" tanya Denny.
"Harusnya akukan yang kamu nikahi? Karena apa karena aku sudah bersama kamu selama tujuh tahun," ucap Sabrina.
"Tujuh tahun? Bukan sebuah pilihan untu aku memilih kamu sebagai istriku, he ... Mana mungkin aku memilih kamu, kamu yang menghancurkan masa depan anakku," Denny sangat marah kepada Sabrina setiap kata yang terucap nadanya ia tinggikan.
"Aku menghancurkan anak kamu, karena kamu juga yang menghancurkan masa depan aku! Kita impas kan?" Sabrina begitu kesal dengan tuduhan Denny.
"Harusnya kamu mikir mengapa aku tidak memilih kamu! Masa lalu kamu yang membuat aku tidak ingin ada di dekat kamu! "
"Mohon maaf pernikahan ini tidak sah karena wanita yang akan saya nikahi dia yang menculiknya, dan kamu Sabrina dalam waktu dua puluh empat jam kamu tidak membebaskan Nadira kamu akan tahu akibatnya!" Denny mengancam Sabrina.
Bukan Sabrina namanya kalau ia gentar dengan ucapan Denny. Sabrina ingin menyiksa Nadira terlebih dahulu baru ia bebaskan.
__ADS_1
"Tidak bisa Denny, aku harus melenyapkan dia dulu baru aku lepaskan," ucap Sabrina dengan senyuman licik.
Nadira yang berada di Apartemen milik Sabrina berusaha melepaskan diri dan dia berhasil. Sabrina salah sasaran jika ingin bermain api.
"Oh rupanya kamu ingin bermain-main denganku Sabrina, lihat saja balasan itu akan lebih kejam dari perbuatan awal," ucap Nadira dengan penuh emosi.
Nadira mempersiapkan jebakan untuk Sabrina, dia mencari kabel panjang dan menggunting ujungnya dan mencari penjepit dan logam lalu ia rakit. Dari bagian ujung ia lilitkan ke ganggang pintu lalu ujung satunya ia masukan ke colokan listrik. Setelah itu ia kabur lewat jendela dengan Menggunakan sprei. Nadira sudah berhasil keluar dan menghubungi Ranny meminta untuk mempersiapkan mobil.
Ranny yang sedikit heran mengapa Nadira bisa keluar.
"Kamu kok bisa keluar dengan mudah?"
tanya Ranny.
"Kamu masa nggak tahu siapa aku! Nadira yang mempunyai seribu satu cara untuk lolos dan membalas dendam atas perbuatan Sabrina," ujar Nadira.
"Iya deh aku percaya sama kamu," ucap Ranny.
"Aku mau balas dendam karena dia telah menculikku dan membuat pernikahan aku gagal," Nadira benar-benar menyusun rencana itu dengan sangat rapi dengan bantuan Ranny.
Sabrina yang kembali ke apartemen miliknya menyentuh ganggang pintu langsung merasakan getaran listrik tegangan dua ribu watt. Seketika dia pingsan karena tersengat aliran listrik. Nadira menggeret tubuh Sabrina lewat lif dan menuju basemen dan memasukkannya langsung ke mobil milik Ranny.
"Kali ini habis kamu Sabrina!" ucap Nadine.
Ranny dan Nadine lalu membawa Sabrina ke suatu pulau terpencil dengan menyewa speedboat. Nadine di sana mengikat Sabrina di tiang dan menggantungnya. "Kamu mau apa?" tanya Sabrina. "Mau aku? Balas dendam dengan apa tang pernah kamu lakukan terhadapku dan keluargaku,"
"Keluargamu siapa aku tidak pernah menjahati orang lain," ucap Sabrina.
"Kamu ingat dengan nama Nadine?" Nadira mengikat stik kasti dengan kawat berduri lalu memakunya.
"Nadine?"
"Ya, Nadine yang kamu tabrak dia dengan kecepatan tinggi hingga koma berbulan-bulan." Nadira menoleh.
Sabrina terkejut dengan kemiripan wajah Nadine dan wanita yang berdiri di hadapannya.
Bersambung
💙💙💙💙
__ADS_1