Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Kehebohan dipagi hari


__ADS_3

(ektra part lebih panjang)


Pagi itu berjalan seperti pagi pada umumnya, para pekerja sibuk dengan kerjaan masing-masing. Para Customer Service melayani pelanggannya via telepon, Cleaning Service masih membersihkan kantor bagian luar, Office Boy dan Girl sedang menyiapkan kopi dan teh untuk karyawan marketing  magang dan staf lainnya.


Tapi kali ini sedikit berbeda terlihat sangat sunyi yang terdengar hanya mesin fotocopy, ketikan komputer dan printer.


"Pagi ini agak aneh ya? Tidak seperti pagi-pagi biasanya," ujar seseorang.


"Iya, seakan damai. Tidak ada yang jepretin tali bra, tepuk-tepuk vantat dan ngelus-ngelus pipi dan bilang ' Baby I want you!' pokoknya damai," Claire dengan bahagia menyambut hari-harinya yang tenang.


"Iya sejak ada mainan baru, mungkin *vetisnya *terfuaskeun si boss itu," Mitha dengan polosnya bicara jujur dan menduga bahwa anak baru itu adalah mangsa barunya si Boss.


"Saking istri pak Roy lagi sakit aja jadi aji mumpung tuh Renato menguasai perusahaan ini," ungkap dengan sinis  Claire.


Renato awalnya menjabat sebagai manager, tapi semenjak kedatangan Sabrina kinerjanya semakin membaik sehingga dalam satu minggu dia langsung naik jabatan menjadi Ceo. Menginggat Ceo utama ia sedang cuti karena istrinya sedang sakit keras, terpaksa ia melimpahkan dan menyerahkan jabatannya kepada Renato.


"Saya serahkan perusahaan kepada kamu, semoga bisa berkembang sesuai keinginan kita,"


"Baik Pak, laksanakan!" Dengan percaya diri ia membalasnya.


"Bapak Renato walau saya sering dengar berita miring di perusahaan ini, dan menginggat kinerja anda baik walau kelakuan Anda kurang baik saya tetap menghargai dan berterimakasih. Alangkah baiknya Anda melakukannya di luar kantor atau perusahaan, jika di luar jam kerja itu terserah Anda mau main sepuasnya atau apa. Tapi jika dalam perusahaan tolong dengan sangat hargai saya sebagai pemilik dan jaga nama baik perusahaan yang kita bangun dari nol," tutur Royhan pemilik saham terbesar di perusahaan properti tersebut.


Royhan sebenarnya tidak hanya punya satu usaha itu saja melainkan usaha yang lain yang bergerak di dunia developer dan advertising. Royhan adalah tipekal orang yang selalu mencoba hal-hal baru. Dari kecil ibunya selalu mendidiknya dengan keras, kelas 5 SD ia sudah disibukkan khursus komputer ditempat termahal. Kuliah dia mengambil 2 jurusan Jurusan IT dan Marketing.


Sabrina yang mendengar bisikan-bisikan para karyawan yang lain hanya diam karena baginya tidak mutu ribut dengan orang rendahan seperti mereka.


"Noh lihat sok ngartis banget," ujar Claire dengan nada sinis.


"Iya, ya sengak banget," balas Mitha.


"Tau enggak sih apa tang mereka lakukan ketika kita makan siang?" tanya seorang karyawan bernama Vilia.


"Kamu enggak tahu kebiasaannya Pak Renato sama Sabrina? Mereka main empet-empetan." Claire sambil memberikan bahasa isyarat. Kedua tangan ditumpuk dan digerakkan menekan-nekan atas bawah.


"Sok tahu kamu Claire," balas Vilia.


"Kamu belum tahu si Pil, Renato itu mata keranjang. Lihat cewek berdiri aja pikirannya sudah lain," Mitha menjelaskan kepada Vilia anak magang yang baru seminggu bekerja di sana.


"Terang aja Mit, Vilia 'kan anak baru yang belum pernah terjamah oleh Pak Renato. Berhubung ada Sabrina jadi anteng aja tuh orang di dalam," Claire makin sinis dibuatnya.


Claire sendiri memang ada rasa dengan Renato tapi ketika ia mengetahui kebiasaan buruknya jadi ilfil. Setiap kali ia memberikan laporan kepada Renato dia selalu mendapatkan perbuatan yang tidak menyenangkan pria tua itu selalu menepuk bagian belakang bawah tubuhnya. Terkadang kalau berdiri dan tiba-tiba ia lewat pria itu selalu meremas da'danya.


"38 B" celetuk Renato.


Renato hanya berani sebatas itu karena Claire masih virgin statusnya yang belum pernah menikah membuat Renato tidak ingin menyentuhnya. Renato hanya ingin bermain dengan wanita yang sudah tidak tersegel, karena ia menghindari sebuah tuntutan pemerk0saan. Karena itu sangat mendapatkan banyak tuntutan menurutnya belum lagi ketika wanita itu hamil atas perbuatannya. Berbeda dengan ketika ia melakukan dengan seorang wanita yang sudah tidak tersegel atau bersuami. Pria tersebut akan bisa berkelit.


"Kamu yakin itu benihku?"


Karena orang seperti dia hanya mau enaknya tanpa mau bertanggung jawab. Mayoritas wanita yang mau ia sentuh adalah atas dasar paksaan dan ancaman. Wanita seperti itu yang mampu ia taklukkan dengan mudah. Contohnya Sabrina dia sangat mudah sekali menaklukkannya.


Renato dengan sang istri jarang sekali berkomunikasi, wanita yang ia nikahi karena terpaksa hasil dari perjodohan dari kedua orang tuannya. Demi mendapatkan apa yang mereka mau, Renato menikah dengan istri ternyata sudah mendapatkan barang second terlebih dia tengah hamil dengan lelaki lain. Alasan itulah yang membuat dirinya frustasi, maka dari itu dia bertekad untuk tidak merusak kegadisan seseorang demi nap'su semata, terlebih jika wanita-wanita itu meminta pertanggungjawaban untuk itu dia sangat menjaganya agar tidak mudah dijebak.


Pagi hari berikutnya mereka merasa ada yang janggal kenapa pria itu  tidak terlihat, mereka hanya berpikir mungkin ada pekerjaan di luar kota atau sedang berlibur. Mereka pun bekerja seperti biasanya dengan bimbingan Manager yang baru.


"Pak Joseph, Pak Renato kemana?" Tanya Vilia.


"Enggak tahu ya, kemarin hanya mengirim pesan singkat melalui wa pribadi. Katanya tolong kamu tangani perusahaan beberapa hari saya ada urusan penting." Pak Joseph menirukan gaya teks pesan yang dikirim Renato padanya.


"Tumben? Apa perginya sama yang lain?"


"Wah kalau itu bukan urusan saya, mending kamu cari tahu sendiri."

__ADS_1


Terlihat kantor itu sangat sepi tanpa adanya tangan jahil Renato. Semua karyawan sangat senang dan bekerja lebih nyaman, tetapi ada beberapa hal yang janggal.


"Kalian nyium bau busuk enggak?" Tanya Mitha, ia merasa ada bau yang menyengat.


"Mungkin di plafond ada bangkai tikus," balas Vilia.


"Bukan, di lift itu dari tadi menyengat!" Menegaskan bahwa di tempat itu ada aroma tak sedap Mitha memang mempunyai hidung sensitif.


"Perasaan enggak ada bau apa-apa deh," balas Claire.


"Suci kamu kalau bersih-bersih yang benar dong masa lift bau banget," tegur Mitha pada Susi sang Cleaning Service.


"Saya sudah benar kok membersihkan sesuai SOP, kalau masalah bau mungkin mulut Mbak Mitha yang bau," balas Suci dengan nada kesal.


"Kamu ya." Mitha ingin menghajar Suci tapi dihalangi kedua rekannya.


"Beneran loh bau sumpah!"


Seiring jalannya waktu benar saja bau itu semakin menyengat dan menyebar.


Pagi itu bukan pagi biasa terlihat seorang teknisi  berteriak dengan histeris.


"Tolong-tolong ... Toloooonggg!"


"Ada apa?" Tanya seorang yang terkejut sekaligus heran.


"Iya ada apa sih?!" Semua pada heboh dan bertanya kejadian apa yang mengacaukan hari ini.


"Ada mayat sudah gepeng," ujar sang Teknisi.


"Mayat? Mayat siapa?" Tanya Satpam.


"Kurang tahu! Dia terlihat tanpa busana," ujar Teknisi.


Satpam pun segera menghubungi polisi dan ambulance serta Pemadam.


"Mayatnya kejepit lift, kasihan ya."


Garis polisi terpasang di lokasi, team ambulance dan team pemadam segera mengambil mayat  tersebut dan mensterilkan tempat tersebut.


"Kami Team dari penyelamat sudah bekerja, sekarang kami serahkan kepada kepolisian," ucap salah seorang Team penyelamat.


"Baik! Segera kami tangani."


Mereka lalu menyelidiki satu persatu dan mengintrogasi siapa penemu mayat pertama.


"Siapa yang menemukan mayat ini?" Tanya Polisi.


"Saya Pak, nama saya Bachrul Alam. Pekerjaan saya di sini sebagai teknisi, saya mendapatkan laporan dari Mbak Mitha kalau liftnya bau busuk. Lalu segera saya lihat dan ternyata benar betapa terkejutnya saya melihat ada jasat terjepit lift tanpa busana," ungkapnya.


"Sudah berapa hari?" tanya Polisi.


"Sudah hampir 3 hari lamanya kata Mbak Mitha," balas Bachrul.


"Awalnya seperti apa?" Tanya Polisi.


"Berawal dari saya yang mencium aroma tidak sedap di dalam lift, saya yang sudah tidak betah dengan bau itu menghubungi teknisi dan memintanya untuk memeriksa," Mitha menceritakan kronologinya.


"Kira-kira apa ada yang janggal di perusahaan ini? Apa ada orang yang hilang?" Tanya Polisi lebih detail lagi.


"Eh, ada sih Pak Renato. Katanya beliau sedang keluar kota tapi beberapa hari ini dia hilang kontak," balas Claire.

__ADS_1


Polisi mengumpulkan semu karyawan dan menanyainya satu persatu. Perusahan itu ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan dan semua karyawannya diminta untuk WFH (work from home) mereka semua di rumahkan  guna penyelidikan lebih lanjut.


Karyawan perusahaan itu diperiksa satu persatu, sebelum di rumahkan semua karyawan dimintai DNAnya guna kelancaran penyidikan.


"Siapa orang yang biasanya setiap hari bersama beliau?" tanya Polisi.


"Sabrina! Dia adalah asisten pribadi dari Pak Renato," Claire memberikan keterangan kepada Polisi.


Polisi pun menayai Sabrina perihal bosnya tersebut. Sabrina hanya menjawab pertanyaan dengan santai.


"Ah, saya bekerja seperti biasa datang pagi membuat laporan sesuai tugas saya selesai saya pulang,"


"Seberapa dekat Anda dengan beliau?"


"Sebatas karyawan dan bawahan,"


"Apa ada komunikasi lain?"


"Tidak!"


"Selama ini bagaimana dengan beliau?"


"Beliau baik,"


"Kata beberapa karyawan beliau genit benar?"


"Ya, benar beliau genit! Beliau sering curhat sama saya dari pekerjaannya sampai rumah tangga," ujar Sabrina.


"Lumayan dekat ya sampai cerita rumah tangga segala." Polisi sedikit heran.


"Apa hanya sebatas itu? Menurut keterangan yang lain kalau dia sering ngajak ML karyawan? Benar seperti itu?"  Pertanyaan penuh  menelisik, polisi itu ternyata Marcello yang pernah menangani kasus Nadia, dia tahu pasti siapa Sabrina.


"Anda mencurigai saya?" tanya Sabrina.


"Oh tidak! Semua bakal menuduh Anda karena, Anda orang yang selalu bersama pak Renato!"


"Saya tidak tahu apa-apa! Saya di sini hanya bekerja di perusahaan bukan menjadi ja-lang-nya! Kenapa Anda seolah-olah menuduh saya tidur dengan dia atau menjadi simpanannya?"


"Saya tidak ngomong seperti itu! Saya hanya memberi pertanyaan apa Anda juga korban seperti yang lain? Jadi tidak menutup kemungkinan jika pria yang mati mengenaskan itu adalah korban dari korban pelecehannya yang ia lecehkan! Kalaupun semisal Anda pelakunya atau siapapun diantara yang lain. Anda bisa mengajukan keringanan pembelaan jika  Anda melakukannya karena ada unsur pembelaannya. Misalkan Anda bilang ... Ya, saya pembunuh saya melakukannya karena terpaksa, karena dia melecehkan saya! Dakwaan orang yang membunuh bisa berkurang karena apa? Karena ia membela diri atas perbuatan korban. Karena apa pelaku sebenarnya bukan pelaku yang sesungguhnya tetapi korban yang melakukan pembelaan terhadap dirinya intinya ia tidak sadar melakukannya," terang Polisi yang satunya bernama Daniel.


"Maksud dari ucapan Anda yang belibet itu intinya. Pelaku pembunuhan itu membela dirinya hingga tidak sadar membunuh korban?" Tanya Sabrina.


"Iya, itu maksudnya," balas Daniel


Marcello yang tahu sepak terjangnya Sabrina hanya santai menanggapinya, dia percaya kalau Sabrina adalah pelakunya. Karena mengingat keberingasan wanita itu.


"Kalau Anda tidak percaya saya bukan pelakunya, Anda bisa cek CCTV," ucap Sabrina.


"Jangan mentang-mentang saja berada dalam satu ruangan setiap hari saya jadi pelakunya," lanjutnya.


"Tapi sayangnya CCTV mati total Nona," balas Marcello.


"3 hari adalah waktu yang cukup untuk memusnahkan barang bukti bukan?" Tanya Marcello.


"Jangankan 3 hari kalau orang menghabisi nyawa orang pasti bisa hanya dalam waktu 1 jam menghilangkan semua! Secerdik-cerdiknya orang pasti ada kelemahannya, dan selemah-lemahnya orang pasti ada sisi cerdiknya,"  Sabrina membuat Marcello mati kutu dengan ucapannya.


Bersambung ...


❤️🧡💚💛💙


🗣️ Pesan Author

__ADS_1


*(Maafya kalau ada kata-kata yang aneh takut ada pelanggaran jadi sedikit diganti atau ditambahi kenyamanan pembaca).


__ADS_2