
"Sanjay!" Teriak Eduardo.
Barisan anak buah langsung menghadang kedatangan Eduardo dan memperingatkan pria itu agar tidak macam-macam.
"Sudahlah pergi dari sini jangan cari masalah dama Tuan Sanjay!" Mereka dengan wajah garangnya memperingatkan Eduardo, tapi ia tidak gentar dalam hal ini. Dan ini sangat menyangkut harga diri dan cintanya.
"Sanjay!"
Lagi-lagi ia berteriak dan menggemaskan suaranya di rumah mewah itu.
"Ada apa adikku?" Tanya Sanjay santai.
"Jangan pernah panggil saya adik kamu! Saya tidak sudi punya saudara Iblis seperti kamu!" Tegasnya.
"Why?"
"Jangan sok suci! Kamu kan yang melakukan itu pada Sabrina san calon anakku?" Sentak pria itu.
Sanjay hanya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Eduardo.
"Kenapa? Diakan wanitaku? Wanita yang sudah menjadi jaminan. Dan hakku untuk mau melakukan apa saja terhadapnya!"
"Tapi tidak seperti itu! Dia mengandung darah dagingku! Terserah jika kamu melakukan itu pada Sabrina dulu tapi beda dengan sekarang! Saya dan dia akan memulai hidup baru dan akan membangun keluarga bersamanya," ujar Eduardo.
"Kamu yakin? Kamu yakin dengan wanita nitu? Dan kamu yakin itu anak kamu?" Cecar Sanjay pada Eduardo.
"Ya! Saya yakin itu anak saya," ucap Eduardo.
"Dia sangat menikmatinya, menikmati permainan kita semalam. Oh ya kenapa kamu tahu bahwa aku adalah pelakunya?" Tanya Sanjay.
Eduardo melemparkan ponsel miliknya tepat dihadapan Sanjay.
"Yang pertama filing tapi aku menepisnya dan munculah video dari Chanel kamu!"
"Kenapa kamu tidak mau mencari wanita lain? Kenapa harus menganggu hubunganku dengan Sabrina?" Lanjutnya dengan mata memerah.
"Itu urusan saya bukan urusan kamu!"
Tegas Sanjay.
__ADS_1
"Anda lupa Tuan Sanjay yang terhormat jika Sabrina adalah calon istri saya dan kami berdua sudah mendapatkan restu dari Mr. Khai alias Khairul. Jadi Sabrina milik saya bukan Anda! Jika Anda berhak terhadapnya kenapa Anda membuangnya dan mencampakkannya dan bukankah itu hak Anda jika membuangnya? Bukan kah tidak lebih dia hanya barang bekas Anda? Jadi saya tidak salahkan jika memungutnya bukan? Karena hak Anda atasnya sudah tidak ada lagi," Sontak ucapan Eduardo bagaikan tamparan keras untuk Sanjay.
"Oh,ya. Satu hal jangan pernah menganggu hubungan kami! " Ucap Eduardo dengan Tegas.
"Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan bekasku! Karena apa? Aku tidak pernah membuang atau menyia-nyiakan bekasku atau barang busuk lainnya!" Seru Sanjay.
***
Di rumah sakit Sabrina masih terkulai lemas karena rasa nyeri diperut bagian bawah miliknya.
"Gimana? Masih sakit?" Tanya Suci.
"Iya sakit banget!" Tegasnya.
"Sesakit itu ya?"
"Ya, terlebih ada janin di perut jadi berlipat-lipat rasanya. Kalau sakit **** * bisa ya ditahan kalau sudah area rahim rasanya kayak dijambak 10 orang," tuturnya. Sabrina yang di nilai wanita tangguh ketika menghadapi rasa sakit di rahimnya seakan tak berdaya.
Bagaimana tidak ada satu nyawa terletak disana dan masih menyatu didalam dirinya.
"Apa seperti ini orang dicabut nyawanya?" Gumam Sabrina.
Entah mengapa ia tak hanya merasakan sakitnya di sekujur tubuh saja dia juga merasakan sakit di hatinya. Dia yang berusaha menjadi orang yang lebih baik dari masa lalu kini seakan diberi cobaan yang sangat-sangat menyakitkan.
"Kamu yang sabar ya! Aku pernah mendengar dari beberapa orang yang aku temui. Orang itu niat banget berhijrah, istilahnya tobat gitu ya. Dia menerima banyak cobaan dihidupnya, mulai dari hartanya yang hilang sedikit demi sedikit dan beberapa cobaan yang lainnya." Suci menceritakan sebuah kisah kepada Sabrina.
"Terus orang itu gimana?" Tanya Sabrina.
"Dia tetap kekeuh dan Istikomah dalam dia beribadah. Dia tahu dia telah memutuskan ini jadi dia harus pasang telinga dan mental yang benar-benar baja. Karena apa dalam sebuah kitab tertulis 'Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya di luar batas kemampuannya' jadi be positif thinking sama Tuhan. Aku yakin kamu kuat dan bisa menerima cobaan dan ujian ini," tutur Suci.
"Bagaimana jika aku tidak sanggup menerimanya?" Tanya Sabrina.
"Tetap berpikirlah positif, rasa sakit itu akan hilang disaat kita terbiasa merasakannya," Suci memberikan kata-kata motivasi kepada Sabrina.
"Tak segampang itu Suci! Kamu belum pernah merasakannya." sambil menahan rasa sakit itu Sabrina terlihat pasrah.
"Aku yakin kamu bisa Sabrina! Percaya pada diri kamu,"
"Aku rasanya ingin mengeluarkan bayi ini saja," ujar Sabrina sambil menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Jangan Sabrina kamu mendapatkan bayi itu sangat susah. Mungkin ini jalan Tuhan agar bisa merubah dirimu menjadi manusia yang lebih baik lagi," ujar Suci.
"Jangan terlalu bodoh dalam mengambil keputusan, jika keputusan itu merugikan dirimu maka kamu akan menyesalinya," ujar Suci.
"Ini baru mau masuk bulan ke tiga sangat disayangkan Sabrina. Paling tidak kamu menahan rasa sakitnya beberapa detik saja," lanjut Suci meminta agar sedikit menahan rasa sakit.
Sabrina mencoba menahan dengan sedikit tenaga yang tersisa sampai ia kembali pingsan.
Suci yang mengetahui keadaannya langsung menghubungi dokter jaga agar segera menangani Sabrina.
"Tolong Dok, paling tidak berikan obat penahan sakit!" Pinta Suci.
"Kami tidak bisa memberikan sering-sering obat tersebut karena kandungannya sangat rentan keguguran. Kalau pun ia sampai keguguran belum tentu dengan mudah ia bisa mengandung lagi," ungkap sang Dokter.
Sementara menunggu perkembangan Sabrina, Suci sangat kelimpungan sendiri menghadapi sifat Sabrina yang agak depresi setelah kejadian itu. Sanjay benar-benar brutal dalam melakukan kekerasan tersebut, dan tidak memperdulikan siapa lawannya.
Eduardo belum memberikan kabar, Suci memahami keadaannya mungkin ia ingin menenangkan diri setelah mengetahui apa yang terjadi kepada kekasihnya itu. Sementara itu Suci memberikan informasi mengenai keadaan Sabrina pada papanya. Akan tetapi pria tua itu seakan tak memperdulikannya, hanya mengirimkan pesan singkat untuk selalu memberikan kabar setiap ada perkembangan.
"Kirimkan perkembangan sebaik atau seburuk apapun tentang dia!" Pinta Mr. Khai.
"Bagaimana jika mengirimkan dia ke rumah sakit di Singapura?" Tanya Suci.
"Itu terserah kamu dan atur bagaimana baiknya. Saya tidak bisa menjenguknya karena saya sedang sibuk." Pria tua itu langsung menutup telepon dari Suci.
Melihat kondisi Sabrina yang saat ini semakin memburuk, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit negeri Singa tersebut.
Ia segera bergegas menurus visa dan menerbangkan Sabrina pergi kesana. Mengingat hari pernikahan Sabrina kurang dari 15 hari, dan tidak mungkin membatalkannya karena persiapan sudah mencapai 75 persen.
"Pernikahanku tidak boleh gagal Suci, aku enggak mau jika kehilangan Eduardo. Selamatkan Janin didalam perutku!" Racau Sabrina.
"Iya, aku akan menyelamatkan kamu dan janin kamu," balas Suci.
"Bagaimana dengan Eduardo kenapa ia belum kembali dari rumah pria bajiingan itu?" Tanya Sabrina.
"Aku takut dia dihabisi pria sadis itu Suci," lanjutnya.
"Tenang saja! Kita fokus kesembuhan kamu masalah Sanjay kita urus belakangan, oke?!" Balas Suci.
Suci mencoba meyakinkan Sabrina akan memfokuskan untuk kesembuhan dirinya dan janin yang ia kandung.
__ADS_1
Mereka segera pergi menuju bandara dan akan melakukan pengobatan di Singapura. Mereka pergi dengan jalur khusus yang sudah dipersiapkan oleh Mr. Khai. Pria tua itu walau terlihat tidak peduli tapi ia selalu memantau anaknya. Mr. Khai tidak berani melawan Sanjay karena ia tahu pria sialan itu sangat berkuasa. Berkuasa atas dirinya dan anaknya lebih tepatnya.