
Meminta restu kepada Mr. Khai adalah jalan yang harus dia ambil. Eduardo tengah memintanya untuk sedikit melunak.
"Mr. Khai apa Anda tidak bisa sedikit melunak? Ini demi masa depan putri Anda, demi kebahagiaan Sabrina." Pria itu menatap lekat pria tua dihadapannya yang masih diam membisu.
"Kamu sudah saya bebaskan, sudah saya biarkan menemui Sabrina sekarang kamu minta saya melunak?" Tatapan tajam pria itu membuat anak muda itu sedikit lesu.
"Apa anda merstui saya menikahi putri Anda?" Mencoba memberanikan diri meminta restu.
"Ya, saya restui kamu menikah dengan dia!" Ucap Mr. Khai dengan tegas.
"Apa anda tidak ingin menjadi wali nikah untuk Sabrina putri Anda satu-satunya?"
"Kamu bertanya sama saya? Kalau untuk restu saya restui dan saya akan mengirimkan surat lewat seorang kurir. Tapi untuk menjadi wali nikah saya akan menjawab tidak! Saya tidak akan datang mewakilinya sebagai wali pada umumnya." Pria itu menghisap cerutu mahalnya dan menghembuskan kasar ke sembarang arah.
"Bukannya jika wali kita masih hidup dan tidak mewakili itu tidak sah?" Tanya Eduardo.
"Tahu apa kamu? Yang penting ada tanda tangan saya sebagai papanya dan surat pernyataan wali hakim untuk menikahkan kalian. Apa masih belum cukup?"
"Anda terlalu egois sebagai seorang pria dewasa. Ego anda terlalu tinggi sehingga air mata putri anda sekalipun tidak bisa meluluhkan Anda," Eduardo mengeluarkan semua yang ada di hati dan pikirannya.
"Apakah saya seegois itu? Bukankah saya sudah merestui? Saya percaya kamu sehagai pendamping putri saya dan saya sangat yakin kamu bisa membahagiakan dan menjaga dia," Mr. Khai benar-benar memegang prinsipnya.
Dan benar saja ia menulis surat pernyataan sebagai Khairul, merestui pernikahan Sabrina dengan Eduardo dengan wali hakim.
'Saya yang bertanda tangan dibawah ini, atas nama Khairul, usia 59 tahun. Telah merestui pernikahan anak saya Sabrina Khairunnisa binti Khairul dengan pendampingnya bernama Eduardo, dengan wali hakim sebagai wali nikah putri saya. Hormat saya selaku orang tua wali perempuan Sabrina Khairunnisa, Khairul.'
Menyerahkan surat tersebut kepada Eduardo. Dengan berat hati ia menerima surat itu dan menyerahkan kepada Sabrina.
"Aku pengen banget ngomong sama papa, pengen ngasih tahu kalau aku mau nikah," ungkap Sabrina dengan tetesan air mata mengalir deras.
"Maafkan saya Sabrina tidak bisa mewujudkannya mewujudkan mimpi terbesar kamu," batin Eduardo.
Padahal Eduardo sempat mengajak papanya, kalau tidak bisa hadir sebagai Khairul paling tidak sebagai Mr. Khai orang yang dikagumi oleh Sabrina. Tetap saja egonya terlalu tinggi.
"Papa tega banget sama aku, kenapa papa buang aku?" ucap Sabrina.
"Oh, ya bagaimana dengan Mr. Khai apa beliau bisa datang?" Tanya Sabrina.
__ADS_1
"Aku enggak bisa janji sayang, beliau terlalu sibuk." Eduardo berbohong kepada Sabrina tentang kesibukan Mr. Khai.
"Bagaimana kalau aku meneleponnya dan memintanya datang?" Pinta Sabrina.
Eduardo memberikan ponsel miliknya, dan membiarkan Sabrina menelpon pria itu tapi sayang tidak diangkat. Sabrina berinisiatif menggunakan voice note dan ia kirim pada idolanya tersebut.
"Halo Mr. Khai, apa kabar? Masih ingat dengan saya Sabrina? Yang waktu itu membawa kabur Mr. Khai. Oh ya, besok saya nikah loh sama anak buah Mr. Khai, masa iya Mr. Khai enggak datang memberikan doa restu?"
"Hmmm, boleh enggak saya minta Mr. Khai datang sebagai pendamping saya? Menggantikan papa saya, walau sebenarnya papa saya tidak akan tergantikan dihati dan hidup saya!" Dengan isak tangin Sabrina menahan kata perkata.
"Pa, Saby kangen papa!" Sabrina tertunduk dan menangis tersedu-sedu.
"Papa di mana pa?"
"Sabi kangen papa!"
Mr. Khai yang mematikan mode baca mendengar tangisan Sabrina seakan dadanya sesak. Tapi prinsipnya kuat tetap tidak ingin bertemu dengan Sabrina.
"Maaf pa, jika memang Sabi yang bersalah. Sabi tidak sanggup jika harus hidup tanpa papa, Sabi rindu papa. Kenapa ego papa terlalu tinggi untuk tidak ingin bertemu dengan Sabi? Sabi mau menikah pa, impian setiap anak perempuan adalah papanya mendampingi anak perempuannya sampai ke pelaminan. Apa kesalahan yang Sabi lakukan terlalu melukai papa?"
Sabrina menangis tersedu-sedu dan ia tak sadar bahwa tangisannya itu dikirim kepada Mr. Khai oleh Eduardo.
Sabrina tahu pasti papanya masih terus memperhatikannya. Entah dari jarak berapa meter tapi ia tahu pasti dan ia merasakannya.
"Aku enggak butuh surat itu!" Sabrina merobeknya dengan kasar.
"Yang aku butuh Papa!".
"Kalaupun papa tidak mau datang untuk menemui aku, oke fine! aku akan menganggap papa sudah mati sudah musnah dihidup aku!" Batinnya.
"Kita menikah besok bagaimana? Surat itu penting Sabrina!"
"Kita bilang aja ke kantor KUA kalau aku enggak punya papa!" Tegasnya.
Sabrina lalu pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya untuk menenangkan dirinya.
"Kayaknya kamu pulang saja deh, dia lagi tidak baik-baik saja," ungkap Suci.
__ADS_1
"Ya, sudah kalau begitu besok aku akan mengurus semuanya." Eduardo pun pergi meninggalkan rumah Sabrina.
Suci mendatangi Sabrina dan mencoba menenangkannya.
"Sabrina, kamu tenang ya. Mungkin saat ini papa kamu tidak ingin menemui kamu pasti ada alasannya," ujar Suci.
"Alasan apa? Sudah jelas kalau papa tidak menginginkan aku!"
"Tidak ada seorang orang tua mengabaikan anaknya, pasti suatu saat papa kamu akan menemui kamu dengan suasana baru, positif thinking saja siapa tahu orangnya sedang sibuk." Suci mencoba memberikan penjelasan pada Sabrina.
"Sibuk sampai bertahun-tahun lamanya? Itu enggak sibuk Suci memang sengaja membuang aku," ujarnya.
"Tapi, semua kebutuhan kamu masih papa kamu yang tanggung kan?"
"Tapi aku enggak butuh itu!"
"Coba papa ada diposisi aku, andai tahu rasanya jadi aku apa mungkin dia sekuat aku? Papa adalah patah hatiku terdalam dimana papa tidak pernah menghiraukan aku lagi," ungkap Sabrina.
"Sudahlah biar waktu yang menjawab semua, yang penting kamu saat in fokus sama janin kamu dan pernikahan kamu." Tutur Suci.
Bagi Suci memang tidak mudah jika melakukannya sendiri, mengurus pernikahan dan kehamilan bersamaan.
Tapi inilah konsekuensi yang harus Sabarina tangung atas kesalahannya.
Tidak punya teman yang benar-benar tulus, irang yang mendekati dia hanya memanfaatkannya saja, bahkan dekat tapi untuk menghancurkannya.
Di tempat lain Sanjay telah mendapatkan kabar tentang pernikahan Sabrina, ia seakan tidak terima jika wanitanyabitu akan memiliki kehidupan baru bersama orang terdekatnya. Dan ia pun menemui Eduardo secara terang-terangan dan bertanya tentang pernikahan itu.
"Edward alias Eduardo! Selamat atasmu, atas pernikahan yang akan terlaksana. Btw kamu enggak risih apa ya sama perempuan bekas? Bekas Hole!" Tegasnya.
"Kenapa tidak? Saya menerima Sabrina apa adanya," ungkap Eduardo.
"Kamu kan tahu dia wanita gila, kenapa kamu nekat menyuntingnya?" cibir Sanjay.
"Why? Setiap manusia berhak mendapatkan kebahagiaannya,"
"Perempuan kayak dia ...."
__ADS_1
Belum sempt Sanjay melanjutkan kalimatnya Eduardo langsung menyahut dengan kata-kata menyakitkan.
"Perempuan kayak dia? Emang kenapa? Bukannya anda sendiri yang menjerumuskan dia? Mau bilang perempuan sampah? Atau perempuan menjijikan? Saya rasa anda salah kalau bilang seperti itu! Anda sendiri pernah mencicipinya bahkan sampai detik ini masih menginginkannya."