Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Menyelidiki


__ADS_3

Sabrina mengukur waktu dari hilangnya Renato, mulai dari terakhir mereka bertemu sampai kematiannya.


"Waktu itu aku terakhir bertemu pukul 20:54 dihari senin dia meng hilang dihari selasa katanya minta ijin hari kamis mayatnya ditemukan. Total 3 hari belum genap, mayat paling tidak membutuhkan waktu pembusukan sekitar kurang lebih 4 -5 hari dari terciumnya. Ahli forensik mengatakan mayat tersebut sampai segitu parahnya kegencet 4 hari dari segi bau. Tidak mungkin dia melakukan itu di basmen katanya tidak ada tanda-tanda kekerasan. Bisa saja si pembunuh sengaja meletakkannya di sana lalu ia buat mainan lif itu sampai dia mati kegencet? Ini dari sudut pandang aku ... Btw setelah dipikir itu terlalu ribet kenapa tidak mencari tahu dari terakhir orang itu berada?" Pikirnya.


Sebenarnya Sabrina mempunya email plus password dari handphone milik Renato.


Sabrina melacaknya dari tanggal mereka ketemu, handphone milik Renato masih dikantor.


"Halo bisa bicara dengan Marcello?"


"Ya, saya sendiri ... Dari mana ya?"


"Sabrina! Saya ingin bertemu secepatnya!" tegasnya, mengirim Share lock lewat pesan singkat aplikasi seluler.


Marcello pun datang ketempat tersebut, Sabrina menceritakan teorinya dengan hasil forensik.


"Saya rasa dia dihabisi di kantor," ujarnya.


"Maksud kamu?"


"Saya terakhir bertemu dihari senin pukul 20:54 setelah beres meeting, saya tinggalkan beliau di ruangannya sendiri. Kantor terlihat sepi yang saya tahu, keesokan harinya ada kabar kalau beliau ini pergi ke luar kota! Lalu menyerahkan tugas kepada Pak Joseph. Setelah itu 3 hari kemudian ditemukan beliau sudah tidak bernyawa. Waktu saya tinggal beliau masih sehat-sehat saja tanpa satu kekurangan apapun. Saking dekatnya kita saya tahu emailnya dan password dihpnya. Ini yang penting, terakhir handphone itu masih menunjukkan lokasi di kantor berarti masih di kantor tapi di mana saya belum tahu," ungkapnya.


"Kami sudah mencari tahu dan mengubek-ubek kantor itu tapi kami tidak menemukan apapun."


"Anda tahu kenapa saya memakai nomer lain dan bukan nomer yang biasa saya pakai di kantor?"


"Memang kenapa?"


"Saya khawatir handphone saya disadap. Mangkanya saya selalu meninggalkannya di kantor, beda dengan yang pribadi saya selalu meletakkan dirumah. Dan email yang saya pakai pun berbeda. Handphone kantor yang biasanya saya letakkan di kantor saya titipkan ke teman saya. Sebelum kita ketemuan pun saya sudah mengganti mobil lalu mengajak seorang sopir bersama saya buat jaga-jaga. Kembali kepermasalahan Renato, setelah saya cek handphone masih di kantor."


"Berarti pelaku orang dalam?"


"Ya intinya seperti itu, tapi orang ini cerdik sekali lebih sadis dari saya, sepertinya begitu. Ada satu ruangan yang khusus buat dia bermain dengan wanita-wanita. Di dalam ruangannya, tapi tu di kunci saya tidak tahu kombinasi kuncinya karena saya tidak pernah membukanya," ungkap Sabrina.


"Kayaknya kita harus segera kesana!" Ajak Marcello.


"Siapkan saya orang IT  bernama Boy dan Gerry!" titah Marcello.


****

__ADS_1


Setelah tiba di tempat tersebut Marcello bertanya pada mereka.


"Apa ada yang mencurigakan?"


"Tidak dari bawah aman, dari atas pun aman akan tetapi sering konslet lampunya setiap 10 jam mati 2 jam," ungkap salah seorang Anggota.


"Saya rasa orang yang menghabisi Renato masih di sini," ungkap Marcello.


"Mana mungkin tidak ada seorang pun yang keluar atau masuk,"


"Justru karena dia terjebak jadi tidak bisa keluar," terang Marcello.


Boy dan Gerry pun akhirnya datang bersamaan, hanya denag bahasa isyarat yang di berikan Marcello mereka sudah faham.


"Saya butuh beberapa anak buah masuk kedalam dan kalian berdua membuka ruang rahasia di kantor Tuan Renato." Tangganya bergerak seperti menari-nari sedangkan kakinya hanya sedikit yang ia gerakkan dengan gaya terbatas.


Boy segera memberikan kode Morse kepada anggota digrup. Mereka yang membaca paham,  tangan Marcello masih menari-nari diatas  meja sambil menatap kanan dan kiri. Mereka berada diruangan satpam, para satpam sengaja mereka liburkan dan yang menjaga adalah polisi.


Mengamati satu persatu CCTV yang sebagian ada yang mati.


"Ini yang mati di kantor pak Renato, basmen, lantai atas gedung.  Coba tolong pinjamkan sslaya drone saya mau drone yang infrared yang bisa melihat suhu manusia," ucap Marcello.


"Kalian lihat ruangan ini? Ini adalah ruang kerja Renato dan Sabrina. Lihat dibalik dinding kayu itu? Ada ruangan tersembunyi dengan smart key. Narasumber  tidak bisa masuk karena tidak tahu kunci kombinasi dari smart key," Marcello menjelaskan tentang ruangan tersebut. Boy dan Gerry mereka paham akan hal ini mereka segera menuju tempat tersebut, duet maut seorang teknisi dan anak IT.


Mereka awalnya menempel bubuk ajaib yang bisa meliha sesuatu dari ruang gelap. Hanya butuh waktu 5 menit mereka bise membukanya. Mereka menyelidiki tempat tersebut mencari handphone milik Renato tetapi nihil. Awalnya mereka mengira ditipu psikopat cantik, ternyata tidak setelah menemukan robekan baju seragam berwarna biru.


"Seragam warna biru punya siapa?" Boy mengirim benda tersebut ke Marcello.


Dan mendapatkan balasan kalau punya seorang cleaning service. Mencari DNA yang cocok, tetapi tidak satu pun sama.


"Saya baru ingat di belakang ada mes atau tempat tidur karyawan," ungkap Sabrina.


Dan benar saja Drone itu menunjukkan aktivitas manusia dari atas gedung.


"Siapa perempuan itu?" tanya Marcello.


"Itu seperti Suci, cleaning service baru di perusahaan ini. Dia bareng sama saya pas interview," ungkap Sabrina.


Mereka langsung mengerebek tempat tersebut dan langsung menangp Suci. Ketika ada beberapa polisi datang ia sangat terkejut, terkejut karena tahu dari mana mereka ada orang di sini. Padahal tempat ini jarang terjamah, didapati di ruangan tersebut handphone milik Renato, pakaian serta barang-barang milik Renato.

__ADS_1


Polisi segera menggelandang wanita itu dan di mintai beberapa keterangan mengapa ia melakukan itu.


"Kamu ya, perempuan sialan! Aku dituduh membunuh pak Renato." Maki Sabrina.


"Maafkan saya, saya hanya membela diri." Menutupi wajahnya dari cakaran Sabrina yang hendak melayang kewajahnya. Namun, dengan sigap Marcello menepisnya.


"Tenang Sabrina!"


"Waktu itu saya tidak sengaja melihat Sabrina dan pak Renato melakukan hubungan terlarang mereka sangat asyik melakukannya dan menikmati satu sama lain. Saya sering melihat dan sialnya waktu itu pak Renato memergoki saya sedang mengintip," ungkap Suci.


"Pukul 21:00 saya masih mengemasi alat-alat yang ada di gudang belakang, pak Renato memeluk saya dari belakang,"


"Kamu nakal ya intip-intip saya main sama Sabrina, berpakali kamu ngintip saya? Apa kamu mau merasakan hal yang sama seperti Sabrina? Dia sangat menikmati permainanku kalau kamu mau kita main sekarang!"


Renato mengendong Suci dipundaknya dia mengangkat Suci seperti mengangkat karung beras. Baju pria  itu dibuka sebagian, Suci lengan bajunya ditarik hingga sobek. Mereka bergulat disana,  Suci mencoba melawan dengan mendang bagian bawah pria itu.


"Awh! Dasar wanita sialan! Dikasih enak enggak mau." Ia memegangi miliknya lalu mengejar Suci hingga ke lantai atas gedung itu.


Lantai atas biasanya hanya dipakai buat pesta, pria itu terus mengejar cleaning service cantik itu. Melucuti semua pakaiannya berlari tanpa sehelai benangpun. Ketika hendak menerkam Suci pria tua itu terjatuh ke lubang lif dan tewas seketika. Lantai paling atas adalah pusat titik dari lif jadi dibiarklah lubang itu terbuka sebagai fentilasi udara oleh pemilik proyek, jika terjadi sesuatu biar mudah untu evaluasi penyelamatan. Suci yang tau Renato meninggal karena tejun bebas pun segera berlari dan mengambil pakaian pria tua itu dan menyimpannya. Guna membuat sebuah alibi ia mengirimkan pesan pada Pak Joseph bahwa ia ijin pergi ke luar kota.


Suci menceritakan kronologinya dengan detail sedetailnya. Lalu ada pertanyaan yang mengganjal dari beberapa petus.


"Kamu yang matiin lampunya ya?"


"Tidak! Lampu itu memang otomatis mati dijam sepuluh, kalau masalah sering mti 10 jam sekali dengan tegang waktu sampai 2 jam itu memang sering karena otomatis dari mesin Jendset, apa jedset saya lupa," ungkap Suci.


"Terus kenap mayatnya dari atas bisa turun kebawah?" tanya Marcello.


"Ya karena gerakan dari lifnya itu sendiri, balas Gerry.


"Bisa ya?"


"Ya iyalah, bisa di lif itu ada beberapa cela jadi kenapa dia sampai kegencet seperti itu karena gerakan ya g membuat masuk kecela yang kosong," ungkap Gerry.


"Bagaimana dengan dakwaan Suci?"


"Suci tidak bersalah, pak Renato terjun sendiri bukan karena terbunuh tapi karena spontan," ungkap Marcello.


Akhirnya penyelidikan itu di tutup dan kantor tersebut dibuka kembali.

__ADS_1


__ADS_2