
"Kenapa kamu harus menghabisi Leora?" Dengan mata penuh amarah Sabrina mempertanyakan alasan mengapa sampai segitunya.
"Kamu sudah tahu jawabannya kenapa bertanya lagi?" Dengan menyeringai penuh kemenangan pria itu meninggalkan wanita yang baru ia nikahi beberapa hari lalu.
Mereka memang sudah menikah tapi entah apa alasannya mengapa Sanjay memilih pisah kamar dengan Sabrina. Sanjay adalah orang yang gampang berubah mood seperti seorang Psikopat, kadang lembut dan perhatian kadang dia seperti orang gila. Dia terlalu posesif terhadap Sabrina saat ini.
Contohnya ketika melihat wanita hamil itu dia seakan-akan menginginkan sesuatu tapi setelah Sabrina mengingatkan bahwa itu bukan darah dagingnya, Sanjay seakan berubah menjadi manusia yang sangat kejam dengan meremas perut Sabrina sehingga ia mengerang kesakitan.
"Kamu sangat menggemaskan, rasanya aku tidak ingin jauh dari kamu." Pria itu memeluk Sabrina dari belakang. Namun, Sabrina tidak menanggapinya.
Perut yang membesar itu tiba-tiba membuat sebuah gerakkan kecil.
"Ah, my God ... Dia bergerak, hai baby." Sambil menunjukkan senyum bahagia dia seakan tak percaya merasakan tendangan bayi untuk pertama kalinya.
"Ssshhh ... Sana pergi!" usir Sabrina.
"Why? Aku mempunyai kamu dan anak itu sepenuhnya," ujar Sanjay.
"No! Kamu merampas kebahagiaan kami! Ini bukan anak kamu tapi Eduardo catat itu." Dengan menekan kata 'merampas' Sabrina menegaskan bahwa kebahagiaannya telah direnggut paksa oleh Sanjay.
Pria itu marah besar dan mencengkram rahang wanita hamil itu sehingga ia mengerang kesakitan lalu meremas perut yang berisi janin milik Sabrina dan Eduardo.
"No, please! Kamu boleh ambil semua dariku tapi jangan anakku." Sabrina menahan sakitnya akibat ulah pria sinting itu.
"Rias wajahmu sekarang, dan bersihkan tubuhmu! Kamu akan mendampingiku ke pertemuan besar nanti malam. Walikota sedang mengadakan pesta dan jangan sekali-kali kamu membuat aku malu!" Pria kejam itu menyuruh Sabrina untuk merias diri karena ia mendapatkan undangan dari WhatsApp dari seorang Walikota.
****
Malam pukul 19.00 pasangan pengantin baru itu tiba di sebuah ballroom hotel bintang 5 dan disambut oleh Tuan Rumah.
"Selamat datang Tuan Sanjay," ucap Walikota Bern.
"Wah, terima kasih atas undangan yang Anda berikan Pak Walikota Bern," ungkap Sanjay.
"Iya, sama-sama. Maaf saya tidak bisa hadir pada pesta pernikahan anda Tuan Sanjay," ujar Walikota.
"Ya, tidak apa-apa saya juga tidak mengundang rekan-rekan dan kolega saya yang lain. Istri saya ingin pernikahan yang sakral dan sederhana," ungkap Pria itu.
"Rupanya Anda terlalu ngegas ya sampai tidak terdengar berita Anda dekat dengan siapa tiba-tiba menikah dan dapat bonus." Walikota genit itu membisikkan kata-kata yang tak patut diucapkan.
"Iya, syukurlah dapat bonus tambahan." Kekehnya.
Mereka tertawa terbahak-bahak dan berbisik-bisik. Rupanya Walikota itu adalah pelanggan setia Sanjay pada agensi malamnya. Pria itu setiap hari selalu mencicipi berbagai model wanita yang di sediakan oleh Sanjay, walau dia sudah beristri dan mempunyai dua orang anak tetap saja masih pengen jajan di luar.
"Bisnis kita lancar kan Tuan Sanjay?" Tanya Walikota.
"Ya, pastinya lancar Pak Walikota," balas Sanjay.
"Saya akan memperpanjang keamanan Anda, Asal satu pajak dan jangan lupa bonus saya setiap malam," ungkap Walikota berusia 45 tahun tersebut.
"Pasti, saya tidak akan lupa." Bisik Sanjay.
Walikota Bern mengadakan pesta ulang tahun pernikahannya yang ke 20 tahun. Dia selalu terlihat romantis di depan semua orang seakan tidak ada cela keburukan pada dirinya. Tanpa istri dan orang lain tahu ternyata dia juga seorang pria yang nakal dan suka jajan sembarangan. Tak terhitung beberapa wanita yang telah tidur dengannya, setiap kali dia bersama dengan wanita yang menurutnya 'memuaskan' pasti akan ia ajak pergi ke villa milik Sanjay.
__ADS_1
Mereka bekerja sama cukup lama sampai dua periode. Sanjay selalu mendukung pencalonannya sebagai walikota, dan dia selalu mensupport dana yang cukup besar.
"Diulang tahun pernikahan saya yang ke 20 tahun ini sekaligus saya akan mengumumkan tentang pencalonan saya sebagai calon gubernur tahun depan," ungkap pria itu.
Semua memberi tepuk tangan meriah menyambut kabar gembira tersebut. Sabrina yang hamil kakinya mulai sedikit bengkak karena lama berdiri, dia merasakan pegal di betis dan pinggang.
"Aduh, aku mau cari tempat duduk dulu kayaknya, tapi di mana ya?" ucapnya Sabrina.
Wanita itu mencari kursi untuk duduk dan menselonjorkan kakinya.
"Aduh, kayaknya bengkak deh," ungkapnya.
Sementara Sanjay mencari keberadaannya dan betapa geramnya ia mengetahui wanita hamil itu duduk di kursi panjang.
"Kamu ngapain di sini? Kamu enggak lihat di dalam ada pesta? Ayolah Sabrina jangan buat aku malu." Dengan nada sedikit kesal pria itu memarahi wanita hamil yang terlihat lemas.
"Aku capek! Boleh lh sedikit beristirahat," pintanya.
"Nantikan bisa, " ujar Sanjay.
Sabrina tertunduk lesu menghadapi pria dihadapannya ini seakan tak punya hati dan tidak mengerti keadaannya saat ini.
Sanjay langsung mencengkram lengan Sabrina dan menyeretnya dengan langkah cepat hingga membuat wanita itu hampir tersungkur.
"Ingat jangan buat malu aku!" Hardiknya.
Mereka berpesta dari main games sampai dengan puncak acara memotong kue yang menjadi penghias indah diruangan tersebut.
Sabrina merasa matanya sedikit buram dan kepalanya sedikit berputar.
"Sanjay pulang yuk, aku pusing!" Pintanya.
"Ah, apa-apa sih kamu! Pesta hampir selesai kalau kita pulang apa kata Tuan rumahnya?" Sentak Sanjay.
Dan tidak butuh waktu lama.
Blappp ....
Bruuukkk!!
Wanita hamil itu pingsan karena tidak kuasa menahan tubuhnya yang lemah.
"Eh, ada yang pingsan!" Seru seseorang.
"Aduh dia hamil kasihan!" Timpal yang lain.
Sanjay yang ngeh tiba-tiba langsung duduk dan menepuk pipi Sabrina.
"Sabrina ... Sabrina bangun!" Pintanya.
"Aduh Pak, itu pucat banget. Mending dibawah ke rumah sakit aja! Kasihan sama ibu dan bayinya," ucap seseorang.
"Oh, ya." Sanjay langsung membopong tubuh istrinya itu dan segera membawanya ke rumah sakit tapi walikota mencegahnya.
__ADS_1
"Tunggu! Tuan Sanjay lebih baik dibawah pakai ambulance saja karena lebih cepatnya," ucap Walikota.
Walikota segera menghubungi ambulance dan tak lama mobil itu pun datang. Ambulance itu membelah gelapnya malam dan segera mengantarkan Sabrina ke ruang gawat darurat. Walikota yang mencari simpati warga dan Sanjay pun memasang wajah cemas.
"Maaf pak Walikota jika saya mengacaukan pesta Bapak," ungkap Sanjay.
"Ah, tidak apa-apa. Toh acara puncaknya sudah lewat, yang penting nyawa istri Tuan Sanjay dan bayinya selamat," balas Walikota.
Kejadian itu pun masuk berita dan menjadi viral di media sosial.
"Bapak pahlawan sekali ya mau menolong warganya," ucap seseorang.
"Ya jelas lah mereka lebih membutuhkan bantuan. Ya saya bantu ... Saya bukan tipe orang yang egois walau saya ada hajat tetap saya harus mementingkan orang lain. Jangan egois saya berada di sini karen warga jadi ya harus perhatian. Ya semoga perbuatan saya menjadi contoh buat orang lain khususnya pejabat atau orang yang ada diatas!" Dengan sedikit sombong dia mengucapkannya.
"Wah, kita enggak salah pilih ya!" Ujar seseorang.
Melihat beritanya yang wara-wiri di media sosial, cetak dan elektronik. Dia begitu bangga, tapi dia lupa menutupi kebusukannya. Kasus korupsinya dan urusan lainnya.
"Kumpulan orang-orang toxic sedang nyari panggung," cibir Mr. Khai.
"Anak anda sedang sakit, apa tidak ada rencana menjenguknya?" Tanya Alex.
"Entahlah," balasnya singkat.
Sementara di rumah sakit Sanjay bertanya kepada dokter tentang keadaan Sabrina.
"Apa yang terjadi pada istri saya?"
"Istri anda mengalami anemia dan sedikit kelelahan. Dan ada pembengkakan pada kakinya," tutur sang Dokter.
"Apa tidak bahaya?"
"Tidak! Hanya saja perlu hati-hati ibu hamil biasanya perlu perhatian ekstra. Dilarang capek dan stres," ungkap sang Dokter.
Setelah dokter pergi dari ruangan itu Sanjay memarahi Sabrina dan memeringatkan agar ia tak manja.
"Kamu jaga diri jaga kesehatan dong, jangan manja! Kayak gini kan menyusahkan aku," umpatnya.
"Siapa? Aku nyusahin kamu? Kan aku enggak minta kamu nikahin aku?" ucap Sabrina dengan ketus.
"Oh, jadi kamu mau melihatnya menjadi bangkai? Atau jadi abu? Oke!" Pria itu segera pergi meninggalkan istrinya yang sedang lemas tapi ia berhasil dicegah.
"Sanjay! Kalau kamu menghabisi Eduardo aku akan mati! Aku akan bunuh diri dihadapan kamu saat itu juga." Teriak Sabrina.
"Kamu ngancam?"
"Enggak!"
"Oke, akan aku biarkan dia hidup asal kamu tetap bersamaku," ujar pria itu.
"Bersama kamu selamanya sama saja aku mati pelan-pelan. Pria toxic seperti kamu baiknya menghilang dari muka bumi ini," ujar Sabrina.
"Pria toxic ini akan selalu bersamamu selamanya," ujar Sanjay.
__ADS_1
Walaupun sikapnya yang seperti orang gila tapi dia tetap menjadi pria yang bertanggung jawab walau bayi itu bukan dari benihnya.