
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENNYA.
"Bagaimana jika kau memakan daging kekasihmu sendiri?"
Uhukkkk... Pernyataanku sukses membuat Sharon tersedak, ia bahkan langsung memuntahkan sup yang sedang ia kunyah dan pergi berlari menuju wastafel.
Uwekkk... Uwekkk.... Huwekkkh...
Disaat Sharon sibuk memuntahkan sup buatanku, tiba-tiba saja ponselnya bergetar. sorot mataku melirik kearahnya, perlahan aku meraih ponsel tersebut mencoba membuka dan mencari tahu apa isi didalamnya.
Mataku membulat dengan rahang yang mengeras, ternyata tidak hanya ia yang berkhianat. tapi seluruh teman-temanku tahu akan perselingkuhannya dengan Exel. mereka semua bahkan membuat grup percakapan lain dibelakangku, tidak. kecuali Sarah.
Dengan cepat aku membaca beberapa isi pesan grup tersebut, Sharon memotretku secara diam-diam, menunjukkan bagian belakang telapak tangan dengan jari tengah yang teracung ke atas. apa ini? semua berisikan topik tentang diriku! mereka semua menertawakanku menganggap aku bodoh karna ternyata mereka hanya memanfaatkan diriku untuk berbelanja dan makan gratis saja. Miskin! Kampungan! mereka semua hanya bergaya mengandalakan uangku! Bajing*an.
Oke! aku tidak akan tinggal diam, aku membalas apa yang mereka lakukan. aku mengambil sebuah pisau mengiris pergelangan tanganku agar sedikit mengelurkan darah kemudian memotret pisau tersebut dengan berlatar belakang Sharon yang membelakangiku, dengan cepat aku mengirimnya ke grup sampah tersebut. agar tidak meninggalkan jejak aku segera menghapus gambar yang ku kirim secara sepihak, dan kemudian mematikan Ponsel si ****** lalu meletakannya kembali dengan posisi yang smaa seperti saat aku meraihnya.
"Riyana. kau bodoh! aku benar-benar membayangkan ucapanmu, itu sangat menjijikan." ujar Sharon yang seolah menganggap jika ucapanku hanyalah omong kosong.
__ADS_1
"Ahahaaa..." Lagi-lagi aku terkekeh, "Ya... kau benar, aku memang sangatlah bodoh."
Sharon kembali terlihat kikuk, ia melangkah mendekatiku. "Ke... kenapa aku tidak melihat Exel?" tanyanya padaku.
"Sudah aku bilang, dia sedang tidak berdaya diatas ranjang. jika kau tidak percaya kau bisa melihatnya, bawakan dia segelas air. aku akan membersihkan mangkuk ini terlebih dahulu."
Sharon tidak menjawabnya, aku merasa sepertinya ia mulai mencurigai sikapku.
"Ini." Aku memberikan segelas air kepada Sharon dan menyuruhnya untuk membawakan air tersebut kepada Exel yang berada di kamarku.
"Kenapa kau menyuruhku?" tanya Sharon denagn raut wajah sok polosnya.
Sharon semakin kebingungan, ia terus menatapku sedangakn aku tidak memperdulikannya.
"Tunggu apa lagi? pergilah. aku akan menyusul dan membawakan sesuatu untuk kita bersenang-senang."
Sharon menghela nafasnya perlahan, ia mengangguk dan berlalu begitu saja dari hadapanku dengan membawa segelas air untuk Exel.
__ADS_1
Aku terus menatapnya dengan senyum menyeringai, diam-diam aku mengikutinya sampai ia benar-benar masuk kedalam kamarku. kemudian aku menguncinya dari luar.
"Ahhhhhhhkkkkkk..." Jerit Sharon histeris dan langsung memukul daun pintu mencoba menarik dan membuka pintu tersebut. tetapi aku sudah lebih dulu menguncinya.
Gedoran dobrakan teriakan Sharon itu terus terdengar, "Riyana... buka pintunya, apa yang kau lakukan. lepaskan aku!" pekik Sharon.
***
Setelah 5 jam aku memberikan waktu Sharon bersama Exel berduaan didalam kamar, aku datang membuka kuncian pintu secara perlahan.
Brukkk... Sharon sudah tergeletak dilantai tidak sadarkan diri, tentu saja itu sangat menguntungkan. aku tidak perlu bersusah payah melumpuhkannya karna jalan*g malang ini sudah terkapar tidak berdaya.
Sepertinya ia cukup terkejut melihat kondisi kekasihnya yang sudah terikat diatas ranjang dengan lumuran darah yang hampir membuat warna sprei putihku menjadi merah pekat.
Aku menyeret Sharon, mendudukan dirinya diatas kursi besi didalam kamarku lengkap dengan tangan dan kaki yang terikat.
Jika kalian mengira aku sudah membunuh Exel kalian salah. aku hanya memukul kakinya dengan pajangan kamarku yang terbuat dari batu, dapat aku pastikan jika kakinya benar-benar lumpuh karna aku memukulnya berulang kali sampai tulangnya sedikit terlihat. aku bahkan mengiris jari-jarinya, dan menjadikan jari tersebut sebagai bahan utama sup yang aku hidangkan untuk Sharon. aku menyumpal mulutnya karna aku sendiri tidak tahan mendengar rintihannya sepanjang malam yang sulit membuat aku tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Aku meneguk segelas win, kemudian menyalakan pemantik rokok menunggu Sharon tersadar dari pingsannya. sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku menyiksa salah satu diantara mereka, mempertontonkan bagaimana caraku membalas penghianatan yang sampah-sampah ini lakukan terhadapku.