
Hubungan mereka masih berlanjut walau jarang bertemu hanya lewat aplikasi hijau. Kesibukan seorang Sabrina yang menjadi alasan terlebih beberapa waktu lalu ia mendapatkan tawaran dari seorang produser iklan.
"Kamu 'kan yang Runner up ke 3 itu ya? Lama ya kamu tidak muncul, ohya saya punya tawaran mau tidak jadi Brand Ambassador produk saya? Cecar seorang Produser.
"Iya, benar!"
"Memangnya produk Anda apa?" tanya Sabrina dengn antusias.
"Sebenarnya bukan produk saya tapi saya hanya produser saja, ini milik artis namnya Valerie. Nama produknya Valeskin," ujarnya.
"Oh, yang naik daun itu ya? Kebetulan saya sedang pakai Valeskin ini beneran bagus banget," ungkap Sabrina dengan wajah berseri.
"Ya sudah, besok kamu silahkan datang ke kantor saya untuk tanda tangan kontrak, bagaimana?" Tanya Produser.
"Baik Pak! Saya akan ke sana besok," ucap Sabrina.
Sang Produser itu memberikan kartu namanya dan meminta Sabruna untuk segera melakukan janji temu terhadapnya.
*****
Keesokan harinya Sabrina datang ke kantor itu dan menanda tangani kontrak.
"Kenapa Pak Sonny bisa percaya sama orang seperti itu?" tanya seorang staf.
"Dia Runner up ke 3 ajang miss apa gitu, kebetulan dia seorang selebgram. Kamu enggak tahu ya kalau dia sempat menghilang 2 tahun. Sekarang muncul dengan gebrakan baru lewat video viralnya pakai bikini di kolam renang dengan video mirip iklan padahal itu hanya kata motivasi yang dia ucapkan di video itu," seorang makeup artist menjelaskan tentang siapa Sabrina dan kenapa ia sampai dipilih pak Sonny.
Benar saja video itu viral hanya mengucapkan beberapa kalimat menurut sebagian orang ada benarnya.
"Siapapun kamu apa yang kamu pakai mau terbuka atau tertutup tetap saja tergantung orang yang menilai dan memandangmu. Positif thinking or negatif thinking, tergantung bagaimana kamu melihatnya. Kalau pikiranmu busuk akan mempengaruhi hatimu, jadi jika kamu tidak mampu menjadi orang baik paling tidak bermanfaat untuk orang lain!"
****
Iklan yang dibintangi Sabrina meledak dipasaran dan menjadi viral. Perusahaan itu pun mengadakan pesta besar di sebuah club malam, Sabrina membawa Eduardo sebagai pendampingnya.
"Ya, kita sambut Brand Ambassador kita Sabrina!"
Semua mata tertuju padanya dari lensa camera sampailampu blitz tak hentinya mengabadikan moment dirinya.
Malam itu Eduardo dan Sabrina mabuk berat hingga mereka dibawa ke sebuah hotel oleh seorang pelayan. Hotel yang tak jauh dari club tersebut, mereka menikmati malam itu dengan melakukan hubungan panas.
"Ouch Baby," racau Eduardo.
"Hmmmm ... Auuuuh!" teriak Sabrina ketika deretan gigi itu mengigit bibirnya.
"Kamu sangat mengigit,"
"Aaaahhh kenapa dilepas?"
"Ayo lakukan sekali lagi," pinta Sabrina.
Mereka bermain sampai berkali-kali hingga tubuh mereka seakan remuk tak bertulang.
"Nikmat sekali," bisik Eduardo.
Eduardo menikmati setiap hentakan yang ia berikan kepada wanita yang ia kurung dibawah tubuhnya itu. Terasa lembut dan hangat kadang juga mengigit. Sedangkan wanita dibawah sana menikmati setiap hilujaman yang ia berikan.
"Kalau kamu mau aku bisa setiap hari," lagi-lagi Sabrina meracau.
Sabrina tidak pernah menikmati permainan yang lebih dahsyat dari permainan Eduardo. Walau dengan beberapa pria di hole, Kenichi, Sanjay dan Renato tetap tidak seperti Eduardo. Lembut tapi terkesan mematikan. Terlihat ukuran yang lumayan tetapi ketika berada di sana merasakan penuh dan sesak.
Sabrina sangat menikmati permainan gila mereka benar-benar melakukannya sampai berganti-ganti gaya total 38 gaya. Sprai dikamar itu sudah tak berbentuk rapi hanya berupa kain yang lusuh.
Pagi pukul 09:00 mereka tebangun dari tidur lelapnya.
"Di mana aku?" Tanya Eduardo.
Ketika matanya menyesuaikan cahaya yang sudah sangat terang.
"Sabrina!" Teriak Eduardo.
Seketika mendengar teriakkan Sabrina terkejut.
"Eduardo? Kamu ngapain?" Tanyanya Sabrina.
"Maafkan saya!" ucap Eduardo.
"Maaf untuk?"
"Maaf saya telah melakukan ini sama kamu,"
"Sudahlah, sudah terlanjur. Buat apa di sesali?"
"Saya takut kamu hamil, kamu sedang bagus-bagusnya karirnya saat ini," Eduardo merasa bersalah seandainya Sabrina hamil.
"Enggak akan!"
"Kok kamu yakin gitu?"
__ADS_1
"Saya sering melakukannya buktinya saya tidak hamilkan? Apalagi sama suami saya yang dulu!" Tegasnya.
Mereka pun akhirnya melupak kejadian hari itu, malam-malam itu dan ******* itu mereka lupakan.
Dua minggu mereka tidak bertemu setalah kejadian itu, bukan bermaksud untuk menghindar karena akhir-akhir ini Sanjay butuh bantuan Eduardo. Mengawasi barang baru masuk dari Hongkok dan akan mereka impor ke Mexico.
***
Sementara di rumah Sabrina, Suci merupakan sakit di perutnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Sabrina.
"Biasa dapet tiga hari pertama setelah telat seminggu," ujar Suci.
"Apa telat seminggu?" Sabrina terkejut.
"Iya, emang kenapa?"
"Bukannya kemarin kita M barengan ya?"
"Iya,"
"Emang kemapa?" Tanya Suci.
"Wah gawat aku telat lebih, tapi kayaknya enggak mungkin deh," racau Sabrina.
"Enggak mungkin apa?" Semain bingung dengan ekspresi Sabrina yang mondar mandir.
"Enggak ... Enggak mungkin!"
"Enggak mungkin kenapa?
Sabrina semakin pucat, wajahnya terlihat tegang.
"Relaks Sab, Relaks ...." Pinta Suci.
"Apa mungki aku hamil?" Celetuk Sabrina.
"Pffffttt!" Suci menyemburkan teh yang ia minum.
"Apa? Hamil? Sama siapa?" Cecar Suci.
"Sama Eduardo!"
Suci yang mendengar ucapannya lalu membulatkan matanya dengan sempurna dan membuka mulutnya lebar.
Suci seger pergi keluar rumah membawa skuter matic miliknya dan segera menuju apotek 24 jam terdekat dan membeli testpack.
Petugas yang heran dengan tingkahnya pun tanpa pikir panjang segera mengambil testpack.
"Berapa?"
"Dua!"
Setelah membayar dia langsung kabur dari tempat tersebut.
Sesampainya di rumah Suci segera meminta Sabrina kecing untuk memastikan kondisinya.
"Gawat kalau dia hamil aku pasti dihabisi sama bapaknya," batin Suci.
Setelah tiga menit menunggu hasil tes mereka harap-harap cemas.
"Aaaaaaahhhhh!" Teriak mereka bersamaan.
Suci memotret hasilnya dan dikiri ke Eduardo.
"Kamu hamil sama siapa Ci? Sama Kucing? Hahaha," lewat pesan suara Eduardo menertawakan Suci.
"Bukan aku! Tapi Sabrina yang hamil,"
"Apa? Yang benar?" Eduardo sangat terkejut mendengarnya.
"Kamu Bapaknya ya?" Tanya Suci dengan mata menyelidik.
Eduardo mengusap wajahnya kasar, setelah mengirim gambar mereka melakukan video call.
"Mampus Loe." umpat Suci
Suci adalah teman curhat mereka sehingga ia tahu bagaimana kelakuan mereka berdua. Contohnya waktu mereka menginap di hotel waktu itu dengan keadaan mabuk. Mereka melakukan video call dengan suci ketika sedang berhubungan.
"Ih jijik banget sih kalian berdua!"
"Biar kamu kepengen hahaha," ujar Eduardo.
Mereka sering keluar bertiga ketika weekend, dan sialnya Suci selalu menjadi obat nyamuk dan suka mupeng melihat kemesraan mereka berdua.
"Kasihan Jomblo." Ledek Eduardo.
__ADS_1
"Bodo amat! Dari pada tubuhku terkontaminasi bakteri jahat kayak Loe," merasa sebal setiap kali diledekin jomblo, dan merasa jijik melihat kemesraan mereka yang anywhere anytime bermesraan tanpa mengenal waktu dan batas.
****
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Sabrina yang kariernya mulai menanjak sangat bersih keras akan mengugurkan kandungannya.
"Aku enggak bisa kayak gini,"
"Kenapa? Ini buah cinta kita, aku mau bertanggung jawab atas janin yang kamu kandung." Mencoba meyakinkan Sabarina.
"Enggak! Karier aku lagi bagus, aku enggak mau janin ini menjadi penghambat jalan karier aku!" Dengan tegas Sabrina menolak.
"Kamu buang dia sama dengan kamu buang aku! Kamu enggak tahu Sab, rasanya dibuang dan tidak dianggap. Kalau masalah karier bisakan berjalan bersamaan?"
"Aku bisa kenak pinalti kalau mempertahankan janin ini! Bukan masalah berbarengan," Sabrina mencoba memberikan penjelasan kepada Eduardo, karena dalam kontrak kerja Sabrina dilarang menikah sampi hamil.
"Aku bisa bayar pinaltinya!" Dengan tegas Eduardo akan menganti rugi perjanjian itu.
"Aku lebih baik kehilangan uang daripada kehilangan anakku! Berapapun itu akan aku bayar," Eduardo tidak perduli mau berapa pun akan ia bayar demu janin yang Sabrina kandung.
"Kamu sanggup bayar? 5 miliar! Sanggup?" Sabrina benar-benar murka kepada kekasihnya tersebut.
"5 miliar? Aku tidak semiskin itu! Akan aku bayar, jangankan 5 miliar 10 triliun pun akan aku bayar!" Dengan tegas Eduardo membalas ucapan Sabrina yang menurutnya kurang enak didengar seakan ia meremehkan Eduardo.
Dengan mata berkaca-kaca lagi-lagi ia memohon kepada Sabrina.
"Please aku mohon jangan lakukan itu! Kamu bisa menghabisi seluruh manusia di muka bumi ini tapi satu jangan yaitu buah cinta kita,"
Sabrina seakan terkejut mendengarnya ucapan Eduardo, seakan ia tahu semua. Seingat Sabrina ia tidak pernah menceritakan keburukannya di masa lalau.
"Kamu tahu dari mana? Jawab!"
"Kamu tahu dari mana?"
Sabrina terus mencecar Eduardo tentang masa lalunya.
"Kamu tahu dari Suci?"
"Enggak! Bukan dari Suci!"
"Bohong!"
"Terserah kamu percaya atau tidak! Yang penting jangan bawa-bawa nama orang lain diantara kita,"
Eduardo benar-benar marah dan pergi meninggalkan Sabrina. Ia lebih memilih untuk pergi dari pada terus di dekatnya dan membuat emosinya tidak stabil, terlebih dia saat ini hamil dan sangat sensitif.
"Kamu beneran hamili Sabrina?" tanyanya Suci, semula ia tidak percaya. Tapi setelah mendengar kebenaran dari mulut mereka berdua, tiba-tiba ia merasa ketakutan. Takut jika Mr. Khai mengetahui hal ini.
"Kamu enggak takut sama Mr. Khai? Dia nitipin anak semata wayangnya pada kita, apa jadinya jika ia tahu Sabrina hamil?" Tanya Suci.
"Aku akan tanggung jawab dan mengakui kepada Mr. Khai!" Pria itu lalu pergi meninggalkan rumah Sabrina.
Eduardo menuju kediaman Mr. Khai, ia menemui atasannya yang tak lain adalah papa dari sang kekasih.
"Apa kamu bilan?"
"Berani kamu menyetuh putri saya? Sampai dia hamil?"
Pria tua itu benar-benar murkah dan menampar Eduardo.
"Kamu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri bukan berarti kamu menghancurkan masa depan putri saya!"
"Saya dan Sabrina saling cinta! Saya akan bertanggungjawab atas kehamilannya," ungkap Eduardo.
"Saya rasa saya bukan orang pertama yang menghancurkan masa depannya, yang pertama adalah diri Anda sendiri yang gagal menjadi orang tua. Dan yang kedua adalah diri putri anda sendiri, dan yang yang ketiga adalah kekasihnya bernama Denny. Lalu bos Anda sendiri yaitu Tuan Sanjay!" Eduardo membuka semua rahasia yang ia tahu.
"Pmong kosong macam apa yang kamu katakan? Mana mungkin, Tuan Sanjay melakukan itu?" Mr. Khai tidak percaya dengan apa yang Eduardo katakan. Bagi Mr. Khai seorang Sanjay adalah dewa kehidupan.
"Anda hanya mengenal sekilas tentang Tuan Sanjay, kalau Anda tidak percaya silahkan tanyakan kepada Sabrina atau Tuan Sanjay sendiri. Saya ikut Tuan Sanjay tidak sehari dua hari, setahun dua tahun. Dia adalah anak panti sama seperti saya, kami dibesarkan di tempat yang sama bahkan makanan dan baju kami pun sama."
"Saya tahu semua! Saking saya tidak mau menyakiti Anda saya selama ini diam dan menutup mulut saya dengan rapat."
Eduardo menceritakan awal melihat Sabrina, saat itu dia selalu didekat Sanjay. Bahkan ia tahu kalau Sabrina akan menghancurkan hubungan Sanjay dan Leora, Bahkan yang menyetir dan membawa Sabrina ke hole adalah dirinya. Melihat Sabrina di sana dan memantau setiap menit adegan syur itu.
"Tidak! Saya tidak percaya itu semua," ungkap Mr. Khai.
Eduardo memutar video yang ia simpan, video yang ia potong yang tampilkan wajah Sabrina. Diambil dari berbagai video lalu ia edit dan jadikan satu.
"Apa karena ini kamu terobsesi dengan putri saya?" Tanya Mr. Khai.
"Tidak!"
"Saya benar-benar tulus sama putri Anda, dan saya tidak perduli dengan masa lalunya."
Tatapan Mr. Khai sangat membunuh dan tidak percaya dengan anak buahnya tersebut.
__ADS_1
"Kamu yakin mencintai dia? Tidak akan mengungkit masa lalunya?" cecar pria tua itu.
"Ya! Saya akan menerima dia apa adanya walau dia adalah gadis hole, atau orang gila sekali pun!" Tegas Eduardo.