
"Aku mohon kasih tahu di mana papa," ucap Sabrina.
"Maaf aku tidak bisa! Mau kamu bunuh aku sekalipun dan kamu mengobrak-abrik rumahku tetap kamu tidak akan mendapatkan apa-apa!"
"Sudahlah pasrah saja, yang penting kamu dapat suntikan dan aliran dana dari papamu," ujar Alex.
"Tetap aku tidak terima jika papa belum aku temukan! Baik kalau kamu tidak mau menolong aku, aku akan mencari tahu sendiri!" Sabrina lalu pergi meninggalkan rumah Alex.
Bukan Sabrina jika ia pulang dengan tangan kosong, dia meletakkan alat penyadap dan camera tersembunyi di titik yang tak terlihat lewat drone miliknya.
Wanita yang selalu ambisius itu mencari tahu tentang papanya di media sosial serta beberapa kolega papanya. Tapi nihil semua tidak tahu tentang kabar Khairul, bahkan beberapa orang sempat menyatakan bahwa Khairul telah meninggal terkena paparan Covid 19 dua tahun silam. Khairul sengaja menyebarkan hoax tersebut demi menutupi kebenaran bahwa ia telah melakukan operasi plastik di negara tetangga. Mengganti identitasnya secara legal tanpa sepengetahuan siapapun.
"Papa kamu meninggal karena Covid itu kabar yang kami dapat dari group alumni sekolah kami," ujar Pak Robby teman SMA papa Sabrina.
"Selama ini kamu di mana? Sampai kamu tidak tahu di mana keberadaan papa kamu?" Tanya Pak Robby.
"Saya dibohongi orang Om, katanya saya mau diajak kerja, tidak tahunya saya dijual." Isaknya dengan wajah memelas dan meminta dikasihani.
"Saya disekap di sebuah ruangan sempit bersama teman-teman lainnya, lalu saya dipaksa melayani pria-pria yang tidak saya tahu fisik dan rupanya. Saya hanya dimasukkan diruangan sempit 3x1,5 meter dan menyisakan sebagian tubuh saya di luar dan sebagian lagi didalam," ungkap Sabrina.
Awalnya dia malu menceritakan hal tersebut tapi demi membangun citra "kasihan" ia terpaksa melakukan itu. Kisah yang menurutnya menjijikkan itu berhasil membuat empati seseorang muncul.
"Sekarang saya sebatangkara ... Mama dan papa sudah meninggal dan hidup saya hancur sehancur-hancurnya," ungkap wanita gila itu.
"Sekarang kamu tinggal di mana?" Tanya Pak Robby.
"Saya ada rumah dan tabungan yang papa kasih buat saya untuk bekal masa depan saya, saya akan menggunakan sebaik mungkin dengan cara membuka usaha sendiri," ungkap Sabrina.
"Maafkan saya jika belum bisa membantu kamu, kamu tahu sendiri kan saya duduk di kursi roda. Saya hanya bisa mendoakan kamu agar Tuhan menjaga kamu di manapun kamu berada," ujar Pak Robby.
"Kalau begitu saya permisi pulang, terima kasih sebelumnya." Sabrina pun beranjak pergi dari rumah pak Robby.
Diluar dia sangat marah dan berteriak sejadi-jadinya dimobil.
"Sial ... Sial! Sialan kenapa mereka semua seakan enggan membuka mulut? Lalu siapa yang dapat aku percaya? Tabungan itu menunjukkan kalau papa masih hidup dan satu lagi kenapa papa memalsukan kematiannya?"
Mencari tahu dari orang-orang sekitar tetap tidak menemukan jawaban membuat dirinya sangat-sangat kebingungan.
"Aku enggak butuh uang papa, aku cuma butuh papa!" Teriaknya.
Membawa mobil dengan kecepatan tinggi hingga menabrak kerumunan mobil mercy mewah.
Ciiiiiit
Bruuukkk
"Sialan!" Umpatnya.
"Hey, Nona apa Anda tidak punya pikiran atau Anda bosan hidup ha?" Maki seorang berbaju hitam.
"Diam!"
"Diam katamu? Mobil boss kami rusak apa kamu mau tanggung jawab?" Balas orang berbaju hitam tersebut.
Di sisi lain di mobil nomor tiga terdapat seorang pria.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Ada insiden tabrakan Tuan," balas sopir.
"Kecelakaan?"
__ADS_1
"Ya, ada wanita gila menabrak mobil nomor satu," ungkap Sopir.
"Bagaimana? Keadaan wanita itu?" tanya Pria itu
"Marah-marah Tuan, sepertinya dia wanita gila," ujar Sopir.
"Sudah jangan diperpanjang lagi, ayo kita segera berangkat jangan sampi terlambat!" Perintahnya.
"Tapi bagaimana dengan mobil pertama?" Tanya Sopir.
"Tinggalkan! Kita berangkat dengan empat mobil dan suruh teman kamu urus mobil itu dan tinggalkan wanita itu!"
"Tapi Tuan di--" ucapan itu terputus.
"Sudah! Biarkan jangan diperpanjang, berurusan dengan wanita gila akan menambah masalah," ujarnya.
Sopir tersebut menghubungi mobil pertama agar segera kembali dan memperbaiki mobil yang rusak.
"Putar balik! Tinggalkan wanita gila itu, lalu bawah ke bengkel!" Perintah Sopir yang mengikuti ucapan Tuannya.
"Baik!"
"Hey, Wanita gila kali ini kamu lolos ingat jika ketemu lagi jangan harap bisa selamat!" Sopir tersebut memberikan peringatan keras pada Sabrina.
Mobil iringan itu pun melaju dengan beriringan satu persatu. Sabrina melihat iring-iringan tersebut betapa terkejutnya ia ketia pria paruh baya menatapnya tajam.
"Tatapan itu seperti tatapan papa, ah ngomong apa sih gara-gara saking kangennya sama papa jadi ngelantur," ucapnya.
Tapi rasa penasarannya denga logika mengalahkan segalanya, diam-diam ia membuntuti mobil itu. Dari jauh Sabrina mengikuti dan mengintai mobil itu sampai lah di sebuah dermaga.
"Kok tukeran tas sih?" ujarnya.
Mereka bertukar 3 buah tas dengan koper yang sama. Mereka daling melihat satu sama lain, salah seorang menggoreskan pisau ke dalam koper tersebut lalu mencicipinya.
"Oke!"
Pembicaraan mereka terlihat serius. Namun, beberapa detik kemudian mereka baku tembak.
"Mr. Khai! Kau harus mati," ujar Pria di depannya.
"Mati?" Dengan senyum sinis pria itu membalasnya.
"Kamu yang akan mati!" Lanjut Mr. Khai.
"Maksudmu?" tanya pria itu.
"Satu peluru tidak akan membunuhku! Tapi 1 gram sianida yang akan membunuh mu!"
"Sial! Kau mencampuri heroin kami dengan bubuk sia--" pria itu merasa tenggorokannya tersekat dan tidak bisa bernapas, udara seakan engan masuk.
Bruk!
Pria itu seketika meninggalkan.
"Anak buahnya kemana sih kok tinggal mereka?" bati Sabrina. Wanita itu mengintip dari balik tembok, sementara yang ditanyakan olehnya sedang memantau situasi.
Pria tua yang tertembak itu seketika pingsan karena kehabisan darah. Sabrina yang mengetahui ada cela sempit di depan matanya lalu mendatangi pria tersebut dan memapahnya ke mobil dengan tertatih. Ia lalu melajukan mobilnya ke rumah sakit dan langsung dirawat di UGD.
"Pasien kehabisan darah, apa Anda keluarganya?" tanya perawat.
"Ya! Ada apa?" Balas Sabrina.
__ADS_1
"Kamu butuh donor darah golongan B resus negatif," ungkap Perawat.
"Saya B resus negatif," ungkap Sabrina.
Ia pun menandatangani berkas persetujuan lalu mendonorkan darahnya. Setelah itu operasi pun dilakukan, selama tiga jam mereka bergelut di meja operasi demi mengambil peluru yang bersarang di lengannya.
Sabrina memeriksa identitas milik pria tersebut, tertera sebuah nama Khai usia 58 tahun.
"Sama seperti papa umurnya, bahkan tanggal lahirnya pun sama." Ia lalu mengembalikan ke tas milik pria tersebut.
Dua belas jam lamanya obat bius itu bereaksi.
"Awh sakit." pria itu meringis kesakitan.
Sabrina menatap pria itu tajam, suranya dan rintihannya peris sang papa ketika sedang sakit. Bahkan aroma tubuhnya pun sama, walau memang ribuan parfum itu pasti ada di mana-mana. Tapi beda dengan parfum milik pria itu dengan papanya terlihat sama.
"Semua serba sama," ungkapnya.
"Kamu?" Tanya Mr Khai.
"Kenalkan nama saya Sabrina saya yang menolong Anda," ucapnya.
"Apa?"
"Sudah Anda tak perlu sungkan! Saya yang akan merawat Anda,"
"Maksud kamu?"
"Ya, saya akan merawat Anda sampai sembuh Mr. Khai," ujar Sabrina.
Wanita itu kini terlihat tak tahu malu, saking kangennya dengan sang papa, logikanya tidak berlaku saat ini . Sepertinya ia sedang merayu orang yang hampir sekarat untuk dijadikan pengganti papanya.
"Kenapa anakku membawa aku kesini apa dia sudah tahu?" Batin Mr. Khai.
"Om mengingatkan saya pada papa saya, saya kangen banget Om sama papa saya," ungkapnya.
"Saya ingin cerita semua yang saya alami, tapi papa tidak ada di dekat saya hik." Isaknya.
Mr. Khai hanya memandangi wajah Sabrina yang tak lain adalah puteri satu-satunya itu. Sesekali ia memalingkan mukanya ke berbagai arah guna mengalihkan rasa sedihnya, dia akui selama dua tahun terakhir ini sangat merindukannya. Tiba-tiba ia kehilangan puteri yang ia cintai tanpa ada kabar dan berita.
"Kenapa?"
"Mungkin papa marah dan sangat kecewa sama saya, tapi saya sudah mendapatkan karma atas perbuatan saya," ungkap Sabrina.
"Mulai dari saya ditipu pria akan dinikahi sampai saya dijual lalu dibuang ke negara orang. Coba Pm lihat tubuh saya, " membuka sedikit bagian tubuhnya menunjukkan luka-lukanya yang baru mengering.
Mr. Khai tidak tahan melihatnya dan ingin sekali memeluk tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan masa lalunya.
"Saya di jual ditempat prostitusi namanya Hall, saya harus melayani pria-pria yang tidak saya tahu wajahnya dan bentuk fisiknya. Saya ditempatkan dalam sebuah kotak berukuran 3 x 1,5 meter, sebagian tubuh didalam dan sebagian lagi diluar. Kami yang ada di sana hanya pasrah karena tubuh bagian luar kami diikat di dinding," terbangnya.
"Dan lebih kejamnya lagi boss besar itu menjual saya pada temannya yang berasal dari negeri Sakura. Saya dijadikan pemuas napsu semata padahal dia mempunyai banyak istri dan semua tinggal di tempat yang sama di rumah mewah. Terakhir saya diberikan kepada temannya yang lain, mungkin karena dia kecewa dengan servis saya dia mengumpankan saya pada anjing peliharaannya," lanjutnya bercerita.
"Saya sudah terbuang dan kotor, bahkan teman saya yang menolong saya dia bilang anggota bagian bawah saya sudah terlalu parah kerusakannya," ucapnya
Tanpa ia sadari cairan bening menetes dari dua kelopak matanya, ketika Sabrina mengucapkan kalimat pertama diakhir ucapannya.
Sangat miris memang ketika seorang ayah tidak bisa menjaga puterinya demi egonya sendiri. Mungkin kesabarannya hanya setipis tisu yang mudah hancur dan rapuh, memang tidak mudah sampai dititik ini.
Bebetapa perihnya ia ketika mengetahui tempat prostitusi itu adalah milik dari bossnya, yang pernah sempat ia pegang beberapa waktu. Awalnya ia tidak percaya dengan ucapan Sabrina sang puteri, betapa terkejutnya ia ketika melihat video-video itu. Terlihat jelas wajah Sabrina dan suara teriaknya karena kesakitan setelah melayani pelanggannya. 12 jam lamanya ia seperti itu, sungguh dia menutuk dirinya sendiri ketika mengetahuinya.
Yang ia tahu para wanita tawanan di sana tidak diperlukan dengan baik. Bahkan sehabis semalaman melayani pelanggannya ketia ada orang BO mereka harus bekerja lagi, tidak peduli berapa tamu atau pelanggan yang meminta jasanya para wanita tawanan harus siap 24 jam.
__ADS_1
Sampai ada yang sehabis melahirkan pun di minta untuk melayani, bahkan orang hamil besar sekali pun tetap mereka suruh melakukannya. Tak banyak dari mereka yang depresi lalu menghabisi nyawanya dengan menengak racun atau menyayat nadinya.