Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Angela Sengaja Merahasiakannya


__ADS_3

   Angela yang tahu sebenarnya tentang pembunuhan dan siapa dalang di balik itu semua sengaja menyembunyikannya dari penyidik. Menurutnya ini adalah kasus besar tidak hanya mengenai tentang siapa korban dan siapa pelakunya. Angela lebih memilih mengamankan narasumber atau saksi tersebut demi keamannya, karena dia adalah kunci utama untuk bisa mengakhiri ini semua.


   "Kenapa kamu tidak berterus terang pada Penyidik?" tanya Marchelo.


  "Itu terlalu gegabah, kita harus merencanakannya secara matang tanpa adanya sedikit kesalahan!" Tegasnya.


   "Kamu terlalu berbelit Angel,"ujar Marchelo.


  "Terus aku harus bagaimana lagi? Apa aku harus jujur? Aku sengaja melakukan itu agar gerak-gerik kita tidak terbaca!" ungkap Angela.


  "Jadi rencana kamu bagaimana?" tanya Marchelo.


  "Aku masih belum ada rencana!" tegasnya lalu pergi meninggalkan Marchelo.


   Itu adalah percakapan Angela beberpa jam sebelum bertemu penyidik. Mereka menyusun rencana pelan tetapi pasti, memantau dari berbagai arah setiap gerak gerik dari Sabrina.


  "Apa kita langsung sergap atau bagai mana?" tanya Anggota Polisi.


   "Nanti dulu kita bicara santai saja dengannya," ucap Penyidik Yang diam-diam mengintai Sabrina.


  "Nona Sabrina?" Suaranya mengagetkan Sabrina yang baru keluar dari mobilnya.


  "Ya, Siapa ya?" tanya balik.


  "Saya Penyidik dari Bareskrim!" balas Penyidik.


  Sabrina terlihat ketakutan tapi dia selalu bisa menguasai diri dan mencoba tenang.


  "Saya ingin bertanya satu hal, sebelum orang tua Anda meninggal ... Mmmm maksud saya Ibu Anda,"


  "Ya!"


  "Anda berada di mana?"


   "Saya sempat beberapa hari menginap di sana lalu saya balik lagi ke kosan saya!" kelitnya.


   "Balik ke kosan dengan buru-buru dan tanpa anda tahu tangki bensin anda bocor? atau bagai mana?" mencoba menyelidiki dengan slow tapi mengigit.


   "Anda itu bodoh atau bagaimana? Kalau tangki bensin saya bocor pasti saya akan meninggal kebakaran ketika ada api yang menyambarnya?!" ungkapnya.


  "Dan nggak mungkin sampai sini dengan selamat!" imbuhnya.


  Penyidik hanya tersenyum kecut menghadapinnya.


"Anda menuduh saya? Membunuh Mama saya?" tanya Sabrina.


  "Saya belum bilang apa-apa, Anda yang menyimpulkannya sendiri!" ujar Penyidik.


  "Anda tidak bisa nenuduh saya tanpa bukti dan saksi!" tegas Sabrina.


  "Kata siapa saya tidak ada bukti dan saksi? Menyeret anda sekarabg saya juga bisa Nona!"


  "Oh ya?"


  "Tentu!"

__ADS_1


  "Buktikan!"


  "Tidak untuk sekarang! Tapi bolelah kita main-main dulu," ucap Penyidik.


  "Jangan harap atau jangan mimpi Anda bisa membuat saya masuk buih,"


  "Serapi apapun Anda menyimpan bangkai suatu saat akan kecium! Ingat kejahatan itu tidak ada  yang sempurna!" bisik Penyidik.


  "Kami sudah mengantongi semua jadi tunggu saja!" imbuhnya.


  "Brengsek!"


  Berapa hari kemudian pihak Kepolisian mengirimkan surat kepada Sabrina.


  "Sialan! Pasti ini ulah Pembatu itu,lihat saja kalau benar akan aku habisi dia!" ucapnya kesal.


   Sabrina memenuhi panggilan Kepolisian tersebut dan dia diberondong enam puluh pertanyaan. Kali ini Sabrina tidak bisa berkelit lagi karena ada alat pendeteksi irama jantung dan beberapa Psikiater  dan Pakar Mikro ekspresi. Sabrina kini sudah ditingkatkan statusnya menjadi tersangka, dengan adanya beberapa bukti serta saksi yang ada. Belum lagi kasusnya yang ingin menghabisi Nadine, dan harus terpaksa ia menerima statusnya. Berita tersebut sampai ke telinga Khairul, dia sangat marah besar.


  "Papa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi," ujarnya.


   "Pa ... Papa maafin Saby Pa! Tolong Saby Pa,"rengeknya.


    "Tidak!"


   "Papa ... Papa satu-satunya orang tua Saby, dan Saby anak papa satu-satunya, apa papa tega?" bujuknya.


   "Tentu! Kamu tega menghabisi Mama kamu dan Nenek kamu, kamu manusia macam apa? Iblis saja tidak akan sejahat kamu!"


   "Saby terpaksa Pa, maafin Saby ... Lepasin Saby dari sini!" pintanya.


"Tamatlah riwayatmu!"


   "Kamu tega menghabisi nyawa orang lain, semoga kamu dapat membusuk di penjara ini!" ujar Angela.


"   Bukan hanya di penjara tapi di neraka!" sahut Marchelo.


****


   Di sel tahanan Sabrina dibully beberapa tahanan.


   "Oh ini anak durhaka itu!"


   "Dasar nggak tahu diuntung!"


   "Aku lebih baik nggak punya anak dari pada punya anak satu tapi hatinya Iblis!"


Mereka saling sahut menyahut.


    Sabrina di sana benar-benar menjadi bulan-bulanan mereka, dari yang dijambak, disiram air kecing dan dilempari kotoran hingga pembalut wanita mendarat ke mulutnya.


   "Ayo lawan kami, kenapa takut? Bukannya kamu mampu menghabisi nyawa tiga orang sekaligus? Kenapa kamu di sini jadi cemen?" ujar Salah satu Napi Wanita.


   Ketika hendak akan melawan sudah ada satu tamparan mendarat ke wajahnya dan jambakan demi jambakan.


   "Ayo kita gunduli dia!" seru seseorang.

__ADS_1


   "Ayoooo!" sahut lainnya.


   Sabrina benar-benar habis di sana, rambutnya yang indah yang sering perawatan hingga jutaan rupiah sekarang habis diserbu Emak-emak Napi.


    "Kamu nggak pantes punya rambut cantik, inikan yang kamu banggain? Cantik tapi busuk hati!"


   Sipir Penjara yang mengetahuinya hanya diam pura-pura tidak tahu.


****


   Ke esokan harinya Sabrina meminta menelepon Papanya.


   "Boleh saya telepon Papa?" tanya Sabrina.


    "Boleh tapi hanya lima menit tidak lebih!" tegas Sipir Wanita.


   "Hallo Papa ... Pa tolong Saby!" ucapnya.


  Khairul hanya diam saja tanpa menjawab.


   "Haloooo Papa ...pa!"


    "Ssstty berisik!"


   "Pa ... tolong Saby!" isaknya.


   "Saby nggak kuat Pa!"


     Wajahnya sudah babak belur, dan tulangnya berasa remuk.


   "Lihat tuh Anak Durhaka kita kerjain Yuk!"


   Mereka menyeret Baju Sabrina dan membawanya kehalaman belakang, mereka mengikat Sabrina di pohon yang banyak semut rang-rangnya dan ada sarang tawon di dekatnya, dari jauh mereka melemparinya dengan batu hingga sarang itu terjatuh dari pohon dan tawon tersebut menyengat Sabrina.


   "Hahahahahah!" Mereka tertawa puas.


   "Dunia ini kejam! Jadi jangan sesekali kamu berbuat kekejaman di dunia ini, dan jangan coba menyakiti jika tidak ingin disakiti!" seru Yanti salah satu Geng Kuncrit.


   Geng Kuncrit terdiri dari Yanti,Tari dan Suci, ketua Geng itu adalah Tari. Hampir semua yang ada di Penjara tersebut takut dengan Tari. Tari paling benci dengan anak durhaka, karena itu mengingatkannya pada seseorang yang membuatnya masuk buih, dia tidak lain adalah Kakak Tari yaitu Ayu.  Ayu dan Tari adalah anak seorang Pemulung, gaya Ayu sangat glamour, setiap apa yang dia minta harus ada saat itu juga.


   Sampai pada suatu hari Ayu sangat kesal karena permintaanya tidak dituruti, dan mendorong Ibunya sampai jatuh, Tari yang tidak terima mencoba membela Ibunya namun pertengkaran  tak bisa terelakkan, Tari mendorong keras Ayu dari lantai atas rumah susun yang mereka sewa beberapa tahun ini, Tubuh Ayu tertancap batang besi, pagar tanaman.


   "Dasar orang tua ngak guna!sakit-sakitan, dari pada rebahan cari duit sana, sakit demam aja manja, ayo pergi sana aku lapar!" ucapnya membentak Ibunya.


   "Harusnya kamu yang kerja bukan minta-minta," balas Tari.


   "Kamu tahu apa sih anak kecil!" bentak Ayu.


   "Ayo buruan ngemis sana," Ayu menyeret Ibunya dan mendoeongnya hingga terjatuh.


   Tari yang melihat kejadian itu tak terima hingga mereka jambak-jambakan dan berakhir dengan terbunuhnya Ayu.


   "Ayuuu!"teriak Ibunya.


    Tari yang masih dalam keadaan shock melihat kakaknya meninggal di depan mata hanya terdiam ketika warga setempat membawanya ke Kantor Polisi. Tari menjelaskan kronologi kejadian tersebut kepada Polisi, dan dia harus mendekam di penjara, Ibunya yang tak kuasa melihat anaknya jadi pesakitan membuatnya kepikiran dan sakitnya tambah parah hingga ajal menjemputnya.  Tari sangat terpukul, maka dari situlah dia paling benci dengan anak yang menyakiti orang tuanya apalagi sampai menghabisi nyawanya. Maka dari itu dia menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Sabrina.

__ADS_1


💙💙💙💙


__ADS_2