Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Merasa nyaman


__ADS_3

  21+


  Hari-hari Sabrina dilaluinya dengan hati gembira karena dia baru saja mendapatkan penghargaan. Sabrina cukup puas dengan hasil yang ia dapatkan. Namun ia ingin menginvestasikan penghasilannya di bidang yang lain, Sabrina ingin membuat tempat usaha sendiri, ia ingin membuka salon kecantikan.


   "Van aku pengen buat salon nih kamu ada rekomendasi ngak?" tanya Sabrina.


   "Kamu tanya saja sama Masternya desain interior," ucap Evanders.


    "Siapa?"


    "Denny,"


     "Denny?"


    "Iya, dia jago banget dalam mendesain ruangan, ini saja dia yang bikin, keren kan?" puji Evanders dengan desain ruangan tersebut.


   Sabrina mengamati sudut demi sudut, interior sama konsep dan tata ruang.


   "Bagus sih! Tapi mahal nggak?" tanya Sabrina  sedikit ragu.


   "Sudah lah nggak usah dipikirkan dia pasti tahu yang penting kamu bilang budget kamu saja biar dia yang kira-kira," Evanders sangat tahu kemampuan Denny dalam hal ini.


    "Kamu yang bilang ya! Takut dia yang nggak mau," pinta Sabrina.


   "Oke nanti aku akan bilang ke dia," balas Evanders.


    Evanders pun menghubungi Denny dan meminta bantuannya. Denny pun menyetujui permintaan sahabatnya itu. Sabrina dan Denny pun akhirnya bertemu.


    "Gini Den, sayakan ada budget sekian bisa nggak minta tolong untuk dibuatkan tempat usaha," ucap Sabrina.


   "Kamu maunya konsepnya seperti apa?" tanya Denny.


    "Saya mau modern terus warnanya bernuansa gold and white, biar kelihatan mewah," Sabrina menerangkan keinginannya.


   "Saya akan membuat sketsanya sesuai keinginan kamu, nanti akan saya kirim ke email kamu," Denny dan Sabrina bertukar email.


   Sabrina dan Denny pun sering bertemu dan lebih intens, membahas desain interior.


Mulai dari memilih bahan dan perabotan mereka pilih bersama. Ternyata Sabrina dan Denny memiliki kesamaan selera dalam memilih barang, semenjak itu mereka semakin dekat dan merasa nyaman. Kedekatan mereka semakin hari semakin mesra terkadang hampir terlewat batas.


    Mereka sering pergi ke klub malam untuk mabuk, malam itu memang mereka terlewat batas sampai tak sadarkan diri karena meminum terlalu banyak wine.


Sampai kejadian itu pun terjadi dan membuat Sabrina kecewa terhadap Denny.


Hotel The Queen menjadi saksi bisu antara Denny dan Sabrina. Matanya menyesuaikan cahaya di kamar tersebut, terlihat asing.


    "Aku di mana? Aduh badan aku sakit semua, kepalaku pusing," ucap Sabrina.

__ADS_1


    Sabrina melihat bajunya yang berserakan di lantai dan juga pakaian dalamnya. Lalu ia melihat tubuhnya yang ditutupi selimut, terlihat dia tidak memakai sesuatu.


   "Astaga!" Sabrina terkejut.


   Dia merasakan nyeri di bagian kewanitaannya.


   "Awh sakit banget," ucap Sabrina lalu perlahan ia meraba ada  darah dan sisa cairan kental berwarna  putih ada di perutnya.


"Seperti lendir, apa ini?" Sabrina lalu bangun melihat noda merah di tempat ia tidur.


    "Apa aku datang bulan? Tapi enggak ah kan baru tiga hari yang lalu selesai?" batin Sabrina.


  Namun, tiba-tiba ia menoleh  kearah kiri dan melihat sosok lelaki berbadan tegap berkulit putih sedang tidur tengkurap, baginya itu tak asing lagi.


   "Denny?"  Sabrina membelalakkan matanya, lalu ia meneteskan air mata.


  Menggoyang-goyang tubuh Denny.


"Den ... Denny, apa yang kamu lakukan ke saya semalam," Sabrina menangis terisak.


    Denny mencoba mengumpulkan nyawanya kepalanya terasa pusing dan berat.


   "Apaan sih?" tanya Denny.


   "Semalam kamu ngapain aku? Kamu jahat Den," Sabrina menangis sesenggukan.


  "Maaf kamu bilang? Semudah itu kamu bilang maaf, kata maaf kamu tidak akan mengubah dan merubah ini semua kembali seperti semula!" Sabrina begitu kesal dengan ucapan Denny.


    "Terus aku harus bagaiman?" Denny yang tak kalah kesal membentak Sabrina.


   "Kamu ... Ah!" Sabrina meninggalkan Denny di atas ranjang dan pergi ke kamar mandi dan memakai pakaiannya lalu pergi meninggalkan Denny.


   Sabrina berjalan dengan cepat namun rasa nyeri di bagian bawahnya menghambatnya. Sabrina benar-benar kecewa dengan Denny, teganya dia berbuat seperti itu kepadanya, merenggut keperawanannya. Hidup Sabrina benar-benar hancur apa yang ia pertahankan selama ini sia-sia. Sesampainya di rumah Sabrina merendam tubuhnya di bak mandi, mencoba sedikit melupakan kejadian itu namun semua sia-sia. Sabrina yang masih merasa  kesakitan akhirnya pergi ke dokter spesialis, dia ingin meminta obat agar rasa nyeri itu hilang.


    "Dok, tolong periksa **** * saya, saya takut infeksi, karena sangat perih," keluh Sabrina.


   Dokter memeriksa keadaannya namun tidak menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan.


   "Tidak perlu khawatir hanya lecet saja, pasti pasangan anda terlalu ganas ya?" ucap Dokter.


   "Ini saya baru pertama kali Dok," balas Sabrina polos.


   "Ini wajar jika baru pertama, memang ada sedikit iritasi atau sedikit pembengkakan," Dokter memberikan sebuah cairan atau gel kedalam **** * Sabrina.


   "Aaawwwh!" pekik Sabrina yang merasa perih.


   "Tenang saja nanti juga enakan, saya akan memberi obat andi nyeri," Dokter mencatatkan resep dan memberinya kepada Sabrina.

__ADS_1


   "Terima kasih Dok!" balasnya.


   Sabrina pun mengambil obat di Apotek.


Lalu segera kembali ke apartemen, dan lagi-lagi ia di kejutkan dengan kedatangan Denny.


  "Kamu ngapain ke sini?" Sabrina bertanya dengan ketus.


  "Aku akan memberi ganti rugi buat kamu," ucap Denny.


Ucapan Denny menantik amarah Sabrina.


  "Simpan saja buat wanita pinggir jalan," Sabrina mendorong tubuh Denny hingga ia tersungkur, lalu masuk ke kamarnya.


   Denny mengejar Sabrina sampai kedalam apartemen itu, dia menari Sabrina agar mau memaafkannya.Namun Sabrina menepisnya dan itu membuat Denny kesal, Seakan harga dirinya di injak-injak.


Denny memegang erat tangan Sabrina, dan Sabrina mencoba melepaskannya.


   "Lepas!" Sabrina terlihat kesal.


   Denny melihat wajah Sabrina begitu jengkel.  Denny memegang rahang Sabrina dengan kuat dan membuat wajah Sabrina mendongak ke atas, Denny lalu mencium bibir Sabrina.Kecupan demi kecupan ia lancarkan.


   "Mmmmmm ...hhhhfff," bibir Sabrina tidak bisa berteriak namun kakinya terus menendang Denny.


  "Aku tidak pernah dihina perempuan seperti ini," ungkap Denny.


   Denny mengingat kejadian semalam ternya dia semalam tidak benar-benar sepenuhnya mabuk. Dia memang mengincar Sabrina sudah lama dan bekerjasama dengan Evanders untuk membuatnya dekat dengan Sabrina. Sepertinya Denny memendam rasa dendam denga Sabrina, hingga semalam Denny meminta pada seorang pelayan untuk mencampurkan obat tidur ke minumannya.


    Dan benar saja Denny langsung memboyong Sabrina ke kamar hotel, di sana dengan puas ia menggagahi Sabrina, merenggut kesuciannya. Dan kini jiwa ke lelakianya tertantang lagi oleh penolakan Sabrina. Denny benar-benar sudah tertutup oleh hawa napsunya. Sabrina ia nodai lagi untuk kesekian kalinya, kali ini dia sangat brutal mulut Sabrina ia sumpal dengan kain tangannya ia ikat diatas ranjang.


   Sabrina benar-benar sadar seratus persen, Denny melancarkan aksinya dengan lembut mulai dari pemanasan sampai puncaknya, dia benar-benar membuat Sabrina lemas dan terkulai. Seakan waktu itu Sabrina tersadar akan perbuatannya di masa lalu.


   "Apa ini karma buatku? Aku yang dulu jahat sama orang sekarang aku dijahati sama orang," ucapnya sambil menangis.


    Denny setelah menodai Sabrina ia pergi meninggalkannya tanpa pamit.


"Sungguh biadab perbuatanmu!" ucap Sabrina kesal.


   "Aku akan membalasmu suatu saat nanti," amarahnya benar-benar memuncak, Denny benar-benar telah membangunkan jiwa Iblis yang ada di dalam diri Sabrina.


   Entah apa yang akan Sabrina lakukan kepada Denny. Sabrina sedikit depresi, namun di tengah itu dia menyusun rencana balas dendam yang manis, awalnya Sabrina merasa nyaman dengan Denny namun setelah apa yang Denny lakukan padanya membuatnya berubah seketika.


Iblis dalam jiwanya terbangun lagi dan ingin menuntut balas pada perbuatan Denny.


Bersambung ....


💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2