
Eduardo yang tahu bahwa Sabrina dalam keadaan sakit ia berusaha mencari cela untuk bisa kabur dari sarang Sanjay. Tempat itu dijaga sangat ketat hingga ruang gerak pun terbatasi, walau begitu mereka masih bisa santai dan bermain catur.
Fentilasi udara di sana memang cukup untuk dijadikan sasaran, cukup besar dan muat satu orang dewasa berbadan cukup besar. Tapi jaraknya terlalu tinggi. Sekitar dua tinggi orang dewasa, Eduardo hanya sendiri berada di sana jika ada teman mungkin dia tidak akan kesusahan. Mencari celah agar ia bisa kabur dari tempat terkutuk itu.
"Sudah dicari gimana caranya ya?" Pikirnya.
"Masa ia aku harus lewat pipa lubang udara itu sih?"
Pria itu sudah seperti orang gila ngomong-ngomong sendiri. Sampai dia menemukan satu ide yang membuat dirinya terpaksa melakukannya lewat pipa besar yang biasanya di buat untuk blower.
"Masuk angin masuk angen deh, terpaksa aku pergi hanya beberapa menit saja lalu aku kembali lagi." Ia merencanakan dengan matang. Lewat dena yang diberikan oleh seorang teman, ia pun masuk lewat pipa pembuangan udara lalu mereka berjanji bertemu di jam yang di sepakati.
"Bagaimana aman?" Tanya orang tersebut.
"Aman! Eduardo," ujarnya.
Dia segera menemui Sabrina di rumah sakit itu, ternyata tidak ada penjaga di kamar itu hanya di luar rumah sakit.
"Sayang," dengan suara pelan Eduardo mencoba membangunkan Sabrina.
Sabrina yang merasa bahwa suara itu tidak asing segera membuka mata.
"Kamu!"
"Sssstttt!" Menutup mulut Sabrina dengan satu jari.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Eduardo.
"Aku baik-baik saja, kamu kenapa enggak datang?" Tanya Sabrina.
"Maafkan aku! Aku diancam oleh Sanjay jika aku menikahi kamu maka nyawa kamu akan dihabisi oleh ya," ungkap Eduardo.
"Lalu? Kenapa kamu bisa sampai sini?" Tanya Sabrina.
"Aku dibantu seorang kawan, sudah tidak penting kita bahas ini yang penting aku tahu kamu dan anak kita selamat sudah cukup buat aku. Kamu tidak diapa-apakan sama Sanjay?" Tanya Eduardo.
"Tidak!"
"Aku rasa dia punya rencana lain tapi tidak tahu apa, tidurnya saja pisah sama aku. Dia memperlakukan aku kadang baik kadang kejam," ungkap Sabrina.
"Sabar ya! Suatu saat nanti kita akan bersama kembali," ujar Eduardo.
"Tapi kapan? Aku sudah tidak ingin berlama-lama dengan mafia sialan itu!" Umpat Sabrina.
"Sabar!"
"Sampai kapan?"
"Entah, mungkin dalam waktu dekat. Maaf sayang aku tidak bisa lama-lama takut ketahuan." Eduardo berpamitan dan mencium kening serta perut Sabrina.
Eduardo kembali ketempat penahanannya, dan dengan kondisi yang baik-baik saja.
"Kali ini mungkin aku lolos, entah besok." Dengan wajah pasrah ia bersandar di dinding itu.
__ADS_1
****
Selang beberapa menit dari kepergian Eduardo, Sanjay kembali ke rumah sakit dengan membawa beberapa botol air mineral dan susu ibu hamil serta vitamin untuk Sabrina.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Sanjay.
"Baik!"
"Kamu tidak perlu meminta cepat-cepat keluar dari rumah sakit, karena saya sudah bilang pada dokter menunggu kamu sembuh total," ujar Sanjay.
"Ohya, saya bawakan beberapa vitamin dan air mineral dan juga cemilan," lanjut Sanjay.
"Aku boleh minta sesuatu tidak?" Tanya Sabrina.
"Apa itu?" Balas Sanjay.
"Ehm, keluarkan Eduardo dari tahanan." Dengan menutup mata Sabrina mencoba memberanikan diri. Ia takut dengan peringai pria yang ada dihadapannya itu.
Dan benar saja pria itu membanting gelas yang ada di nakas.
"Apa kamu bilang? Membebaskan Eduardo? Kamu tahu dia siapa? Dan saya siapa?" Cecarnya dengan nada tinggi.
"Aku tahu, tapi paling tidak kamu memberikan dispensasi sedikit," ujar Sabrina.
"Dispensasi untuk dia balas dendam sama saya? Dia besar dibawah kaki saya, bisa saja dia mematahkan kaki saya untuk menguasai semua,"
"Dia tidak seperti kamu yang suka menikung," balas Sabrina.
Sabrina pasrah dengan apa yang terjadi saat ini. Hidup mati dirinya, anak yang ada didalam kandungan serta Eduardo ada ditangan Sanjay. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa membantu mengeluarkan dirinya dari Iblis berwujud Sanjay.
*****
Di sel tahanan pria yang menolong Eduardo mempertanyakan, mengapa ia tidak terang-terangan keluar dari tempat tersebut.
"Kenapa enggak terang-terangan kabur sih?" Tanya pria itu.
"Kamu buat terang-terangan? Tidak kah kamu melihat senja mereka berada di pinggang mereka yang sewaktu-waktu saya bisa didor. Kalau saya mati saya tidak akan bisa melihat kelahiran anak saya dong?"
"Iya juga sih,"
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan rencana kabur kamu yang kedua ini?" Tanya Pria itu.
"Aku masih mikir, sakit saat itu adalah hari naas ku. Pasti bisa habis badanku tertembak mereka, paling tidak kita menunggu waktu yang aman dan kondusif," ujar Eduardo.
"Kalau masalah takut peluru, saya bisa sediakan kamu baju anti peluru," usul orang tersebut.
"Bagaimana dengan senjata? Sebagai jaga-jaga," ujar Eduardo.
"Kalau kamu mau akan aku siapkan," ucap orang tersebut.
Eduardo tidak bisa langsung mengambil keputusan mengingat nyawanya serta Sabrina dan anaknya ada ditangan Sanjay. Hanya dengan satu ketikan jari semua bisa tinggal nama, itulah yang ditakutkan olehnya.
Ia terjaga sepanjang malam memikirkan hal itu.
__ADS_1
"Kala menang sama saja akan berakhir mati, tapi paling tidak aku sudah berusaha menyelamatkan mereka,"
Akhirnya ia mengambil keputusan untuk memberontak.
"Orang seperti Sanjay harus ada yang melawan jika tidak dia akan semena-mena,"
Menyiapkan dengan sempurna dan merencanakan dengan matang dalam waktu seminggu ia berlatih didalam sana.
Braaakk!
Pintu berbahan besi itu langsung jebol oleh kakinya setelah ia menendang hanya satu kali hentakan. Semua penjaga terkejut melihat adegan laga tersebut, Eduardo menghajar anak buah Sanjay satu persatu dan sampai dia di gerbang tengah dengan diiringi bunyi alarm yang sangat keras.
Semua anak buah Sanjay sudah standby dengan senjatanya masing masing.
"Ayo tembak! Kalau kalian menembak saya, kalian semua akan mati!"
Semua ketakutan karena melihat beberapa boom yang melekat pada tubuh Eduardo. Sebenarnya itu boom palsu tapi tidak dengan granat yang ia bawa.
"Dia dapat dari mana?" Tanya anak buah yang menunggu pos 1.
"Mana aku tahu? Paling dia ngambil di gudang," balas temannya.
Eduardo dengan leluasa menembaki anak buah Sanjay satu persatu. Bukan pada jantungnya tapi pada kakinya, ia selalu tepat sasaran mereka yang tertembak mengerang kesakitan.
Dor ... Dor ... Dor ...
Dia menyandera satu orang untuk bisa lepas di gerbang depan, dengan menyandera satu orang yaitu orang yang menolongnya kabur waktu itu dan memberikan semua yang dibutuhkan Eduardo.
"Saya tidak akan pernah lupa kebaikan kamu Eduardo," ungkap orang tersebut.
"Sudahlah menyelamatkan nyawa orang itu sudah tugas kita manusia yang harus saling membantu," ucapnya merendah.
"Tidak berkat kamu kedua anak saya selamat," balas Orang itu.
"Ya, itu sudah takdir saya hanya perantara saja," ungkapnya.
"Aku senang sekali menghirup udara bebas, ternya mudah sekali keluar dar sana. Tidak seperti mimpi-mimpiku, aku selau bermimpi tembak-menembak sama mereka seperti film action, ternyata aku salah mereka lebih takut mati karena boom daripada dengan amukan Sanjay," ujarnya.
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku akan membawa Sabrina kabur dari tempat ini,"
"Kabur kemana?"
"Entah lah,"
Sanjay yang mendengar Eduardo kabur begitu berang mengapa anak buahnya begitu bodoh dan mau saja digertak oleh Eduardo.
"Bodoh kalian semua!" Maki pria sadis itu bahkan ia tak segan menembak mereka satu persatu.
"Percuma saya bayar kalian mahal-mahal tidak tahunya hanya singa bisu, harimau kehilangan taringnya!" Umpatnya sekali lagi.
Pria itu sangat marah besar atas pembuatan anak buahnya, lalu ia memerintahkan anak buahnya untuk mencarinya sebagian dan sebagian lagi menjaga Sabrina. Ia takut jika Eduardo menculik Sabrina.
__ADS_1