Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Mencari tahu si Pembunuh


__ADS_3

Kabar itu pun menjadi viral di media cetak dan elektronik lalu sampailah ketelinga Choi.


"Ciri-ciri fisik  yang disebarkan kepolisian mirip dengan wanita gila itu, dasar wanita telur busuk sungguh licik sekali dia menghabisi nyawa orang demi mendapatkan legalitas dan kembali ke negaranya," ujar Choi.


"Ya, Tuan Choi kami mendapat berita bahwa wanita itu selama ini tinggal di dermaga dekat tempat penyekapan  kita kemarin," ujar anak buah Choi.


"Lalu di mana dia sekarang?" Tanya Choi.


"Sepertinya dia telah kembali ke negaranya setelah menghabisi seorang pemulung yang tinggal di bedeng dekat pelabuhan,"


"Kenapa kamu yakin kalau dia yang menghabisi pemulung itu?" tanya Choi.


"Dari sumber yang saya dapat dia telah memalsukan data, dia menghabisi wanita itu demi merebut paspor dan data pribadinya," ungkap Anak buahnya.


"Benar Tuan, secara data pribadi wanita  tawanan Tuan berada ditangan Tuan. Bagaimana mungkin dia bisa berhasil lolos kembali ke negaranya tanpa memalsukan data atau mencuri dari orang lain. Alibinya hanya satu yaitu menghabisi seseorang demi kembali ke negaranya," ungkap salah seorang anak buahnya.


"Benar juga, wanita licik seperti dia mana mungkin bisa bertahan hidup di negara orang tanpa bekal dan tempat tinggal,"


****


Di tempat Fitri polisi mencari keberadaan Sabrina akan tetapi mereka tidak mengenal nama wanita yang ditolong oleh Fitri. Hanya berbekal sketsa wajah saja, mereka lalu mendatangi kantor kedutaan untuk mencari data wanita yang mirip di sketsa tersebut. Namun, di sana tidak ada yang serupa dengannya.


"Kemungkinannya hanya satu, wanita ini masuk ke sini secara ilegal," ungkap salah seorang petugas.


"Kira-kira siapa yang berpeluang besar membawa wanita itu ke sini?" tanya Polisi.


"Kenichi dan Choi dua orang ini sering membawa budak seperti mereka untuk menjadi wanita penghibur di tempat hiburan miliknya," ungkap petugas tersebut.


"Tapi kata saksi bahwa tubuh wanita itu penuh luka?"


"Mungkin wanita itu dipaksa bekerja di sana, tapi berhubung dia tidak mau maka wanita itu di siksa. Kemungkinannya seperti itu, karena menurut yang saya dengar bahwa mereka tidak segan-segan menghabisi seseorang yang tidak mau menuruti keinginan mereka,"


"Kita putus dari siapa yang membawa wanita itu, yang kita fokuskan adalah siapa pembunuh itu. Masalah dia bawaan Gengster atau Mafia bukan urusan kita, kita harus fokus hanya kasus ini!" ucap Kepala Polisi dengan tegas.


"Kan sudah jelas wanita itu kenapa Inspektur ..." Belum sempat melanjutkan kata-katanya langsung disela oleh Kepala Polisi.


"Nah, justru itu kita sudah tahu pelakunya. Tapi bentuk fisiknya yang belum kita dapat! Sketsa wajah? Masih percaya dengan sketsa wajah? Ayolah dunia ini sudah semakin cangih siapa tahu ketika dia tahu bahwa dirinya buron dia langsung oprasi wajah," tuturnya.


"Wajah boleh dioperasi tapi sidik jari tidak akan mungkin lolos!" Dengan suara bariton seorang pria berperawakan tinggi besar menyela perdepatan dua orang Polisi.


"Cih Anak kemarin sore mengomentari kasus pembunuhan yang dari awal dia tidak tahu," cibir Kepala Polisi.


"Kalian terlalu bodoh! Sudah jelas pelaku dan motivnya kenapa tidak langsung ditangkap?" Balas Pria tersebut.


"Ya, memang pelaku sudah kita kantongi akan tetapi pertanyaan bagaimana cara kita menangkapnya?"

__ADS_1


"Sudah saya bilang dari awal sidik jari,"


"Sidik jari yang mana yang kamu maksud? Kami tidak menemukannya! Wajah yang kita debatkan dari tadi seakan pusss seperti rokok yang kita hisap kita sudah mengengamnya sudah tahu rasanya tapi wujudnya yang tidak ada. Mana mungkin seorang polisi menangkap tersangka hanya karena menerka-nerka wajah. Bukannya apa wajah bisa dibilang mirip dan banyak dimuka bumi ini si A mirip si Z padahal pelaku sebenarnya adalah A tapi Z yang harus menanggung perbuatan si A banyak kasus seperti itu. Lebih tepatnya salah tangkap!" Terang Kepala Polisi.


"Hanya oknum tertentu yang hanya bisa salah tangkap dan perlu dipertanyakan tentang ujian kelulusannya dan nilai akademisnya," ujar Sang Pria.


"Kalau Anda sanggup silahkan Anda tangani! Tapi satu yang perlu Anda tahu tidak mudah menangkap seseorang yang tidak punya identitas. Terlebih dia kemarin dengan cara ilegal! Apa saya harus mencari tahu siapa orang yang membuat dia terdampar di sini? Kasus ini sangat rumit walau kita tahu semua ada digenggaman. Tapi perlu diingat masih ada benang merah yang belum terurai," ujar Kepala Polisi.


"Benang merah yang kusut maksud Anda seperti itu?  Jika tidak ingin kusut sangat mudah, Anda tarik perlahan lalu anda gulung sedikit demi sedikit maka akan Anda dapatkan ujungnya," Pria itu memberikan saran kepada Kepala Polisi.


"Mudah sekali Anda berucap, coba pecahkan teka teki ini!" Perintah Kepala Polisi.


"Dia orang Indonesia, membunuh warga Indonesia juga yang tinggal di sini, lalu mencuri datanya dan kembali ke negaranya. Mengaku bernama Sabrina, dia ditolong korban yang ia habisi karena beberapa luka ditubuhnya, mereka bertemu di suatu tempat? Lalu cerita berkembang karena dia adalah tawanan yang lari dari perdagangan manusia, bukan begitu?"


"Ini sangat simpel kita tinggal cari akarnya dan bertanya tentang wanita itu," sambungnya.


"Bagaimana?" tanya Kepala Polis.


"Masih ada sisa miliknya, jadi sangat mudah jika kita memakai anjing pelacak dan mencari tahu tentang asal muasalnya. Jadi kita bisa tahu siapa tuannya, sangat simple bukan?"


"Metode seperti itu berhasilnya cuma 2 per 3 persen," cibir Kepala Polisi.


"Kalau tidak percaya silahkan dicoba." Pria itu menantang sang Kepala Polisi.


"Choi group? Apa dari sini? Dan apa hubungannya wanita itu dengan Choi?"


tanya Pria tersebut.


"Ada tamu agung rupanya," ujar seorang pria dari balik tumpukan drum karatan.


"Choi?"


"Sang Penggembala rupanya sudah kembali?  Kenapa tidak mengurusi kuda dan ternakmu yang lain? Kenapa lebih tertarik dengan urusanku? Apakah aku semenarik itu ha?" Cecar Choi.


"Pria busuk sepertimu masih saja hidup?" cibir Pria itu yang disebut sebagai Sang Penggembala.


Hanya sebuah kata-kata ejekan yang terlontar dari bibir Choi, yang ia maksud dengan ternak adalah pasukan atau anak buah sedangkan kuda yang dimaksud adalah kendaraan tempur yang ia miliki.  Pria itu adalah orang yang pernah menghancurkan markas Choi dan menyita senjata api rakitan ilegal milik Choi.


"Setelah kamu cacat dibuang oleh satuanmu, dan ini sungguh sangat menyakitkan.  Apakabar manusia setengah robot? Hahahahha ..."


" Mereka tidak membuang diriku tapi berkat keberanianku aku mendapatkan penghargaan walau harus kehilangan sebagian anggota tubuhku," ujarnya.


Namanya Jhon Peter pria beruasia 45 tahun, terkenal dengan kecerdasa dan kecerdikannya. Dia selalu berhasil membongkar kasus besar yang meresahkan sebagian orang. Contohnya adalah kasus dari Choi, yang melegalkan senjata api ditangan anak usia 15 tahun dan sempat meresahkan karena teror pembunuhan di Hamburg. Jhon Peter harus kehilangan satu lengan tangannya karena aksi heroiknya menyelamatkan seorang balita yang terancam nyawanya. Bersamaan dengan kejadian teror senjata api di Hamburg di saat itu pula ada berita tentang aksi boom bunuh diri yang melibatkan balita. Balita tersebut sengaja diumpankan  sebagai tumbal  ditegah pengerebekan markas Choi di pelabuhan.


"Segera kalian grebek tempat itu, untuk anak itu biar aku yang urus," ucap Jhon.

__ADS_1


Dengan kecepatan tinggi ia harus menempuh jarak 200km/ jam. Jhon memantau gerak gerik anak buah Choi sampai perdangan sekitar 3 bulan. Choi yang mengetahui dirinya sedang diincar dan akan diserang ia ternyata selangkah lebih maju. Dewa keberuntungan ada di pihaknya 2 jam sebelum pengerebekan tersebut ia menemukan seorang anak yang sedang depresi lalu ia menawarinya membeli senjata api dengan uang sebesar $30. Awalnya ia menolak karena takut akan dihukum.


"Saya tahu keluarga kamu, kamu benci adik angkat kamu kan? Saya akan bantu menghabisinya,"


"Bagaimana caranya?" Tanya pemuda tersebut.


"Dihabisi dengan cara meledakkannya,"


"Apa? Ini sangat kriminal, saya tidak mau!" Tolaknya tegas.


"Kalau kamu tidak mau bagaimana dengan nasib adik bungsumu?" Choi ternyata telah menculik adik dari pemuda tersebut. Guna mengalihkan perhatian agar markas senjata ilegalnya aman.


"Pilih dua anak itu selamat atau pilih melanjutkan  menyerang markasku? Tapi satu kedua anak itu tidak akan selamat. Dia sudah membantai 8 orang dan waktu diboom balita itu tinggal 15 menit. Tawaran bagus bukan? Mundur dan lepaskan kami atau keselamatan dua orang anak itu?" dengan nada sadis Choi menghubungi Jhon Peter.


"Aku akan tetap dengan tujuanku pengerebekan itu dan menyelamatkan anak-anak itu!" Dengan tegas. Jhon Peter menolak.


"Sepertinya ada penghianat disatuan kita, kalian tetap obrak abrik markas itu dan sita barangnya lalu tangkap siapa saja yang ada di sana!" Pinta Jhon Peter pada Anggotanya.


Choi sangat licik dia hanya memberi 8 peluru di senjata itu. Di sisi lain ia menyiapkan anak buahnya untuk menembak 1 orang lagi dan  terakhir pemuda itu.


"Pemuda itu sudah tewas, sekarang bagaimana kelanjutannya?" Tanya salah seorang Anggota yang memantau tempat dimana penuda itu melakukan teror.


"Aku akan tetap menyelamatkan anak kecil itu!"


"Tapi bahaya, menjinak boom membutuhkan waktu paling tidak 5 menit waktumu sekarang tinggal 4 menit,"


"Aku yakin pasti bisa! Bisa 3 menit selesai."


Dalam  waktu yang terbatas itu Jhon segera menghabisi anak buah Choi satu persatu. Lalu menyelamatkan gadis kecil itu.


5 ... 4 ...


"Go!"


2 ...


Duaaarrr!


Belum sempat ia melempar boom itu tiba-tiba meledak. Boom yang hanya sedikit ledakannya tapi berhasil membuat lengan kokoh itu terluka hingga di amputasi.


"Kenapa diam? Mengingat kejadian lalu?" Cibir Choi.


Bersambung ...


❤️🧡💚💛💙

__ADS_1


__ADS_2