
"Saya tidak mau tahu! Habisi dia dengan cara kalian dan satu hal yang perlu kalian ingat jangan pernah libatkan nama saya dalam kematiannya." Annet mengarahkan para anak buah yang sudah ia bayar untuk tidak melibatkan dirinya.
"Saya yakin kalian akan mampu menghabisi dia dengan mudah dan rapi. Saya akan bayar kalian mahal jika ini berhasil," lanjut Annet.
"Mampus kita, yang kita habisi ini seorang artis yang sedang naik daun. Karyanya dibidang tarik suara dan akting sedang menjadi sorotan, apa jadinya jika dia tiba-tiba mati?" ujar salah seorang pria.
"Lantas kita harus bagaimana lagi ini perintah bos besar jika kita menolak maka tamatlah riwayat kita." Pria kedua sedang mempelajari skedul dari Nike yang ia dapat dari orang terdekat Nike.
Dari jadwal Nike show di kampung halamanya sampai kembali ke kota, dengan kisaran waktu 4 jam perjalanan.
"Dari sini nanti kita ada shooting buat judul film, jadi kamu ada jeda untuk istirahat selama 6 jam." Asistennya membacakan jadwal keseharian Nike.
"Saya bisa enggak senang-senang dulu? Gerah sama padatnya pekerjaan. Sekali-sekali saya butuh hiburan, saya pengen ke diskotik seperti anak muda di jamannya. Ada clubing terus happy-happy, jalan-jalan ke mana-mana tanpa adanya pekerjaan ini, saya bosan seperti ini terus," rengek Nike kepada asistennya.
"Kok sama aku sih? Kan harusnya minta sama manager, bukan sama aku," ucap sang Asisten.
"Ah, sama saja!" Tegas Nike.
"Ya, beda dong Nik. Saya 'kan hanya mendampingi kamu bukan orang yang menyiapkan jadwal kamu," balas sang Asisten.
"Ya udah ah, sama-sama ribet!"
Sesampainya di apartemen yang ia sewa, tidak butuh waktu lama Nike pergi meinggalkan asistennya di sana sendirian sedangkan ia pergi di sebuah diskotik bersama teman-temannya.
Di pelataran parkir ia menyerahkan kunci mobilnya kepada Valet parking.
"Hai semua!" Sapa Nike kepada semua temannya yang ada di sana.
"Hai!" balas mereka.
"Dari luar kota ke sini enggak istirahat dulu?" tanya seseorang.
"Enggak! Lagian aku juga malas di apartemen," ucap Nike kesal.
"Ada apa sih?" tanya salah seorang teman.
"Ya, saya capek aja dengan jadwal yang lumayan banyak ini. Sampai napas saja susah," ungkap Nike.
"Setahu kita, kamu enjoy aja menikmati semua." Orang tersebut duduk mendekati Nike.
"Terpaksa!" tegasnya.
__ADS_1
"Bukannya ini keinginan kamu ya? Jadi terkenal dan bla-bla," ujar seorang.
"Iya, tapi tidak seperti ini seperti sapi perah. Belum bisa menghela napas panjang sudah di suruh pindah alam," ungkap Nike.
"Alam? Alam apa nih?"
"Alam apa ya? Alamat bisa Alamak juga bisa," oceh Nike agak ngelantur.
"Wah, mabuk nih anak," celetuk seseorang.
"He, aku enggak mabuk, masih sadar! Aku cuma minum segelas vodka mana mungkin mabuk!" tegasnya.
Asisten Nike terus menghubunginya namun, tidak ada balasan. Ia sangat khawatir dengan majikannya itu.
" Aduh gimana nih nanti manager marah lagi kalau kerjaan enggak sesuai jadwal," ucapnya.
Nike yang setengah sadar akhirnya menerima panggilan itu.
"Ada apa Tut?" tanya Nike.
"Kamu kapan balik?" tanyanya Astuti.
"Ya, sudah hati-hati dijalan!"
Mengingatkan sang majikan yang kadang suka ceroboh.
Satu jam kemudian Nike keluar dari tempat tersebut, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi 100km tanpa ia sadari ban belakang kempes sehingga mobilnya sedikit oleng sampai terhenti di bahu jalan. Nike yang tipekal mandiri ia langsung menganti ban mobil tersebut.
"Aduh pakai kempes lagi, terpaksa ganti ban sendiri ini. Tapi kok bannya agak kecil ya? Yaudah deh enggak apa-apa yang penting bisa dipakai sementara. Nanti di apartemen nyuru orang buat ganti," ujarnya.
Sesampainya di jalan yang sepi tiba-tiba ada segerombolan motor mengejarnya dan menodongkan sajam serta pistol. Nike yang takut akhirnya melajukan mobilnya lebih cepat ia lupa tentang ban mobil yang besar sebelah hingga menjadikannya sedikit kesulitan berbelok. Di depan jalan sepi itu ada mobil jenis Rubicon melaju kencang lalu demi menghindari mobil tersebut ia membanting setir ke kiri dan menabrak trotoar dan seketika mobil tersebut ringsek, Nike yang tidak suka pakai sabuk pengaman terbentur dengan keras.
Satu jam kemudian beritanya menjadi konsumsi publik, seketika heboh di media elektronik dan media sosial. Ibunya yang mendengar berita kematiannya seakan tak percaya, tapi tetap sang ibu harus mengikhlaskan. Banyak saksi mata yang diwawan carai dengan berbagai macam keterangan. Polisi sibuk mengevakuasi TKP, memeriksa dengan teliti apa ini murni kecelakaan atau sebuah sabotase mengingat ia beberapa hari ini telah ramai menjadi bahan perbincangan.
"Saya lihat Rubicon melaju kencang dia kayak mau nabrak mobil artis ini, seketika mobil artis ini banting setir ke kiri dan menabrak bahu jalan," terang salah seorang saksi.
Salah seorang polisi menaruh curiga pada keluarga Choi yaitu Annette yang sempat ia curi dengar mereka ribut. Merebutkan kawan prianya, keluarga Choi terkenal kejam dan sangat tidak manusiawi. Jangankan seorang artis ternama seorang buruh pabrik yang menyuarakan aspirasinya saja langsung mereka bantai ketika keluarga tersebut disinyalir menjadi dalang korupsi disebuah perusahaan.
"Ini pasti ada hubungannya dengan pak Choi," ucap seorang Polisi.
"Hussstt, kamu diam saja kalau pun benar tidak usah dilanjutkan. Kita berhadapan dengan seorang terkuat dimuka bumi ini," bals sang rekan.
__ADS_1
"Iya, kamu ingat buruh pabrik yang diculik dan mayatnya ditemukan digudang kosong kota sebelah? Itu ada campur tangan keluar Choi. Jadi kita buat laporan saja murni kecelakaan,"
"Kenapa seperti itu?"
"Ya, ini perintah dari atasan ketimbang ribet ini itu,"
Mereka bertiga terus saja berdebat sampi salah seorang dari mereka memberikan penjelasan yang masuk akal. Bahwa ada dalang dibaling kematian Nike, yaitu seseorang telah menyuruh kepolisian untuk menutup kasus tersebut.
Keluarga Nike awalnya sempat tak terima dengan kematian Nike tapi apa mau dikata mereka berurusan dengan keluarga terkuat di negara ini, mau tidak mau mereka harus keep silent karena tidak ingin nyawanya terancam.
Annette yang mendengar berita kematian Nike begitu bahagia ia sangat senang karena saingannya berkurang satu.
"Good job Boy! Kalian benar-benar dapat diandalkan," ucap Annette kepada anak buahnya.
Sementara Shandy sangat kehilangan sosok Nike dan ia tahu bahwa yang menghabisi Nike adalah Annette. Shandy pun mendatangi kediaman Annette dan mempertanyakan mengapa dia menghabisi Nike padahal bukan Nike yang menggodanya tapi Shandy lah yang tertarik dengan Nike.
"Kamu gila Net, kamu menghilangkan nyawa Nike seperti membunuh nyamuk. Kamu sangat tega dia sahabat kamu!"
"Itu semua jarena kamu Shandy! Ya karena kamu! Kamu tahukan kamu itu milik saya? Dan prinsip hidup saya tidak mau berbagi dengan siapapun!"
Shandy dan Annette berdebat karena kejadian itu.
"Kita sudah putus Net,"
"Tidak! Saya tidak terima kamu memutuskan saya demi artis murahan seperti dia," ujar Annette dengan penuh amarah.
Shandy meninggalkan Annette yang sudah sangat mengerikan karena emosi merajai dirinya. Annette yang masih emosional berkunjung ketempat Choi demi mencari hiburan.
"Ada mainan?" Tanya Annette pada Anak Buah Choi.
"Ya, ada budaknya Tuan Choi, sepertinya Tuan sudah bosan. Apa Anda mau?" Tanya Anak Buah Choi.
" Ya, lepaskan dia dan biarkan anjing-anjing ganas itu memangsanya!"
Sabrina masih berkutat dengan anjing-anjing liar kelaparan itu.
"Dasar keluarga gila." umpatnya kesal.
Bersambung ..
💙💛💚🧡❤️
__ADS_1