
Di tengah dirinya yang berantakan dan terluka akibat gigi tajam anjing. Sabrina mencoba bangkit dari rasa sakitnya, ia melihat situasi saat ini yang ia rasa cukup aman. Wanita mengenaskan itu mencoba mengumpulkan tenaganya yang masih tersisa.
"Aku harus bisa, aku pasti bisa." Sambil meraih mantel yang ada di atas meja.
Setelah ia dapat dan mencoba dengan susah payah mengenakannya, akhirnya ia berhasil memakainya.
Dengan tubuh yang penuh luka dan sedikit sempoyongan ia berjalan menyusuri jalan sempit kapal tersebut. Melihat para ABK sedang duduk santai sambil menunggu kedatangan seseorang untuk melakukan transaksi. Ia mengamati dengan seksama dan mencari celah dan cara untuk kabur.
Empat jam lamanya ia menunggu kesempatan itu, tak berselang lama harapan itu pun terwujud lima buah mobil Jeep datang beserta container. Mereka berbaris rapi mengiringi kedatangan seseorang, terlihat jelas seorang berkulit putih turun dari mobil jeep dengan berbisik kepada anak buahnya.
Sabrina yang berada diujung sana memperhatikan mereka dengan seksama, melihat mereka sedang sibuk ia pun mengambil celah dan kabur dari tempat tersebut.
Menahan rasa sakit yang teramat ditubuhnya, ia berusaha berlari kencang dengan sisa tenaga.
'Bruuukk!'
Ia menabrak seorang wanita berbaju serba hitam dan bercadar.
"Sorry!"
"Ya, tidak apa-apa." Sambil mencoba bangkit dari tempat ia terjatuh.
Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk membantu Sabrina.
"Kamu dari Indonesia?" tanya Sabrina.
"Ya, saya dari Indonesia."
"Maaf ya ... Saya tidak sengaja," ungkap Sabrina.
"Ya, tak apa!" Balas perempuan itu singkat.
"Kenalkan nama saya Sabrina." Sabrina mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan wanita itu.
"Saya Fitri," balasnya.
"Fitri, kamu sudah lama di sini?" tanya Sabrina.
"Ya, sudah lumayan lama." Sambil memungut belanjaannya yang terjatuh.
"Saya bantu ya," ucap Sabrina menawarkan diri.
"Tidak usah!" tolak Fitri halus.
__ADS_1
"Kamu ada tempat tinggal?" Lanjutnya bertanya.
"Tidak!"
"Bagaimana jika kamu menginap saja di rumahku, tidak jauh dari sini," Fitri menawarkan bantuan kepada Sabrina saat melihat kondisi wanita malang itu.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Sabrina.
"Tidak! Ayo ikut denganku." Ajak Fitri.
Sabrina pun mengikuti Fitri dan mereka berjalan di gang sempit dekat pelabuhan tersebut. Terkesan sedikit kumuh tapi di sana terkenal dengan tempat pengasingan. Tempat di mana seorang tuna wisma menempati sebuah bedeng.
"Maaf jika tidak sebagus rumah kamu, di sini dihuni beberapa orang dan kita adalah penduduk gelap yang kebanyakan kehilangan identitas. Biasanya kami menunggu bantuan dari KBRI, karena pihak sana sangat terbatas tempatnya kami terpaksa tinggal di sini hampir setiap bulan mereka datang mendata. Entah itu ada orang baru atau menginfokan kami kapan harus kembali ke Indonesia, saya sendiri pasrah di sini tidak hanya kami saja tapi banyak orang di tempat lain ... Harus pasrah menunggu giliran itulah harapan kami semua," jelasnya.
" Berarti kamu sudah lama?" tanya Sabrina.
" Delapan bulan, itu pun kalau kami mau cepat harus bayar. Saya mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dengan kerja sambilan sebagai pencuci piring di restoran dan kadang memulung," lanjut Fitri.
"Bukannya gratis ya? Dan ditanggung negara enggak sih?" tanya Sabrina.
"Ha ... Gratis? Negara? Mana mungkin! Hutang negara kita saja masih banyak mau membawa kembali rakyatnya yang ratusan orang di sini," ucap Fitri.
Fitri dengan tulus menolong Sabrina, ia mengobatinya dan merawat sampai lukanya kering.
"Tidak aku bukan siapa-siapa aku hanya anak seorang tabib," ujarnya.
"Kenapa kamu sampai ke sini Fit?" Tanya Sabrina.
"Aku dijadikan budak oleh suami aku, dia banyak hutang judi dan akhirnya bandar judi itu menghubungi agensi tidak resmi dan aku dibawah kesini dengan ilegal, tempat penampungan kami digerebek aparat setempat dan beberapa diantara kami berhasil kabur dan bersembunyi di sini," ungkap Fitri dengan wajah sangat sedih.
"Suami kamu? Kenapa dia kejam sekali?"
"Awalnya aku tidak menginginkan pernikahan itu tapi baba memintaku menikah dengannya demi melunasi hutang baba. Karena pengobatan baba sepi karena fitnah pesaingnya hingga menumpuk hutang, lalu aku dinikahkan sama orang terkaya ditempatku. Tak lama setelah kami menikah keluarganya bangkrut, suamiku mengadu nasib di meja judi berharap akan mendapatkan keuntungan malah buntung hutangnya mencapai 1500 diamond. 1 diamond sekitar 25 juta rupiah," ucap Fitri.
"Kamu hebat ya bisa bertahan dengan lelaki semacam itu, kalau aku sih enggak bisa seperti itu," ungkapnya.
"Kalau kamu sampai kesini gimana ceritanya?"
"Aku dijual seseorang lalu menikah dengan orang Jepang setelah itu aku dijual lagi ke pada rekan bisnisnya sampai disiksa seperti ini," tutur Sabrina.
Wanita gila itu bersikap manis dan lembut kepada Fitri yang polos dan lugu. Ya mungkin firus rabies relah menjalar ke otaknya hingga menjadikannya menjadi manusia baik tidak seperti zombie.
Tok ...tok
__ADS_1
Suara ketukan berbunyi dari luar pintu.
"Nyonya Fitri?" Tanya seseorang berbaju rapi.
" Ya, saya ... Ada perlu apa ya?" tanya Fitri.
"Ini ada pemberitahuan dari Kedutaan RI, bahwa paspor Anda telah selesai jadi Anda bisa pulang ke Indonesia dalam waktu satu minggu lagi," ujar sang petugas.
"Masha Allah, Allahuakbar ... Alhamdulillah ya Allah, engkau penyelamatan hambamu," ucap Fitri tak hentinya bersyukur.
"Silahkan tanda tangani berkas ini agar cepat diproses dan Anda bisa kembali ke negara Anda!" Perintah petugas tersebut sambil menunjukkan beberapa tempat untuk ditandatangani.
"Siapa dia Fit?" Tanya Sabrina.
"Dia orang kedutaan,"
"Owh,"
"Aku menunggu delapan bulan lebih agar aku bisa
pulang ke Indonesia. Alhamdulillahnya diijabah sama Allah Sab," ucap Fitri dengan wajah gembira.
"Wah selamat ya, Fit ... Btw aku juga bisa enggak ikut pulang? Berapun akan aku bayar," ucap Sabrina.
"Kamu yakin dengan mudah bisa lolos?" Tanya Fitri.
"Maksud kamu apa Fit?" tanya Sabrina.
"Melihat keadaan kamu saat itu, sepertinya orang yang nyekap kamu bukanlah orang yang sembarangan. Takutnya banyak mata-mata mereka yang ada di sana," ungkap Fitri dengan sangat hati-hati, menginggat kali pertama bertemu Sabrina.
"Maaf ya Sab, bukan maksud aku menyinggung kamu. Selama aku merawat kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dari badan luar sampai keorgan sensitif kamu sepertinya tidak baik-baik saja,"
"Aku menemukan banyak kejanggalan dari kamu apalagi organ kewanitaan kamu," ujar Fitri.
"Oke, aku akan jujur sama kamu Fit. Aku dijadikan wanita malam dan wanita pemuas napsu para rekan bisnis suami kontrak aku. Dia adalah seorang mafia kejam di Jepang bernama Kenichi lalu aku di oper lagi kepada rekannya bernama Choi sampailah aku ke kota ini," ungkap Sabrina
"Terlebih lagi mereka menjadikan aku sebagai bahan konten dewasa, kamu tahu kemapa tubuh ku banyak luka-luka? Mereka menjadikan aku sebagai umpan anjing liar yang terkenal ganas," lanjut Sabrina.
Di mata Fitri seorang Sabrina adalah wanita malang tapi ia tidak tahu seberapa bahanya seorang Sabrina. Bahkan seekor predator sekalipun tidak akan sekejam dirinya. Hatinya lebih jahat dari iblis dan lebih kejam dari malaikat pencabut nyawa.
Bersambung ...
❤️🧡💚💛💙
__ADS_1