
Denny dan Evanders bertemu ditempat biasa, mereka membicarakan tentang Sabrina.
"Gila sih kamu sampek segitunya mainin anak orang," ucap Evanders.
"Aku hanya ingin menundukkan kesombongannya," ucap Denny.
"Bukannya dia sedikit mulai manis?" ucap Evanders.
"Iya sih, tapi saya sudah terlanjur greget sama dia, masa dua kali ketemu bikin sakit hati terlebih pas di restauran saya. Kamu tahu dia injak kaki saya sampek sakit," Denny menceritakan kronologi kenapa dia sampai seperti itu.
"Tapi nggak gitu juga kali anak orang di embat," Evanders agak sedkit kesal sama Denny.
"Sudah lah, jangan merusak mood saya kamu! Saya lagi bahagia banget nih. Bisa menikmati dia dua kali," Denny dengan bangga bicara seperti itu tanpa rasa malu.
"Nggak punya hati Anda," ucap Evanders sedikit ketus.
Sedangkan Sabrina sendiri sedikit ragu akan kerjasamanya dengan Denny setelah perbuatannya kemarin.
"Sab, bagaimana dengan salon kecantikan kamu jadi? Sudah berapa persen?" tanya Anggun.
"Nggak tahu lah males kayaknya aku!" tegasnya.
"Males kenapa Sab?" Anggun melihat Sabrina sedikit lesu.
"Dia sudah melecehkan aku!" dengan suara lemas Sabrina memberi tahu hal itu pada Anggun.
"Apa? Gila itu orang," Anggun hampir tak percaya.
"Ya, dia kerjasama sama Evanders menjebak aku," Sabrina menceritakan kronologi kejadian tersebut dari Evanders yang merekomendasikan Denny sampai dua kali Denny menggagahinya.
"Dasar bencong pantes saja nggak ada perempuan yang mau sama dia ternyata kelakuannya busuk," maki Anggun.
"Aku sendiri nyesel ... Ternyata dia melakukan itu karena ada rasa dendam sama aku," ungkap Sabrina.
"Haa, Dendam?" Anggun terkejut dengan kata-kata Sabrina.
"Iya Denny itu sakit hati sama aku semenjak pertemuan pertama dan kedua," ungkap Sabrina.
"Segitunya dia," ucap Anggun.
Sabrina terlihat sangat depresi sekali.
"Dengar-dengar orang tua dia dibunuh," Anggun memberikan sedikit informasi kepada Sabrina.
"Apa? Dibunuh? Sama siapa?" Tanya Sabrina.
__ADS_1
"Lah itu dia, mereka menemukan jalan buntu. Pokoknya kasusnya pelik gitu deh," ujar Anggun.
"Apa papanya dia orang penting atau orang jahat?" tanya Sabrina.
"Nggak tahu juga," Anggun menutup pembicaraan tersebut.
Di tempat lain Sanjay tersenyum licik penuh dengan kemenangan.
"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Leora.
"Ada orang bodoh mencoba mencari tahu kebenaran kematian seseorang," Sanjay menjelaskan pada Leora apa yang membuatnya tersenyum.
"Apa hubungannya sama kamu?" tanya Leora.
"Aku yang melakukannya," balas Sanjay.
"Atas dasar apa?" tanya Leora lagi dia sedikit tidak paham.
"Dia pantas mati! Kamu tahu kenapa? Karena dia yang membunuh Ibuku," ungkap sanjay.
"Membunuh Ibu?" Leora masih tidak mengerti.
Lalu Sanjay menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.
"Ibunya saya dinodai majikannya setelah itu hamil lalu disiksa dan dibuang, setelah dia tahu Ibu Saya masih hidup dia mencari keberadaannya setelah itu satu desa dia bunuh."
"Ya, dia memakai alibi kebakaran hutan, mengerikan bukan?" Sanjay dengan mata berkaca-kaca membayangkan kejadian itu.
"Sebelum dia meninggal aku siksa dia seperti dia menyiksa ibuku, aku nggak peduli walau dia bapakku," ucap Sanjay.
"Kenapa dia tega seperti itu?" tanya Leora.
"Dia frustasi karena perceraiannya dengan istrinya dan istrinya pergi membawa anaknya," ucap Sanjay.
"Apa orang itu tidak tahu jika kamu sudah dilahirkan?" tanya Leora.
"Kuasa Tuhan, Tuhan melindungi aku dari perbuatan orang jahat seperti Jayadi dan mengizinkan aku untuk membalas dendam atas perbuatannya di masa lalu," tutur Sanjay.
"Apa kamu tidak takut jika anaknya tahu kalau kamu yang membunuh orang tuanya?" tanya Leora.
"Buktinya dia menemukan jalan buntu," ungkap Sanjay.
"Kamu terlalu hebat sayang, aku bangga sama kamu." Leora memilik Sanjay dari belakang.
Sanjay mencari tahu tentang Denny dan latar belakangnya, ternyata sama saja dengan Bapaknya. Rumah tangga Denny hancur bedanya anaknya diasuh oleh Denny. Sanjay terus memata-matai Denny mulai dari pergi beraktivitas sampai kembali kerumahnya, bahkan Sanjay menaruh orang kepercayaannya untuk bekerja di rumah, restauran dan tempat gymnya. Denny tidak mengetahui tentang penyamaran itu, mereka bekerja sangat profesional dengan alat komunikasi tercanggih mereka berhubungan dan memberikan info satu sama lain.
__ADS_1
"Denny keluar,"
"Denny ke restauran,"
"Denny ke tempat Gym,"
"Denny pulang,"
Itulah kata-kata yang selalu terucap. Mereka tidak menggunakan kode khusus atau isyarat, mereka hanya berbicara seperti orang biasa hanya saja menggunakan suara perut. Itulah keahlian anak buah Sanjay yang telah terlatih. Anak Denny juga tidak lepas dari pantauan, mereka selalu mengawasi, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.
"Denny sekarang dekat dengan siapa?" tanya Sanjay.
"Terakhir kami lihat dia bersama seorang model terkenal bernama Sabrina," ungkap Anak Buah Sanjay.
"Saya mengenal Sabrina," ucap Sanjay.
"Denny telah menodai Sabrina, kami ingin mencegahnya tapi itu bukan kuasa kami dan anda tidak memerintahkannya, waktu itu kami mengirimkan pesan kepada anda tapi hanya anda baca, maka dari itu kami tidak bertindak."
"Bagus itu memang rencana saya, agar apa? Agar Sabrina menaruh dendam pada Denny dan kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan Denny," ungkap Sanjay.
"Bagaimana kelanjutannya Tuan?" tanya salah satu Anak Buahnya.
"Biarkan saja dulu, kalian tunggu perintah saya, sementara itu saya akan menghasut Sabrina untuk menghancurkan Sanjay." Sanjay lalu pergi meninggalkan mereka.
Sanjay menyusun rencana untuk menghancurkan Denny lewat Sabrina. Sanjay menemui Sabrina, dan membicarakan hal itu. Sabrina bertanya kepada Sanjay mengapa dia tahu apa yang terjadi padanya, seingat Sabrina dia hanya bercerita pada Anggun.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Saya tahu semua, jika kamu mau mari kita bekerja sama,"ucap Sanjay.
"Boleh jelaskan kenapa kamu menaruh dendam dengan Denny?" tanya Sabrina.
"Kamu tidak perlu tahu, yang perlu kamu tahu kita punya tujuan yang searah, yang sama kita sama-sama dirugikan dan disakiti," Sanjay merahasiakan tentang kebenciannya dengan Denny.
Namun Sabrina tidak mau ambil pusing yang penting ada orang yang mau diajaknya kerjasama untuk menghancurkan Denny,
Sabrina benar-benar tertutup oleh rasa sakit hatinya kepada Denny.
"Baiklah saya setuju dengan Anda,"
Mereka pun bekerjasama, dan Sanjaylah yang menjadi investor di salonnya. Denny tidak tahu kalau Sanjay menjadi investor pada salon Sabrina. Sabrina tidak ingin menemui Denny karena dia sedikit takut akan terulangnya kejadian itu lagi.
"Kalian yang atur dan temui Tuan Denny, jika dia bertanya pada kalian bilang saja saya pergi keluar kota," perintah Sabrina pada Manager dan Asistennya.
Sabrina dan Sanjay serta Leora pergi keluar kota guna menyusun rencana. Denny yang tidak percaya dengan kepergian Sabrina ia mencarinya ke apartemen dan tempat kerjanya namun nihil dia tidak menemukan Sabrina.
__ADS_1
Bersambung...