
Mr. Khai berubah pikiran, ia pun melepas Eduardo anak buah kesayangannya. Dan memberikan sebuah kata-kata yang membuat Eduardo sedikit bergidik ngeri.
“Apa kamu sanggup menjaga putri saya satu-satunya?” tanya Mr. Khai.
“Ya, saya sanggup! Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan putri Anda,” ungkapnya.
“Keluar kamu! Sebelum saya berubah pikiran!” Mr. Khai meminta Eduardo utuk pergi dari hadapannya.
Eduardo akhirnya pergi dengan sisa tenaga yang ia punya, ternyata ia sempat disiksa oleh papa Sabrina. Melihat beberapa luka lebam diwajahnya, pria itu segera mendatangi kediaman kekasihnya.
Tok ...tok tok
Ketukan pintu itu mengagetkan Sabrina, saat itu dia sedang di dapur membuat susu hamil.
“Siapa sih malam-malam ngetuk pintu keras banget?” ucapnya sambil menuju pintu tersebut.
Ceklak
Sabrina membuka pintu, tanpa aba-aba tubuh kekar itu menjatuhkan diri ke bahu wanita hamil itu.
"Eduardo?"
Sabrina segera memapah tubuh lemah Eduardo ke dalam dan membaringkannya ke sova ruang tamu.
"Sayang, maafkan aku!" ucapnya lirih.
Sabrina menatap lekat pria dihadapannya itu. Betapa terkejutnya ia denga luka lebam didekat bibir dan pelipisnya.
"Kamu kenapa? Kamu kemana saja tiga bulan ini? Aku sampai putus asa! Untung ada Suci yang memberika unlimited black card itu," ungkap Sabrina dengan wajah penuh tanya sekaligus sedih.
Ia segera mengambil kotak obat yang ada di ruang tengah dan mengobati luka Eduardo.
Tiba-tiba Suci datang dari arah kamarnya dan bertanya.
“Kamu kenapa Sab? Kenapa buka kotak obat?”
“Ada Eduardo di depan, dia luka-luka. Aku mau obatin dia sama kompres lukanya." Sembari membuka freezer untuk mengambil beberapa es batu dan diletakkan diwadah kecil.
"Dia gila kali ya? Atau terlalu ngayal?" Batin Suci.
Suci yang tak percaya dengan ucapan Sabrina segera mengecek kebenaran itu, ternyata benar pria yang di maksud ada dihadapannya.
"Eduardo?!"
"Kamu dari mana saja?" Cecar Suci.
__ADS_1
"Aku habis di sekap sama Mr. Khai, gara-gara aku minta restu sama beliau dan menceritakan kalau Sabrina hamil. Alhasil beliau tidak terima aku disekap dan dihajarnya, nalah aku aempat cerita tentang siapa yang pwrtama mwrusak anaknya. Kamu tahu apa aku dituduh memfitnahnya," ungkap Eduardo dengan suara lirih karena takut terdengar oleh Sabrina.
"Oh, jadi itu alasan kenapa kamu menghilang selama ini?" tanya Suci.
"Iya!"
"Terus bagaimana kamu bisa sampai ke sini kamu kabur?"
"Enggak, entah mengapa tiba-tiba ia berubah pikiran dan membiarkan aku pergi" ungkap Eduardo.
Sabrina membawah batu es dan handuk kecil untuk mengompres dan membersihkan luka Eduardo.
"Kamu selama ini kemana?"
"Aku disekap seseorang," ungkap Eduardo.
"Kok bisa?" Sabrina bertanya dengan ekspresi tidak percaya. Matanya menyiratkan ketidak percayaan orang seperti Eduardo bisa babak belur.
"Dia adalah kanan kananan mafia terbesar di kota ini, jadi bisa saja selama dia mau." Menatap dalam Sabrina dan mengengamnya erat.
"Kenapa kamu harus berurusan sama mereka sih?" tanyanya Sabrina.
"Aku bagian dari mereka!" Dengan tegas Eduardo mengucapkannya.
"Apa? Kamu bagian dari mereka? Please kamu keluar dari lingkaran setan aku enggak mau kalau suatu saat kejadian apa-apa sama kamu." Sabrina mengegamerat tangan itu.
"Aku takut kehilangan kamu, aku takut kalau aku tidak baik-baik saja tanpa kamu, walau tiga bulan ini kita sempat terpisah tapi aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali," Sabrina benar-benar bicara tanpa henti, dia benar takut kehilangan Eduardo.
Dia tahu pasti siapa Sanjay pria kejam yang tak berhati.
"Kita akan segera menikah secepatnya," ucap Eduardo.
"Lebih baik kamu sehat dulu, tidak usah memikirkan itu," balas Sabrina.
"Enggak bisa! Aku harus nikahi kamu agar tidak ada lagi orang yang jahat sama kamu," dengan tegas Eduardo meminta akan segera menikahi Sabrina.
Seminggu kemudian mereka menyiapkan hari pernikahan mereka, mereka menikah di KUA. Karena menurut mereka itu lebih simpel dan tidak ribet. Untuk tamu mereka hanya memesan makanan catering dan kue mereka pesan di toko Bakrie terdekat.
"Kamu mau enggak sebagai pendampingnya kamu Mr. Khai?" Tanya Sabrina.
"Ya, aku mau," balasnya, wanita itu sangat bahagia mendengar nama Mr. Khai karena nama dan postur tubuh serta wanginya mirip dengan papanya.
Seminggu sebelum hari pernikahan Eduardo mengajak Sabrina makan malam romantis disebuah tempat yang didesain sangat indah oleh Eduardo.
Sebuah restauran pinggir pantai dan dihiasi beberapa lampu hias yang sangat indah. Begitu juga dengan bunga-bunga yang cantik.
__ADS_1
"Didepan semua orang, aku mau mereka tahu dan menjadi saksi cinta kita. Sabrina Khairunnisa ... Maukah kau menikah denganku? Menjadi ibu dari anak-anakku?" Eduardo berlutut dihadpan Sabrina memintanya menjadi istrinya.
Sabrina tersenyum manis dengan pria yang selama ini ia tunggu. Seakan tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya, seorang pria baik yang bersedia mengorbankan nyawanya demi menjaganya.
"Iya, aku mau!" Balas Sabrina.
Semua orang yang menyaksikan mereka bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada kedua muda-mudi tersebut.
Kehebohan mereka menatik emosi seseorang. Seorang pria yang sedari tadi memandanginya, seakan tak rela jika peliharaanya bahagia.
"Sialan! Kenapa mereka bisa bersama?" Deciknya kesal.
"Apa perlu kita habisi mereka?" Tanya seseorang.
"Tidak! Ini urusan saya bukan urusan kalian!" Tegasnya.
Sanjay adalah pria itu, pria bajingan yang menghancurkan masa depan Sabrina dan membuat dia menjadi wanita hina.
"Aku masih ingat dengan penolakanmu dulu, penolakan yang membuatku sakit hati."
Sabrina dulu setelah ditolong oleh Sanjay ia diberi 2 pilihan. Mau jadi simpanan tanpa dinikahi atau menjadi perempuan hole.
"Mau jadi maduku tanpa aku nikahi atau jadi perempuannya hole?" Tawar Sanjay.
"Kamu dasar muka dua disisi lain kamu menginginkan maduku, tapi disisi lain kamu mengejar Leora dan bucin terhadap perempuan itu. Lalu apa tujuanmu menjadikan aku sebagai madumu kalau sama saja jika aku tinggal di hole?"
“ Tentu saja kamu akan aku istimewahkan,”
"Istimewah katamu? Tapi sama saja nyawaku yang menjadi taruhannya, Leora sekarang berteman dengan wanita sinting itu. Maka pasti dengan mudah mereka akan menghabisiku, dari pada aku mati ditangan wanita sinting itu lebih baik aku tinggal di hole," ungkapnya.
***
Sabrina kini menemukan kebahagiaannya akan tetapi orang disekitarnya seakan tak rela melihat kebahagiaan itu. Mereka berpendapat bahwa dia tidak pantas bahagia.
"Ingin rasanya aku membunuh anak buah sialan itu! Bukankah dia tahu dan sangat-sangat tahu Sabrina adalah wanita peliharaanku, dia harus selalu berada dibawah kakiku," umpatnya kesal memandangi kebahagiaan dua insan tersebut.
Setelah melamar Sabrina, Eduardo mengajaknya pergi ke butik dan memintanya memilih gaun pengantin.
"Saya mau calon istri saya terlihat cantik, pilihkan gaun terbaik di sini. Dan yang pas buat wanita hamil tapi tidak terlihat hamil," pinta Eduardo.
"Baik, kami akan memilihkan yang paling bagus." Mereka mencarikan gaun berwarna peach dengan bentuk ball gown.
"Bagaimana jika Ball Gown ini sangat pas karena menutupi perut buncit," ucap pemilik toko.
"Boleh juga, seperti princess dan terlihat sangat unik," ungkap Eduardo.
__ADS_1
Setelah memilih gaun lalu mereka pergi ke toko perhiasan untuk membeli satu set perhiasan. Setelah itu Eduardo mengantar Sabrina pulang dan mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan untuk minggu depan