Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Orang yang aneh


__ADS_3

    Hari ini Sabrina harus bertemu dengan seseorang untuk membicarakan Proyek kerjasama untuk menjadi bintang tamu di salah satu karya desainer terkenal.


    "Sab, jangan lupa nanti ada pertemuan  membahas konsep buat launching baju karya Evanders, di Restauran Royal," ucap Managernya yang bernama Agnes.


    "Oke, nanti pukul berapa?" balas Sabrina.


    "Pukul sepuluh tepat." Agnes memberikan selembar golden tiket yang bertuliskan VVIP.


     Royal Restauran adalah Restauran terelite di LV, dan banyak sekali orang yang menyukai makanan di sana, jika ingin memboking tempat sekelas VVIP harus dua bulan sebelumnya. Untuk kelas Bisnis harus lima belas jam sebelum acara. Kalau untuk ekonomi sekitar lima sampai delapan jam. Restauran tersebut memperkerjakan seorang Chef dari Jepang dan Australia.


    Banyak orang mengidamkan berada di sana walau tidak makan hanya berfoto pun mereka sudah senang. Royal Restauran adalah milik dari Denny Triyadi. Denny Triyadi saudara se-ayah dengan Sanjay namun mereka tidak pernah tahu satu sama lain.


   Pukul sepuluh tepat Sabrina telah sampai di tempat tersebut. Lagi-lagi mood paginya di ganggu oleh hadirnya manusia yang membuatnya sebal beberapa waktu lalu, mereka bertabrakan. Denny yang selalu setiap pagi pergi ke tempat Gym miliknya yang berhadapan dengan Restorannya, setelah dia nge-gym dia selalu menuju Restauran tersebut dan mandi dikantornya, Denny jarang sekali pulang ke rumah selain weekend. Dengan tubuh yang di penuhi keringat dia berlari menuju lobi Restauran untuk mengambil baju laundry yang sudah ia kirim beberapa hari lalu. Ketika dia mengambil bajunya dia tidak sengaja menyenggol Sabrina yang akan bertanya ke meja resepsionis.


Bruugghhh ...


   "Eh kamu punya mata nggak sih?" ucap Sabrina.


   "He kamu lagi? Kenapa sih kamu ada di mana-mana," Denny begitu kesal melihat Sabrina yang wajahnya jutek.


   "PD banget Anda, emang saya mengikuti anda? Ogah banget," balas Sabrina ketus.


    "Lah ini? Kalau nggak ngikutin saya apa dong namanya?" Denny sedikit nyolot.


   "Saya di sini mau ketemu sama orang VVIP," Sabrina sedikit kesal dengan pria yang ada dihadapannya.


   "Owh, okelah sana pergi, dari pada saya sepet lihat muka Anda," dengan senyum yang sedikit meremehkan Sabrina.


    "Ngapain juga menanggapi orang kaya kamu,nggak waras!" Sabrina pergi meninggalkan Denny dan menyerahkan undangan ke Karyawan Restauran itu.


    Pegawai Restauran itu mengantarnya ke ruangan tersebut.


   "Tolong deh orang dekil kaya dia jangan di suruh masuk kenapa?! Buat mata penat aja mana nyebelin lagi," oceh Sabrina.


   "Sudah biasa," balas Karyawan Restauran tersebut.


   "Apa? Biasa? Nggak salah? Restauran seelite ini memperbolehkan orang seperti dia masuk?" Sabrina sedikit heran namun Karyawan Restauran itu hanya tersenyum.


   "Mari Nona ini tempatnya silahkan masuk!" Karyawan Restauran itu mempersilahkan Sabrina masuk dan membuka pintu tersebut.


   Semua orang sudah ada di sana dari Evanders sang Desainer, Ryu Photo grapher, dan beberapa orang.


   "Terima kasih sudah mengundang saya di launching produknya,"ucap Sabrina pada Evanders.


   "Saya juga berterima kasih atas kesediaan Nona Sabrina ikut serta dalam acara ini,"ucap Evanders.


   "Kita menunggu siapa sih?" tanya Ryu.

__ADS_1


   "Investor kita, yang memberi sponsor juga buat acara besok," balas Evanders.


   "Owh!" balas Ryu.


    Beberapa saat kemudian ada bunyi pintu yang diketuk.


Toktok ... Tok


    "Masuk!" Evanders mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk.


    Betapa saling terkejutnya Denny dan Sabrina melihat  orang yang mengajaknya ribut  berada dalam satu ruangan dan bersebelahan pula.


     "Perkenalkan ini adalah Denny Triyadi dan ini adalah Investor sekaligus sponsor di perusahaan saya yang akan louncing besok bajunya, Azura Colection.di sebelah anda ada Sabrina  salah satu model kita yang akan menjadi Ambassador, Ryu photo grapher," Evanders mengenalkan mereka satu persatu.


   "Sialan kenapa sih aku harus sebelahan sama orang aneh ini, pengen aku injak rasanya," batin Sabrina.


    "Ngapain sih ini Nenek Lampir mukanya kenceng banget apa habis di botox?," batin Denny.


   Sabrina terlihat sebal  karena menahan emosi, sedangkan Denny sangat tidak nyaman dekat dengan Sabrina yang wajahnya sangat kencang sekencang Zombie.Menuntut rasa profesional mereka pun harus sebisa mungkin profesional dan menyimak penjelas tatanan acara seminggu lagi. Tiga jam sudah berlalu akhirnya rapat itu selesai dan semua sudah permisi pulang, Sabrina sengaja menginjak kaki Denny dengan high heelsnya.


   "Aaawwwwhhh!" pekik Denny.


    "Ada apa ya?" Sabrina sok polos.


   "Kaki saya kau injak!" ucap Denny.


    "Kamu mau balas dendam? Ngomong kalau mau balas dendam ngak usah diam-diam kayak gini," Denny benar-benar kesal di buat Sabrina, karena kakinya sangat sakit.


  "Siapa saya? Mau balas dendam? Emang kita kenal ya? Enggakan ya, jadi ya sudah nggak usah di panjangin dan nggak usah ribet!" Sabrina meninggalkan Denny.


   Denny menarik Sabrina hingga iya jatuh ke pelukannya.


   "Ngapain sih ah," ucap Sabrina.


   "Minta maaf nggak?" ujar Denny.


   "Ogah ngapain saya minta maaf sedangkan kamu sendiri sudah dua kali nabrak saya? Impaskan? Jadi lepaskan saya kecuali kalau kamu mau berbuat mesum,"  ketusnya.


   "Siapa yang mau mesum sama perempuan kayak kamu?"


   "Perempuan ? Perempuan seperti apa saya?" Sabrina sedikit kesal dan matanya melotot tajam.


    "Perempuan jadi-jadian, liat make up kamu itu tebal banget sudah seperti boneka yang ada di Squid game!" balas Denny kesal.


    "Percuma ngomong sama orang aneh, buang-buang waktu saja!" Sabrina meninggalkan Denny.


    Sesampainya di Apartemennya Manager Sabrina bernama Agnes bertanya.

__ADS_1


   "Ada apa?"


   "Ada orang nggak waras, bikin mood aku berantakan hari ini," ucapnya kesal.


   "Perempuan apa laki-laki?" tanya Agnes.


    "Laki-laki!" balas Sabrina.


   "Awas jatuh cinta kalau sebel-sebel gitu kata orang sih gitu," ledek Agnes.


   "Nggak mungkin," balas Sabrina.


   "Kamu kok nggak kayak model lainnya sih mereka lebih suka menjadi Sugar Baby ketimbang capek-capek kerja," Agnes begitu aneh melihat Sabrina yang tidak pernah suka atau dekat dengan pria mana pun.


   "Males!" balas Sabrina singkat.


   "Kamu normalkan?" tanya Agnes.


   "Kamu pikir? Kalau aku nggak normal kamu sudah aku pacari" Sabrina melempar bantal ke wajah Agnes.


    "Habis selama aku bekerja sama kamu, nggak pernah aku melihat kamu dianter jemput pria, terus gitu selalu sendiri. Kamu jangan terlalu berpatokan tinggi dengan lawan jenis!" Seru Agnes dari dalam kamar.


   "Bukan itu, aku nyari yang bisa buat aku nyaman yang mau terima aku apa adanya, jarang ada orang yang seperti itu apa lagi yang mengeri aku banget!" ucap Sabrina.


   "Banyak klien pengusaha kaya kenapa nggak coba deketin?" tanya Agnes.


   "Aku nggak mau hanya jadi peliharaan, aku maunya di nikahin, rugi dong kalau lakinya kaya kita cuma dijadikan simpanan,tanpa adanya ikatan pernikahan, emang kita baju, disimpan di lemari terus dipakai lalu dibuang! Aku nggak mau seperti itu," ucap Sabrina.


   "Ya kita lihat saja nanti, apakah benar firasatku?" ledek Agnes sambil tertawa.


  "Firasat apa?" tanya Sabrina.


    "Kalau kamu akan terjerat cinta si Denny itu," ujar Agnes.


    "Ngawur kamu, mungkin dia sudah berkeluarga,"


    "Kata siapa di LV ini semua pria sukses jarang berkeluarga." Agnes sedikit berspekulasi.


   "Terus saja berharap akan sesuatu, aku ini tidak mudah jatu cinta, apalagi dengan pria macam dia!" tegasnya.


    "Oke catat kalau kamu sampai jatuh cinta sama si Denny itu,tiga tas Buaya kamu buat aku! Deal," ujar Agnes.


   "Deal," balas Sabrina.


Bersambung ...


💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2