Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Kembalinya Khairul


__ADS_3

  Setelah dari luar kota Khairul terkejut melihat keadaan rumahnya yang ada garis polisi dan hangus bekas kebakaran, Khairul menghubungi handphone milik Istrinya namun tak ada jawaban.


   “Pak … Pak Khairul!” seru seseorang. Khairul menoleh ternyata Pak RT.


    “Pak RT, apa yang terjadi dengan rumah saya?” tanya Khairul.


  “Banyak yang terjadi Pak setelah Bapak pergi, mulai dari mertua Anda yang terbunuh sampai Istri anda  yang meningal hangus terbakar,” ujarnya.


  “Apa? Kenapa tidak ada yang menghubungi saya?” tanya Khairul.


   “Kami sudah mencoba menghubungi anda berkali-kali namun  tidak ada jawaban,” ungkap Pak Rt.


   “Oh, mungkin daerah itu susah sinyal, jadi tidak ada yang bisa menghubungi saya!” ucap Khairul.


   “Lebih baik untuk keterangan yang lebih lanjut silahkan hubungi kantor polisi!” pinta Pak Rt.


   Khairul mendatangi kantor polisi yang tak jauh dari perumahan tersebut dan bertanya tentang kronologi terjadinya kematian Istrinya tersebut. Polisi  memberikan keterangan yang sangat mengagetkan. Dalam jasat itu ternyata ada beberapa luka.


  “Ada beberapa luka tusukan di kaki istri anda, dan rumah tersebut sepertinya dibakar dari luar,” ungkap Polisi.


  “Apakah ada unsur pencurian?” tanya Khairul.


   “Tidak, barang berharga istri anda seperti perhiasan masih utuh di brankas, kami rasa ini adalah unsur atau motif balas dendam!” jelas Polisi.


   “Tapi istri saya tidak punya musuh, dan bagai mana dengan mertua saya?” tanya Khairul.


   “Sama, kami menemukan jalan buntu, kami tidak berani berspekulasi tentang semua ini, tapi kami rasa pembunuhnya orang yang sama, sama-sama misterius dan tidak terlalu banyak meninggalkan jejak,” ucap Polisi.


    Setelah dari kantor polisi Khairul menemui Sabrina di tempat kosnya, dan bertanya perihal kejadian tersebut.


  “Papa … Mama ninggalin kita Pa,Saby sedih Pa,” ucap Sabrina dengan wajah sedih.


  “Sudah sayang! Masih ada Papa, kamu yang sabar ya, yang kuat!” ucap Khairul.


   Khairul tidak menaruh kecurigaan terhadap Sabrina, karena selama ini yang tahu penyakitnya Sabrina hanya Anissa. Khairul penasaran dengan kematian istrinya yang mendadak. Dia mencari tahu ke semua tetangga namun tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut karena perumahan itu sangat sepi dan jarang orang berlalu lalang di siang hari.


   “Bagaimana jika aku bertanya sama tukang ojek mereka kan selalu mangkal di sini?”  pikirnya.

__ADS_1


   Khairul menemui para tukang ojek dan didapatinya Pak Asep, Pak Asep kelihatan ketakutan dan dia tidak ingin terlibat terlalu dalam.


   “Maaf  Bapak-bapak saya mau tanya, apakah diantara kalian ada yang tahu tentang kronologi rumah saya?” tanya Khairul.


   “Maaf Pak kami tidak tahu,” ucap Tukang ojek satunya.


   “Saya engak berani ngomong Pak, takut salah ngomong,” ucap Asep ketakutan.


   “Memang kenapa? Apa anda menyembunyikan sesuatu atau mengetahui sesuatu?” tanya Khairul.


  “Tidak Pak!” balas Asep.


    Asep mengingat apa yang dikatakan Angela dan Sumi perihal Sabrina yang Psikopat, Asep tidak mau menambah runyam kehidupannya sedangkan dia masih punya anak dan istri di kampung. Jika dia tewas siapa yang akan menjamin hidup anak dan istrinya. Khairul terlihat begitu terpukul melihat rumahnya yang berantakan dan  kayu-kayu roboh  dan berjatuhan bekas insiden tersebut.Dia menyuruh orang untuk membersihkan rumahnya, dia memutuskan untuk menginap di hotel untuk beberapa hari. Asep menemui Sumi di rumah Angela, dan memberitahukan tentang kepulangan Khairul.


   “Sum, Tuan kamu sudah pulang dan bertanya tentang kematian istrinya,” ucap Asep.


  “Terus kamu ngomong apa?” tanya Sumi.


   “Ya, aku ngak ngomong apa-apa takut kalau Sabrina itu mengintai aku dan  membunuh aku kan kasihan anak dan istriku di kampung,” ucap Asep.


   “Kamu kesini tadi ada yang ngikutin engak?” tanya Sumi.


   “Wah, Pak asep pinter sudah bisa gabung dong sama saya jadi tukang menguntit.” Angela tersenyum mendengar kata-kata Asep dan menyahutnya dari luar pintu rumahnya.


   “Eh, Non Angela! Jadi malu saya,” ucap Asep.


   “Yang penting bapak hati-hati saja jangan sampai Sabrina mengetahui ini semua,” ucap Angela.


  “Bagaimana pengembangan di kantor polisi La?” tanya Sumi.


  “Kita terkendala Saksi dan barang bukti yang sangat minim,” ucap Angela.


  “Kenapa sih Sabrina itu gak di tangkap saja?”  ucap Sumi.


  “Engak semudah itu menangkap seorang psikopat, psikopat kalau melakukan kejahatan sangat rapi dan mereka sangat detail, dan tidak perduli siapa yang ia hadapi, mereka cenderung membabi buta,” ungkap Angela.


   “Psikopat sama pembunuh berantai itu sama engak?” tanya Sumi.

__ADS_1


  “Hampir sam, Psikopat itu lebih ke menyiksa korban sebelum dia menghabisinya,” ujar Angela.


  “Jadi ingat Rian, ngeri banget dia tetangga saya di kampung,dia membunuh orang sampai puluhan ada yang di buang di bekas sapiteng ada yang di kubur di halaman belakang,” ucap Asep.


   “Yang satu orang wanita dan satu orang anaknya itu ya? sama yang ada artis  yang kebetulan keponakan artis itu kan?” sela Sumi.


   “Ya! total yang ia bunuh sebelas orang, ngeri ya!” ucap Asep.


  “Itukan sempat viral ya Pak, itu termasuk psikopat karena wajahnya terlihat tenang dalam menunjukkan lokasi penemuan mayat,” ujar  Angela.


  Mereka mengobrol di rumah Angela sangat lama membahas Sabrina.


   “Pokoknya begini jika jangan pernah buka mulut sama orang lain, walau pun orang itu sangat dekat dengan Pak Asep, dekat tidak menjamin aman, jika ingin aman, kenali musuh mu seberapa  bahayanya, supaya kita bisa waspada!” ujar Angela.


   “Yang perlu kalian inga Sabrina bukan orang sembarangan, dia mampu menghilangkan barang bukti dan memanipulasi keadaan!” lanjut Angela memperingatkan mereka.


   Ditempat lain Khairul merasa dirinya sangat hampa tanpa adanya Anissa di sisinya, selama ini Anissa selalu mendampinginya, berhubung Mama Anissa tengah sakit Khairul meninggalkan Anissa sendiri bersama sang Mama, biasanya mereka selalu pergi bersama jika ada tugas di luar kota.


  “Maafkan Papa Ma!’ sesalnya.


   Khairul hari ini pindah kesebuah Apartment mewah  di bilangan Jakarta Pusat, tempat yang menurutnya aman, karena ia berpikir bahwa yang menghabisi nyawa keluarganya adalah utusan dari para pengusaha gelap. Karena menurutnya mereka tak segan-segan menghabisinya serta keluarganya. Sabrina datang menemui Khairul, Khairul menitipkan pesan agar Sabrina berhati-hati karena musuh Papanya bukan orang sembarangan.


  “Saby kamu bisa jaga dirikan sayang?” tanya Khairul.


  “Kenapa Pa?” tanya Sabrina.


  “Papa minta, kamu jangan sering-sering temui Papa, karena Papa khawatir dengan keselamatan kamu!” ungkap Khairul.


   “Emang kenapa Pa?” tanya Sabrina.


   “Papa seorang CEPU jadi pasti akan banyak orang yang dendam sama Papa, dan Papa harap kamu bisa menjaga diri, Papa takut mereka menghabisi Papa dan kamu!| ucap Khairul dengan kekhawatirannya.


  “Kenapa Papa yakin seperti itu Pa?” tanya Sabrina.


   “Mama dan Nenekmu tewas pasti perbuatan mereka, jadi papa minta kamu harus berhati-hati dan jaga diri baik-baik,” ucap Khairul.


   Sabrina kebingungan dengan ucapan Papanya karena menurutnya papanya seorang pekerja di instalasi pemerintahan bukanlah mata-mata.

__ADS_1


💙💙💙💙


__ADS_2