Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Menggantikanmu


__ADS_3

Sabrina sepertinya ia tidak begitu senang dengan kembalinya Fitri ke Indonesia, ia menyusun rencana agar Fitri tidak bisa kembali ke Indonesia.


"Kalau aku tidak bisa kembali ke Indonesia berarti Fitri juga tidak bisa, aku harus menyusun rencana," ucapnya.


"Fit kalau kamu sudah sampai di Indonesia jangan lupa mampir ke Jawa ya, tolong temui emak dan bapak saya. Bilang kalau saya baik-baik saja! Dan di sini saya masih mengumpulkan uang untuk menebus diri saya dan mengurus biaya balik ke sana," ucap Dara.


"Insha Allah akan saya sampaikan salam kamu dan teman-teman lainnya," balas Fitri.


Fitri mengemasi barang-barangnya dan akan segera pergi ke kantor kedutaan untuk mengambil semua berkas miliknya.


"Kamu yakin Fit mau pergi?" Tanya Sabrina.


"Iya, keluargaku pasti sudah merindukan kepulanganku," ungkap Fitri.


"Seandainya kamu enggak bisa balik apa yang akan terjadi?"


"Maksud kamu? Ap--"


Belum sempat melanjutkan kata-katanya Sabrina sudah membekap mulut Fitri dengan obat bius.


Sabrina memasukkan tubuh Fitri kedalam karung goni. Tubuh wanita malang itu sebelumnya diikat dari tangan hingga kaki lalu mulutnya dibekap dengan handuk lalu dimasukkan kedalam karung goni yang sangat tebal.


"Mungkin kamu bilang aku ini tidak tahu diri, air susu dibalas air tuba. Terserah apalah itu yang penting aku bisa menggantikan kamu pulang ke Indonesia. Dan membalas dendam atas perlakuan orang-orang yang jahat kepadaku," ujar Sabrina dengan senyuman licik khas dirinya.


Dia melepaskan semua pakaiannya dan mengganti dengan gamis serta cadar milik Fitri.


"Sial! Ribet banget jadi wanita muslimah yang sangat-sangat syar'i ini," umpatnya kesal.


Baju berukuran size besar, panjang dan berwarna gelap,  memakai jilbab yang sangat panjang serta cadar membuat Sabrina sangat kesulitan berjalan dan bernapas.


Setelah selesai dari kantor kedutaan mengambil berkas lalu ia mengurus lanjut ke kantor imigrasi setelah itu ke bandara memerlukan waktu sekitar 10 jam lamanya. Ditengah perjalanan ia melihat sekumpulan pria berbadan tegap dan berkaca mata hitam.


"Sial! Benar saja apa yang dikatakan Fitri bahwa orang-orang tersebut tidak akan mudah melepaskan tawanannya," umpat Sabrina.


Anak buah tersebut memperhatikan wanita satu persatu.


"Kamu ... Ya kamu lepaskan cadarmu!" Perintah seorang Pria.


Sabrina hanya geleng-geleng kepala saja tanpa membalasnya.


"Kamu bisu?" Sambil mendorong keras hingga wanita itu terjatuh.


"Hey kamu! Pria tidak tahu diri! Kamu itu dilahirkan dari rahim wanita atau g@y? Sangat tidak sopan memperlakukan wanita," umpat seorang wanita tua.


"Dia wanita muslimah hormati dia, kamu bukan muhrimnya. Kalau kamu beragama lain hormati agama orang lain kecuali kamu seorang ateis." Maki wanita tersebut.


"Terima kasih Bu," ucap Sabrina.


"Ya, sama-sama. Perkenalkan nama saya Rebecca Zen bisa kamu panggil Bunda Zen," ucap Wanita tua tersebut.


"Saya ..."  Belum sempat melanjutkan kata-katanya ia ketakutan dengan beberapa pria yang lalu lalang.


"Fitri? Nama kamu Fitri? Nama yang bagus nama yang berarti bersih atau suci," ungkap Bunda Zain.


"Saya juga asli Indonesia, saya dari perjalanan jauh dari Yerusalem menuju kota ini karena transit pesawat terbang saya bermasalah," lanjutnya.

__ADS_1


"Yerusalem?"


"Ya, sama seperti kamu umat muslim yang pergi ke Mekkah untuk beribadah begitu juga dengan kami pergi ke Yerusalem tempat tinggal juru selamat kami Tuhan Yesus,"


"Yerusalem itu rumah Yesus?"


"Ya, benar. Seperti agama kamu Yerusalem adalah tempat kelahiran Yesus. Begitu juga dengan Mekkah tempat lahirnya Nabi Muhammad, Beliau-beliau adalah utusan Allah membawa kitab-kitab agar disampaikan kepada kita umatnya," ungkap Bunda Zain.


"Walaupun agama kita berbeda tatap tujuan kita sama yaitu beribadah kepada Tuhan, untuk itu jika ada seseorang yang tidak menghargai agama orang lain saya sangat tidak suka. Apalagi seorang muslim yang mempunyai beberapa batasan dan aturan yang berlaku di agamanya, banyak sekali orang-orang yang mengadu domba antara umat kami dan agama muslim demi menghancurkan tali persaudaraan." Lanjutnya.


Sabrina merasa muak dengan ucapan wanita paruh baya tersebut.


"Sialan! Malah ceramah agama. Mimpi apa aku semalam dapat ceramah rohani," batinnya.


Pesawat yang ditunggu pun akhirnya take off dan Sabrina merasa lega karena terbebas dar ocehan wanita tua itu dan terutama dari anak buah Choi.


"Asyik akhirnya aku berhasil kabur dari mereka," ucapnya senang.


Membuang baju itu di bandara dengan percaya dirinya ia melengang'kan tubuhnya melewati ruangan tersebut. Ia menuju rumahnya yang sempat ia tinggalkan dan terlihat tak terurus, akan tetapi rumah itu sudah ada tulisan 'Rumah  dijual' ia sempat terkejut.


"Apa dijual? Yang benar saja?"


"Nona Sabrina?"  ucap seorang pria berbadan kurus.


"Ya, siapa ya?" balasnya.


" Saya penjaga rumah ini, saya ada pesan dari Pak Khairul jika Anda kembali disuruh menyampaikan ini." Memberikan sebuah kotak kecil berisi kunci rumah dan alamat rumah.


"Cih, papa sekarang sok misterius. Tak apalah lagian aku sudah tidak ada tempat tinggal," ucapnya.


"Tipe smart home? Ini juga ada alat pembersih bisa ngepel dan nyapu sendiri, kenapa papa lebih memilih rumah seperti ini?" batinnya.


Alasan Khairul atau Mr Khai memberikan rumah itu karena ia tahu bahwa putrinya sangat tempramental dan seperti zombie kelaparan jika tidak sesuai dengannya maka orang didekatnya akan ia habisi.


Ini adalah caranya agar singa lapar itu tidak menambah dosa.


Sabrina masih belum bisa hidup tenang selama dirinya masih belum membalaskan dendamnya kepada para musuhnya. Ia memantau rumah Denny dari kejauhan ia melihat Askara  bocah tengil yang sudah beranjak dewasa.


"Aku pernah menikmatinya, apa dia juga menikmati setiap permainanku dulu?" Senyuman  devil mulai mengembang pertanda iblis dalam jiwanya telah bangkit kembali.


Askara ternya sudah memiliki kekasih dan mengubur semua masa lalunya, terlihat Denny dan keluarga kecilnya begitu bahagia.


"Sangat menyebalkan!"


"Tapi kayaknya seru jika menghancurkan keluarga bahagia itu pelan-pelan. Lalu mengadu domba antara anak kandung, angkat dan anak tiri yang tolol hahahahah,"


Disisi lain Fitri ditemukan tewas di kamar miliknya.


"Ini bau apa sih kok menyengat sekali," ucap Dara.


"Kenapa Dar?" Tanya Alisa.


"Bau bangkai,"


"Paling juga bangkai tikus atau kucing," ucap Alisa.

__ADS_1


"Mending kita selidiki saja supaya tidak penasaran," ujar Dara.


"Ayo deh,"


Mereka pun mencari sumber bau tersebut, ternyata ketika mereka mendekati sumbernya betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan tersebut.


"Apa ini?" Tanya Alisa.


"Ayo kita buka saja!" Dara meminta Alisa membuka bungkusan besar karung goni.


"Fitri?!" Mereka berdua terkejut setengah mati ketika melihat benda apa yang ada di dalam sana.


"Fiiitttrrrriii...." Tangis mereka berdua pecah.


"Siapa yang tega melakukan ini Fitri?"


Orang-orang yang ada di sana pun segera memanggil polisi dan ambulance. Jasad wanita muda itu pun akhirnya dibawah ke rumah sakit guna diotopsi.


Di tempat kumuh itu pun semua berdebat siapa yang telah menghabisi Fitri. Dan mereka meyakini bahwa yang menghabisi Fitri adalah wanita mengenaskan yang ia tolong beberapa waktu lalu.


"Siapa yang tega menghabisi Fitri?" Tanya seorang.


"Mungkin yang ia tolong beberapa waktu lalu," ungkap Dara.


"Wanita mengenaskan itu yang habis dimakan anjing?" Tanya Alisa.


"Iya siapa lagi kalau bukan dia? Fitri tinggal sekamar dengan wanita itu. Lantas di mana dia sekarang?" tanya seorang bernama Zack


"Entah lah kemana dia sekarang mungkin dia sudah tewas!" ujar Dara.


"Enggak, dia kemarin memakai baju Fitri lengkap. Apa mungkin dia menghabisi Fitri guna ingin mendapatkan paspor Fitri? Wanita itu katanya dari Indonesia juga kan?" Tanya Isabel.


"Bisa jadi motivasi dia seperti itu," ucap Alisa.


"Bagaimana jika kita cari paspor itu lalu jika kita tidak menemukan kita lapor polisi?" Usul Dara.


"Tidak mungkin, kamu lihat saja  rumah itu masih diberi garis polisi. Bagaimana cara kita mencarinya?" Tanya Alisa.


"Ya, kita suruh polisi mencarinya. Jika tidak ditemukan berarti dugaan kita benar," ungkap Isabel.


Mereka pun mendatangi polisi dan memberitahu bahwa kemungkinan paspor milik Fitri hilang.


"Pak, coba Bapak cari paspor korban. Setahu kami tiga hari yang lalu Fitri dijadwalkan akan pulang ke Indonesia," Dara memberi tahu polisi dengan bahasa negara tersebut.


"Baik akan kami cari, jika memang benar kami akan memberi tahu Anda," balasnya.


Dan selama pencarian dua jam dikamar ukuran 5x6 meter tersebut mereka tidak menemukannya.


"Benar kata Anda jika paspor serta data lain dari korban tidak ada di manapun," ungkap Polisi.


Mereka pun langsung bergerak cepat menyelidiki data Fitri dan benar saja tiga hari yang lalu  sudah ada laporan penerbangan ke Indonesia.


Sementara yang punya telah tewas, mereka pun berpikir bahwa pembunuh telah merencanakan ini semua untuk mendapatkan data pribadi Fitri.


Bersambung ...

__ADS_1


💙💛💚🧡❤️


__ADS_2