
Malam ini Sanjay tertidur namun dia bermimpi buruk mimpi tentang seorang Wanita yang membawa seorang bayi dan meletakkannya di depan pintu.
"Aaahhh kenapa mimpi itu lagi," ucapnya kesal.
"Ada apa? Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Leora.
"Bukan urusan kamu!" ucapnya lalu pergi meninggalkan Leora, setelah melakukan perbuatan malam tadi.
Leora terdiam namun batinnya bertanya.
"Ada apa dengannya? Apa yang membuatnya gelisah," batin Leora.
Sanjay pergi ke Panti Asuhan tempat dia dulu, dan berhasil menemui Ibu Panti bernama Monica.Mereka masih sering bertemu, Sanjay sering mendonasikan uangnya untuk membantu Panti Asuhan itu, mengingat masa lalunya. Mrs. Monica sangat senang melihat kedatangan Sanjay. Sanjay jarang sekali membahas masa lalunya tapi kali ini beda ada rasa penasaran di dalam dirinya hingga ia ingin mencari tahu.
"Mrs. Monic saya mohon ceritakan masa saya yang sebenarnya, belakangan ini saya bermimpi tentang seseorang membawa bayi dan diletakan di depan rumah, apakah itu saya?" tanya Sanjay.
Mrs. Monica tidak memberikan info tentang awalnya Sanjay ditemukan.
"Ya, kamu diletakan di depan pintu ketika saya menemukan kamu malam itu, hujan sangat lebat, suara tangismu terdengar samar. saya coba menghampirnya benar saja itu kamu diletakan di dalam kardus mie instan dan beralaskan selimut tipis." Kenang Mrs. Monica.
Tiga puluh tahun lalu hujan sangat deras, terdengar suara bayi menangis pertanda ia kedinginan atau ketakutan dia menangis sangat kencang. Sebuah kardus mie instan dan didalamnya ada bayi laki-laki yang diberi selimut tipis dan terdapat surat didadanya.
"Saya titipkan anak ini ke Panti ini karena saya tidak mau merawatnya,bagi saya dia adalah aib dan sampai kapanpun adalah aib, dari pada bayi ini saya bunuh atau saya buang lebih baik saya titipkan di sini, sebagai kenang-kenangan terakhir beri nama bayi ini Sanjay.
Sungguh sebenarnya saya ingin melupakan perbuatan laki-laki biadab itu, dia menodai saya lalu mencampakkan saya ketika tahu saya mengandung benihnya.
"Bapaknya adalah laki-laki bajingan yang telah menodai saya tanpa mau bertangungjawab. Jika anak ini bertanya cukup katakan Ibunya bernama Santi dan Bapaknya bernam Jayadi." tulisnya.
Namun dua penjaga panti itu bukanlah orang yang bodoh dan membiarkannya begitu saja, salah satu diantaranya mencari tahu di mana Wanita tersebut benar saja dia bersembunyi dan Mrs. Monica yang menemukannya dan mengejarnya, dia berlari menuju jembatan.
"Anda sudah gila mengapa Anda membiarkan anak Anda biarkan dan meninggalkannya begitu saja?" teriak Mrs. Monica.
"Untuk apa? Anak itu anak haram, anak tanpa Ayah, jika saya merawatnya itu sama saja mengingatkan saya tentang kejadian itu," ucapnya.
Ketika ia hendak bunuh diri Mrs. Monica menariknya hinga terjatuh sehingga ia tidak jadi bunuh diri. Mrs. Monica membawanya pulang ke Panti Asuhan itu. Lalu mulailah dia bercerita tentang kejadian demi kejadian.
"Nama saya Santi, saya berada di sini ingin menjadi TKW bekerja sebagai pembantu rumah tangga, saya ikut dengan orang yang sebangsa dengan saya, menurut saya itu sangat mudah dalam berinteraksi," jelasnya.
"Lalu?"
__ADS_1
"Saya bekerja di sana selama dua tahun awalnya semua baik-baik saja namun menginjak tahun ketiga, majikan saya mulai sering bertengkar dengan istrinya, lalu istrinya pergi meninggalkannya." Santi tak kuasa menceritakannya air matanya mengalir.
"Saya tidak tahu pasti masalah apa yang mereka hadapi, saya kira awalnya rumah tangga mereka baik-baik saja dengan seorang anak berusia tujuh tahun. Namun semua sirna seketika rumah tangga mereka sering cekcok sampai pada suatu ketika Nyonya pergi dan membawa anak mereka, Tuan sangat kacau dan mulai mabuk-mabukan dan di saat itu dia menodai saya berulang kali, sampai pada satu titik saya hamil dan saya bicara sama Tuan,"
"Apa yang dia katakan?" tanya Mrs.Monica.
"Tuan saya hamil," Santi mencontohkannya ketika ia bicara pada Tuannya.
"Lalu? Kamu pikir saya akan bertanggung jawab? Cepat gugurkan bayi itu," lanjut Santi menirukan ucapan Jayadi.
"Dia tidak memberikan saya uang untuk menggugurkannya melainkan dia menyiksa saya dia tendang-tendang perut saya,dia injak-injak perut saya juga sampai dia benturkan perut saya ke kursi padahal waktu itu perut saya sudah tujuh bulan,karena dia sering memberi obat penggugur kandungan namun tidak mempan sampai pada akhirnya saya tidak kuat, perut saya seakan sakit yang tak tertahankan dan lahirlah bayi itu secara prematur," ungkapnya.
"Ya sudah jika kamu tidak menginginkan bayi itu kami yang akan merawatnya, paling tidak ijinkan dia tahu siapa ibunya" ucap Mrs. Monica.
Santi memberikan fotonya dan memberikan foto Jayadi. Lalu dia pergi kembali ke negaranya.
"Itu lah kisah Ibumu dan ini adalah fotonya, kami harap kamu jangan membenci Ibu kamu, dia adalah korban ke tidak adilan," ujar Mrs. Monica.
Sanjay menangis mendengar kisah ibunya, kenapa pria brens*k itu begitu tega memperlakukan itu pada ibunya.
"Aku benci dengan pria itu, pria yang menghamili ibuku, hingga ingin
"Cari tahu tentang nama Jayadi ..." teriak Sanjay kepada Anak Buahnya.
Segera mereka mencari keberadaan Jayadi di kota itu. Cukup lama mereka mendapatkan informasi itu,karena Jayadi berada diujung kota dan hampir menepi ke sebuah pedesaan.
"Sudah kami temukan Tuan," ucap Anak Buahnya lewat sambungan telepon.
"Segera bawa ke hadapanku!" perintah Sanjay.
Mereka segera membawa ke markas Rahasia, sebuah gudang tua di pusat kota.
"Hai Papa, atau bagaimana saya harus menyebut Anda? Papa atau Pria Bajingan,Pria Brengs*k atau Tuan Iblis?" Sanjay tersenyum tapi menyimpan perih di hatinya.
"Siapa kamu?" tanya Jayadi.
"Siapa saya? anda tidak akan pernah mengenal saya karena saya manusia yang tidak pernah anda inginkan terlahir ke dunia ini, anda yang menjadikan saya ada tetapi anda tidak ingin menjadikan saya nyata, perbuatan terkutuk anda yang menjadikan saya ada di sini. Andai saya bisa bicara pada Tuhan saya tidak ingin diciptakan di dunia ini dengan darah dan daging anda mungkin saya tidak akan menjadi bajingan. Saya terlahir dari bajingan maka saja juga harus menjalani hidup menjadi bajingan itu gara-gara perbuatan Anda!" matanya menatap tajam kepada Jayadi.
"Sungguh saya tidak tahu siapa kamu," ujar Jayadi.
"Berapa wanita yang Anda nodai hingga dia hamil?" tanya Sanjay.
__ADS_1
"Saya tidak tahu apa yang kamu maksud," ucap Jayadi.
"Anda tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Sungguh munafik Anda!" Sanjay benar-benar marah.
"Siapa Kamu?" teriak Jayadi karena kesal.
"Sanjay ... Nama Saya Sanjay!" ujarnya.
"Santi Jayadi, nama itu yang saya dapat dari Ibu saya," ucapnya.
Seketika mata Jayadi terbelalak.
"Santi?!" ucapnya.
"Anda ingat nama itu Santi wanita yang berniat bekerja di luar negri demi mengubah hidupnya ternyata tidak malah mengubah hidupnya malah menghancurkannya," ujar Sanjay.
"Apa mau kamu?" tanya Jayadi.
"Saya mau perbuatan tiga puluh tahun yang lalu hingga masa kecil saya yang terbuang sia-sia anda merasakan hal yang sama," ucap Sanjay.
"Perbuatan Anda harus dibayar utuh tanpa terkecuali," lanjutnya.
Sanjay memerintahkan Anak Buahnya untuk menyiksa Jayadi dan menyekapnya di gudang itu sampai Sanjay menemuka Ibu kandungnya. Dia menyewa seseorang untuk mencari keberadaan Santi dan akhirnya ia mendapatkan informasi. Bahwa setelah Santi kembali ke negaranya ia mengalami depresi yang sangat hebat hingga harus dipasung. Tidak lama kemudian di desanya terjadi kebakaran hebat satu kampung ludes dilalap api dua ratus orang meninggal dunia termasuk Santi.
"Kenapa Desa itu bisa terbakar?" tanya Sanjay.
"Desa itu sangat terpencil dan dalam dia berada di pedalaman desa itu terletak didalam hutan kebetulan hutan itu terbakar hingga mereka terisolasi tidak bisa keluar karena jalan satu-satunya tertutup oleh kebakaran," ungkap Orang tersebut.
"Cari tahu itu murni kebakaran atau sengaja ada orang yang membakarnya?" tanya Sanjay.
"Sepertinya sengaja dibakar dan saksi mata menyebutkan yang membakar adalah Jayadi,"
"Apa?"
"Ya, Tuan tidak salah mendengar Jayadi pelakunya,"
"Dia begitu tidak puas setelah menghancurkan Ibuku,lalu ia membunuhnya?!"
Sanjay begitu marah lalu mengambil sebotol air keras dan ia menyiram wajah Jayadi dengan air keras, tidak hanya itu, sebagai bentuk balas dendamnya ia membakar hidup-hidup jayadi didalam sebuah mobil curian lalu mereka lempar ke jurang. Polisi menemukan mayatnya yang telah hangus terbakar, polisi hanya menduga dia meninggal karena kecelakaan, karena sebelum meninggal dia sempat cekcok dengan anaknya yaitu Denny Triyadi.
Bersambung ...
__ADS_1