
Denny masih mencari tahu kebenaran tentang ucapan dari Penyidik tersebut. Setahunya Santi itu tidak pernah keluar rumah dia selalu melakukan pekerjaannya dan jarang bersosialisasi. Denny mencari juga mencari tahu, tentang di mana pemilik mobil itu. Menurut Polisi mobil itu telah di curi sekitar beberapa bulan sebelum Jayadi ditemukan tewas.
"Mobil itu sudah hilang dari beberapa bulan lalu sebelum kejadian ini, pemiliknya adalah seorang pengusaha. Mereka hanya melaporkan saja kepada kami takut akan ada hal yang tidak diinginkan seperti saat ini,kasus pembunuhan atau penculikan dan kasus kejahatan yang lain," ungkap Polisi.
"Jadi mereka sudah menganti sipasi hal tersebut?" tanya Denny.
"Iya, agar jika ada kejadian yang tidak diinginkan pihak mereka tidak ikut terseret dalam pusaran kasusnya!" Polisi lagi-lagi menegaskan bahwa pemilik mobil itu tidak mau disangkut pautkan jika ada suatu kasus atau kejadian.
"Apa itu tidak mereka sengaja? Misalkan mereka sengaja merencanakan sebuah pembunuhan terhadap Papa saya?" tanya Denny.
"Bukan! Mereka setelah kami selidiki tidak ada hubungan dengan Papa Anda Jayadi, bahkan mereka tidak saling kenal. Saya sudah mencari tahu dan saksi orang-orang yang mengenal pemilik mobil tersebut. Dan mereka cukup terpandang di daerah mereka jadi mana mungkin mereka terlibat dalam suatu kejadian yang dapat merugikan diri mereka sendiri?" Polisi menerangkan tentang status pemilik mobil yang tidak pernah mendapat catatan cacat hukum.
Denny tidak patah semangat mencari tahu satu persatu namun tetap sama jalan buntu yang ia dapatkan.
"Kenapa serumit ini?" pikiran Denny begitu kacau saat ini.
"Pa, masih belum ada titik terang atas kasus Kakek?" tanya Askara.
"Belum! Papa sendiri sudah pusing dan lelah mencari kebenaran ini," ungkap Denny.
"Papa selalu tidak ada waktu, bahkan Mama mau menikah pun Papa tidak tahu," Askara memberi tahu tentang Mamanya yang akan menikah.
"Mama kamu menikah dengan siapa saya?" Denny bertanya tentang pernikahan Ranny dengan pria asing.
"Katanya sih artis dan juga pengusaha Pa!" jelasnya.
"Mama kamu sendiri tidak pernah bercerita tentang siapa orang yang mendekatinya sama papa. ya sudahlah Mama dan Papa kan sudah tidak ada ikatan dan bagi papa itu bukan urusan papa mau mama kamu nikah lagi atau tidak," ucap Denny.
Dua tahun setelah perceraian dengan Denny. Ranny mencoba membuka hati dengan mejalani hubungan dengan seorang pria bernama Davian. Davian adalah seorang Pengusaha sekaligus artis yang memang tidak seberapa terkenal.
"Katanya kamu mau menikah?" tanya Denny lewat sambungan telepon pada Ranny.
"Iya, saya mohon doa restunya ya," ucap Ranny.
"Kapan?"
"Minggu depan,"
"Oke, selamat menempuh hidup baru ya!"
__ADS_1
"Iya, kamu jangan lupa datang ya," pinta Ranny.
"Apa tidak masalah dengan calon suami kamu? Secara saya adalah mantan suami kamu?" Denny takut akan menimbulkan masalah jika dia hadir.
"Tidak! Dia sudah tahu tentang hubungan kita," Ranny mencoba menjelaskan bahwa itu tidak masalah.
"Baiklah kalau begitu,"
Namun antara omongan dan kenyataan berbeda sat jauh, terlihat suami dari Ranny cemburu melihat kedatangan Denny ke acara pernikahannya. Tapi tidak pernah ia tunjukkan, dia begitu menghargai Ranny sebagai istrinya. Pernikahan itu tak berlangsung lama hanya empat bulan lamanya. Ranny sangat stres dengan pernikahannya saat ini hingga ia keguguran, dia melewati masa sulit itu sendiri suaminya jarang pulang ke rumah. Sebulan Ranny dicampakkan oleh Davian, Ranny sangat sedih dan meminta kejelasan hubungan mereka, Davian pergi begitu saja.
Ranny mendatangi Denny dan meminta Denny untuk mencari pengacara.
"Aku mau cerai," ungkap Ranny.
"Kenapa?" tanya Denny.
"Suamiku sudah sebulan tidak pulang ke rumah, dihubungi tidak bisa, dan lebih parahnya lagi ketika aku keguguran dia tidak menjenguk ku sama sekali," Ranny begitu kesal dengan Davian.
"Haha, salah sendiri cari suami tidak jelas," ledek Denny.
"Awalnya dia kelihatan baik ya aku mau saja nggak tahunya bajingan juga dia, katanya ada kabar yang bilang kalau dia di villanya bersama perempuan sewaan," Ranny bercerita dengan wajah cemberut.
"Pokoknya aku mau cerai secepatnya!" tegas Ranny.
Ranny pun akhirnya bercerai dengan Davian. Tujuh bulan setelah perceraiannya dengan Davian. Ranny menikah lagi tapi pernikahan ini hanya bertahan selama sebulan, sebelum resepsi pernikahan dia sudah menggugat cerai entah apa masalahnya.
"Kamu nyolong start terus ya," ucap Denny.
"Maksudnya?" tanya Ranny.
"Kamu sudah dua kali kawin cerai, saya saja masih belum,hahaha." Denny menertawakan mantan istrinya itu.
"Boleh ngak sih tidak mengakui pernikahan yang ke dua?" tanya Ranny.
" Ya tidak bisa, pernikahan itu sudah dicatat di lembaga negara," Denny begitu heran melihat kelakuan Ranny yang tidak mau mengakui pernikahan keduanya.
"Terus gimana dong?" tanya Ranny.
"Ya harus kamu akui!"
__ADS_1
"Males banget," ucap Ranny
"Terus yang ke tiga ini apa alasannya?" tanya Denny.
"Ternyata kita tidak cocok!" Ranny menjawab dengan cepat pertanyaan Denny.
"Kenapa jika tidak cocok kalian masih melanjutkan pernikahan itu? Mana sebelu resepsi lagi, nggak sayang itu sama undangan dan kateringnya?" Denny terus menggoda Ranny.
"Nggak buat apa? Dari pada nyesel lagi lebih baik kita memutuskannya di awal dari pada sakit untuk kesekian kalinya," ucap Ranny.
"Anda tidak malu? Terus apa kata orang?" Denny lagi-lagi mengganggu Ranny dengan pertanyaan konyolnya.
"Ngapain ngurusin omongan orang? Kita yang jalani kan? Ya sudah nggak usah dipikir lagi," ketus Ranny.
"Lucu ya kamu segitunya jawabannya sangat sensitif sekali, sekarang mau nikah lagi? Tahu nggak calon suami kamu ini pembuat masalah?" tanya Denny.
"Tahu lah," balas Ranny.
"Bagaimana kalau pernikahan itu gagal lagi?"
" Ya nikah lagi sampai menemukan orang yang tepat," balas Ranny.
"Nggak takut jika dicap sebagai orang yang suka kawin cerai?" lagi-lagi pertanyaan yang memojokkan Ranny.
"Nggak!"
" Ngomong-ngomong pantas sih sama yang sekarang, yang laki doyan kawin cerai yang perempuan juga, jadi kalau gagal lagi orang akan berpikir wajar atau lumrah," Denny terus membuat mental Ranny down dengan ucapannya, namun Ranny sangat pintar menjawab.
"Itu sudah biasa, kalau tidak cocok kenapa harus dipertahankan?" lagi-lagi Ranny terus menjawab ucapan Denny hingga Denny merasa seperti ikan yang kehabisan oksigen.
"Orang lama-lama gedeg sama kamu, kenapa gedek? Setiap tahun kondangan melulu hahahha," tawanya pecah ketika melihat wajah Ranny yang ia skakmat kata-katanya kenak sekali ke mental Ranny.
"Terserah mereka mau datang apa tidak saya ngak minta hadiah kok tapi minta doa dan restu mereka, yang jalani hidupkan saya. Enak enggaknya saya yang mejalani bukan mereka, mereka hanya melihat saja tanpa tahu permasalahan yang kita hadapi," Ranny dengan cerdasnya membalas omongan Denny yang membuatnya mati kutu sesaat.
Melihat obrolan mereka selalu membuat orang disekitarnya tertawa geli dan berpikir dulu mereka waktu menikah gini juga ngak ya? Yang jelas pernikahan mereka selalu dihiasi perang mulut dan perdebatan. Denny yang pintar ngomong selalu membuat Ranny terkadang tersingung karena Ranny sangatlah sensitif gampang sedih dan baperan. Tapi itulah mereka selalu berdebat dan selalu perang kata-kata, awal perceraian membuat mereka menjadi asing namun berkat Askara mereka memutuskan untuk berdamai satu sama lain.
Bersambung ....
💙💙💙
__ADS_1