Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Ternyata kamu!


__ADS_3

Pukul 07:00 pagi semua berkumpul dalam satu aula guna mendoakan kepergian Renato.


"Kita berdoa sesuai kepercayaan kita masing-masing, berdoa dimulai!"


Pak Joseph memimpin doa bersama 50 staf dan karyawan.


"Berdoa selesai!"


"Seperti yang kita tahu, kita tidak wajib menghakimi pribadi orang lain. Kita transparan di sini, Suci bukanlah seorang pembunuh tapi dia hanya membelah diri ketika akan dinodai, Sedangkan untuk hubungan antara Bapak Renato dan Sabrina biar menjadi urusan pribadi mereka," pak Joseph meminta semua tidak memperpanjang masalah itu dan membiarkannya menjadi urusan pribadi masing-masing dan tidak menyalahkan orang lain.


"Semua tahu sendiri Almarhum seperti apa, sudah stop jangan membicarakan keburukan orang lain yang telah meninggal. Satu  yang kita tahu dari masalah ini kedua rekan kerja kita melakukan itu karena terpaksa," lanjutnya.


"Sabrina terpaksa ngapain?" bisik Mitha.


"Katanya diancam harus mau melakukan hubungan itu," ungkap Vilia.


"Emang apa ancamannya?" Tanya Claire.


"Aku juga enggak tahu pasti!" Dengan tegas Vilia membalas, karena itu hanya rumor yang ia dengar.


"Bukannya emang pak Renato suka maksa ya?" celetuk Claire.


****


Kepergian Renato ternyata membuat geram istrinya, mengapa pria seperti dia bisa kepincut perempuan murah dan rendah seperti Susi dan Sabrina.


"Oh ini ... Ternyata kamu yang merebut suami saya? Yang menggoda suami saya?" Perempuan itu menjambak rambut Sabrina.


"Awwh!" Pekik wanita malang itu.


"Kamu gatal sekali berani sekali kamu mengganggu rumah tangga orang ha?!"


"Siapa yang mengganggu? Saya tidak menggangu suami Anda! Saya tidak pernah merebut atau menggoda suami Anda." Dengan tegas Sabrina mengelak. Dua orang qanita di hidup Renato mempertanyakan antara siapa yang merebut dan menggoda lebih dahulu.


"Mana mungkin maling ngaku! Kalau maling ngaku penjarah penuh." Lagi-lagi wanita itu marah besar.


"Kamu Wanita murah beraninya menggoda suami saya ha?" Lanjutnya berteriak-teriak.


"Saya murah? Tidak salah? Kotoran di ujung jalan kelihatan tapi kotoran di muka sendiri tidak kelihatan. Padahal kotoran itu berbau!"


" Maksud kamu apa?"


"Anda pikir anda Wanita suci?  Suami Anda saja enek lihat Anda, terlebih Anda menipunya. Maka dari itu ia mencari pelampiasan diluar sana. Anda yang buat wanita lain yang jadi korban."

__ADS_1


"Maksud kamu apa?"


"Maksud saya, suami anda tidak mencintai Anda. Begitu sebaliknya, Keluarganya dan keluarga Anda menipunya. Anda hamil diluar nikah dan menjebak pak Renato kan? Terlebih lagi Anda payah diranjang! Masih mau menyalahkan orang lain atas kekurangan diri Anda?"  Sabrina mengeluarkan uneg-unegnya setelah ia direndahkan di kantornya.


" Mangkanya ngaca!" Wanita itu lalu pergi meninggalkan istri bosnya yang tidak tahu diri itu.


***


"Dasar wanita sialan! Beraninya memakiku didepan umum, dia pikir dia siapa? Memakiku wanita murahan. Apa bedanya aku dengan dia? Aku masih terhormat dari pada kelakuannya yang membawa aib," umpatnya kesal.


Dibalik kekesalannya ia melihat Susi sedang menyendiri disana. Rupanya ia habis di-bully oleh Claire, Claire yang julid mengatai Suci tukang ngintip.


"Mangkanya jangan suka ngintip orang yang sedang anu-anu, sudah tahu orang suka anu diintip ya gitu jadi sasarannya!"


Suci menangis sesenggukan diujung lorong disisi lain ia sangat trauma dengan dua kejadian itu, kejadian pelecehan dan terjatuhnya Renato didepan matanya.


"Kamu kenapa Suci? Kamu tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Sabrina.


"Enggak! Saya tidak apa-apa."


"Mbak, maaf kan saya ya,"


" Maaf untuk apa?"


"Maaf kalau boleh tahu kenapa Mbak mau melakukannya sama pak Renato? Maaf kalau saya lancang." Susi menunduk karena malu.


"Sebenarnya cerita itu adalah masa kelam saya Sus, saya dijebak oleh seseorang. Saya dijadikan  wanita pemu'as dan difilmkan, apesnya pak Renato menjadikan itu sebagai alat untuk memeras saya dengan cara jika saya tidak mau melayani dia, dia akan menyebarkan video itu. Film biru yang dijual seseorang, seorang mafia kejam di negeri ini," ungkap Sabrina.


"Apa Mbak? Dijebak di tempat seperti itu? Kenapa bisa seperti itu Mbak? Apa enggak trauma?" cecar Suci. Dirinya yang hampir di nodai saja sangat trauma tapi Sabrina di perlakukan seperti itu apa tidak gila jika kejadian itu menimpanya.


"Traumatis pasti ada Suci, tapi mau bagaimana lagi saya sudah melewat fase itu. Fase dimana masa-masa itu adalah masa terberat bagi saya," sisi lain Sabrina muncul, sifat lembutnya yang mengharap belas kasih.


"Kamu harus kuat, kamu harus melupakan itu. Saya yakin kamu pasti bisa!"


"Kamu disini tidak akan sendiri, saya akan menemani kamu." Sabrina memeluk Suci.


Ia tahu Suci tinggal di kota ini hanya sendiri ia tinggal di mes belakang  kantor, karena ia tak mampu ngekost dengan gaji 3 juta perbulan. Ngekost di daerah itu minimal 1.5 juta belum lagi makan dan kebutuhan sehari-hari, tinggal di mes adalah pilihan terakhir walau tempatnya menyeramkan.


Suci memang rajin dan cekatan, sehingga membuat Sabrina sedikit menaruh ibah kepadanya. Sabrina yang bituh teman di rumah pun akhirnya memutuskan untuk mengakak Suci tinggal bersama.


"Ci, kamu tinggal bareng sama aku ya? Aku butuh teman," ucap Sabrina.


"Memang orang tua Mbak dimana?" Tanya Suci.

__ADS_1


Sabrina terdiam sejenak, tidak mungkin ia mengatakan bahwa dia yang menghabisi nyawa ibunya sendiri. Nanti malah membuat Suci ketakutan, tekat Sabrina saat ini adalah menjadi manusia yang lebih baik.


"Mamaku sudah meninggal, sedangkan papaku enggak tahu ada di mana," dengan raut wajah sedih ia menceritakan sedikit kisahnya.


"Maaf ya Mbak, bukan maksud saya menyinggung "


"Enggak apa-apa Ci, santai saja!"


Suci pun akhirnya diboyong ke rumah Sabrina, semenjak kejadian itu mereka seperti saudara semakin hari semakin akrab.  Kejadian tersebut pun tak luput dari pantauan Mr. Khai, ia melihat sungguh ajaib. Puteri kesayangan yang keras kepala dan terkenal sadis bisa luluh dekat dengan perempuan itu, padahal kalau dilihat  status sosial mereka sangat jauh. Suci dari kalangan bawah sedangkan Sabrina dari kalangan berada, tapi Suci bisa merubah sifat Sabrina secara drastis. Sabrina yang anti pati dengan kalagan bawah dan keras kepala tiba-tiba luluh dengan mudahnya.


Dengan Suci, Sabrina menemukan kebahagiaan bagaikan saudara. Hingga membuat sebuah cibiran di kantor.


"Dua korban Renato sendang berduet," Claire dengan to the point  mengucapkan kalimat yang biasa tapi menusuk.


"Masalah sama kamu?" Tanya Sabrina.


"Oh, tentu tidak! Lagian kamu Suci kenapa mau tinggal sama Sabrina? Sabrina sama saja mendapatkan babu gratis dengan kamu tinggal di sana," Claire sedikit menghina Suci dan menyudutkan Sabrina.


"Emang masalah ya sama kamu? Mau saya jadikan apa Suci dirumah suka-suka saya itu rumah saya! Beda kalau itu rumah kamu suka-suka kamu."


Sabrina dan Claire perang kata-kata sengit.


"Enggak masalah saya jadi pembantu Mbak Sab, saya juga dapat makan dan tempat tinggal tidak kekurangan satu apapun," balas Suci.


Mereka tiba-tiba bertemu dengan istri Renato lalu bereriak memaki Sabrina dan Suci.


"Oh ini pelakor dan pembunuh suami saya! Wah hebat ya kalian sekarang bersahabat ... Atau jangan-jangan kalian merencanakan pembunuhan terhadap suami saya iya?" teriak wanita itu.


"Jaga mulut Anda! Kita berdua tidak pernah menggoda suami Anda. Suami Anda yang mati terjun bebas dengan sendirinya karena terlalu nap'su sama perempuan, lalu mati menenaskan terjepit lift!" Perempuan satu itu membalas ucapan rivalnya dengan nada tinggi dan terkesan menegaskan bahwa suami wanita itu terlalu bernap$u.


Denagn tangan bersedekap  wajah ia naikkan satu jengkal jari membuat wani tidak tahu diri itu sedikit menciut.


"Jang perbah sekali-kali membuat saya malu didepan umum atau nanti akan menerima akibatnya," ujar Sabrina.


"Saya tidak takut dengan ancaman pembunuh seperti kalian!" Tegasnya.


"Anda menuduh kita pembunuh? Ada bukti? " Melihat para masa sedang menghampiri mereka membawa ponsel masing-masing untuk merekam kejadian itu.


"Silahkan viralkan! Wanita ini menuduh kita menghabisi suaminya. Padahal di kantor polisi sudah kita jelaskan, suaminya hendak memperdayai seorang cleaning service perusahaan saking semangatnya ia tersungkur kelubang lift lalu tewas dan terjepit di sana. Bahkan tidak ada 1 sidik jari yang menempel dijasat itu. Saya dituduh merebut suaminya padahal suaminya sendiri yang mendatangi saya.


Tahu apa ketika suaminya membisikkan kata manis itu ketelinga saya? ' istri saya membohongi saya, dia hamil dengan pria lain tapi saya yang disuruh menikahinya! Dan dia diranjang tidak bisa apa-apa. Saya butuh di puuasskkan, saya pria normal.' apa itu yang disebut saya menggoda? Saya yang menggoda atau suaminya yang ingin mencari betina lain?"


"Busuknya suami dia ini ya, sampai terdengar di luar kantor yang menyebutkan jika ingin perpanjang kontrak dan gaji naik siap untuk diajak tidur bersama, 3 tahun lalu sempat ada tuntutan tersebut tapi pengadilan mementalkan kasus itu karena korban dan pengadilan di bungkam dengan sejumlah uang." Sabrina  mengelilingi wanita itu dan mempertegas kasus yang pernah memlilit suaminya.

__ADS_1


"Masih mau buka mulut lagi? Harusnya Anda ngaca pakai kaca yang lebar dan tinggi 10 kali lipat dari tubuh anda biar Anda sadar diri siapa Anda sebenarnya!" Sabrina memaki wanita tua itu  lalu meninggalkannya pergi dengan wajah malu disaksikan banyak pasang mata.


__ADS_2