
Sanjay tiba-tiba datang ke kamar Sabrina dan menyentuhnya dengan kasar bahkan pria itu hendak menyetubuhi Sabrina, dalam tidur lelapnya. Sanjay tahu pasti jika Sabrina tertidur tidak akan terasa jika di sentuh bahkan diajak berhubungan.
Pria itu mengendus tubuh perempuan yang tertidur lelap, sepertinya Suci telah memberikannya obat penenang yang aman buat ibu hamil, karena ia sangat tertekan atas ulah sang papa.
"Oh, Sabrina kamu adalah canduku. Aroma tubuh ini sangat aku rindukan, coba saja dulu kamu menurut padaku dan mau menjadi maduku pasti hidupmu tidak akan semengenaskan ini," ujar Pria itu.
"Ingin rasanya aku menyentuhmu tapi kamu sedang hamil, andai ini benihku mungkin aku akan menjadi orang yang sangat bahagia," ujar Sanjay.
Sabrina yang meras ada seseorang di sampingnya terbangun, dan betapa terkejutnya ia melihat Sanjay pria lucknut yang menghancurkan hidupnya. Hingga ia harus menjadi ja-lang demi menyelamatkan kariernya.
"Kamu?! Ngapain kamu ke sini?"
"Pergi kamu dari sini!" Teriak Sabrina.
"Kenapa? Kenapa kamu sangat marah sayang terhadapku? Bukankah kita pernah ada kisah? Apa kamu lupa? Bahkan dulu kamu pernah menggodaku? Kenapa kamu sok suci?" Cecar Sanjay.
"Pergi kamu dari sini atau aku akan teriak?" Dengan nada ancaman Sabrina mengusir Sanjay.
"Teriak saja, teriak Sayang! Aku sangat rindu teriakan kamu apalagi de-sa-han kamu," dengan menyeringai pria licik itu merasa menang.
"Suci! Succiiii!" Teriak Sabarina.
"Siapa yang kamu panggil?"
"Teman kamu? Mungkin anak buahku sudah bersenang-senang dengannya." Pria itu memeluk Sabrina makin erat.
"Lepas!"
"Kamu sok suci sekali, kamu tidak ingat berapa pria yang pernah mencicipi kamu?" Pria gila itu lagi-lagi mengulang kata-kata yang sama.
"Kamu sudah ada Leora kenapa kamu menginginkan aku?"
"Leora? Entah di mana dia saat ini setelah mengkhianati aku dan kembali ke klannya dengan membawa barang ku yang begitu banyak," ungkapnya.
"Itu bukan urusanku! Yang penting kamu jauhi aku! Pergi!" Usir Sabarina lagi
"Kalau aku tidak mau?" Tolak Pria itu.
"Calon suami aku akan membunuhmu," ucap Sabrina.
"Siapa? Edward? Atau Eduardo kamu memanggilnya?"
"Pria lemah itu? Mana mungkin dia bisa melawanku? Dia sendiri saja berada jauh dari kakiku alias paling bawah haha,"
"Sudahlah jangan terlalu berharap lebih pada pria itu!"
"Apa maumu sekarang?" Tanya Sabrina to the point.
"Woow kamu terlalu to the point Baby, oke kalau begitu. Aku mau kamu!"
"Gila!"
__ADS_1
"Gila? Ya aku gila! Gila karena kamu!"
"Boy!" Seru Sanjay.
Seketika anak buahnya datang.
"Bawa dia!" Titah Sanjay.
Sanjay menculik Sabarina dan membawanya ke rumahnya. Dan memberikan sedikit ancaman kepada Sabrina.
"Jadi wanitaku atau mati?"
"Lebih baik aku mati daripada harus jadi wanitamu!" Tolak Sabrina dengan tegas.
"Sayang dong kalau kamu mati, kamu tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan kamu selama ini," ungkap Sanjay.
"Maksud kamu apa?" tanya Sabrina.
"Maksud aku ya itu, yang menjadi pertanyaan kamu selama ini. Orang yang kamu cari selama ini ada didekat kamu," ungkap Sanjay.
Pria itu terus-terusan membual tidak jelas menurut Sabrina.
Eduardo yang tahu Sanjay telah menculik Sabrina ia pun mendatangi rumah pria itu dan mereka bertengkar hebat.
"Tuan Sanjay! Tuan Sanjay lepaskan calon istri saya!" Teriak Eduardo.
"Apa melepaskan dia? Tidak akan!" Tegasnya.
"Kamu itu anak buah saya jadi jangan sok melawan saya," ujar Sanjay.
"Saya ini lebih dulu mengenal Sabrina daripada Kamu! Saya ini lebih baik dan lebih segalanya dari kamu,"
"Dia calon istri saya! Jadi saya mohon kembalikan dia kepada saya," pinta Eduardo.
"Asal kamu tahu saya tidak mau kamu mengambil dia dari saya," ucap Eduardo.
"He' sangat kasihan Anda pria yang malang, bukannya dulu Anda yang membuatnya menderita dan membuangnya? Kenapa Anda menjilat ludah Anda sendiri?" Cecar Eduardo.
"Diam kamu! Waktu itu saya khilaf," balasnya.
"Khilaf? Khilaf sampai menukar dia dengan Yakuza?" Dengan senyum sinis Eduardo menertawakan Sanjay.
"Ayolah, kembalikan Sabrina kepadaku. Bukannya kamu sudah bersenang-senang dengannya?"
"Sabrina bukan barang setelah Anda buang lalu Anda rebut kembali," ujar Eduardo.
"Tapi dia milik saya!" Sentak Sanjay.
Tak ... Tak ... Tak
Suara sepatu yang berjalan beriringan dengan langkah santai.
__ADS_1
"Sabrina milik papanya!" Suara berat itu melesat gendang siput mereka yang ada di sana.
"Mr. Khai!" Seru Sanjay.
Ya, dia adalah Mr. Khai yang datang tanpa permisi bagaikan angin sejuk bagi Eduardo.
Sanjay sebenarnya sangat sungkan bila ada Mr. Khai, pria tua itu tidak pernah sedikitpun menyentuh wanita yang pernah ia tawarkan, karena ucapan Mr. Khai ia sedikit tersentil.
"Saya memang bejat tapi saya tidak ingin merusak perempuan. Apalagi saya terlahir dari rahim perempuan, istri saya perempuan dan anak saya perempuan."
Melihat kejadian itu sangat miris, putri yang ia sayang kini berada dalam genggaman orang yang menolongnya. Bagai buah simalakama, disisi lain dia adalah orang yang menolongnya dan disisi lain Sabrina adalah putrinya.
"Tontonan apa ini Tuan Sanjay? Apa ini tujuan Anda mengundang saya untuk melihat hal seperti ini?" Tanya Mr. Khai.
Mr. Khai ia tidak tahu jika Sanjay telah mengetahui Sabrina adalah putrinya. Sedangkan Sanjay sudah mengetahui sejak awal, ia tahu dari Nadira.
Kali ini Sanjay ingin membuka semuanya biar Sabrina tahu dan sangat berterima kasih padanya.
"Sekarang sudah pas!"
"Maksud kamu apa?" tanya Sabrina.
"Reuni!"
"Sudah lama bukan kalian tidak saling bertemu? Harusnya kalian berterima kasih karena jasaku kalian berkumpul di sini," cibir Sanjay.
"Sabrina bukannya kamu mau menikah dan ingin mendapatkan restu orang tuamu oh lebih tepatnya orang tua satu-satunya,"
"Dasar sinting, Pria gila!" Umpat Sabrina.
"Umpat saja aku cantik, aku tidak masalah! Jika seandainya kamu tahu apa yang akan terjadi nanti kamu pasti sangat berterima kasih kepadaku," ucap Sanjay.
Mr. Khai menarik tangan Sanjay. Dia mengajak Sanjay menjauh dari tempat itu, mereka kini berbicara berdua.
"Saya mohon jangan pernah kasih tahu kepada Sabrina tentang saya," ucap Mr. Khai.
"Kenapa kamu takut? Atau malu?" tanya Sanjay.
" Bukan takut atau malu, tapi saya sangat menjaga perasaan putri saya. Apa yang akan dia pikirkan kalau dia tahu siapa saya? Apa dia tidak akan lebih kecewa terhadap saya dan sangat membenci Anda?"
Seketika Sanjay berpikir tentang ucapan Mr. Khai, menurut nya mungkin akan menguntungkan dia diawal tapi setelah dia berpikir ulang ada benarnya ucapan Mr. Khai, mau bagai mana lagi akhirnya ia mengalah.
"Demi mendapatkan ikan yang besar kadang kita harus mundur terlebih dahulu," pikirnya.
Dia sangat menginginkan Sabrina tapi hanya lewat Mr. Khai lah dia mendapatkannya. Sabrina sangat mengagumi pria tua itu dan sangat merindukan papanya, untuk merebut hatinya dia harus bermain cerdik. Jika tidak bisa maka permainan kasar lah yang harus ia lakukan.
"Mau kamu apa? Sudahkah kamu puas Sanjay?" Cecar Sabrina.
"Aku hanya ingin satu yaitu kamu!" Balas Sanjay.
"Cuih! Tidak sudi." Sabrina membuang ludah kasar ke wajah Sanjay.
__ADS_1
Menurutnya pria itu sangat menjijikan, karena dia telah menghancurkan masa depannya.