Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Pengantin Penganti


__ADS_3

Tiga hari di rumah sakit Elisabeth Singapura, Sabrina berangsur membaik. Dia yang kesakitan kini ditangani dengan sangat baik.


"Eduardo enggak ada kabar?" Tanya Sabrina.


"Ada sih hanya chat saja, dan membicarakan pernikahan kalian," Terang Suci.


"Bisa ya dia lolos dari pria Iblis itu," Sabrina sedikit heran mengapa kekasihnya bisa lolos dari pria kejam itu.


"Entahlah, tapi dia minta pernikahan diajukan dua hari setelah kamu keluar dari sini," ungkap Suci.


"Emang aku kapan keluar?" tanya Sabrina.


"Kalau tidak salah lusa kita sudah balik ke Indonesia,"


"Semua emang sudah beres ya?" Tanya Sabrina.


"Dari gedung, catering, gaun sudah beres semua. Oh ya, surat-surat juga sudah beres jadi diperkirakan saat ini 95 %, " ungkap Suci.


****


Hari itu pun tiba Sabrina kembali ke Indonesia dan disambut hangat oleh Mr. Khai.


"Aduh Mr. Khai baik banget mau menyambut saya," ungkap Sabrina dengan wajah berseri karena bahagia mendapatkan seorang yang ia idolakan menyambutnya.


"Iya, ini mumpung ada waktu kosong. Tidak usah sungkan, Eduardo sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." Pria tua itu lalu melangkahkan kakinya maju dan memberikan buket bunga untu Sabrina.


"Wah, terima kasih banget ya Mr. Khai, oh ya Eduardo sekarang di mana?" Tanya Sabrina.


"Eduardo sekarang masih menangani proyek dari Tuan Sanjay dan saya diminta tolong untuk menemui kamu,"


"Kok repot-repot sih, enggak perlu repot-repot sebenarnya. Saya 'kan bukan anak kecil," ujar Sabrina.


Seketika bayangan Sabrina diwaktu kecil muncul diingatannya dan betapa bahagianya mereka dahulu. Sabrina yang seusia satu tahun sangat lucu dan dia suka menyambut kedatangannya ketika pulang kerja dan selalu bilang "Papa!" Tapi kini berubah dunia mereka telah berbeda.


"Mr. Khai kenapa menangis?" Tanya Sabrina.


"Ah, tidak apa-apa hanya lelah saja mata saya sampai berair," ungkap Pria tua itu.


"Besok saya akan menjadi wali nikah kamu," tiba-tiba pria itu mengucapkannya. Sontak Sabrina matanya membulat sempurna karena terkejut.


"Apa tidak merepotkan?" Tanya Sabrina.


"Tidak! Kan tadi sudah saya bilang Eduardo sudah saya anggap anak sendiri begitu juga dengan kamu," ungkap pria tua itu.


"Saya sudah mengosongkan waktu khusus buat kalian," lanjutnya tanpa melihat wanita kecil di sampingnya yang sudah seperti patung diam membeku karena terkejut.


"Ini seakan plot twist enggak sih?" Bisik Sabrina.

__ADS_1


"Emang kenapa?" Tanya Suci.


"Kata Eduardo, beliau sibuk banget," ujar Sabrina.


"Lalu?"


"Kok bisa ada waktu?"


Mereka berbisik manja di belakang pria tua itu. Disisi lain Sabrina sangat bahagia ternyata Mr. Khai bersedia menjadi walinya.


***


Sesampainya di rumah Sabrina menghubungi Eduardo, ia menelepon tapi tidak ada tanggapan. Setelah beberapa menit masuklah sebuah chat.


'Ada apa Sayang?'


Sabrina membaca isi chat itu  lalu ia mengirimkan pesan suara.


"Kamu di mana?"


Lagi-lagi hanya sebuah  tulisan singkat.


'Aku sedang sibuk! Nanti aku hubungi lagi ya. Masalah pernikahan jangan khawatir aku akan datang dan tidak akan mengingkarinya.'


'No! Bukan masalah itu antara kamu datang atau tidak, bisa atau tidak yang aku tanyakan kenapa kamu tidak pernah menelepon aku? Biasanya ratusan Miss call dan pesan suara. Kamu tidak diapa-apakan sama pria gila itu kan?'


'Sanjay!'


'Jangan bilang seperti itu Sayang dia Boss aku! Dia juga yang menolongku keluar dari panti asuhan dan merekrut aku sebagai anak buahnya, sebenarnya dia pria baik tidak seperti yang kamu pikirkan,'


Sabrina dan Eduardo saling membalas pesan melalui aplikasi hijau.


****


Hari pernikahan itu pun tiba, Sabrina dirias dengan begitu cantiknya. Hiasan bunga di tempat itu pun sangat indah, semula mereka menginginkan menikah di KUA tapi Mr. Khai memintanya di sebuah ballroom hotel. Semua biaya ditanggung olehnya.


Sabrina yang tidak pernah menikah sungguhan merasakan keringat dingin di telapak tangannya dan jantungnya deg-degan.


"Kamu grogi ya?" Tanya Suci.


"Iya!"


"Ayo kita ke tempat ijab qobul." Ajak seorang wanita, dia adalah MC dari acara tersebut.


Sabrina dengan didampingi Suci berjalan menuju tempat ijab qobul, ada Alex sebagai saksi dan Mr. Khai sebagai wali Sabrina.


"Ini sudah siap semu? Sudah benar datanya?" Tanya Penghulu.

__ADS_1


Mereka mengangguk sebagai tanda pembenaran.


"Saya, sebagai wali hakim yang ditunjuk oleh Mr. Khai sebagai wali yang mewakili orang tua dari Sabrina Khairunnisa, atas nama Khairul betul?"


"Iya!"


"Baik! Saya Mulai. Sabrina Khairunnisa binti Khairul, saya nikahkan dan kawinkan Anda dengan pria pilihan Anda dengan maskawin uang sebesar 300 juta dan emas seberat 100 gram serta Berlian Koh-I-Noor seberat 105,6 karat tunai!" ucap Penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Sabrina Khairunnisa binti Khairul dengan maskawin tersebut tunai!"


Sabrina melihat sumber suara tersebut, belum sempat ia membuka mulutnya. Semua saksi sudah mengucapkan kata 'Sah!'.


"Bagaimana saksi?"


"Sah!"


Penghulu pun membacakan syahadat, shalawat nabi dan doa.


Sabrina terlambat menolak, bersamaan dengan kata 'aamiin' dia hanya menggelengkan kepala dan bilang "Tidak! Ini tidak mungkin!"


Semua orang menatap keheranan, dengan tingkah lakunya seperti wanita gila.


"Enggak mungkin! Enggak mungkin!" Teriak Sabrina.


Pria yang menjadi suaminya itu menyeringai penuh kemenangan.


"Sanjay! Kamu kemana kan Eduardo? Kemana dia? Pasti kamu sudah habisi dia?" Sabrina menangis kejer dihadapan semua orang.


"Aku enggak mau menikah sama kamu! Pak penghulu batalkan pernikahan ini! Dia bukan pengantin laki-lakinya tapi dia menyabotase pernikahan saya dan calon suami saya! Mr. Khai kemana Eduardo? Kalian semua jahat membiarkan pria Iblis ini menikahi saya." Teriak Sabrina.


Semua hanya diam tanpa sepatah kata, karena mereka takut dengan Sanjay.


"Tuhan baru saja aku merasakan kebahagiaan kenapa engkau merenggutnya? Menikahi pria yang tidak aku cinta." Isak Sabrina.


"Sab, kok jadi seperti ini? Tadi aku beneran lihat Eduardo di sini bukan Tuan Sanjay," ujar Suci.


Lima menit yang lalu memang Eduardo yang duduk disana dengan baju pengantin yang ia siapkan. Dia datang kesana memang sesuai skenario dari Sanjay, ia diminta datang hanya untuk meyakinkan Sabrina. Sebenarnya Eduardo telah di sekap oleh Sanjay semenjak ia mengancam Sanjay, handphone miliknya di sita Sanjay sehingga setiap apapun yang masuk dia lah yang membalasnya.


"Kamu hanya tinggal pilih kamu atau Sabrina dan anakmu yang hidup? Kalau kamu pilih mereka yang hidup maka kamu harus berkorban mengorbankan nyawamu!"


Eduardo yang tidak ingin melihat Sabrina dan anaknya menderita rela berkorban. Membiarkan pria bajiingan itu menikahi Sabrina. Untuk saat ini Eduardo lebih memilih untuk mengalah.


Mr. Khai dia pasti tahu rencana itu, ia hanya diam dan tidak berani membantah atasannya. Karena kartu matinya ada ditangan Sanjay. Kalau dia tidak merestui pernikahan itu maka disaat itu juga ia akan membongkar siapa Mr. Khai sebenarnya dan disaat itu juga adalah hari terakhirnya melihat putrinya.


"Kalau Anda tidak mengijinkan maka hari itu adalah hari terakhir Anda sebagai Mr. Khai sekaligus menjadi Khairul, dan di hari itu juga adalah hari terakhir anda hidup dan melihat putri Anda!"


Mau tidak mau semua berkorban demi keselamatan masing-masing dan lagi-lagi mengorbankan Sabrina.

__ADS_1


__ADS_2